Gara-gara Pembalut

Fiera kembali ke rumah dengan wajah yang semakin pucat. Dia merasakan perut bagian bawahnya terasa sakit dan kepalanya semakin pening.

Hari ini adalah hari pertamanya masa periode. Dia tidak memiliki persediaan pereda nyeri dan hanya ingin segera sampai rumah untuk bisa cepat berbaring.

Fiera menjatuhkan tasnya begitu saja di tengah rumah dan berjalan ke sofa ruang tamu, lalu membaringkan tubuhnya di sana karena sudah tidak memiliki tenaga untuk berjalan sampai di kamarnya.

Keringat dingin menjalari punggungnya, pinggangnya juga tak kalah sakit. Dalam kondisi itu, Fiera ingin sekali menangis karena tidak ada siapa pun yang bisa membantunya meredakan nyerinya.

Saat di rumahnya, biasanya ibunya akan membuatkan air jahe dan madu. Ibunya juga suka membantunya memijit punggungnya. Meski itu tidak mengurangi rasa sakit, setidaknya Fiera merasakan seseorang merawatnya.

Namun, semenjak menikah dia harus merawat dirinya sendiri.

Infiera memejamkan matanya, berharap rasa sakit di perutnya bisa sedikit mereda setelah beberapa saat. Hingga akhirnya, wanita itu terlelap begitu saja di sofa ruang tamu.

Fiera terbangun kurang dari satu jam karena sakit di perutnya tak kunjung mereda. Fiera menghela napas pelan untuk menenangkan dirinya dan berusaha bangkit dari berbaringnya.

Sepertinya, dia harus memesan obat pereda nyerinya melalui online. Dia mencari keberadaan tasnya, ternyata ada di sana—di dekat tangga—tergeletak begitu saja.

Fiera bangkit dan berjalan, menghampirinya. Baru saja dirinya membungkuk untuk meraih tas yang tergeletak di lantai, pintu masuk terbuka dari luar, ternyata Abimanyu baru saja pulang.

Mungkin karena Fiera terlalu fokus dengan rasa sakitnya, dia sampai tidak mendengar suara mobil suaminya masuk ke halaman rumah.

Fiera tidak mengatakan apa pun, dia meneruskan niatnya untuk mengambil tas, dan mencari ponselnya.

Abimanyu memperhatikan Fiera yang berdiri di dekat tangga menuju lantai dua. Wajah wanita itu pucat dan keringat membasahi wajahnya.

“Apa kau sakit?” tanya Abimanyu melangkah mendekat.

Fiera menggeleng, dia tidak punya tenaga untuk menjelaskan. Dia juga sedikit canggung untuk menjelaskannya pada Abimanyu, mengingat hubungan mereka tidak terlalu dekat.

Fiera berjalan melewati Abimanyu, hal itu membuat Abimanyu salah paham. Dia menganggap kalau Infiera masih marah karena pertengkaran mereka terakhir kali.

Abimanyu meraih tangan Infiera dan berkata, “Aku tahu kau masih marah padaku, tapi katakan jika kau sedang sakit.”

Fiera sedang tidak ingin berdebat, hormonnya sedang tidak stabil. Dia menarik tangannya pelan. “Aku baik-baik saja.” Fiera berniat meneruskan langkahnya menuju kamar, karena kepalanya terasa semakin pening.

“Infiera!” sentak Abimanyu tidak suka diabaikan. Padahal, dia berusaha peduli pada wanita itu.

Infiera menghentikan langkahnya dan menghela napas jengkel. “Sudah kukatakan, aku baik-baik saja!”

“Bagaimana kau baik-baik saja? Lihatlah, wajahmu begitu pucat.”

Fiera sedikit menunduk karena kepalanya semakin berdenyut sakit. Ditambah Abimanyu yang tidak puas dengan jawabannya. “Aku—“

Sebelum dia bisa menyahuti ucapan Abimanyu, tubuh Fiera sedikit limbung. Abimanyu sigap menangkap tubuh ringkih wanita itu.

“Keras kepala!” sungutnya kesal. Abimanyu menjatuhkan tasnya, lalu membopong Fiera yang hampir terjatuh. Dia membawanya menuju kamar wanita itu dan membaringkannya di tempat tidur.

“Tunggulah, setelah ini kita pergi dokter. Aku akan mengganti pakaianku dulu.”

“Tidak usah. Aku baik-baik saja!”

Abimanyu menghela napas berat, sekuat tenaga dia menahan amarahnya. Baru kali ini dia mengetahui, betapa keras kepalanya wanita ini. Mungkin karena mereka terbiasa hidup masing-masing di rumah itu.

“Aku tidak peduli kau mau mengatakan apa, tapi yang kulihat, jelas kau sedang sakit! Lihatlah, wajahmu juga sangat pucat. Bagaimana kalau ternyata sakit parah? Ibu akan menyalahkanku karena tidak bertanggung jawab!”

Fiera memejamkan matanya saat mendengar ucapan Abimanyu, dia mencela dirinya. Yang Abimanyu pedulikan adalah pendapat ibunya, bukan karena benar-benar peduli pada dirinya.

“Aku memang baik-baik saja. Aku hanya sedang datang bulan. Puas?!” geram Infiera, kembali membuka matanya.

Eh?

Abimanyu terkejut, ternyata wanita itu sedang datang bulan. Tapi, bagaimana bisa kondisinya sampai seperti itu? Seingatnya, ibunya tidak pernah mengalaminya.

“Tapi wajahmu sangat pucat dan kau juga hampir pingsan barusan.”

Andai saja Fiera memiliki tenaga. Dia ingin sekali memukul Abimanyu dengan menggunakan tas yang ada di samping tubuhnya, tapi dia terlalu lemas untuk melakukannya.

“Tidak semua wanita memiliki kondisi yang sama saat mereka dalam masa periode. Dan inilah kondisiku ketika sedang datang bulan.”

Fiera terpaksa menjelaskannya, karena pria itu terlalu bodoh untuk memahami kondisinya.

Abimanyu menjadi salah tingkah saat mendengar hal itu. Bagaimana dia tahu hal itu? Abimanyu berdehem untuk membuang kecanggungannya, lalu bertanya, “Lalu, biasanya kau mengobatinya menggunakan apa? Biar aku yang carikan.”

Fiera menggeleng.

“Tidak usah, aku akan memesannya secara online.”

“Itu akan memakan waktu cukup lama. Katakan saja, biar aku yang membelinya.”

“Kau yakin ingin membantuku?”

Wajah Abimanyu sedikit memerah karena merasa malu dengan apa yang hendak dikatakannya. “Aku yakin. Aku minta maaf untuk kejadian terakhir kali. Aku tidak pernah memedulikanmu.”

Fiera tertegun. Dia terkejut dengan permintaan maaf pria itu yang tiba-tiba. Itu benar-benar di luar dugaannya. Fiera tidak pernah berpikir jika Abimanyu akan meminta maaf, mengingat pria itu selalu keras.

Abimanyu benar-benar merasa bersalah. Apa lagi, tiga hari terakhir ini dia menyadari banyak hal. Tumpukan pakaian kotor yang tidak dicuci, tumpukan piring kotor bekas makannya, serta kamarnya yang berantakan. Biasanya, saat Abimanyu meninggalkan rumah, Fiera akan melakukan semua itu.

Abimanyu menyesal bukan karena tidak ada yang membantunya mengerjakan itu semua, tapi dia menyesal karena selama ini tidak pernah memedulikan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Dia selalu menganggap kalau Fiera sedikit menjadi bebannya.

Wanita itu selalu ceroboh dan bersikap seenaknya di rumah itu, sampai melupakan seluruh kebaikannya. Sepertinya, dia harus mulai mengubah sikapnya dan berbicara pada Fiera setelah kondisi wanita itu membaik.

“Itu bukan masalah,” jawab Fiera.

“Kalau begitu, apa yang kau butuhkan? Aku akan membelikannya.”

Fiera sedikit ragu untuk mengatakannya. Dia tidak yakin kalau Abimanyu benar-benar bisa membelinya.

“Kenapa?”

“Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir. Aku butuh jamu pereda nyeri, kamu bisa membelinya di apotek. Lalu... .” Fiera ragu untuk mengatakan yang dibutuhkan lainnya.

“Lalu apa?”

“Aku tidak memiliki sisa pembalut.”

Hah?

“Kau yang benar saja!” gerutu Abimanyu.

Fiera mencebikkan mulutnya. Sudah menduga kalau Abimanyu keberatan dengan hal itu.

“Ya sudah kalau tidak bisa! Aku akan memesannya sendiri via online.”

Abimanyu terdiam. Dia sedikit ragu, tapi dirinya sudah berkata bisa melakukannya.

“Baiklah, aku akan membelinya. Kau tunggulah.” Abimanyu hendak keluar dari kamar itu, tapi baru satu langkah dia kembali berkata. “Apa kau sudah makan?”

Fiera menggeleng. Saat di kampus tadi, dia buru-buru pulang karena perutnya terlalu sakit dan kepalanya semakin pening.

“Kau ingin makan apa? Biar sekalian aku membelikannya.”

Fiera terlihat berpikir. Dia tidak akan berpura-pura menolaknya. “Aku ingin nasi goreng di depan kompleks.”

“Baik, tunggulah.”

Setelah itu, Abimanyu melangkah pergi.

Fiera terkejut, karena Abimanyu mengiyakan semua permintaannya. Dia tersenyum saat pria itu benar-benar keluar dari kamarnya

“Ternyata, berguna juga aku mogok bicara dan mogok mengerjakan pekerjaan rumah selama tiga hari.” Fiera terkikik geli. Keadaannya sedikit membaik karena hal itu. Dia senang karena akhirnya, setelah hampir satu tahun dia mengalami siksaan masa periode sendirian, ada seseorang yang membantunya kali ini.

***

Abimanyu melajukan mobilnya menuju ke sebuah apotek yang tidak jauh dari rumahnya. Dia menyebutkan apa yang dibutuhkannya, Fiera tadi mengirimkan via chat merek yang biasa digunakannya.

“A-Anda yakin ingin membeli itu?” Seorang apoteker wanita itu terlihat tidak percaya, dia juga terlihat gugup di hadapan Abimanyu.

Abimanyu mendengkus, dia tidak suka dengan tatapan tidak percaya apoteker itu. “Memangnya kenapa?” tanyanya ketus.

“Apakah Anda tahu itu untuk apa?”

“Tentu saja!”

“Ah, seperti itu. Baik, saya akan mengambilkannya.” Apoteker itu tersenyum, dia tidak menyangka kalau kerja sift malamnya akan bertemu dengan pria setampan ini.

Setelah beberapa saat, apoteker itu kembali, membawa apa yang diminta Abimanyu. Pria itu juga membeli beberapa obat untuk persediaan.

“Ini, Pak.”

Abimanyu menerima kantong keresek berisi obat dan menyerahkan uang seratus ribu.

“Kekasih Anda sangat beruntung, ya, memiliki kekasih seperti Anda.” Apoteker itu berusaha akrab, tapi malah membuat Abimanyu tidak nyaman, dia mengabaikannya begitu saja.

Abimanyu menerima uang kembaliannya. Lalu, berkata sebelum melangkah pergi, “Aku sudah menikah!”

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan meninggalkan apoteker yang kini wajahnya berubah merah padam karena malu. Sejujurnya, apoteker mengatakan itu berharap dijawab kalau Abimanyu tidak memiliki kekasih dan hanya membantu seseorang untuk membelinya.

Namun, ternyata Abimanyu sudah menikah. Dia kecewa sebelum berusaha.

Setelah membeli obat pereda nyeri, Abimanyu menuju minimarket yang ada di seberang apotek. Dia segera berjalan menuju etalase pembalut.

Ada beberapa pembeli di sana, melihat ke arahnya saat Abimanyu mencari pembalut yang diinginkan Infiera. Wanita itu sudah mengirimkan fotonya, dia mengatakan kalau banyak jenisnya dan tidak mau kalau Abimanyu salah memilih.

“Masnya mencari pembalut?” Seorang pelayan toko menghampirinya.

“Iya,” jawab Abimanyu singkat.

“Masnya mau yang seperti apa? Banyak jenisnya... .” Pelayan itu menjelaskan berbagai jenis pembalut, dari yang ukuran standar sampai yang ukuran lebih panjang dan juga lebar.

Abimanyu mulai tidak nyaman karena lagi-lagi pelayan toko ini bukan mau menjelaskan, karena sesekali dia melemparkan godaan padanya.

Abimanyu sedikit jengkel. Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang dikirimkan oleh Fiera. “Aku membutuhkan yang ini.”

Pelayan itu melihat, dia tersenyum. “Oh, itu.” Dia mengambil salah satu jenis pembalut. “Ini, Mas.”

Ada beberapa pengunjung wanita muda melihat ke arah Abimanyu, mereka berbisik-bisik dan tersenyum ke arahnya.

Abimanyu mulai merasa malu sekaligus jengkel. Memang kenapa jika pria membelinya? Bukankah di setiap keluarga pasti ada wanita?

Abimanyu membawanya ke kasir untuk membayarnya, saat menunggu antrian, tiba-tiba seorang ibu-ibu berkata.

“Ih, beruntungnya yang jadi pacar kamu, Nak.” Ibu-ibu itu memuji dia sedikit tertawa. “Kalau kamu putus sama pacar kamu, nanti ibu kenalkan sama putri ibu. Dia cantik, loh.”

Abimanyu menoleh pada ibu-ibu yang sedang berbicara itu. Dia hanya memasang wajah datarnya. Apa maksudnya?

Abimanyu hanya sedikit menarik ujung bibirnya. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang mengatakan hal seperti itu? Dia segera membayar belanjaannya dan segera meninggalkan mini market. Perasaannya sedikit jengkel. Hanya karena dia membeli obat pereda nyeri haid haid dan membeli pembalut, dirinya sampai menjadi pusat perhatian.

Tanpa Abimanyu sadari, ternyata di mini market itu ada dua orang wanita yang tak lain adalah mahasiswanya. Mereka terkejut saat melihat apa yang dibeli Abimanyu.

“Wah... kau lihat apa yang dibeli Pak Abimanyu?”

“Tentu saja. Itu pembalut. Menurutmu itu untuk siapa? Apa untuk ibunya? Soalnya, setauku Pak Abi anak tunggal. Aku tahu dari Bu Gina.” Mahasiswa itu terkikik, dia sering mendapatkan informasi dosen tampannya dari petugas perpus yang suka bergosip.

“Bukannya Pak Abi asalnya dari Palembang, ya? Itu artinya orang tuanya juga di sana.”

“Kalau begitu, berarti untuk pacarnya.” Kedua orang itu seketika terkikik lagi dengan hipotesa mereka. “Tapi siapa pacarnya?”

“Jangan-jangan Bu Almira, dosen baru kita? Kau lihat, kan, kalau mereka dekat? Padahal, Bu Almira baru saja mengajar di kampus kita.”

“Benar juga... .”

Pembicaraan kedua mahasiswa itu berlanjut. Mereka terus menerka-nerka hubungan antara Abimanyu dengan dosen baru mereka yang cantik, yang sekarang menjadi pembicaraan semua mahasiswa laki-laki karena kecantikannya.

 

 

Terpopuler

Comments

Mainah Inah

Mainah Inah

emang kenapa ? masalah

2024-06-01

0

Saputri Sapila

Saputri Sapila

suami aku dari pacaran selalu beliin pembalut jika aku menstruasi ☺️ sampai sekarang biasa ja tuh

2024-03-31

0

Sweet Girl

Sweet Girl

Biasa kali Buk... banyak ditempat tinggal saya laki laki beliin keperluan wanita.

2024-02-18

2

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!