Pertengkaran

Fiera sama sekali tidak cemburu melihat kedekatan yang diperlihatkan oleh Abimanyu dan juga dosen baru yang datang bersamanya ke kantin. Satu-satunya hal yang membuatnya terkejut adalah sikap Abimanyu.

Selama ini, pria itu selalu acuh tak acuh pada siapa pun, tapi sekarang dia hanya diam, menurut, dan duduk di sudut kantin, menikmati makan siang bersama teman dosennya yang baru dan juga beberapa dosen yang lainnya.

Setelahnya, Fiera sama sekali tidak menganggap keberadaan Abimanyu di kantin itu, dia bercanda dengan dua temannya dan juga beberapa teman sekelasnya yang datang—duduk di meja yang sama bersamanya.

Sore hari, Fiera kembali ke rumah lebih cepat. Dia melihat kalau Abimanyu belum kembali. Sepertinya, pria itu akan kembali malam hari seperti biasanya.

Begitu masuk ke dalam rumah, Fiera langsung bergegas menuju dapur untuk meletakkan makanan yang dibelinya.

Hari ini, gajinya sebagai penulis online telah sampai di rekeningnya. Jadi, dia membeli beberapa makanan enak untuk makan malam. Tentu saja, Fiera hanya membeli untuk dirinya sendiri.

Sejujurnya, pernikahan yang dijalani Fiera sama sekali tidak sehat. Dia seperti tinggal bersama dengan orang asing yang membiayai kuliahnya.

Ya, dia cukup bersyukur dengan hal itu. Akan tetapi, untuk kebutuhan lainnya Fiera sama sekali tidak mendapatkannya dari Abimanyu. Dia harus memenuhinya sendiri dari bekerja paruh waktu sebagai penulis online.

“Setidaknya, aku masih beruntung bisa meneruskan kuliah,” gumamnya, menghela napas berat.

Hal itu terjadi karena sikap Abimanyu yang acuh tak acuh. Abimanyu akan memenuhi semua kebutuhan rumah tangga mereka. Kulkas yang tidak pernah kosong dengan makanan sehat. Segala keperluan rumah, semuanya terpenuhi. Hanya saja, pria itu tidak pernah memberikan uang untuk kebutuhan pribadi Fiera. Tepatnya, Fiera tidak pernah meminta.

Hal itu dipicu karena hubungan mereka yang berjarak, hingga Fiera berpikir kalau apa yang Abimanyu lakukan untuknya sudah cukup—membiayai kuliahnya dan juga menyediakan tempat tinggal untuknya. Fiera membalasnya dengan cara mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik.

Saat akan melangkah menuju kamar, ekor matanya menangkap bungkusan paket yang kemarin sore dia buang karena sudah tidak layak. Fiera teringat perintah Abimanyu untuk menghubungi ibu mertuanya dan juga meminta maaf.

Fiera mengeluarkan ponsel dan segera menghubunginya. “Assalamualaikum, Bu.”

“Waalaikum salam, Nak,” sahutnya dari ujung panggilan itu. “Bagaimana, Fier, apakah paketnya sudah sampai?”

Fiera menggigit bibirnya, merasa bersalah. Ibu mertuanya sangat baik dan selalu mengingatnya jika dia membuat sesuatu. “Maaf, Bu, sebelumnya, ini kesalahan Fiera. Sebenarnya... kemarin Fiera sudah menerima paket itu... .” Fiera segera menjelaskan situasinya. Dia berulang kali meminta maaf dan menyesal.

Sama sekali tidak terdengar kemarahan dari suara ibu mertuanya. Wanita yang sudah melahirkan suaminya yang galak itu justru tertawa. “Ibu pikir kenapa. Tidak apa-apa. Namanya juga kelupaan, kan? Sudah, jangan merasa bersalah begitu. Ibu akan kirimkan lagi nanti.”

Fiera menghela napas lega. Ibu mertuanya memang sangat baik. Jauh berbeda dengan Abimanyu yang jarang sekali bicara, tapi sekali membuka mulut, seperti bubuk cabe—bikin pedih kuping dan hati.

Fiera terkekeh memikirkan hal itu.

“Oh, iya, Fier, ibu rencananya minggu depan akan datang ke Jakarta karena ada seminar yang harus dihadiri oleh ayahmu.” Ibu mertua melanjutkan.

Ayah mertuanya adalah seorang dokter di rumah sakit ternama di Palembang. Acap kali, ayah mertuanya mengisi seminar dan juga kelas terbuka di universitas di Jakarta.

Fiera tercenung dengan ucapan ibu mertuanya.

Datang ke Jakarta?

“A-apakah ibu akan menginap?” tanyanya sedikit gugup.

“Tentu saja, berapa lama kita tidak bertemu? Ibu merindukan kalian.”

Memang, setelah menikah, hanya membutuhkan tiga hari saja mereka berkumpul sampai Abimanyu membawa Fiera ke Jakarta.

“Ba-baiklah, Bu. Fiera akan menyampaikannya sama Mas Abi.”

Setelah mengucapkan beberapa patah kata, panggilan ditutup dengan salam.

Fiera meneruskan langkahnya menuju kamar dengan lesu, memikirkan ucapan ibu mertuanya. Bagaimana kalau mereka tahu mengenai situasi pernikahan mereka? Bagaimana kalau mertuanya tau?

Itu pasti akan membuat mertuanya sedih, selain itu bagaimana dengan nasib orang tuanya? Fiera juga tidak bisa membayangkan gimana sedihnya orang tuanya.

Besok adalah hari liburnya. Dia memiliki banyak tugas yang harus dikerjakan dan juga hukuman Abimanyu yang harus diserahkan ... besok.

Tentu saja, baik di rumah atau pun di kampus. Fiera hanya seorang mahasiswa di mata Abimanyu. Tidak pernah ada perlakukan istimewa. Malah, di rumah kadang Abimanyu lebih menyebalkan kalau sudah membuka mulutnya.

Fiera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, lalu keluar kamar setelah tubuhnya kembali segar dengan membawa beberapa buku dan juga laptop miliknya.

Ruangan yang ditujunya, tentu saja ruang kerja Abimanyu. Dia harus mengerjakan tugas-tugasnya sebelum suaminya pulang.

Fiera meletakkan barangnya di atas meja, lalu melangkah menuju rak milik Abimanyu.

Beberapa buku masih berserak, seperti saat dia meninggalkannya tadi pagi. Fiera masih membutuhkan buku lainnya sebagai referensi. Dia juga ingin mengambil buku yang pernah dibacanya. Jadi, mudah untuk dia membuat tugas resensinya.

Jari-jarinya yang lentik menelusuri rak buku untuk mencari judul yang dicarinya. Sampai matanya menangkap jajaran buku di bagian atasnya bertuliskan ‘My Words’.

“Ah, aku lupa kalau Pak Abi juga seorang penulis.” Fiera terkekeh saat menyadari itu, dia menikah hampir satu tahun, tapi dirinya sama sekali tidak mengetahui dunia yang dijalani suaminya itu.

Fiera langsung bergerak mengambil salah satu buku yang ada di sana, tapi tiba-tiba sesuatu jatuh dari dalam bukunya. Fiera segera mengambilnya dan melihat.

“Aku mencintaimu seperti aku tidak akan pernah terluka.” AS

“Aku selalu ingin mengubah segalanya, hanya kamu yang tidak pernah ingin kuubah.” AS

Fiera menyipitkan matanya membaca inisial nama diujung kata-kata puitis yang ditulis Abimanyu di atas kertas pembatas buku.

Ada sesuatu yang hangat menjalari tubuhnya. “Apa itu kekasihnya?” Fiera menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala prasangka. Memangnya kenapa kalau itu memang kekasih Abimanyu?

Dia seharusnya tahu, bagaimana hubungan mereka terjalin sejak awal. Perjodohan yang mendadak dibuat oleh orang tua mereka. Fiera yang hanya ingin melanjutkan kuliah dan Abimanyu yang tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya.

Fiera meletakkan kembali kertas-kertas itu, lalu menyimpannya di tempat semula. Setelahnya, dia mengambil buku yang dibutuhkan.

Fiera mengabaikan tulisan-tulisan Abimanyu di dalam bukunya. Dia menekuri semua buku yang ada di hadapannya.

Kebanyakan dari buku-buku itu bergenre daily life, Fiera cukup senang dengan hal itu karena dia bisa mengambil banyak pesan di dalamnya.

Malam hari, Abimanyu kembali ke rumahnya. Saat mobilnya masuk ke halaman, rahangnya mengeras saat menyadari kalau rumah itu masih gelap. Dia yakin kalau Infiera sudah pulang sejak sore, tapi kenapa wanita itu membuat rumahnya gelap gulita?

Kebiasaan buruknya tidak pernah berubah sama sekali.

Abimanyu melangkah menuju saklar dan menyalakan semua lampu bagian uar dan dalam rumah itu.

Seperti yakin kalau Infiera ada di ruang kerjanya. Benar saja, wanita itu ada di sana—berbaring dengan buku di depan wajahnya dan kaki kanan menopang kaki kirinya. Wanita itu terkejut saat pintu ruangannya terbuka.

“P-Pak Abi sudah pulang.” Fiera gugup dan bangun, selama ini dia tidak pernah secara terang-terangan masuk ke dalam ruangan itu, tapi sekarang Abi melihatnya ada di sana.

Apa lagi, ruangan itu terlihat kacau dengan banyak buku yang berserak di atas meja dan juga sofanya.

“Apakah kau tahu sekarang jam berapa?” tanya Abimanyu dengan suara dinginnya.

Fiera menoleh ke arah jam dinding. Dia terkejut karena ternyata waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Tidak terasa, dia sudah hampir tiga jam di ruangan itu.

“Maaf, aku sama sekali tidak sadar—“

“Tentu saja kau tidak sadar, karena kau terlalu asyik bersantai.” Mengingat bagaimana posisi Fiera saat Abimanyu membuka pintu. Dia sedikit salah paham. Padahal, yang dilakukannya sejak tadi adalah mengerjakan tugas dan bekerja.

“Maaf,” lirih Fiera. Dia sungguh tidak menyadarinya. Kebiasaan buruknya saat berhadapan dengan buku-buku. Fiera selalu lupa waktu.

“Seharusnya gunakan sedikit otakmu supaya kebiasaan burukmu tidak pernah terulang terus-menerus.”

Deg!

Lagi. Abimanyu menyebut Fiera tidak memiliki otak dalam melakukan sesuatu. Sakit rasanya mendengar hal itu. Padahal, Fiera hanya lupa untuk menyalakan lampu di rumah itu. Kenapa Abimanyu harus menghinanya seperti itu?

Fiera merasakan matanya memanas, tapi dia segera menahannya, sebelum akhirnya dia bangkit dari duduknya.

“Iya, aku minta maaf. Aku janji—“

“Tidak perlu berjanji jika kau akan terus mengulanginya. Lebih baik—“

“Lebih baik apa, hah? Kau mau menyuruhku meninggalkan rumah ini? Katakan saja, aku akan melakukannya kalau begitu. Hanya karena aku lupa untuk menyalakan lampu, kau mengatakan aku tidak punya otak? Kenapa kau selalu memperhatikan semua kesalahanku di rumah ini? Sedangkan kau tidak pernah peduli dengan hal baik yang aku lakukan di sini.”

Fiera terengah, entah kekuatan dari mana dia berani melawan Abimanyu yang selama ini selalu saja marah jika dirinya melakukan kesalahan.

Abimanyu terkejut dengan keluhan Infiera. Ini pertama kalinya dia melihat wanita itu marah dengan ucapannya. “Apa kau begitu membenciku? Kalau begitu, katakan pada ibu kalau kau sudah tidak bisa meneruskan pernikahan ini.”

Setelah mengatakan itu, Fiera melangkah melewati Abimanyu yang terpaku dengan ucapannya. Pria itu terlalu terkejut. Abimanyu mengusap wajahnya kasar. Dia juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya? Kenapa dia bisa semarah itu pada Fiera, padahal semua itu sudah sering terjadi.

Sial! Umpat Abimanyu. Dia sedikit merasa bersalah dengan ucapan kasar dari mulutnya.

Sebenarnya, suasana hatinya sudah sangat buruk ketika dia masih berada di kampus, melihat Fiera yang bersikap acuh tak acuh saat dia berbicara dengan Gerald, temannya. Apa lagi, saat di kantin Fiera begitu akrab dengan taman-temannya, tertawa lepas. Dia tidak pernah melakukannya di hadapan Abimanyu.

Terpopuler

Comments

Atiqa Fa

Atiqa Fa

mulutmu aja mengandung racun kalo ngomong sama Fiera, gimana dia bisa berbicara santai & bercanda sama kamu

2024-12-19

0

🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘

🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘

🥰🥰🥰🥰

2024-11-15

0

Yenni Ajah Lah

Yenni Ajah Lah

pelit amat abiii...

2024-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!