Kita Berteman

Abimanyu sampai di rumah dengan mulut yang tidak berhenti menggerutu. Ternyata, gangguan orang-orang tidak berhenti hanya di mini market, tapi saat dirinya membeli nasi goreng juga.

Beberapa perempuan penghuni komplek itu juga tidak mau kalah, mereka menggodanya—mengatakan kalau mereka tidak menyangka ada pria tampan tinggal di lingkungannya.

Sebenarnya tidak mengejutkan, karena setiap hari Abimanyu hanya berada di rumah saat malam hari. Jika tidak ke kampus, Abimanyu akan pergi ke kantornya.

Para gadis itu terus menggodanya, seolah itu hal yang wajar bagi mereka. Itulah yang membuat Abimanyu tidak nyaman.

Sial banget!

Abimanyu masuk ke dalam rumah, dia berjalan menuju kamar Infiera setelah meletakkan barang belanjaannya dan mengetuk pintunya terlebih dahulu. Setelah mendapatkan sahutan dari dalam, Abimanyu masuk. Dia melihat wanita itu yang masih berbaring di tempat tidur.

“Kau harus makan dulu sebelum minum obatnya. Aku meletakannya di meja makan.”

Fiera mengangguk. Dia mencoba bangkit dari berbaringnya perlahan. Perutnya sudah sedikit membaik, mungkinkah karena mood-nya membaik, itu sebabnya sakitnya juga berkurang?

Semua itu karena sikap Abimanyu yang berubah total. Walau disayangkan, kepeduliannya harus menunggu Fiera sakit terlebih dahulu.

“Apa kau bisa berjalan?” tanya Abimanyu, dia sedikit merentangkan tangannya, bersiap menangkap tubuh wanita itu jika sampai terjatuh kembali.

“Tentu saja, aku tidak lumpuh.” Mungkin karena hormon yang tidak stabil, membuat Fiera kesal hanya karena pertanyaan suaminya, padahal pria itu bermaksud baik.

Ck!

Abimanyu berdecak. “Siapa tahu saja kau ingin kugendong lagi!” Abimanyu menggerutu kesal sembari menyindir, dia melangkah melewati Fiera dan keluar dari kamar.

Fiera merasakan pipinya memanas karena malu. Ternyata, Abimanyu khawatir kalau dia akan terjatuh.

Saat masuk ke ruangan makan, Fiera melihat nasi goreng yang sudah diletakkan di atas piring dan juga satu gelas air mineral di samping kanannya dan juga botol jamu pereda nyeri di samping kirinya. Hatinya menghangat hanya karena melihat hal itu.

“Makanlah, setelah itu minum obatmu,” ucap Abimanyu, menarik kursi untuk Infiera.

Fiera hanya mengangguk, jantungnya berdetak keras dengan perlakuan Abimanyu yang tak biasa.

“Setelah selesai, ada hal yang ingin aku bicarakan.”

Fiera membeku mendengar ucapan Abimanyu selanjutnya, perasaannya menjadi salah tingkah, tapi wajahnya berubah pucat. Tiba-tiba, pikiran buruk memenuhi benaknya.

Apakah dia ingin membicarakan pertengkaran mereka terakhir kali?

Apakah Abimanyu ingin membahas mengenai ucapan Fiera yang meminta untuk menceraikannya jika Abimanyu sudah tidak bisa lagi meneruskan pernikahan mereka?

Kenapa Fiera menjadi takut jika memikirkan hal itu? Padahal, dia mengatakannya karena kemarahan atas ucapan Abimanyu yang menyakitkan.

“Apa ada masalah?” tanya Abimanyu saat melihat Fiera yang hanya diam saja.

“Ah, tidak apa-apa.”

“Baiklah.”

Setelah mengatakan itu, Abimanyu berlalu menuju kamarnya dan membiarkan Infiera menikmati makanannya.

Setengah jam berlalu, Abimanyu kembali terlihat turun ke lantai satu dengan menggunakan pakaian santainya—kaos berwarna hitam dan juga celana training, menghampiri Fiera yang sudah selesai meminum obatnya.

Fiera semakin gugup melihat suaminya yang berjalan mendekat.

Dia memang sempat berpikir, mungkin pernikahannya suatu saat tidak bisa lagi dipertahankan karena sikap Abimanyu yang tidak pernah berubah, tapi haruskah secepat ini?

Bagaimana dia menjelaskannya pada orang tuanya? Bagaimana Fira memenuhi janjinya untuk menyelesaikan kuliahnya?

“Aku ingin berbicara denganmu.” Abimanyu memulai pembicaraan setelah dia duduk di hadapannya.

Fiera mengangkat wajahnya, menatap pria itu, menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya.

“Ini mengenai pernikahan kita.”

Deg!

Benarkan?

Fiera merasakan telapak tangannya menjadi dingin. Dia mengepalkan tangannya, menguatkan dirinya untuk keputusan apa pun yang Abimanyu berikan. Mungkin memang seperti inilah akhirnya.

“Kita sama-sama tahu kalau pernikahan ini tidak pernah kita harapkan. Kita sama sekali tidak saling mengenal, bahkan setelah satu tahun menikah, kita masih belum bisa saling mengenal,” tutur Abimanyu.

Hal itu justru membuat Infiera semakin gugup dan takut, dia menundukkan kepalanya, menyiapkan diri. Tangan yang berada di bawah meja saling meremas.

“Sampai kapan pun, semua tidak akan pernah berubah jika kita tidak saling mengenal,” lanjutnya lagi. Fiera semakin tidak karuan.

“Aku tahu kau pasti membenciku karena aku yang selalu seenaknya, dan aku juga, ya, belum bisa mencintaimu.” Abimanyu berkata demikian bukan karena dia tidak bisa mencintai Infiera, tapi karena memang mereka tidak saling mengenal, bagaimana cinta itu bisa tumbuh jika tidak berusaha menumbuhkannya, melalui perkenalan.

Akhirnya, Fiera sampai di titik dia pasrah dengan apa yang hendak Abimanyu katakan selanjutnya.

Namun, dugaannya salah.

“Sepertinya, tidak ada salahnya jika kita berteman.”

Hah?

Fiera mengangkat wajahnya, kembali melihat pria yang ada di hadapannya. Apa maksudnya?

Dia sampai ingin menggosok telinganya, saking tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Abimanyu. Tapi, dia juga tidak berani bertanya dan hanya memandangnya.

“Bagaimana? Kita bisa menjalani semuanya sebagai teman untuk saat ini. Bagaimana ke depannya, kita akan membicarakannya lagi nanti.”

Ternyata Abimanyu sungguh mengajaknya untuk berteman. Fiera menertawakan dirinya sendiri, menghela napas lega karena ternyata ketakutannya tidak beralasan.

“Kenapa tiba-tiba mengatakan itu?”

Saat mereka pertama kali menikah saja, Abimanyu tidak membahas masalah ini. Begitu juga setelah mereka pindah ke Jakarta. Abimanyu hanya mengatakan kalau mereka akan tidur di kamar terpisah karena bagaimanapun keduanya tidak pernah menginginkan pernikahan itu. Pikirnya.

“Ya, semua karena masalah beberapa hari yang lalu. Aku memang marah dengan ucapanmu, tapi setelah dipikirkan lagi, memang benar hubungan kita tidak pernah berjalan dengan baik. Aku dengan kesibukanku, kau dengan kesibukanmu. Parahnya, aku selalu menyalahkanmu saat ada kesalahan sedikit saja di rumah, tapi engga pernah mau peduli.”

Fiera hanya diam menyimak penuturan Abimanyu.

“Aku tahu, kau akan sulit mencintaiku begitu juga denganku. Kita tidak bisa menjalani pernikahan yang seperti itu. Makanya, kita bisa berteman. Bagaimana?”

Fiera berkedip beberapa kali. Dia ingin sekali tertawa keras. Tidak tahukah Abimanyu jika dirinya pernah berpikir untuk menjadi istri yang baik? Dia bahkan pernah berjanji pada diri sendiri untuk berterima kasih pada pria itu dengan mengabdikan hidupnya sebagai istri karena Abimanyu sudah memberi kesempatan untuk berkuliah.

Namun, bukannya mendapat balasan yang sama, Fiera hanya selalu diabaikan selama satu tahun ini dan sekarang, tiba-tiba Abimanyu menawarkan pertemanan padanya.

Bagaimana pria itu tahu Infiera tidak bisa mencintainya jika tidak diberi kesempatan?

Sangat menggelikan, mengingat hubungan mereka adalah suami-istri secara hukum agama dan juga hukum negara.

Akan tetapi, yang dikatakan Fiera justru, “Baiklah.” Jawaban singkat yang sedikit ambigu. Dia hanya mengikuti permainan yang dibuat Abimanyu.

Abimanyu tersenyum tipis. Hal yang jarang sekali pria itu lakukan sebelumnya. Dia mengulurkan tangannya ke hadapan Infiera. “Baiklah, mulai saat ini kita berteman.”

Fiera menatap tangan yang terulur di hadapannya, hanya sesaat, lalu dia menerimanya. “Ya,” jawabnya dengan suara pelan.

Fiera masih tidak mengerti dengan keputusan Abimanyu, tapi dirinya tidak bisa protes sama sekali. Biarlah semua berjalan seperti itu saat ini.

***

Keesokan harinya, Fiera merasakan perutnya sudah membaik, dan kepalanya juga tidak lagi berdenyut. Dia masih berbaring di tempat tidurnya. Pembicaraannya dengan Abimanyu semalam kembali teringat. Fiera tertawa sumbang. ‘Teman? Yang benar saja!’

Suara benda jatuh terdengar dari luar kamar. Kening Fiera berkerut. Dia buru-buru bangun dan turun dari tempat tidur untuk memeriksa apa yang terjadi.

Fiera melangkah menuju dapur, kerutan di keningnya semakin dalam. Dia melihat Abimanyu yang berada di dapur, seperti sedang memasak.

“Kau sudah bangun?” tanyanya, suara rendah, tapi jauh berbeda dengan biasanya. Itu, terdengar lebih ramah.

“Ya,” jawab Fiera masih bingung. Ini sudah pukul tujuh, tapi Abimanyu masih berada di rumah. Biasanya pria itu sudah meninggalkan rumah sejak pukul enam pagi.

“Fiera, bisakah kau menjemur cucian? Aku sudah mencucinya.”

Apa?

Fiera terkejut dengan ucapan Abimanyu. Apa katanya? Mencuci? Sejak kapan pria itu mencuci? Sejak mereka tinggal satu rumah, pria itu tidak pernah menyentuh cucian.

“Kenapa diam? Cepatlah, setelah itu kita bisa sarapan bersama. Bukankah kau ada kelas?”

Fiera masih merasa ling-lung, tapi dia tetap berbalik dan melangkah menuju ke belakang untuk mengambil cucian yang dimaksud Abimanyu dan menjemurnya di bagian belakang.

“Apa semalam dia membeli Kira*ti lebih dan meminumnya?” gumam Fiera berpikir tidak masuk akal. “Apa jangan-jangan saat dia membeli obat, dia kecelakaan dan geger otak?” Semakin tidak masuk akal.

“Fiera, apa kau sudah selesai?”

Fiera tersadar, dia menyahut, “Sedikit lagi.” Dia buru-buru menyelesaikannya dan kembali masuk ke dalam rumah.

Ternyata, Abimanyu sudah selesai dengan masakannya. Fiera melirik, entah apa yang dimasaknya, pasti tidak jauh dari makanan sehatnya.

‘Oh, tidak ada salad dan telur. Syukurlah.’

“Cepat, bersiaplah, lalu segera sarapan.”

Fiera hanya bisa mengangguk, dia masih terlalu terkejut dengan sikap Abimanyu yang berubah drastis saat ini. Fiera bersiap karena hari ini masih ada kelas.

Begitu keluar dari kamar, ternyata Abimanyu juga sudah siap untuk pergi. Fiera duduk di hadapan pria itu dan mengambil piring, ‘Tumben,’ pikirnya saat melihat nasi yang ada di atas meja.

“Apakah kau bisa mengendarai motor?” tanya Abimanyu tiba-tiba di sela sarapannya.

“Bisa.”

“Apakah kau punya SIM?”

Fiera menggeleng pelan.

“Bagaimana mungkin kau bisa mengendarai motor, tapi tidak punya SIM?”

Fiera hanya membalas pertanyaan Abimanyu dengan tersenyum. Dulu, dia belajar motor dengan saudaranya yang memiliki usaha catering. Dia membantu untuk mengantarkan pesanan pada pelanggan. Ayahnya memang memiliki motor, tapi hanya motor yang sudah butut yang biasa digunakan ayahnya ke kebun untuk bertani.

“Kita tidak mungkin pergi ke kampus bersama. Aku akan membelikanmu motor, tapi sebelum itu kau harus mengurus SIM-nya terlebih dahulu.”

“Eh? Tidak, tidak perlu. Aku bisa naik angkot untuk pergi ke kampus.”

Mengurus SIM itu, kan, membutuhkan biaya. Fiera tidak memiliki uang simpanan saat ini.

“Kenapa? Kau tidak suka? Kau ingin menggunakan mobil?”

Fiera terkejut. “Bukan itu. Aku tidak bisa mengendarai mobil. Hanya saja, memang tidak perlu.”

“Tidak. Semua sudah diputuskan, besok aku akan mengurus semuanya. Kau segeralah urus pembuatan SIM-nya.”

Abimanyu menyelesaikan sarapannya, dia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju sofa ruang tengah untuk mengambil tas yang sudah diletakkan di sana.

Setelah kepergian Abimanyu, Fiera menjatuhkan kepalanya di atas meja. Dia bergumam. “Sepertinya Abimanyu benar-benar geger otak,” gumamnya. Hanya sikapnya saja yang berubah, tapi dia tetap berbuat seenaknya tanpa mau mendiskusikannya dengan dirinya.

 

 

Terpopuler

Comments

Febby Fadila

Febby Fadila

maunya menang sendiri

2024-08-13

0

putia salim

putia salim

hhmmmm....manyu manyu....🤦‍♀️

2024-07-26

1

Oseng Oseng Sawit

Oseng Oseng Sawit

juoos

2024-05-13

0

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!