“Aku akan selalu mencintai Mas, mengabdikan hidupku sebagai istri, hingga napasku tak lagi menjadi bagian dari kehidupan ini. Akan terus begitu, walau Mas tak hentinya menyiksaku, meremukkan setiap harapan bahkan anggota tubuhku.”
Gemetaran hebat karena rasa sakit yang ia dapat, Chole memaksa dirinya untuk bangkit. Ia mencoba duduk walau makin ia memaksakan diri untuk bergerak apalagi duduk dengan tegap, makin bertambah pula rasa sakit yang ia rasa.
Luka-luka yang mereka rasa seolah menitipkan cerita melalui deru napas dan juga detak jantung yang terdengar keras sangat tak beraturan. Dada mereka naik turun dengan lemah, tak kalah lemah dari mereka yang sebenarnya sudah sangat lelah. Chole yang lelah dengan kebencian tak beralasan seorang Helios kepadanya. Serta Helios yang juga sangat lelah hanya karena melihat Chole. Terlebih, kini mereka justru telah resmi menjadi suami istri.
Anehnya, rasa takut Chole kepada seorang Helios dan awalnya begitu besar, mendadak tidak ada. Benar-benar tak tersisa. Chole biasa-biasa saja menatap wajah bur*uk rupa itu. Meski ketika Helios menghadap total ke arahnya dan ia yakin, pria itu menatapnya menggunakan mata kiri yang masih berfungsi, ketakutan itu hadir kembali.
Chole refleks menyudahi pandangannya. Ia refleks menunduk dan kali ini, alasan tubuhnya gemetaran bukan hanya karena menahan rasa sakit, tapi juga karena ia kembali menahan takut.
Tanggapan spontan dari seorang Chole yang nyaris membuatnya kehilangan kewarasan karena sampai detik ini saja, ia tetap mengarahkan moncong pistol di kedua tangannya ke kening wanita itu, membuat Helios makin muak. Kebenciannya kepada Chole makin menjadi-jadi.
“Bagaimana mungkin kamu bilang bahwa kamu akan mencintaiku, jika sekadar menatap wajahku saja, kamu jijikk?!” lirih Helios sambil menatap sengit Chole. Ia mendesis, merasa sangat jijikk pada Chole walau dari segi apa pun, harusnya wanita itu sempurna.
Air mata Chole berjatuhan. Kali ini, rasa takut itu tak hanya membuat tubuhnya gemetaran. Karena wajah apalagi bibir dan matanya juga. Namun, demi meyakinkan Helios, ia memberanikan diri menatap pria itu.
“Ada beberapa hal yang kadang tidak beralasan. Seperti halnya ketakutanku kepada Mas, juga ... kebencian Mas kepadaku.”
“Jika Mas saja terus memaksaku untuk tidak takut kepada Mas, berarti ... berarti aku juga boleh ... aku juga boleh meminta Mas untuk tidak membenciku, kan?”
“Bukan karena apa yang aku lakukan seharian ini, dengan bersembunyi di balik cadar pengantin menggantikan Kak Cinta. Namun semuanya. Dari awal pertemuan kita dan sejak itu juga, Mas selalu saja nyaris menerkamku hidup-hidup.”
“Aku ini manusia loh Mas. Aku wanita biasa dan aku hidup di lingkungan yang memperlakukanku dengan lembut. Lingkunganku penuh cinta. Jadi, jangankan kata-kata lantang apalagi pukulan seperti yang Mas lakukan, lirikan marah saja, aku enggak pernah mendapatkannya.”
“Karena aku memang dididik, tanpa kekasaran. Aku sengaja diarahkan dengan kelembutan.”
“Namun bukan berarti wanita lemah lembut, periang, penyayang keluarga, penyuka hewan imut, penyuka warna pink, dan juga penyuka hal-hal romantis sepertiku enggak berguna.”
“Menjadi wanita feminin bukanlah sebuah dosa. Apalagi kami ada karena kami ingin tanpa merugikan orang lain. Kami juga tidak meminta dihidupi orang lain.”
“Mas selalu menilai sesuatu hanya dari satu sisi dan itu dari cara pikir Mas. Padahal belum tentu, yang Mas yakini benar, juga benar.”
“Mas selalu merasa, di dunia ini hanya Mas yang menderita. Mas selalu yakin, semua orang yang ada di dunia ini jahat ke Mas. Mas selalu berpikir, semua orang termasuk aku jijiik ke Mas hanya karena wajah Mas ....”
“Padahal harusnya Mas sadar, bertahan dengan wajah Mas yang begitu sudah menjadi pilihan Mas. Dengan kata lain, harusnya Mas siap menerima segala konsekuensinya, baik itu ketika orang merasa takut maupun jijikk!”
“Kecuali, Mas memang good looking, ... enggak ada sedikit pun celah yang bisa menjadi alasan orang menilai Mas dan menganggap Mas minus. Karena jangankan yang kurang, yang sempurna sekelas terlalu tampan atau terlalu manis saja, kadang bikin enek, Mas!”
“Sudah enggak jauh-jauh, contohnya saja kita. Mas ke aku! Memangnya aku kurang apa? SEKARANG AKU TANYA KE MAS, AKU KURANG APA?!” Tiba-tiba saja Chole menjadi galak, tapi ia juga buru-buru merayap ketika pistol yang awalnya Helios kendalikan kuat-kuat menggunakan kedua tangan, melayang menghantam keningnya. Helios melakukannya dengan emosional, tapi bisa Chole pastikan, pria itu tidak bisa menjawab setiap ucapan yang tadi ia sampaikan. Ucapan yang sebenarnya merupakan unek-uneknya kepada Helios. Karena hampir tiga belas bulan mengenal, Helios terus saja memperlakukannya penuh kebencian.
Helios masih menunduk dalam. Pria itu terlihat sangat hancur. Chole merasa sangat bersalah karenanya.
“Mas ...?”
Helios memang mendadak menghadap Chole, tapi pria itu malah buru-buru melangkah melewati Chole begitu saja.
“Aku mohon jangan pergi, Mas! Biarkan Kak Cinta menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Biarkan Kak Cinta menikah dengan Akala. Mereka saling mencintai!” mohon Chole dengan lantang. Berbeda dari sebelumnya, kali ini ia menangis karena lagi-lagi, rasa takut yang begitu besar kepada Helios, membuatnya kehilangan banyak keberanian.
Helios menghentikan langkah buru-burunya tepat di belakang Chole. “Lalu, bagaimana dengan aku ...?” lirih Helios dan kali ini ia benar-benar bertanya. Pertanyaan yang juga menjadi jerit batinnya selama ini. Semenjak ia buruk rupa dan mata kanannya juga buta.
Dari balik kacamata hitam Helios yang masih terpasang sempurna, butiran bening mengalir nyaris secara bersamaan. Iya, seorang Helios justru menangis di malam yang harusnya menjadi malam pertamanya dengan Cinta.
“Mas ... suamiku. Aku akan mengabdikan hidupku. Aku akan ... mencintai Mas meski .... aku janji, aku bersumpah demi apa pun!” lirih Chole sambil menunduk dalam.
“Aku benar-benar akan menjadi istri berbakti kepada Mas. Terlebih selain karena Mas sudah membuat keluargaku keluar dari kebangkrutan, Mas seperti sekarang juga karena Kak Cikho. Kak Cikho kakakku yang sudah mencelakai Mas hingga Mas kehilangan mata kanan Mas, serta wajah Mas yang ....” Chole tidak berniat menyebut Helios buruk rupa walau pada kenyataannya memang begitu. Ia tak mau, pria yang telah resmi menjadi suaminya itu menjadi berkecil hati.
“Aku tidak mungkin mencintai wanita lain termasuk mencintaimu karena aku hanya mencintai kakakmu!” tegas Helios lirih tapi cepat.
Ucapan Helios barusan tak ubahnya anak panah berac*un yang melesat kemudian mendarat tepat di ulu hati seorang Chole. Sakit, benar-benar sakit tak berdarah. Namun Chole sadar, alasan suaminya begitu murni karena kesalahannya. Ia yang dengan sengaja memasuki kehidupan seorang Helios. Chole telah berjanji pada dirinya sendiri untuk siap menerima segala konsekuensinya, termasuk itu mati di tangan seorang Helios.
“Jadi, mulai sekarang juga, ... MULAI SEKARANG JUGA KAMU BUKAN ISTRIKU!” tegas Helios yang kemudian balik badan. Ia menatap Chole penuh kebencian sesaat setelah ia juga sampai melepas kacamatanya. Ia sengaja memberikan penampilan terbu*ruknya kepada Chole agar wanita itu menyesal telah memberantakkan kehidupannya.
“M-Mas ... aku mohon!” Chole terus menggeleng berat. Berderai air mata ia menengadah hanya untuk menatap Helios.
“Cholira Berliana Maheza binti Maheza ... mulai detik ini juga, aku TALAK KAMU ...!” tegas Helios berat. Dadanya yang bergemuruh terasa begitu sesak. Namun, bukan karena talak yang ia berikan kepada Chole, melainkan karena ia tak sanggup merelakan Cinta justru menikah dengan Akala, bukan dengan dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Kamiem sag
sediiihh thor meski aku faham hatinya Helios tapi kasihan Brocoli
2025-01-12
0
Juan Sastra
ini mah sama aja ,, gak jauh jauh tetap,, talak di malam pertama
2024-05-27
0
Liiesa Sariie
sabar ya chole
2024-05-11
0