Gara-gara Lingerie

Pagi-pagi sekali, sudah ada kecanggungan yang terjadi di meja makan. Fiera benar-benar tidak berani menatap Abimanyu secara langsung. Sedangkan pria itu kembali bersikap datar seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka.

Bagaimana mungkin dia masih bersikap biasa saja setelah perbuatannya semalam?

Fiera bahkan sampai memiliki lingkar hitam di matanya, karena semalam dia tidak bisa tidur. Entah pukul berapa dia baru bisa memejamkan matanya.

“Fier, kita jadi belanja, kan?” tanya ibu tiba-tiba.

Fiera tersentak dari pikirannya tentang Abimanyu yang bersikap biasa saja setelah semalam menciumnya begitu saja. Memang bukan masalah, karena mereka adalah suami istri, tapi seharusnya pria itu juga tahu bagaimana hubungan mereka selama ini.

“Eh, i-iya, jadi, Bu.”

“Bagaimana, Bi?”

“Iya, Abi anterin.”

Ibu tersenyum senang karena putra dan juga menantunya mau mengantarnya berbelanja hari ini. kapan lagi dia memiliki waktu seperti ini.

“Kalian, kalau libur pulang, dong, ke Palembang. Syifa juga pasti merindukan kalian.” Ibu memohon seraya menikmati sarapannya.

“Belum bisa, Bu, kerjaan Abi masih banyak.”

Abimanyu harus fokus dengan usaha cafenya bersama dengan Gerald. Mereka harus segera menemukan suplayer kopi terbaik. Selain itu, rencana ke depannya mereka berniat untuk bekerja sama dengan beberapa brand untuk produk lainnya.

“Kamu saja, Fier, bagaimana? Ibu pesankan tiket pesawat nanti.”

Fiera tersenyum canggung. Libur semester ini dia berniat untuk pulang ke Bandung. Sudah hampir satu tahun dia tidak bertemu orang tuanya. Padahal, jarak Jakarta-Bandung tidak terlalu jauh.

“Fiera mau pulang ke Bandung, Bu,” sesalnya.

“Yahhhh...” Ibu terlihat kecewa.

Ayah yang melihat perubahan di wajah istrinya segera menimpali. “Gantian, Bu, kita sudah bisa ketemu sekarang dengan mereka. Fiera juga pasti merindukan orang tuanya, kan?”

Ibu mengerti dengan hal itu. “Baiklah, Nak, tapi sering-sering hubungi ibu, ya.”

Fiera tersenyum senang dengan kehangatan ibu mertuanya. “Tentu.”

Usai sarapan, mereka semua bersiap untuk pergi. Sedangkan ayah diantar oleh supirnya untuk menemui salah seorang dokter kenalannya.

Fiera terlihat lebih dulu keluar dari kamar. Wanita itu terlihat cantik dengan rambut yang diikat ekor kuda. Kemeja lengan panjang dengan panjang bagian bawah hingga di atas lutut. Celana jeans berwarna biru tua yang menyempurnakan kemejanya.

Setelah beberapa saat, Abimanyu juga turun dari lantai dua, pria itu mengenakan kemeja lengan pendek polos berwarna krem dan juga celana jeans yang senada dengan Infiera, seolah mereka sengaja mengenakan pakaian dengan warna senada.

Tidak lupa, kaca mata hitam bertengger di wajah tampannya. Fiera bahkan sedikit terpesona dengan penampilan Abimanyu yang tak biasa.  

Kini, mereka berdua terlihat sangat serasi dengan warna pakaian yang senada. Mereka bergegas pergi dengan menggunakan mobil Abimanyu. Fiera duduk di depan, samping Abimanyu, dan ibu duduk di belakang, di kursi penumpang.

 Mereka pergi ke mal yang kemarin Fiera datangi bersama dengan teman-temannya. Tentu saja, toko pertama yang didatangi adalah toko pakaian pertama kali.

“Ayo, Fier, kita habiskan uang ayah dan juga uang suamimu.” Ibu menarik Fiera untuk berkeliling.

Sedangkan Abimanyu hanya menggeleng mendengar ucapan ibunya. Dia melirik salah satu kursi di dalam toko untuk menunggu ibu dan istrinya berbelanja.

Layaknya seorang ibu, hal pertama yang dilakukan bukan memilih untuk diri sendiri, tapi langsung mencari mana yang paling cocok untuk anak-anaknya.

“Ini cocok tidak, ya, untuk Abimanyu? Ini cocok tidak, ya, untuk kamu? Ini cocok tidak, ya, untuk Shopia?” pertanyaan itu terus ibu katakan pada menantunya. Padahal, sejak semalam ibu bilang ingin membeli baju untuk pergi arisan dengan teman-temannya.

“Fier, berapa ukuran dalaman Abimanyu?” tanya ibu tanpa rasa bersalah.

“Hah?” Fiera terkejut dengan pertanyaan itu. Kenapa ibu menanyakan hal seperti itu?

“Berapa Fier? Biar sekalian saja.”

Ibu merasa itu tidak salah karena dirinya juga biasa membelikan untuk suaminya.

Ibu yang merasa kalau Fiera hanya diam saja dan menoleh. “Kenapa? Apa kamu tidak tahu?” tebak ibu, apa lagi saat melihat wajah menantunya yang memerah.

Ibu tertawa, menyadari kalau tebakannya benar. Dia menepuk pundak menantunya. “Tidak apa-apa. Sudah, tanyakan dulu sana.”

“Hah?” Fiera makin tidak karuan dengan perintah ibunya ini. Bagaimana caranya dia untuk menanyakan hal itu pada Abimanyu.

“Cepat, Nak.”

“Ba-baik, Bu.”

Fiera melangkah dengan ragu menghampiri suaminya. Dia melihat Abimanyu yang sedang duduk di kursi tunggu dengan memainkan ponselnya. “Mas,” panggil Fiera ragu.

Abimanyu yang sedang menunduk segera mengangkat kepalanya, menatap wanita yang baru saja memanggilnya. “Ada apa?”

“Emm... anu, itu... ibu... .”

“Ada apa dengan ibu?”

“Itu... .”

Abimanyu mengernyit, tidak mengerti dengan ucapan istrinya yang tidak jelas.

“Kamu ini kenapa, sih? Ibu minta dibayarin?”

Fiera menggeleng.

“Lalu apa? Bicara yang jelas, Fier!” Abimanyu terlihat jengkel.

Fiera menghela napas berat, dia mendekatkan kepalanya ke dekat telinga Abimanyu, lalu membisikan apa yang dia maksudkan. Perlahan wajahnya bahkan mulai bersemu merah saat dia menyelesaikan ucapannya.

“Astaga! Jadi kau hanya ingin bertanya ukuran pakaian dalamku?” tanya Abimanyu dengan suara sedikit keras, membuat Fiera tercengang.

“Sssttt!”

Fiera melirik ke arah sekitarnya. Benar saja, beberapa orang melirik ke arah mereka mendengar suara Abimanyu. Apa lagi, tidak jauh dari mereka ada pelayan toko yang juga tengah menahan senyumnya.

“Kenapa kau teriak-teriak?” tanya Fiera, dia merasa malu sekaligus kesal dengan Abimanyu.

Abimanyu dengan acuh tertawa. Dia sama sekali tidak memedulikan pandangan sekitarnya.

“Kenapa? Apa kau ingin tahu?” tanya Abimanyu dengan menaikkan sebelah alisnya untuk menggoda wanita itu.

“Mas!” geram Fiera, wajahnya semakin memerah.

“Baiklah, baiklah. Ayo, temui ibu.”

Abimanyu tidak menyangka kalau menggoda Fiera bisa sangat menyenangkan. Ekspresi malu dan juga kesal adalah perpaduan yang sangat lucu menurutnya.

Abimanyu melangkah lebih dulu menghampiri ibunya. Sedangkan Fiera hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia benar-benar ingin menenggelamkan diri ke dasar kerak bumi.

Abimanyu akhirnya bergabung dengan ibu dan juga istrinya untuk memilih pakaian. Lagi pula, dia juga sudah lama tidak berbelanja. Kemarin, dirinya hanya membeli pakaian untuk Infiera.

“Fier, kamu mau membeli ini?” tanya ibu.

Fiera yang sedang asyik memilih sebuah kardigan menoleh. Wajahnya kembali semerah tomat, saat melihat apa yang ibunya tunjukkan.

Astaga! Apakah ibu memang seperti ini?

Abimanyu yang melihat itu menahan tawanya. Dia melirik Fiera yang sudah merah padam. Abimanyu mendekat dan berbisik, “Ayo, pilih. Kau bisa memakainya nanti.”

Fiera melotot dengan ucapan Abimanyu. Apa dia sudah gila, ya?

Abimanyu hanya tergelak mendapatkan pelototan dari istrinya. Dia menoleh pada ibunya. “Pilihin saja, Bu, dia memang suka malu-malu.”

Sekarang, Fiera ingin sekali memukul kepala Abimanyu yang licin sekali mengatakan hal itu. Tetapi, di balik itu sungguh dia tidak menyangka jika Abimanyu memiliki sifat yang seperti ini.

Meski selama satu tahun mereka tidak dekat, tapi Fiera selalu melihat Abimanyu yang bersikap serius dan hanya memasang wajah datarnya di mana pun.

“Tidak perlu, Bu.” Fiera tertawa mengusir ketegangannya. “Lebih baik, kita mencari yang lainnya saja.” Dia berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi ternyata Abimanyu tidak menyerah begitu saja. “Sudah, beli saja.”

“Haha ... kalian ini malah saling berdebat. Lagian, Fiera yang bakal pakai, kamu Bi yang akan melihatnya.”

Apa yang ibu katakan?

Fiera makin tidak mengerti dengan pembicaraan ibu dan anak ini. namun, Abimanyu malah mengacungkan jari jempolnya.

Fiera menyipitkan matanya, lalu berkata. “Dia mah tidak perlu aku mengenakan itu sudah tergoda bu.”

Ibu tergelak. Sedangkan Abimanyu sekarang gilirannya yang membulatkan mata. Dia tercengang dengan balasan Fiera. Wajahnya bahkan langsung merona mendengar hal itu.

Fiera tertawa, lalu melangkah pergi meninggalkan pria itu dengan membawa dua setel pakaian untuk dicobanya. Abimanyu malah mematung merasakan bagian tubuhnya yang menegang. Padahal, dia yang memulai menggoda wanita, tapi balasannya yang singkat memberikan efek yang luar biasa.

Setelah mendapatkan beberapa setel pakaian. Kini giliran mereka membayar dan Abimanyu yang membayar semua tagihannya.

“Ibu masih butuh apa?” tanya Abimanyu saat mereka keluar dari toko pakaian.

“Adikmu semalam mengatakan membutuhkan peralatan untuk menggambar.” Syifa, adik Abimanyu memang memiliki hobi melukis. Dia juga suka membuat gambar grafis. Beberapa buku milik Abimanyu, juga dibuatkan cover oleh adiknya.

“Baiklah.” Ketiga orang itu berjalan untuk mencari peralatan melukis, tapi dari jarak beberapa meter, seorang wanita dan juga pria berjalan ke arah mereka. Itu adalah adalah Bu Rita, salah seorang dosen, rekan Abimanyu.

“Pak Abi? Ih, saya tidak menyangka kalau bisa bertemu Anda di sini? Anda sedang menemai ibu Anda berbelanja?”

“Eh, Bu Rita? Itu ... saya—“

Abimanyu menoleh ke samping, tapi dia tidak menemukan istrinya di sana. Hanya ada ibunya di sisi kanannya.

Ke mana dia?

“Iya, Bu.” Abimanyu berkata pada ibunya. “Bu, ini rekan Abi di kampus.” Mereka segera berkenalan. Ternyata, pria yang bersama dengan Bu Rita adalah suaminya.

“Kalau begitu, kami permisi, ya, Pak.”

“Silakan, Bu.”

Setelah Bu Rita pergi, Abimanyu bertanya, “Di mana Fiera?” tanyanya pada sang ibu.

“Entah, ibu malah baru sadar dia tidak ada.”

Mereka berdua mencari keberadaan Fiera. Wanita itu tidak terlihat batang hidungnya. Padahal, sejak tadi terus berada di sisi ibunya.

Setelah beberapa saat, Fiera muncul dari arah toko pakaian. Dia menghampiri ibu mertua dan juga suaminya.

“Kamu dari mana, Fier?”

“Itu, Bu... aku dari toilet.” Fiera sedikit gugup dan Abimanyu sudah menangkap gelagatnya. Sepertinya, wanita itu melihat keberadaan Bu Rita dan segera bersembunyi.

“Sudahlah, ayo, kita cari peralatan melukis dulu,” ucap Abimanyu, lalu mendekatkan ke palanya ke samping telinga Infiera. “Biar cepet melihatmu mengenakan lingerie.”

“Diamlah!”

Abimanyu tergelak, lalu merangkul bahu sang istri dan melangkah pergi.

Tanpa mereka sadari, seseorang dari kejauhan melihat semuanya. Seraya menikmati es americano miliknya, dia tergelak puas.

“Gerald, ayo, sudah selesai, kan?”

“Iya, sudah. Kau sudah dapat semua sepatunya?”

“Sudah.”

Benar, dia adalah Gerald. Pria itu melihat semuanya, bahkan saat Fiera berlari untuk bersembunyi. Dirinya sedang menunggu temannya yang sedang membeli sepatu futsal, tidak jauh dari toko tempat Abimanyu berbelanja.

Haha, sialan kau, Bi. Bisa-bisanya kau bersikap tidak kenal pada istrimu sendiri saat di kampus?

Gerald bahkan melihat kehangatan dari cara mereka berinteraksi saat ini.

...Jangan lupa tap tombol like-nya sebelum pergi......

Terpopuler

Comments

Febby Fadila

Febby Fadila

kirain td almirA

2024-08-13

1

putia salim

putia salim

kirain almira yg ngeliat abi sm fier

2024-07-27

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Seneng banget punya mertua yg baik kayak gini..

2024-03-15

3

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!