Mengajak ke KUA

Tekan tombol like sebelum melanjutkan.

Suasana pagi yang biasa sepi, kini terasa lebih hangat karena ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Ayah mertua juga tidak mau kalah, kebiasaannya di Palembang kini dilakukan di rumah anak-anaknya—menyiram

tanaman – memotong, dan membersihkannya. Sungguh, suasana yang ceria dan menghangatkan.

“Kamu, potong saja buahnya, biar ibu yang masak.” Ibu memerintahkan Fiera. Akhirnya, seperti itulah pembagian pekerjaan pagi ini.

Jangan tanya di mana Abimanyu, pria itu sedang menjemur pakaian yang baru saja selesai dicuci. Pria yang biasa terlihat rapi dengan celana cino dan juga kemeja. Pagi ini, dia masih mengenakan celana pendek dan kaos hitam. Mungkin karena dia ingin lebih lama bersama dengan kedua orang tuanya, karena hampir satu tahun tidak bertemu.

Abimanyu dan ayah mertua datang ke dapur, menghampiri para wanita yang baru selesai masak. Ayah berbinar, begitu juga dengan putranya.

“Wah ... makan enak kita pagi ini.” Abimanyu terlihat senang, baginya masakan ibu mengalahkan makanan mewah mana pun.

“Berlebihan!” sindir ayah yang duduk di kursi depan. “Masakan istri jauh lebih enak biasanya.” Ayah mengingatkan karena Abimanyu seperti berkata kalau biasanya dia tidak pernah menikmati masakan istrinya.

Fiera tersenyum, dia melirik Abimanyu—memberikan tatapan mengejek. Dia ingin menjulurkan lidahnya, tapi menahan diri karena ada kedua mertuanya.

Ibu hanya menggelengkan kepalanya, paham maksud dari suaminya.

“Nak, mau bareng ayah ke kampusnya?” tanya ayah mertua pada Fiera, karena dia tahu kalau Abimanyu kini tidak ada jadwal mengajar. Jadi, tidak ada salahnya dia mengantar Fiera terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat dia mengisi seminar.

Fiera langsung menggelengkan kepalanya karena dia tahu tempat mertuanya mengisi seminar itu berlawanan arah dengan kampusnya. “Tidak perlu, Yah, aku bisa naik angkot saja.”

Ibu yang duduk di samping suaminya menyahut, “Loh, kok naik angkot? Kan, ada suamimu? Dia juga bisa mengantar terlebih dahulu, kan, sebelum pergi ke kantor?”

Abimanyu yang baru saja menyuapkan nasi ke mulutnya tersedak dan terbatuk. Ibu terkejut dan segera memberikan gelas berisi air. “Kamu kenapa, Bi, hati-hati kalau makan.”

Fiera hanya diam, melirik Abimanyu karena tahu alasannya. Dia menggigit bibirnya. Jelas, Abimanyu tidak ingin semua orang tahu kalau dia adalah suaminya.

“Tidak apa-apa, Bu, aku hanya tersedak.”

Suasana hatinya berubah karena ibunya tiba-tiba memintanya mengantarkan Fiera. Dia tidak suka jika jadwal kerjanya berubah tiba-tiba.

...

Akhirnya, Abimanyu harus mengalah, mengantarkan Fiera ke kampus. Padahal, dia berniat untuk hunting tempat untuk usaha barunya. Abimanyu berniat membuka cafe bersama dengan Gerald Keegan, rekannya.

“Mas, turunkan aku di dekat halte saja. Aku naik angkot dari sana.” Kini keduanya berada di dalam mobil menuju kampus. Abimanyu hanya diam sepanjang perjalanan. Hal itu membuat Infiera sungguh tidak nyaman.

Supir angkot saja masih bisa diajak ngobrol. Pikirnya.

Lagi-lagi, Abimanyu hanya diam, wajahnya masih datar dan tatapannya lurus melihat jalanan yang ramai di depannya.

“Mas!” panggil Fiera lagi karena diabaikan pria itu.

“Diamlah, aku akan mengantarkanmu ke kampus!” ketusnya, sikapnya jauh berbeda dengan saat di depan kedua orang tuanya. Abimanyu tampak seperti manusia labil yang menyebalkan bagi Fiera saat ini.

Infiera menarik napas dan mengembuskannya cukup keras, membuat Abimanyu sedikit menoleh, lalu kembali melihat ke arah depan. “Kenapa? Apakah kau tidak suka aku antarkan?” tanyanya, tanpa mengalihkan pandangannya.

“Bukannya mas yang tidak mau mengantarkanku?” sahut Fiera, dia memalingkan wajahnya keluar jendela, sedikit jengkel dengan sikap judes pria itu.

Abimanyu menghela napas pelan. “Aku hanya sedikit kesal karena akhirnya harus membatalkan jadwal hari ini dan pergi ke kampus.”

Fiera merasa hatinya dicubit mendengar hal itu. Namun, dia tetap diam mendengarkan. “Padahal, hari ini engga ada jadwal mengajar.”

“Kenapa? Kan, bisa langsung pergi setelah mengantarku?”

Abimanyu mendengkus. “Lalu, bagaimana jika ada yang melihat kita dan berpikiran yang tidak-tidak? Ya, setidaknya kalau aku datang ke kampus. Mereka akan berpikir kalau kita hanya bertemu di jalan dan aku mengajakmu.”

Fiera merasakan punggungnya yang tegang, dia bergumam dalam hati. Apakah sampai seperti itu Abimanyu tidak ingin pernikahan mereka diketahui? Apakah gosip mengenai dirinya dan juga Bu Almira adalah fakta?

Seharusnya, tidak masalah jika ada yang berpikiran macam-macam karena kenyataannya mereka sudah suami istri, tapi Abimanyu malah setakut itu dengan pandangan orang lain.

Hatinya sedikit mencelos. Padahal, Fiera sudah berpikir dengan hubungan mereka yang membaik setelah kesepakatan pertemanan. Ternyata memang tidak ada yang spesial, selain hanya seorang teman.

“Turunkan aku di dekat mini market itu.” Fiera menunjuk mini market di dekat gerbang kampusnya.

Abimanyu sedikit tertegun, bukan karena permintaan istrinya, tapi karena suara Fiera yang asing di telinganya—dingin dan ketus. Abimanyu memutar setirnya dan menghentikan mobilnya sesuai permintaan istrinya.

Fiera turun tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia menutup pintu sedikit keras, membuat Abimanyu terkejut dengan perubahan sikapnya yang begitu cepat. Kenapa dia? Gumamnya.

Saat keluar dari mobil, baru saja dirinya akan melangkah menuju kampusnya, Fiera dikejutkan oleh dua temannya yang baru saja keluar dari mini market dengan menenteng kantong keresek berisi makanan.

“Fiera, lu ke sini bareng Pak Abi?” pertanyaan itu terlontar begitu saja, saat Anisa mengenali mobil Abimanyu yang masih di sana, sepertinya pria itu menyadari orang lain yang memergoki mereka.

Tubuh Fiera menegang, dia merasa kaku untuk menjawab. Wanita itu juga melirik ke arah mobil yang belum pergi juga.

“Itu, kami...”

Sebelum Fiera menjawab, Abimanyu tiba-tiba menurunkan kaca mobilnya dan berkata, “Infiera, terima kasih bantuannya, karena kamu, akhirnya saya menemukan toko obat herbal yang bagus.”

Fiera meringis mendengar kebohongan Abimanyu, tapi dia langsung menangkap maksud pria itu.

“Sama-sama, Pak.”

Setelah mendengar jawaban Fiera, Abimanyu pergi melajukan menuju kampusnya. Sedangkan Infiera hanya bisa menghela napas lega karena memiliki alasan untuk menjawab pertanyaan temannya.

“Kami tidak sengaja bertemu pas aku lagi tunggu angkot. Dia nanyain toko yang jual obat herbal. Sebagai ucapan terima kasihnya, dia kasih tumpangan. Lumayan, kan, engga perlu keluar ongkos.”

“Haha ... lo benar, Fier.” Anisa tertawa dan merangkul pundak wanita itu. “Ayo, kita pergi. Hayu, Bim.”

Kedua wanita itu melangkah masuk ke dalam area kampus seraya bercengkrama banyak hal, sedangkan Bima menatap Infiera dengan tatapan aneh. Dia jelas-jelas melihat temannya itu membanting pintu mobil dengan raut wajah yang sangat kesal saat turun. Tidak mungkin jika mereka hanya tidak sengaja bertemu.

***

“Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompoknya akan dibentuk oleh ketua kelas. Kalian tidak bisa protes.” Gerald memberikan tugas sebelum meninggalkan kelasnya hari ini. “Kalian bisa mencari beberapa buku untuk dikaji. Bagaimana penyuntingan buku itu, kalian bisa menemukan kelebihan dan kekurangannya.”

Setelah merinci apa saja yang harus dilakukannya, Gerald melirik pada ketua kelas. “Daftar kelompoknya serahkan hari ini juga.”

“Baik, Pak.”

Setelah itu Gerald melangkah meninggalkan kelas, seperti biasa pria itu selalu terlihat ceria dan penuh energi.

Fiera menelungkupkan kepalanya setelah mata kuliah terakhir selesai. Dia berniat untuk pulang langsung hari ini karena Gio, editornya mengirim pesan untuk segera merevisi buku baru yang akan diterbitkannya lagi.

“Fiera, bukannya lo mau pergi ke ruang dosen dulu untuk mengantarkan buku punya Bu Almira?” tanya ketua kelas, menghampiri mejanya.

“Iya, gue mau mengembalikan buku yang selesai dipotocopy.”

“Titip ini sama Pak Gerald, ya? Gue harus ke pergi menemui dekan.”

Fiera mengangguk dan menerima kertas yang diberikan oleh ketua kelas.

Setelah membereskan buku-bukunya, Fiera melangkah menuju ke ruang dosen. setelah ucapan Abimanyu pagi tadi, Fiera seperti tidak memiliki energi apa pun untuk melakukan banyak hal.

Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Apakah marah, kecewa? Tapi, kenapa? Bukannya dari awal dia tahu jika memang seperti itulah hubungan pernikahan mereka.

Ketika sudah dekat dengan ruang dosen, Fiera mendengar tawa beberapa dosen yang sedang bercanda. Dia mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan itu. “Permisi.”

Ternyata, di dalam ruangan itu hanya ada empat orang dosen, yakni Abimanyu, Gerald, dan juga salah satu dosen perempuan yang entah siapa Fiera lupa namanya, satu lagi... Almira.

Wanita itu duduk di kursi milik Abimanyu dan suaminya duduk di meja, di hadapan Almira, terlihat sangat akrab, mereka saling berhadapan, bahkan tangan Almira berada di atas pangkuan Abimanyu yang langsung ditarik saat mendengar suaranya.

“Eh, Fiera.” Gerald yang pertama kali menyapa dengan suara yang terdengar bersemangat. “Kamu ke sini mencari saya?” tanyanya Gerald, keluar dari balik meja kerjanya dan menghampiri Infiera.

Fiera bisa melihat jelas bagaimana Abimanyu yang berubah tegang saat melihat kedatangannya. Apa lagi, Fiera melihat jelas keintiman keduanya.

Aliran darahnya semua berpusat pada wajahnya, Infiera merasakan wajahnya yang panas melihat pemandangan itu. Dia tidak malu dilihat orang lain saat dekat dengan Almira, tapi dengan dirinya yang notabene istrinya, Abimanyu takut ada seseorang yang melihat.

“Eh, iya, Pak. Ini saya mau ngasih titipan ketua kelas.Selain itu, saya mau mengembalikan buku Bu Almira.”

“Ah.” Gerald menyentuh dadanya secara dramatis. “Kupikir kau datang khusus mencariku. Padahal, aku siap meneraktirmu.” Fiera hanya tersenyum, tapi dosen wanita yang ada di belakangnya menggoda, “Haha ... Pak Gerald, dari pada hanya teraktir, bukankah akan lebih baik jika langsung daftar

ke KUA.”

Seperti mendapatkan pendukung, Gerald berbinar. “Bu Rita benar, seharusnya memang seperti itu, kan?” tanya Gerald pada Fiera yang akhirnya tertawa juga dengan tingkah dosennya. Dia sama sekali tidak berpikir kalau Gerald serius. Dia menyerahkan kertasnya. “Saya harus menyerahkan bukunya pada Bu Almira.” Fiera berkata.

Semua orang tidak menyadari raut wajah Abimanyu yang berubah gelap saat mendengar godaan rekan sejawatnya dan diaminkan oleh Gerald untuk menikahi Infiera.

“Jangan ganggu mereka, mereka lagi pacaran,” sahut Gerald, meraih buku yang akan diberikan pada Almira.

Senyum di wajah Fiera seketika lenyap, dia melirik Abimanyu yang ternyata menatapnya dengan pandangan rumit.

Sedangkan Almira tersenyum malu-malu dan wajahnya merona. “Pak Gerald, jangan sembarangan,” sahut Almira. Lalu, melirik ke arah Infiera. “Makasih, ya, Fier.”

“Sama-sama, Bu.”

Saat hendak meninggalkan ruangan itu karena hatinya semakin sesak, tiba-tiba Gerald kembali berkata. “Bagaimana Fiera? Kau mau aku teraktir atau daftar ke KUA?” Gerald kembali berkata.

“Astaga, belum nyerah juga!” seru Bu Rita menggeleng pelan.

Fiera menghela napas pelan untuk meredakan sesak di dadanya. Dia mengangkat sedikit dagunya, berani, untuk menunjukkan kalau dia baik-baik saja. “Bapak atur saja, bukankah kalau ke KUA harus ada restu?”

“Itu mah kecil, orang tuamu akan langsung menerimaku ketika melihat wajah tampanku!”

Fiera menggeleng dan tertawa mendengar percaya diri Gerald yang sangat besar.

Di belakang mereka, Abimanyu mengepalkan tangannya saat mendengar pembicaraan orang-orang di hadapannya. Dia ingin sekali menarik Fiera dari sana, tapi tak ada yang bisa dilakukannya.

Terpopuler

Comments

Febby Fadila

Febby Fadila

yeee ayo fiera jangan takut sama abi masa dia bisa kok kamu nggak..

2024-08-13

2

putia salim

putia salim

rasain loe abi...

2024-07-26

1

Haryati Atik Atik

Haryati Atik Atik

Btl itu fiera buat abi merasakan menyesal nnt nya dah ada istri gak mau Jaga jarak Sama mantan

2024-06-08

1

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!