Ada pengkhianat, Helios yakin itu. Karena tak mungkin anak buahnya membiarkan Cobra dan rombongan Jay masuk. Bahkan mereka sudah sampai membakar markas, sementara anak buah Helios juga masih tidak mengetahuinya.
Helios yakin Cobra dan rombongannya lewat jalan rahasia yang ada di belakang. Jalan rahasia yang tidak sembarang orang mengetahuinya kecuali anggota mereka.
Pertanyaannya, siapa yang tega berkhianat, padahal Syam saja sudah sampai kehilangan kedua kakinya?
Helios berani jamin, bukan Syam pelakunya. Justru Helios curiga, alasan Syam harus kehilangan kedua kakinya karena Syam memilih setia kepadanya.
Di ranjang rawat, Syam yang kakinya sudah penuh darah hingga celana hitam yang dipakai tampak basah meresap ke selimut di sekitarnya, tak hentinya menggeliat kesakitan. Syam menangis meraung-raung karena harusnya, pemuda itu mendapatkan penanganan sekaligus pengobatan sesegera mungkin. Namun, Cobra dan Jay justru menyandera tim dokter yang harusnya menangani.
Cobra si pria yang penuh tato, menyandera dokter Frans selaku dokter andalan milik mafia Helios. Sebuah belati sudah diarahkan ke leher dokter Frans dan sampai ada goresan di sana yang mengeluarkan darah. Dokter Frans tampak ketakutan walau pria berkulit putih itu menyikapi keadaan dengan tenang layaknya anggota lainnya yang turut disandera. Hanya saja, berbeda dengan dokter Frans, anggota yang lain hanya dipaksa duduk di lantai dengan kaki dah kedua tangan terikat tali.
Di ruang tersebut, Helios menjadi satu-satunya mafia dari anggotanya yang masih sehat. Karena meski Syam ada di sana, kali ini pemuda yang sudah seperti adiknya, tak mungkin membantunya lagi. Sementara anggota mafia di luar juga tak mungkin membantu karena selain mereka tidak tahu, mereka tengah sibuk memadamkan api.
Cobra yang merasa menang, tak hentinya pamer senyuman. Matanya yang tak luput dari tato makin lama makin berbinar. “Tunduk dan jadilah anak buahku!”
Tepat setelah Cobra berhenti berbicara, Syam meraung kesakitan dengan suara yang benar-benar terdengar kesakitan. Dada Helios sudah langsung panas layaknya dibakar dengan sengaja, sementara air matanya berlinang tanpa bisa ia halau.
“Si buruk rupa marah! Si buta marah! Hahahaha!” bangga Cobra bertepatan dengan Helios yang mengepal sangat kencang.
Walau Helios masih memakai kacamata hitam, Cobra termasuk anggota lainnya yakin, Helios tengah menatap Cobra dengan tatapan penuh dendam.
Sekeliling Helios sudah dihiasi anggota mafia Cobra. Mereka yang jumlahnya ada sepuluh sudah mengarahkan pist*ol ke Helios. Helios tahu dari suara pelatuk yang silih berganti ditarik. Hanya saja, raungan kesakitan dari Syam menjadi alasan Helios untuk segera menghabis*i Cobra. Apa pun risikonya, Helios tetap maju.
Cobra juga tidak main-main. Ia tidak hanya menggertak Helios. Karena makin Helios maju, makin dalam juga belati di tangan kanannya ia tusukkan ke leher dokter Frans. Darah segar dari leher dokter Frans sudah sampai mengucur ke tangan kanan Cobra. Dokter Frans kesakitan, tapi layaknya Syam, pria paruh baya itu memegang teguh kesetiaannya kepada Helios. Dokter Frans memilih diam dan meluapkan kesakitannya melalui sedikit kegelisahan. Benar-benar sedikit.
“Selangkah lagi kamu maju, dokter ini mati!” tegas Cobra. “Memangnya buntungnya Syam masih belum cukup?” tegas Cobra yang kemudian membuat Jay tertawa.
Jay yang masih berdiri di sebelah kelima tim dokter, menjadi orang yang terlihat paling bahagia dari semua yang ada di sana. “Tunduk kepada kami, dan serahkan segalanya!” tuntutnya.
Jarak Helios dari Cobra, tak lebih dari tujuh meter. Helios tengah mengawasi, memastikan keadaan sebelum dirinya bertindak. “Jangan sampai lebih dari empat detik agar leher dokter Frans tidak robek!” pikir Helios yang mantap melakukan perlawanan.
Helios yang hanya memiliki empat detik untuk menjalani misinya, segera lari. Detik itu juga setiap peluru lolos, mendarat di punggung bahkan tubuh Helios yang lain. Kemeja putih pemberian Chole yang masih Helios pakai sudah langsung berwarna darah. Karena darah segar juga sudah langsung mengucur dari setiap luka. Luka-luka yang seolah sudah langsung terhubung ke Chole.
Di kamarnya, di atas sajadahnya yang masih berwarna pink, Chole terkesiap dan nyaris jantungan hanya karena tasbih miliknya mendadak putus. Tak ada seruan yang mengejutkan, selain Chole yang tidak mengantuk, juga tasbih miliknya yang masih baru. Namun, tali tasbih miliknya mendadak putus hingga biji tasbihnya berakhir tersebar. Hanya tersisa seperempat yang masih bisa Chole selamatkan. Meski Chole juga sudah langsung memungut sisanya kemudian menyusunnya dengan kedua tangannya yang sibuk gemetaran.
Mata Chole yang sudah sembam kembali basah. Dalam hatinya, wanita itu sudah sibuk memohon. “Lindungi suami hamba, hamba janji hamba tidak akan berisik lagi. Hamba janji, hamba akan jadi istri yang baik. Andaipun beliau harus terluka, tidak apa-apa asal luka itu ada obatnya!”
Di ruang kesehatan Helios berada, Helios sudah langsung merebut belati Cobra, tapi Cobra masih menahannya. Helios sudah gemetaran bahkan kesulitan bernapas akibat luka-lukanya, tapi raungan kesakitan dari Syam yang mulai terdengar sumbang dan Helios yakini karena Syam sudah tidak kuasa menahan rasa sakitnya, juga kemeja putih pemberian Chole yang sudah tak berupa, kedua kenyataan tersebut benar-benar membuatnya marah.
Tatapan Helios dan Cobra berseteru di tengah perebutan sengit tangan tangan mereka terhadap belati. Cobra terus menusuk lebih dalam leher dokter Frans, sementara Helios tak memiliki pilihan lain selain menggenggam belati agar dokter andalannya tak makin terluka bahkan fatalnya meregang nyawa. Dan sepanjang itu juga, peluru terus mendarat di tubuh Helios.
Setelah membiarkan tangan kanannya nyaris terbelah akibat keputusannya menggenggam belati, Helios sengaja menghantamkan kepalanya ke kepala Cobra. Detik itu juga mafia anggota Cobra diam. Mereka yang awalnya sibuk menyer*ang Helios termasuk itu Jay, mendadak menjadi penonton perseteru*an Helios dan Cobra.
Cobra dan Helios sama-sama sempoyongan, tapi Helios tetap mempertahankan belati yang juga sudah melukai tangan kanannya. Belati yang juga sudah Helios kuasai kemudian langsung Helios gunakan untuk menye*rang Cobra.
Dokter Frans yang sudah Cobra lepaskan segera menyingkir sembari menutupi luka di lehernya menggunakan kedua tangan.
Helios yang sadar dirinya akan segera sekarat akibat luka-lukanya, sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut. Mata kiri Cobra jadi tujuan sasaran belati di tangan kanannya.
Cobra yang awalnya panik dan langsung berusaha melarikan diri, hanya bisa berteriak kesakitan ketika darah segar mengucur dari mata kirinya. Bahkan hanya selang beberapa detik, hal yang sama juga dialami mata kanannya.
Suasana di sana menjadi ramai oleh raungan kesakitan dari Cobra dan sesekali bersautan dengan raungan dari Syam hingga kebersamaan di sana terdengar sangat mengerikan.
Diam-diam, Jay yang tidak mau bernasib sama justru memutuskan pergi. Iya, Jay melarikan diri. Awalnya hanya melipir, melangkah pelan, dan setelah jaraknya dari pintu makin dekat, Jay langsung lari.
Mendapati salah satu bos mereka kabur, sebagian dari anak buah Cobra juga saling berkode mata kemudian mengikuti apa yang Jay lakukan. Hanya tersisa tiga mafia Jay di sana dan itu pun efek ketiganya terlalu serius memperhatikan perseter*uan Helios dan Cobra.
“Agar kamu merasakan bagaimana rasanya buta!” ucap Helios yang bernapas saja sudah terengah-engah. Ia bahkan mulai kehilangan keseimbangan tubuh, tapi ia sengaja menghampiri salah satu mafia Cobra.
Mafia tersebut ketakutan dan langsung berlutut menyembah Helios. Helios mengambil celurit dari balik punggung sebelah kanan ketiganya. Dan menggunakan ketika celurit tersebut, Helios sengaja membuat Cobra kehilangan kedua kakinya layaknya apa yang telah pria itu lakukan kepada Syam.
Teriak kesakitan dari Cobra benar-benar menggema. Bukan hanya yang di ruangan itu yang ketakutan. Karena Jay dan anggota lain yang sudah ada di luar ruangan juga. Mereka yang makin sibuk berlari, sesekali akan menoleh ketakutan ke belakang.
Helios yang sebenarnya sudah tidak berdaya, terus mematahkan kaki Cobra sambil berlinang air mata menggunakan kedua celurit di kedua tangannya. Karena walau Cobra juga akan kehilangan kedua kakinya layaknya Syam, kenyataan tersebut tetap tidak mampu membuat Syam sehat layaknya sebelumnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Samsia Chia Bahir
😥😥😥😥😥
2024-04-27
0
🏠⃟ᵐᵒᵐરuyzz🤎𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ🍁🥑⃟❣️
aamin
2024-03-13
0
Dewi Sri
ngeri ngeri sedep😅
2024-02-16
0