Tubuh Cobra akhirnya ambruk bersama kedua kakinya yang sudah lepas dari tubuh. Keadaan di sana benar-benar mengerikan bahkan untuk Helios sendiri. Cobra sudah tak sadarkan diri dan mungkin karena luka-luka yang harus pria itu tanggung. Kini giliran Helios yang meraung-raung. Helios benar-benar emosional kemudian memeluk Syam tanpa bisa mengontrol dirinya.
Helios menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan kini. Atas keadaan Syam yang tak mungkin bisa kembali normal lagi. Malahan Helios berpikir lebih baik Syam mati daripada hidup tapi tersiksa lahir dan batin.
Helios paham bagaimana rasanya menjalani waktunya dengan ketidaksempurnaan. Dengan wajahnya yang buruk rupa dan juga mata kanan buta. Karena semenjak itu juga, hidup Helios tak ubahnya mimpi buruk.
“Bunuh aku! Aku mohon bunuh aku juga, Mas!” rintih Syam.
Permintaan dari Syam makin melukai seorang Helios.
“Apa gunanya aku hidup jika aku saja tidak berguna buat Mas. Percuma, Mas. Aku mohon bunuh saja aku!” Susah payah Syam berusaha meraih tangan Helios yang penuh darah. Agar tangan kekar itu juga menghabisinya. Namun, kedua tangan Helios tetap mendekapnya erat selain ketua mafianya itu yang masih menangis meraung-raung.
Keadaan yang sempat mencengkam dan tak hentinya membuat bulu kuduk mereka berdiri, kini menjadi diselimuti keprihatinan, luka, bahkan duka layaknya sebuah kematian akibat tangis dari seorang Helios. Helios dengan luka-lukanya akibat kecaca*tan yang dialami, tampak sangat tidak rela jika Syam yang selalu mengabdi, harus merasakan kecacat*an juga bahkan lebih marah.
“Bunuh aku, Mas. Bunuh! Aku benar-benar sudah enggak berguna. Bunuh saja aku jika kehadiranku hanya membuatmu makin terluka!” tangis Syam yang kemudian juga sibuk minta maaf.
Semua yang di sana, dari dokter Frans dan anggota tim dokter yang masih diikat tangan dan juga kedua kakinya. Termasuk anggota mafia Cobra yang masih berlutut, semuanya kompak menunduk sekaligus menangis. Kesedihan antara Helios dan Syam seolah menular kepada mereka. Apalagi mereka menyaksikan semuanya secara langsung.
Karena walau Cobra yang dihabisi dengan keji, apa yang telah pria itu lakukan kepada Syam, juga luka-luka Syam yang membuat Helios merasa sangat bersalah, jauh lebih membuat mereka iba ketimbang pada Cobra.
Dua orang mafia Helios yang datang dalam keadaan basah dan sebagian wajah dihiasi nod*a hitam khas kebakaran, sudah langsung tercengang ketika melihat keadaan di sana. Tentu mereka terkejut bukan main. Bukan karena sang ketua terus menangis meraung-raung sambil memeluk Syam dalam keadaan terluka parah, melainkan keberadaan Cobra yang keadaannya sangat memprihatinkan. Miris.
Di atas sajadahnya, Chole sudah makin linglung. Batinnya tak hentinya menjerit. Jauh di dalam dadanya benar-benar berisik. Jerit kesakitan, tangis meronta-ronta layaknya apa yang tengah Helios lakukan. Namun Chole tidak paham kenapa ia sampai merasakannya. Chole sampai merinding. Bulu kuduknya khususnya yang di kedua tangan tak hentinya berdiri dan ia memastikannya beberapa kali.
Di luar markas mafia Helios, Excel yang baru datang tak sengaja memergoki kaburnya Jay dan kawan-kawan. Jay tidak kabur lewat jalan depan karena Jay lewat jalan belakang markas dan tak sembarang orang mengetahuinya—baca novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia.
“Apa yang terjadi?” Excel merasa kecolongan meski alasannya baru datang juga karena ia baru saja menghanguskan markas Jay.
Jay berbondong-bondong lari bersama anak buahnya. Mereka yang jumlahnya tidak sedikit, tunggang langgang ketakutan meninggalkan pintu rahasia. Walau kemungkinan besar mereka tengah berusaha melarikan diri, Excel juga yakin telah ada kekacauan fatal yang Jay dan anggotanya ciptakan.
“Cobra tidak bersama mereka?” Excel berpikir keras mencoba membaca apa yang telah terjadi. Namun ia yang memang sengaja datang lewat pintu rahasia, segera menyusul Jay. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Membuat Jay putar balik kebingungan memilih jalan.
Jalanan di sana merupakan jurang karena keberadaan markas Excel memang di sekitar puncak. Tentunya, sebuah jalan rahasia selalu ada di antara medan yang akan membuat pengunjungnya tidak leluasa.
Excel nyaris turun dan berniat menghabisi Jay agar pria itu tak berulah lagi. Namun di lain sisi, keinginan tersebut langsung redup bersama bayang-bayang wajah sang istri.
“Mas, mulai sekarang ... tolong kalau bisa jangan melukai apalagi membunuh orang lagi karena dampaknya pasti akan kembali ke kita. Sekesal apa pun, sesakit apa pun, tolong selesaikan dengan baik-baik saja. Cukup anak pertama kita yang pergi, enggak dengan adik-adiknya. Aku mohon berjanjilah. Berjanjilah kepadaku Mas akan mengabulkan permintaanku yang kali ini!” ucap Azzura yang di ingatan Excel sampai meletakan kedua tangan Excel di perut Azzura dan memang agak buncit.
Detik itu juga laju mobil Excel berhenti karena Excel refleks mengeremnya. Namun laju sebelumnya sudah membuat Jay dan beberapa anggotanya terpental ke lereng curam yang ada di bawah sana. Harusnya mereka yang jatuh tidak akan selamat. Karena jika tidak meninggal, harusnya mereka caca*t. Namun entah jika Tuhan masih menghendaki mereka memiliki usia lebih panjang lagi. Hanya saja, apa yang baru saja Excel lakukan membuat pria itu ketakutan.
“Sayang, ... Maaf. Maaf karena aku ingkar. Aku benar-benar minta maaf,” lirih Excel benar-benar menyesal.
Kedua tangan Excel menjadi gemetaran hebat sementara dari kedua mata Excel tampak dihiasi cairan bening yang perlahan berlinang.
***
Sudah dua hari dari kepergian Helios, tapi jangankan kembali, kabar saja tidak ada. Chole tidak baik-baik saja. Ia tak hanya lupa bagaimana tertawa apalagi ceria. Karena Chole juga sampai kehilangan selera makan.
“Kamu kenapa? Hubungan kalian baik-baik saja, kan? Helios sehat, kan? Kenapa dia juga belum ke sini? Kalian masih komunikasi, kan?” ibu Aleya yang makin mengkhawatirkan Chole maupun Helios, sengaja bertanya sekaligus memastikan.
Chole mengangguk-angguk tanpa berani menatap sang mamah karena detik ini, ia justru menangis. Diperhatikan sang mamah membuatnya yang sedang sangat mengkhawatirkan Helios, menjadi makin rapuh.
“Kenapa kamu nangis?” Ibu Aleya yang langsung memeluk Chole, jadi ikut berlinang air mata.
Dua hari tanpa Helios, putri kesayangan di rumah itu mendadak mirip mayat hidup. Anehnya, kini Chole mendadak masak besar. Chole berdalih sengaja masak banyak untuk Helios.
“Sinyal ponsel mas Helios dan mas Excel sama-sama terlacak di sekitar markas. Semoga mereka hanya terlalu sibuk hingga mereka lupa mengabari aku. Semoga mas Helios hanya merasa aku tidak penting, hingga beliau lupa mengabariku. Semoga mas Helios maupun mas Excel baik-baik saja, mereka hanya terlalu sibuk. Iya!” batin Chole yang sampai detik ini selalu mencoba tenang sekaligus menanamkan pikiran positif pada dirinya sendiri.
“Terus kenapa kamu nangis ...?”
“Kangen suami, Mah. Gitu-gitu, mas Helios bakalan jadi teman hidupku. Syukur-syukur di kehidupan selanjutnya kami masih tetap bersama. Karena asal aku bisa mengambil hatinya, asal aku bisa meyakinkannya bahwa aku tulus, aku pasti bisa jadi ratunya. Aku pasti akan menjadi wanita paling bahagia seperti yang Mamah rasakan dari Papah!”
“Amin Sayang, amin ... semuanya akan indah pada waktunya, percayalah! Kamu pasti bisa. Kalian akan bahagia dengan cara kalian. Mamah yakin, Helios hanya terlalu minder. Karena kamu terlalu baik. Kamu sempurna seperti papahmu!” Setelah menatap sang putri penuh keyakinan, ibu Aleya yang sampai membingkai wajah Chole menggunakan kedua tangannya, kembali memeluk Chole sangat erat.
“Mamah bantu yah, biar kamu masaknya cepat beres. Terus, nanti Mamah perlu antar enggak?”
“Enggak usah, Mah. Nanti aku pergi sendiri saja.”
Sekitar tiga jam kemudian, Chole sudah berdiri di depan gerbang markas mafia sang suami berada. Chole menenteng dua rantang susun sekaligus. Sementara sang sopir tengah mengeluarkan dua rantang susun yang lain dari bagasi mobil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Samsia Chia Bahir
😥😥😥😥😥😥
2024-04-27
0
Tavia Dewi
baik dan sabar
2023-12-09
1
Lindaaja Linda
Chole benar-benar istri yang baik
2023-11-18
1