Chole terbangun dengan keadaan tubuhnya yang masih belum baik-baik saja. Punggung dan kepalanya benar-benar terasa sakit. Makin ia bergerak pun, rasa sakitnya makin menjadi-jadi. Andai ia belum menikah dengan Helios, andai ia di rumah, pasti ia sudah meraung-raung mengadu kepada orang tuanya.
Hanya saja, keputusannya menikah dengan Helios juga dibarengi dengan dirinya yang sudah langsung memaksa dirinya untuk berkali-lipat lebih dewasa dari sebelumnya. Chole akan merahasiakan semua KDRT yang ia alami. Walau tentu saja, Chole berharap itu tak lagi terulang. Cukup kemarin malam saja ia mengalami KDRT dan diperlakukan layaknya maling yang tertangkap basah hingga ia wajib dihaja*r dengan brutal.
Suasana kamar Helios masih sangat sepi. Chole memang masih ada di sana. Ia bahkan masih diinfus dan semalam, Helios yang melakukannya secara langsung.
“Ini infusnya habis, aku cabut saja. Asli ngeri darahnya naik gitu di selang. Pantas nyeri banget.” Chole berpikir, dirinya sudah tidur sangat lama. Selain Helios yang memang tidak berniat menjaganya. Buktinya, itu infus semalam. Benar-benar tidak ada infus ganti.
“Padahal harusnya kalau memang niat, mas Helios bisa utus pekerja di rumah. Kemarin malam, dia sendiri yang bilang di rumah ini banyak pekerja yang siap membantuku.” Chole meringis karena baru berhasil menarik jarum infusnya. Dan ia juga langsung tak berani melihat darah segar yang muncrat dari selang infus.
Tiba-tiba saja Chole ingat, saat Helios mengabarkan jumlah pekerja di rumah, saat itu Helios belum mengetahui penyamaran Chole.
“Semua kemewahan ini termasuk pekerja yang jumlahnya lebih dari satu lusin, ... semua ini milik kak Cinta,” sedih Chole.
Chole haus, tapi di sana tidak ada minuman yang tersedia. Padahal yang Chole ingat, awalnya jangankan minuman, buah-buahan dan makanan lain juga ada di meja tak jauh dari meja kerja Helios karena kamar yang Chole tempati kali ini memang benar-benar luas. Luasnya dua kali lipat lebih luas dari kamar Chole yang ada di rumah orang tuanya dan itu saja sebenarnya sudah luas.
“Ke mana semua minuman dan makanan yang awalnya ada di sini? Masa iya hanya karena itu buat kak Cinta, aku enggak berhak sedikit pun walau sekadar minumannya?” pikir Chole yang sudah langsung berpikir bur*uk. Apalagi sebelumnya, Helios juga yang memintanya meninggalkan kamar karena pria itu sengaja menyiapkan kamar mewah tersebut untuk Cinta.
Sebelum keluar dari kamar, Chole sengaja membersihkan tubuhnya lebih dulu. Ia tetap mandi, menyiapkan penampilan terbaiknya. Walau sepanjang itu, ia harus meringis bahkan duduk sejenak guna meredam sakitnya.
“Maaf, Non. Namun, ....” ART yang kebetulan Chole jumpai tepat di depan kamar, tampak ketakutan. Ia tak hanya tidak berani berbicara dengan Chole karena sekadar meliriknya saja, ia tidak berani melakukannya.
“Kalau memang Pak Helios tidak mengizinkan saya makan bahkan sekadar minum dari sini, ... ya enggak apa-apa. Jujur saha, Mbak,” ucap Chole lembut. Tak beda saat pertama kali datang ke sana, kali ini ia juga menutup tuntas auratnya. Ia kembali bercadar dan nuansa cokelat muda ia pilih sebagai warna penampilannya kali ini.
“Sebenarnya enggak hanya itu, No.” ART tadi menatap takut Chole. Di hadapannya, wanita bercadar itu terlihat sangat terkejut.
“Hah ...?” refleks Chole. Tak menyangka, akan ada hukuman lain selain ia yang tak diizinkan makan bahkan sekadar meminum minuman yang ada di rumah tersebut. Minuman yang tentu saja ada karena Helios.
“Semua pekerja di sini dilarang membantu Nona. Karena andai kami melakukannya, ... kami akan langsung dihukum. Bisa semacam dipecat, atau malah lebih. Jadi, saya mewakili yang lain hanya bisa minta maaf yang sedalam-dalamnya, Non. Maaf ...,” ucap sang ART yang langsung mendapati kesedihan mendalam dari kedua mata Chole. Kedua mata itu langsung berembun dan perlahan merah.
Chole mengangguk-angguk pasrah dan memang jawaban refleksnya yang lagi-lagi berusaha tegar. “Aku akan terus berdoa, bahkan aku bersumpah, kelak atau malah secepatnya, kebencian mas kepadaku akan berubah menjadi cinta. Iya, cepat atau lambat mas pasti akan mencintaiku!” batin Chole.
ART tadi melepas kepergian Chole dengan perasaan campur aduk. Ia yang masih membatasi sekadar tatapannya keada Chole, tak hanya merasa takut. Karena kenyataan Chole yang melangkah saja kesulitan, Chole kerap berhenti untuk meraba punggung sekaligus kepala, itu benar-benar membuatnya kasihan.
“Andai aku jadi dia, aku sudah langsung memilih kabur!” batin sang ART.
Satu hal yang Chole syukuri, pak Mul tampaknya tidak ada di rumah. Namun Chole sungguh tidak akan memaafkan pria itu. Chole akan membalas pak Mul bila perlu merendam mata pria itu menggunakan sambal setann agar mata beringas pria bajjingan itu tidak tuman.
Sambil terus melangkah tertatih dari rumah, Chole sengaja memesan taksi online. Ia akan pergi membeli keperluannya terlebih dahulu sebelum ia memeriksakan diri ke rumah sakit. Karena tampaknya, Helios akan melakukan segala cara agar ia meninggalkan pria itu. Helios akan melakukan segala cara agar Chole angkat kaki dari rumah mewah Helios.
***
“Hasil rontgen-nya kapan keluar, Dok?” tanya Chole pada dokter wanita yang menanganinya.
Wanita berwajah galak itu menjelaskan, paling tidak sekitar satu jam lagi hasilnya baru keluar. dan selama menunggu, Chole wajib istirahat apalagi punggung Chole lebam semua.
“Anda tidak berniat melaporkan ini ke pihak yang berwajib?” ucap sang dokter menatap Chole dengan tatapan intimidasi.
Sempat bingung sekaligus menghindari tatapan sang dokter Chole berangsur menggeleng. “Ini murni jatuh kok, Dok. Jatuh dari ketinggian, pas saja panjat lemari pakaian.” Chole terpaksa berbohong. Walau ia yakin, seorang dokter tidak semudah itu dibohongi. Buktinya, sang dokter sudah langsung mengarahkannya untuk melaporkan kasusnya ke polisi.
Lihat saja, tatapan menyeramkan dari sang dokter langsung Chole dapatkan. Chole memilih menunduk, tak mau sang dokter tahu lebih jauh mengenai alasannya ada di sana.
“Duh, kalau beneran aku harus melaporkan ini ke polisi, hubunganku dan mas Helios pasti jadi makin enggak jelas,” batin Chole yang langsung menyesali keputusannya datang ke rumah sakit.
Chole berpikir, harusnya ia cukup melakukan pengobatan mandiri. Harusnya ia tidak membiarkan pihak medis mengetahui keadaannya.
“Cukup kali ini, ke depannya jangan lagi! Ke depannya cukup diobati mandiri saja!” yakin Chole pada dirinya sendiri. Sembari menunggu hasil rontgen keluar, Chole sengaja makan sekaligus banyak minum. Berharap, keputusannya makan banyak akan jauh lebih membuatnya sehat. Agar ia bisa jauh lebih tahan banting dan akan terbiasa andai Helios tega melakukan KDRT kepadanya lagi.
Namun karena rasanya sangat sakit, bahkan ia saja sudah langsung diinfus sejak awal setelah pemeriksaan, Chole sengaja memoles punggungnya menggunakan balsam khusus yang ia beli di toserba kunjungannya ketika membeli kebutuhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Kamiem sag
mak mau nengutuk Helios tapi Chole Cinta ya sudahlah nduk sak karepnu
2025-01-12
0
74 Jameela
melok aq mari qt urapin sambel campur mrica plus cuka..
huuuuuu ndahnio kyok opo🤭
2024-07-28
0
Samsia Chia Bahir
kasianx chole 😣😣😏😏🙄🙄
2024-04-27
0