Pemandangan tak Terduga

Suara gelak tawa sudah terdengar di kediaman Abimanyu, padahal hari masih terlalu pagi. Matahari pun masih malu-malu menampakkan kegagahannya.

Suara ibu yang paling mendominasi. Hal itu dikarenakan ayah yang sedang menyiram tanaman, tidak sengaja menyipratkan air ke wajah menantunya, Infiera yang sedang memakan pisang goreng buatan ibu...

“Haha ... ayah ini, bilang saja sengaja, kan, karena tahu Fiera belum mandi?”

Ayah tertawa, mematikan air. “Mana mungkin ayah sengaja? Tapi, sepertinya memang tangan ayah tahu kalau kamu belum mandi.”

Ketiga orang itu kembali tertawa, Fiera sampai mengusap sudut matanya yang berair karena sejak tadi terus dibuat tertawa oleh ayah mertuanya.

Meski mereka tidak terlalu lama untuk saling mengenal. Kedua orang tua Abimanyu benar-benar baik padanya. Tidak seperti anaknya yang selalu saja membuatnya jengkel.

Beruntung, Fiera bukan orang yang mudah membengkak di bagian wajah dan mata jika malamnya menangis. Asalkan dia bisa tidur, saat bangun kondisi wajahnya akan terlihat kembali segar.

Di dalam rumah, Abimanyu baru saja terbangun. Dia menguap, seraya menuruni tangga, tidak melihat siapa pun di sana.

Sayup-sayup terdengar suara dari arah samping rumahnya, tawa renyah ibu dan juga Infiera. Abimanyu melangkah ke menuju ke bagian pintu belakang, yang bisa langsung terhubung dengan bagian samping rumahnya yang terdapat gazebo.

Abimanyu melihat ayahnya yang sedang menyiram tanaman, sedang istrinya sekarang terlihat membersihkan kolam ikan dengan menggunakan jaring kecil untuk mengambil daun-daun yang berterbangan ke sana.

Abimanyu tersenyum melihat kedekatan Infiera dengan orang tuanya. Gadis itu memang pintar mengambil hati kedua orangtuanya.

“Sudah bangun, Bi? Kemarilah, bantu istrimu membersihkan kolam.” Ibu berkata.

Abimanyu terlihat malas, semalam setelah bertengkar dengan Infiera dia sama sekali tidak bisa tertidur. Akhirnya Abimanyu mencoba mengerjakan sesuatu hingga menjelang pagi, tapi dia tidak bisa menolak permintaan ibunya sekarang.

Selain itu, dia masih merasa bersalah dengan Infiera. Dia bicara terlalu kasar pada wanita itu semalam. Setelah mandi, Fiera bahkan seperti sengaja mengabaikannya dan tidak berbicara sama sekali dan langsung tidur.

Abimanyu melangkah menghampiri ibunya. Dia melihat pisang goreng dan juga teh buatan ibunya berada di sana.

“Kamu mau teh, Bi?” tanya ibu, seraya menggeser piring berisi pisang goreng.

“Tidak, Bu.” Abimanyu menyaut pisang goreng, matanya tidak lepas dari Fiera yang masih memunguti daun-daun di kolam ikannya.

“Sepertinya sudah harus dikuras airnya juga.” Abimanyu memperhatikan air kolam yang sudah berubah menghijau. Sesekali dia melirik Infiera yang tidak bereaksi apa pun.

“Ya sudah, kuras saja airnya. Biar diganti yang baru.” Ayah menyahut, setelah meletakkan selang airnya.

Abimanyu mengangguk, dia menghabiskan pisang goreng di tangannya terlebih dahulu. Setelahnya menghampiri sang istri. “Fier, bisakan ambilkan ember dan juga sikat?” Abimanyu sengaja agar hubungan mereka kembali membaik.

“Baik.” Fiera menjawab tanpa menoleh sedikit pun. Dia meletakkan jaring di tangannya dan masuk ke dalam rumah.

Abimanyu hanya menghela napas berat karena wanita itu masih marah padanya.

Terlebih dahulu, Abimanyu menguras airnya hingga setengahnya, lalu mengambil beberapa ikan yang ada di dalamnya supaya tidak mati. Sejujurnya, dia tidak pernah menguras kolam itu. Sebelumnya, selalu ada yang membenahi tamannya setiap satu bulan sekali.

Sekarang, dia akan melakukannya sendiri, supaya dirinya bisa meminta maaf pada Fiera.

Selang beberapa saat, Fiera membawa ember dan juga gayung di tangannya dan memberikan itu pada Abimanyu.

“Letakkan di sana, aku akan menangkap ikannya.”

Fiera mengangguk dan melangkah ke tempat yang ditunjuk suaminya. Dia meletakkan ember di sana dan melihat apa yang dikatakan pria itu. Meski masih kesal, tapi dia tidak bisa pergi karena keberadaan kedua mertuanya.

“Bi, apakah kamu mengenal Pak Erlangga? Yang bekerja di kedinasan, teman ayah.”

Abimanyu yang sedang menangkap ikan mengangguk. “Kenal. Kebetulan beliau adalah pemateri di kampus saat ada seminar literasi.”

“Hari ini ayah diundang ke rumahnya, katanya ada syukuran kelahiran cucu pertamanya.”

Abimanyu manggut-manggut mendengar ayahnya bercerita. Ibu sesekali menimpali. Dia tidak mau ikut karena terlalu lelah, selama beberapa hari terlalu sibuk menemani ayah.

“Fier, coba dekatkan embernya.” Abimanyu menangkap satu ikan berwarna merah yang cukup besar.

Infiera mengangguk dan segera mendekatkan ember ke arah kolam.

Abimanyu menyodorkan ikannya, tapi bukannya langsung memasukkannya ke dalam ember, dia malah mendekatkannya ke tangan Infiera, membuat wanita itu menjerit, “Mas!”

Fiera menjatuhkan embernya, dia berusaha menjauhkan dirinya dari kolam, tapi pijakan kakinya tidak stabil dan sedikit licin karena basah, membuat dirinya terpeleset.

“Wahhhh!”

Melihat istrinya yang akan terjatuh, Abimanyu sigap menangkap tubuh wanita itu, tapi karena dirinya juga berada di dalam kolam yang licin, dia juga terpeleset dan terjatuh.

Byurrr!

Akhirnya, keduanya basah kuyup karena sama-sama terjatuh. Melihat hal itu, ibu dan ayah malah tertawa terpingkal. Mereka merasa puas dengan apa yang terjadi pada putra dan juga menantu mereka.

“Mas Abi!” Fiera merajuk karena dirinya jatuh dan basah kuyup karena Abimanyu. Dia bangkit dari atas tubuh Abimanyu.

“Haha ... Bi, kau ini bukannya cepat bersihkan kolamnya malah mau bermain air dengan istrimu.”

“Ayah, Mas Abi sengaja mengerjaiku.” Fiera mengadu seperti itu adalah ayah kandungnya sendiri. Dia sama sekali tidak merasa sungkan dengan hal itu.

Ibu masih saja terus tertawa, bahkan sampai kesulitan untuk berbicara. “Kalian ini, benar-benar seperti anak kecil.”

“Dia saja, Bu, yang penakut. Masa sama ikan saja takut.”

“Aku engga takut, aku hanya terkejut saja.”

“Apa bedanya?”

“Tentu saja beda!” Fiera tidak mau kalah.

“Apanya yang beda?” Abimanyu menggoda, ternyata cukup mudah membujuk wanita merajuk di hadapannya. Fiera langsung mau berbicara padanya.

Sadar kalau Abimanyu hanya sedang menggodanya. Fiera segera menyipratkan air ke wajah pria itu.

“Hei, apa yang kau lakukan?”

“Rasakan ini, rasakan! Siapa suruh membuatku jatuh?”

“Ah, kau menantangku?” Abimanyu juga tidak mau kalah. Dia melakukan apa yang dilakukan Fiera saat ini.

Keduanya terlihat seperti anak kecil di hadapan kedua orang tuanya. Ayah dan ibu terlihat senang dengan keakraban putra dan juga menantunya.

Mereka tidak tahu kalau di rumah itu, hampir satu tahun tidak pernah ada kehangatan seperti yang mereka lihat hari ini. Keduanya, selalu seperti orang asing, meski hidup di bawah atap yang sama.

“Sudah hentikan, nanti kalian masuk angin.” Suara ibu langsung berhasil menghentikan Fiera, begitu juga dengan Abimanyu.

Abimanyu menatap istrinya yang sudah basah kuyup. Wanita itu mengenakan kaos berwarna putih dan celana joger berwarna hitam. Abimanyu baru menyadari kalau kaos yang dikenakan istrinya sedikit menerawang karena basah, membuatnya bisa melihat dalaman wanita itu.

Wajah Abimanyu seketika memerah sampai belakang telinga. Dia berdehem untuk meredakan sesuatu yang mendesak di bawah sana. Gelanyar aneh juga dia rasakan di seluruh tubuhnya. “Fiera... itu....” Abimanyu berbicara dengan suara pelan karena dia takut kalau orang tuanya mendengar.

“Apa?” Infiera tidak mengerti dengan Abimanyu.

Abimanyu menghela napas berat.

“Bajumu basah.”

Fiera menunduk. Memang basah, lantas kenapa---

Fiera membulatkan matanya saat dia menyadari sesuatu. Wajahnya langsung merona. Ah, sial, dia ingin langsung menenggelamkan seluruh tubuhnya di bawah kolam yang kotor itu.

“Masuklah!” Suara Abimanyu sedikit serak, tapi Fiera sama sekali tidak menyadari hal itu karena dia terlalu malu.

Fiera mengangguk dan bergegas untuk masuk ke dalam rumah, seraya menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

“Aaahhh, benar-benar memalukan. Semua karena Abimanyu!” Fiera menggerutu kesal dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya karena sedikit bau amis dan juga kotor.

Sepanjang ritual mandinya, Fiera tidak berhenti mengomeli perbuatan Abimanyu yang sudah mengerjainya.

Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dengan membalut rambutnya yang basa dengan handuk kering. Dia juga belum mengenakan apa pun, dan hanya handuk putih yang melilit di dadanya. Fiera pikir, Abimanyu masih membersihkan kolam. Jadi, dia tidak akan masuk. Jadi, tidak masalah jika dia berpakaian di luar kamar mandi.

Fiera dengan santainya mengenakan pakaiannya satu-persatu, membelakangi pintu seraya bersenandung. Terlalu lelah mengoceh sepanjang dirinya berada di kamar mandi tadi.

Fiera sama sekali tidak menyadari kalau pintu kamar terbuka. Abimanyu menegang di dekat pintu saat melihat pemandangan di depannya.

“Fiera!” geramnya, melihat wanita itu yang masih terbalut dengan pakaian dalamnya.

Terpopuler

Comments

Febby Fadila

Febby Fadila

yang ad panas dingin tu paksunya 😄😄😄😄

2024-08-13

0

ᥫᩣ 🕳️ Chusna

ᥫᩣ 🕳️ Chusna

ada yg bangun Gag yaa🤭🏃‍♂️🏃‍♂️🏃‍♂️🏃‍♂️🏃‍♂️

2024-03-11

0

ᥫᩣ 🕳️ Chusna

ᥫᩣ 🕳️ Chusna

bhginya punya mertua seprti itu.

2024-03-11

0

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!