Setelah menikah dengan kesadaran penuh tanpa tipu-menipu apalagi merasa menjadi korban, baik Chole apalagi Helios malah merasa sangat canggung. Keduanya mirip orang asing yang dipaksa untuk akur meski kenyataannya, memang lebih dari itu. Apalagi kita sama-sama tahu, kedua sejoli itu mirip kucing dan anj*ing. Helios dengan kebenciannya yang begitu besar kepada Chole, juga Chole yang tidak mau jadi pemarah seperti Helios dan sengaja menanggapi dengan santai penuh keceriaan.
Beres acara, Excel dan sang istri sudah langsung pulang. Sementara penghulu dan rombongan juga langsung diantarkan oleh Syam. Bagi kalian yang belum tahu, Syam atau itu Shine merupakan anak buah Helios yang paling setia.
“Kalian juga istirahat. Pulangnya besok saja karena biar bagaimanapun, ini juga rumah kalian.” Tuan Maheza bertutur sangat lembut. Ia masih mencoba merangkul hati seorang Helios yang sampai detik ini masih menyikapi segala sesuatunya, bahkan kepadanya, penuh keangkuhan.
Chole tidak suka dengan cara Helios bersikap kepada orang tuanya. Ia refleks mendekat kemudian memeluk sang papah. “Papah, maaf kalau aku banyak salah.”
“Kamu yah, ... minta maaf terus. Justru Papah yang harusnya minta maaf, Papah yang banyak salah ke kamu, Sayang!” balas Tuan Maheza yang langsung membalas pelukan Chole. Air matanya luruh lantaran ia teringat alasan sang putri justru berakhir menikahi Helios.
“Aku benar-benar terkejut, masih sulit percaya, kamu akan melakukan ini. Namun bisa aku pastikan, kamu menjadi salah satu laki-laki paling beruntung di dunia ini karena kamu sudah dipilih Chole.” Chalvin yang baru saja menghampiri Helios, sengaja menyikapi suami dari adiknya itu dengan dingin.
Jika Helios ibarat pangeran buru*k rupa, Chlavin merupakan putra mahkota sangat tampan. Kulitnya saja tak kalah lembut dari kulit Chole sang adik.
“Jangan gengsi-gengsi. Manusia sekarang makin nekat. Enggak lajang, janda, bahkan masih berstatus istri orang, selagi memang menarik dan bikin mereka nyaman, istri orang pun tetap diembat!” lanjut Chalvin yang yakin, walau Helios sudah langsung tertarik kepada Chole, gengsi Helios yang terlalu besar akan membuat adik iparnya itu menyiksa dirinya sendiri. “Gengsi hanya akan membuat hidup kamu makin susah!” lanjut Chalvin yang juga sekalian pamit.
Helios mendengkus sebal. “Enggak jelas banget!” batinnya mengomentari ceramah dadakan dari seorang Chalvin.
“Apa kalian mau makan dulu? Kalau iya, sekarang juga Mamah siapin,” ucap ibu Aleya yang memang selalu perhatian.
Tuan Maheza berangsur menatap Helios yang sedari tadi hanya diam. “Biar nanti Chole yang urus saja, takutnya Helios enggak nyaman kalau ada kita.” Pada akhirnya, Tuan Maheza juga mengajak sang istri pergi dari sana dengan harapan, Helios akan merasa jauh lebih nyaman karena hanya berdua dengan Chole. Tentunya, ia juga berharap Helios bisa memperlakukan Chole dengan jauh lebih manusiawi.
“Enggak apa-apa Helios dingin ke kita, yang penting dia peduli ke Chole. Bismilah pelan-pelan pasti saling sayang,” lirih Tuan Maheza berbisik-bisik kepada sang istri yang ia rangkul penuh cinta.
Chole melepas kepergian orang tuanya dengan hati yang terasa perih. “Hati Mas sama sekali enggak tersentuh, diperhatikan orang tuaku seperti tadi? Mereka tulus loh, Mas. Mereka sayang Mas, bukan hanya sayang ke uang Mas,” lirih Chole sembari menatap tak habis pikir sang suami.
“Sayangi orang tua kita selagi mereka masih ada. Karena kalau sudah enggak ada, hanya doa yang mampu menyatukan ikatan kita,” lirih Chole lagi yang kemudian menggandeng tangan kiri Helios.
Awalnya Helios yang terlalu terkejut, justru mirip orang linglung. Dan ketika ia mencoba menyudahi gandengan Chole pun, ia terlambat melakukannya lantaran Chole tak mau melepaskannya.
“Dosa loh, kalau Mas enggak mau nyentuh aku! Anak kyai, masa enggak ngerti!” cibir Chole sengaja menyindir-nyindir Helios. Tak diduga, pria itu mendadak membopongnya. Namun tentu saja bukan adegan romantis karena yang berusaha Helios lakukan adalah melemparnya.
“Mas, ih ... jantung sama punggungku masih belum aman!” rengek Chole yang sudah mendekap erat tengkuk Helios menggunakan kedua tangannya.
Niat hati membuat Chole takut, yang ada ulah Helios justru membuat Chole makin menempel kepadanya. Chole bahkan sampai mendekap kepala Helios, kemudian membenamkan wajah di kepala suaminya itu dengan sangat leluasa.
“Hentikan jangan seperti itu!” lirih Helios sengaja memberi Chole peringatan.
Chole yang masih membenamkan wajahnya di ubun-ubun Helios langsung tersenyum jail. Dalam hitungan detik, ia sengaja mendaratkan bibirnya di pipi kanan Helios.
Helios refleks menahan napas, panas dingin dan benar-benar jadi tak karuan karena ulah Chole.
“Ayo kita pulang biar kamu ketemu pak Mul!” kesal Helios sengaja mengancam Chole yang ia ketahui tidak menyukai pak Mul.
“Ih, ngapain ... enggak jelas banget ih Mas!” sebal Chole yang minta diturunkan dari dekapan Helios karena sampai detik ini, pria itu masih membopongnya.
Tinggal di kamar Chole membuat seorang Helios harus berurusan dengan apa-apa yang serba pink. Yang paling membuat Helios risi, tentu keadaan di sana yang sampai dihiasi kelambu warna pink.
Chole yang memimpin langkah, menatap tak habis pikir Helios yang masih saja sibuk dengan kebenciannya sendiri.
“Mas mau aku siapkan makan apa minum?” tanya Chole sambil membuka pintu lemari pink di sebelahnya.
“Enggak perlu,” singkat Helios yang jujur saja hanya asal menjawab. Namun, mata kirinya langsung melotot ketika ia memergoki isi lemari yang Chole buka, berisi koleksi gaun malam.
“Mas, aku harus pakai yang mana? Mas mau aku pakai yang mana?” lembut Chole benar-benar minta pendapat. Wajah bingung seorang Helios tak membuatnya takut. Namun ketika pria itu menatapnya dengan tatapan marah, ia langsung menunduk takut.
Chole menyimpan kembali kedua gaun malam transparan yang sempat ia keluarkan. Satu gaun berwarna hitam, satunya lagi berwarna merah.
“Ya sudah, Mas. Enggak usah buru-buru. Sekarang aku mau langsung tidur, tapi kalau memang Mas butuh sesuatu, Mas langsung bangunin aku saja, ya.”
Chole beranjak duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia membuka cadar kemudian jilbabnya. Chole melakukan itu sambil tetap memunggungi Helios. Kemudian ia sengaja menggerai rambutnya yang sempat terikat, dan berakhir tidur sambil memunggungi Helios yang masih berdiri di seberang sana. Chole menutupi tubuhnya menggunakan selimut pinknya yang tebal sekaligus lembut.
“Memangnya aku kurang menarik, ya?” pikir Chole bingung, kenapa kebencian Helios kepadanya benar-benar tidak bisa ditawar. “Masa iya aku harus jadi kak Cinta?” membayangkan itu saja, hati Chole sudah remuk redam. “Enggak kebayang andai mas Helios sampai menjadikanku pelampias*san. Enggak kebayang andai alasan mas Helios menyentuhku hanya karena mas Helios menganggapku sebagai kak Cinta!” batin Chole lagi.
Baru membayangkan saja, hati Chole sudah tak karuan. Dan Chole jadi tidak bisa tidur apalagi di seberangnya, Helios juga tak kunjung mendekat. Chole berangsur duduk tanpa menyingkirkan selimut hangatnya dari tubuhnya.
“Mas, boleh aku mengajukan syarat?” tanya Chole setelah tatapannya tertuju kepada Helios. “Jangan terus menerus berdiri di situ nanti kaki Mas capek,” lanjut Chole masih bertutur lirih.
“Aku terlalu takut dekat-dekat dengan dia. Takut khilaf!” batin Helios.
Sebenarnya Helios tidak mau dekat-dekat apalagi sampai berbagi tempat tidur sekaligus selimut dengan Chole. Namun, kedua kakinya sudah melangkah mendekat bahkan kini saja, ia sudah sampai duduk di hadapan Chole.
Chole meminta syarat? Syarat apa? Pikir Helios yang selain takut khilaf, ia juga jadi penasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Liiesa Sariie
keren chole,,
2024-05-12
0
🏠⃟ᵐᵒᵐરuyzz🤎𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ🍁🥑⃟❣️
iyaaa ku juga' penasaran
2024-03-13
0
🏠⃟ᵐᵒᵐરuyzz🤎𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ🍁🥑⃟❣️
hahahahahhahahahahahahahahauauua
2024-03-13
0