Sangat Kecewa

Fiera berangkat ke kampus setelah memastikan kedua mertuanya yang kembali ke Palembang. Rumah kembali sepi, tidak ada lagi ibu yang memasakkan sarapan saat dirinya akan berangkat kuliah.

Hari ini, Fiera juga kembali pergi ke kampus dengan menggunakan angkot. Dia lelah jika harus bermain kucing-kucingan. Selain itu, dia sangat lelah jika harus menumpang pada Abimanyu karena dirinya harus turun beberapa ratus meter dari kampusnya. Jadi, dia harus berjalan kaki cukup jauh.

“Fier, kita sebelum ke acara nikahan Bu Gina, kita ke salon dulu, ya?” Anisa langsung menodong saat dirinya masuk ke dalam kelas.

“Ah, gaji gue bulan ini engga besar, Nis,” jawab Fiera meletakkan tasnya di atas meja, lalu dia mengeluarkan bukunya. Hari ini adalah mata kuliah Abimanyu. Mereka harus melakukan penelitian dasar serta presentasi.

Anisa mengerucutkan bibirnya. “Setidaknya, kita harus menata rambut dan juga make up yang cantik.”

Ck! Terdengar decakan malas dari arah samping mereka. Bimo baru saja sampai dan langsung duduk di kursinya. “Lalu bagaimana dengan gue? Masa iya, gue harus tunggu kalian selesai nyalon?”

Bimo pernah mengantar kakak perempuannya pergi ke salon dan dia bisa menyelesaikan game di ponselnya, saking lamanya sang kakak di salon.

“Bim, lo ikut saja, bagaimana? Siapa tahu ada cewek cantik yang kesengsem nanti di nikahan Bu Gina.”

“Gila, ya, lo? Gue mau apa ke salon dulu? Mau pedi medi?”

“Boleh... haha.” Fiera dan juga Anisa kompak menjawab pertanyaan Bimo, hingga membuat pria itu mendengkus.

“Gila!”

Infiera dan juga temannya tergelak dengan Bimo yang merinding saat membayangkan dirinya berlama-lama di salon untuk menata rambut, merias wajah, dan juga mengecat kukunya. Tawa kedua wanita itu langsung terhenti saat melihat dosen galak mereka masuk ke dalam kelas.

“Selamat pagi semuanya.”

“Selamat pagi, Pak.”

“Baik, kita akan meneruskan mengenai metode penelitian, langkah-langkah penelitian, dan juga penyusunan proposal.”

Abimanyu membuka kelasnya, suaranya mampu membuat semua mahasiswa yang hadir begitu tegang. Dosen satu ini, yang terkenal galak memang tidak suka dengan keributan saat kelasnya berlangsung.

“Saya ingin kalian menyusun kelompok kerja. Jika sudah ada, kalian bisa langsung menggunakannya.”

“Baik, Pak.”

“Saya beri kalian waktu sekitar sepuluh menit untuk mendiskusikannya, karena hari ini juga saya akan memberikan  semua materinya.”

Semua orang langsung berkumpul di setiap grup. Fiera sendiri memiliki anggota kedua temannya—Bimo, Anisa, dan satu lagi si ketua kelas. Mereka berkumpul di meja paling depan, milik ketua kelas.

“Kayanya, tugas kali ini memang akan sedikit memakan waktu karena kita juga harus mencari jurnalnya terlebih dahulu. Tentunya, bukan hanya satu saja yang kita butuhkan.” Si ketua kelas langsung menjelaskan kepada Fiera dan juga dua temannya yang lain yang langsung disetujui oleh ketiganya.

“Fier, bagaimana kalau kali ini kos lo yang jadi basecamp kita?” tanya Bimo tiba-tiba. Dia hanya tahu kalau Fiera ini memang tinggal di kos-kosan. “Kita tidak bisa mengerjakannya di cafe buku, kan, karena pasti akan memakan waktu cukup lama.” Bimo menggaruk belakang kepalanya. “Selain itu, gue juga boke kalau harus makan dan minum di cafe.”

Semua orang langsung tertawa dan juga setuju dengan hal itu. Sebagai mahasiswa yang pengangguran, tentunya mereka harus ekstra irit.

Pembicaraan Bimo dan juga ketiga teman satu kelompoknya tentu saja didengar dengan jelas oleh Abimanyu karena posisi mereka yang tepat ada di depannya.

Abimanyu hanya menatap lurus ke arah laptopnya, tapi pendengarannya menunggu Fiera yang belum menjawab. Apakah wanita itu akan membiarkan teman-temannya datang ke rumah?

“Eh? Kenapa di kosan gue?” Fiera seketika menjadi gugup, dia melirik Abimanyu dengan ekor matanya. Bagaimana kalau pria itu marah?

Aaaa!

“Ya, bagaimana lagi. Cuman lo, kan, di sini yang ngekos? Ga mungkin, kan, lo pulang pergi ke Bandung tiap hari?”

Anis setuju dengan ucapan Bimo. “Benar, Fier, gue juga bisa nginap di kosan lo. Gue yakin mak gue setuju jika itu di rumah lo.”

“Eh, tapi... .” Fiera memutar kepalanya untuk menolak teman-temannya. Dia sungguh tidak bisa membawa mereka ke rumahnya.

Selain Abimanyu akan marah, itu juga sangat bahaya. Bagaimana kalau mereka mengetahui mengenai hubungannya dengan Abimanyu? Pria itu pasti akan lebih marah, karena Abimanyu tidak suka jika ada orang lain yang tahu. Apa lagi, sekarang Almira, kekasihnya juga bekerja di kampus yang sama.

“Oh, iya, jika kalian membutuhkan sumber. Kalian bisa datang ke Alsal Media. Cari Mas Joko dan katakan pada beliau kalau saya yang menyuruh. Selain itu, di sana memiliki perpustakaan yang bisa kalian gunakan untuk berdiskusi.”

“Asyik!” Semua orang bersorak mendengar ucapan Abimanyu itu. Tentu saja, mereka senang karena bisa mendapatkan sumber secara gratis. Perusahaan percetakan seperti itu pasti memiliki orang-orang yang sangat berkompeten di bidangnya yang bisa juga mereka jadikan nara sumber.

“Wah, kebetulan sekali. Kita bisa ke sana, kan, guys?” Arfan, si ketua kelas bertanya lantang pada anggotanya.

“Gue, sih, yes!” Anisa menjawab cepat.

“Gue ikut saja.” Bimo juga langsung mengacungkan jempolnya.

“Oke, fix!”

Fiera melirik Abimanyu yang kembali fokus dengan laptopnya. Pria itu sudah menyelamatkan nasibnya. Dia bernapas lega karena tidak perlu berdebat dengan Abimanyu dan juga tidak perlu susah payah menjelaskan jika terjadi sesuatu nantinya.

“Kirain saya, kita boleh mengerjakan tugas di rumah bapak. Kalau begitu, kan, kita bisa tahu bagaimana keseharian bapak. Iya, ga, guys?” Sania, gadis centil yang ada di kelas itu bersuara. Sejak pertama kali kelas Abimanyu, wanita itu memang menunjukkan ketertarikannya, hanya saja karena Abimanyu yang selalu bersikap acuh tak acuh, dia tidak bisa menunjukkannya secara terang-terangan.

Sayangnya, ucapannya sama sekali tidak mendapatkan sahutan. Beberapa orang malah menyorakinya.

“Siapa namamu?” tanya Abimanyu menunjuk Sania.

“Sania, Pak,” jawabnya dengan malu-malu, tapi dia terlihat senang karena Abimanyu menanyakan namanya.

“Baiklah, nilaimu akan dikurangi untuk tugas kali ini. Silakan kerjakan tugas tambahan nanti untuk memperbaikinya!”

Seketika, ruangan kelas langsung senyap karena ucapan Abimanyu yang tanpa ampun. Padahal, sebelumnya mereka sedang merasa senang karena tawaran Abimanyu yang menyuruh mereka untuk datang ke Alsal Media untuk tugas kali ini.

Sania langsung menyun dan memasang ekspresi masam. Padahal, melihat Abimanyu yang lebih ramah belakang ini sudah membuatnya senang, tapi ternyata dugaannya salah!

Abimanyu tetap Abimanyu, dosen galak yang menyebalkan.

Setelah diskusi, Abimanyu kembali memulai pelajarannya. Dia menjelaskan semua dasar penelitian dan juga apa saja yang harus diteliti untuk tugas akhir semester ini.

“Baiklah, saya tunggu tugas kalian minggu depan sebelum ujian akhir dilaksanakan. Saya harap semua kelompok menyelesaikan tepat waktu.

“Baik, Pak.”

Setelah itu, Abimanyu bergegas meninggalkan kelas.

Anisa yang duduk di baris ke tiga langsung menghampiri dua temannya yang duduk saling bersisian. “Fier, ayo, kita harus segera pergi.”

“Kalian jadi pergi ke salon?”

“Jadilah, lo pikir kita mau berangkat dalam keadaan butek gini?” sinis Anisa.

Bimo tergelak. “Okelah, telepon gue kalau kalian mau selesai. Gue langsung menyusul ke salon kalau begitu.

“Oke!”

“Bim, jangan lupa bawa kadonya, ya.” Fiera mengingatkan sebelum dia pergi bersama dengan Anisa.

“Beres!”

Infiera akhirnya memutuskan untuk ikut ke salon. Sepertinya tidak apa jika menata rambutnya sedikit. Saat sedang berjalan meninggalkan kampus, ponsel Infiera berdering, sebuah pesan masuk. Dia segera membacanya, ternyata itu dari Abimanyu.

[Apa kau mau pergi bersamaku ke acara nikahan Bu Gina?]

Fiera mengerjapkan matanya saat membaca pesan itu. Apakah Abimanyu mengajaknya pergi bersama-sama? Atau... apakah dia salah kirim pesan.

[Mas engga bareng sama dosen yang lain?] Fiera membalas, dia tidak memiliki keberanian untuk menyebut nama Almira.

[Engga! Nanti aku akan menjemputmu.]

Fiera panik, ternyata Abimanyu benar-benar mengajaknya. Dia merasakan kupu-kupu menggelitik perutnya, ada perasaan hangat di hatinya, tapi...

[Aku mau ke salon sama Anisa. Kayanya, engga bisa, deh.]

[Tidak masalah, katakan saja pada temanmu untuk bareng sama siapa itu... Bimo. Bukankah dia membawa motor? Jadi, kau pergi bersamaku.]

Membaca pesan itu, Fiera tersenyum lebar. Entahlah, dia merasa senang saja. Padahal, Abimanyu hanya mengajaknya untuk pergi bersama ke acara pesta pernikahan Bu Gina.

[Baiklah, aku akan menghubungi jika selesai.]

[Oke! Kau bisa menggunakan kartunya untuk membayar. Berdandanlah dengan cantik.]

Fiera menggigit bibirnya saat melihat pesan terakhir yang Abimanyu kirimkan. Cantik?

“Lo kenapa Fier senyum-senyum sendiri? Siapa yang kirim pesan?”

Fiera buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menggeleng. “Tidak ada!”

“Tidak ada? Jelas-jelas kau baca pesan dan senyum.” Anisa berkata menuduh. “Jangan bilang lo punya pacar. Ayo, siapa? Katakan padaku?”

“Apaan, sih?”

“Ayolah, Fier. Bukankan kita teman?”

Fiera semakin menahan senyumnya malu. “Tidak ada. Ayo, pergi. Itu angkotnya.”

Anisa menyun. Dia akhirnya ikut menaiki angkot untuk menuju salon. Padahal, dia sangat penasaran.

Fiera yang awalnya hanya ingin menata rambutnya dia mengikuti temannya yang akan makeover. Lagi pula, Abimanyu sudah mengizinkan untuk menggunakan uangnya. Atau mungkin, karena dirinya akan pergi dengan suaminya, makanya Fiera ingin terlihat lebih cantik?

Sayangnya, gadis itu enggan mengakuinya. Dia memilih untuk menjaga hatinya, meski Abimanyu adalah suaminya. Kehadiran Almira, membuat Infiera harus mengubur segala harapan yang dimilikinya.

Almira adalah wanita dewasa yang sangat elegan, cantik. Dia juga seorang dosen, sama seperti Abimanyu. Sedangkan dirinya? Hanya seorang mahasiswa yang dibiayai oleh suaminya.

Fiera meminta pihak salon untuk mendandaninya dengan make up yang flawless, dan juga tatanan rambut yang sederhana.

Membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk para wanita bersiap di salon. Bimo terus mengirimkan pesan kepada Fiera kalau dirinya akan pergi duluan.

Fiera segera mencegah. Kalau Bimo pergi lebih dulu, lalu bagaimana dengan temannya? Sedangkan dirinya akan pergi bersama dengan Abimanyu.

Bimo mengalah, meski dia terus menggerutu dalam pesan yang dikirimkannya.  

“Wah, apa lo benar-benar Fiera teman gue?” Anisa yang baru selesai menatap takjub pada temannya.

Selama ini, Fiera jarang sekali dandan. Dia hanya mengenakan bedak dan liptin tipis. Sekarang, gadis itu menata rambutnya dengan cantik dan riasan di wajahnya nampak flawless.

“Itu karena teman mbaknya juga sudah cantik. Jadi dipoles dikit saja langsung terpancar kecantikannya.” Pegawai salon yang menangani Infiera menimpali, dia juga ikut senang melihat hasil karya tangannya.

“Ah, itu juga karena mbak hebat mendandaninya.” Anisa memuji, membuat pegawai salon itu tersipu.

“Apa sungguh tidak aneh, Nis?” Fiera merasa tidak percaya diri dengan hal itu.

“Dih, lo pikir gue ngomong cuman buat nyenengin hati lo doang?”

Fiera merona mendengar ucapan temannya itu. Hatinya berdebar, membayangkan mendapat pujian itu dari suaminya.

Fiera melirik ponselnya. Ternyata Abimanyu sudah mengirimkan pesan.

[Aku sudah sampai di depan toko cendera mata yang tidak jauh dari salon.]

Fiera menahan senyumnya membaca itu. Dia  tahu toko yang dimaksud Abimanyu.

“Nis, lo bareng sama Bimo. Biar gue pesan ojol saja.”

“Eh, beneran ga apa-apa? Kita bisa pesan taksi online, loh. Masa sudah cantik naik motor.”

Fiera tertawa mendengar hal itu. “Jaraknya engga jauh juga. Sudah sana pergilah. Bimo di depan.”

“Engga, ah, gue tunggu lo sampai ojeknya datang.”

“Sudah sana pergi. Ojek gue sudah mau sampe juga.”

Anisa awalnya masih kekeh untuk menunggu, tapi akhirnya dia kalah dan pergi bersama dengan Bimo.

Setelah dua temannya meninggalkan salon. Kini giliran Fiera yang berjalan cepat menghampiri mobil milik Abimanyu yang katanya diparkirkan di dekat toko souvenir.

Dia tersenyum lebar, memikirkan Abimanyu memujinya. Saat matanya menangkap mobil putih milik suaminya, Fiera semakin bersemangat dan senyumnya semakin lebar.

Akan tetapi, saat dia hendak menyeberangi jalan. Tiba-tiba dari dalam toko souvenir seorang wanita yang sangat dikenalnya keluar. Wanita itu tersenyum dan menghampiri mobil Abimanyu.

Dia adalah Almira. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan kebaya modern yang dikenakannya dan rambut sebahunya tergerai begitu saja.

Abimanyu keluar saat wanita itu mengetuk kaca mobilnya. Mereka berdua berbicara sebentar, lalu masuk ke dalam mobil. Abimanyu sempat melirik kesana kemari, sebelum masuk ke dalam mobil. Sekitar lima menit, mobil itu tetap diam, sampai akhirnya melaju meninggalkan area parkir toko souvernir.

Fiera yang bersembunyi di samping toko seberang menunduk melihat ponselnya. Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Abimanyu.

[Aku ada urusan mendadak, kau bisa memesan taksi, ya. Maaf. Kita bertemu di tempat acara.]

Fiera menghela napas dalam-dalam setelah merasakan oksigen di rongga dadanya seperti menipis melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dia menengadahkan wajahnya untuk menahan genangan yang ada di matanya saat ini. Fiera mengembuskan napas berat sebelum berbalik dan berjalan untuk mencari kendaraan umum.

Kecewa! Itulah yang Infiera rasakan saat inj, melihat Abimanyu memilih pergi dengan Almira.

...Jangan lupa tap dulu tombol like-nya sebelum pergi....

Terpopuler

Comments

Wy Billa Chan

Wy Billa Chan

kalo aku jadi kami fier aku bakal ninggalin cowok itu

2025-03-04

0

Wy Billa Chan

Wy Billa Chan

kalo aku jadi kami fier aku bakal ninggalin cowok itu

2025-03-04

0

Febby Fadila

Febby Fadila

jangan di harepin lagi fier mebding pisah aja

2024-08-13

1

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!