Memilih Mengabaikan

Fiera masuk ke dalam kamarnya dengan kemarahan yang meledak. Satu tahun dia bertahan setiap mendengar kemarahan Abimanyu yang selalu saja mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Pria itu tidak pernah memuji pekerjaannya, tapi dia selalu menghina kesalahannya.

Setelah shalat maghrib, Fiera sama sekali tidak memedulikan tugasnya. Dia hanya mengurung dirinya di kamar hingga terlelap.

Sedangkan Abimanyu, dia hanya masuk ke kamarnya untuk mandi dan kembali keluar karena belum makan malam.

Abimanyu melihat sesuatu di atas meja, dia melihat kalau itu bungkusan makanan. ‘Dia belum makan malam?’ gumamnya.

Tentu saja, siapa lagi yang membeli makanan itu kalau bukan Fiera, istrinya. Abimanyu beberapa kali melihat sang istri membeli makanan khas sunda dan membawanya pulang untuk makan. Wanita itu jarang masak dan selalu makan di luar.

Jujur, hal itu sedikit membuat Abimanyu jengkel. Bukankah seharusnya wanita itu memasak untuk dirinya? Setiap minggu, Abimanyu selalu memenuhi kulkasnya dengan sayuran dan juga buah-buahan, tapi tetap saja Abimanyu harus memasaknya sendiri.

Abimanyu lupa kalau dirinya sendiri bahkan tidak pernah peduli dengan keperluan istrinya, yang notabene adalah kewajibannya.

Suasana hatinya memburuk setelah pertengkarannya dengan Infiera untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, Abimanyu membuka kulkas dan hanya mengambil satu apel, lalu membawanya menuju ruang kerjanya.

Abimanyu menghela napas saat melihat ruang kerjanya yang berantakan. Dia ingin marah, tapi kembali menahannya karena sadar dirinya juga salah karena sudah terlalu kasar bicara pada Fiera.

Abimanyu membereskan buku-buku Infiera. Dia melihat laptop istrinya yang masih menyala. Ternyata, wanita itu sedang mengerjakan tugasnya.

Sedikit penyesalan kembali menyergap hatinya. Wanita itu ternyata bukan hanya sedang bermalas-malasan, tapi dia sedang mengerjakan tugasnya.

Abimanyu juga lupa kalau itu adalah tugas yang dia berikan sebagai hukuman.

Setelah membereskan barang-barang milik Fiera, Abimanyu juga meletakkan kembali buku-buku miliknya ke rak  buku. Baru saja dia akan duduk di kursi kerjanya, ponselnya berdering. Beberapa pesan masuk secara beruntun.

[Mas.]

[Mas, bagaimana ini, aku merasa gugup dengan besok. Secara besok adalah hari pertamaku mengajar.]

Abimanyu tersenyum, suasana hatinya membaik seketika saat melihat nama si pengirim. Almira Shahira, mantan kekasihnya. Wanita yang dia cintai, sebelum akhirnya kedua orang tuanya menjodohkannya dengan gadis yang sama sekali tidak pernah dikenalnya. Sampai saat ini pun, Abimanyu tidak pernah berusaha mengenal wanita itu meski mereka tinggal satu rumah.

Abimanyu sibuk dengan dunianya, begitu juga dengan Infiera yang asyik dengan dunianya sebagai mahasiswa.

[Tidak perlu merasa gugup. Ini bukan pertama kalinya kamu mengajar. Mas yakin kamu bisa.] Abimanyu meyakinkan.

Almira adalah gadis yang pintar dan mudah sekali beradaptasi dengan lingkungan baru. Tentu saja, Abimanyu sangat mengenalnya, mereka menjalin hubungan sekitar 4 tahun sebelum akhirnya dia harus memutuskan, sesaat sebelum ijab kabulnya dilakukan dengan Infiera Falguni yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.

Namun, Abimanyu sulit sekali menghilangkan nama Almira dari hatinya sampai saat ini.

[Kalau begitu, Mas, harus membantuku jika aku memiliki kesulitan.]

[Tentu, mas akan selalu membantumu.]

Abimanyu tersenyum, Almira selalu bisa mengobati suasana hatinya yang buruk. Dia bahkan sampai melupakan pertengkarannya dengan Infiera.

Sampai tiga hari berlalu setelah pertengkaran itu. Fiera sama sekali belum pernah bertegur sapa dengan Abimanyu. Tepatnya, dirinya selalu menghindari pria itu. Fiera juga mogok untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dia hanya pulang untuk tidur.

“Dia tidak pernah menghargaiku selama ini. Jadi, mari kita hidup masing-masing saja mulai saat ini.” Infiera membulatkan tekadnya untuk melakukan hal yang sama seperti Abimanyu yang mengabaikan keberadaannya di rumah.

Suasana hatinya kembali membaik. Fiera hanya butuh duduk di depan laptopnya selama berjam-jam, menumbuhkan imajinasi untuk mengeluarkan segala emosi yang ada di dalam pikirannya, setelahnya dia akan menciptakan salah satu tokoh yang menjadi gambaran emosinya saat ini.

Infiera dikejutkan oleh teman sekelasnya yang tiba-tiba duduk dan menjatuhkan kepalanya di atas meja seraya mengeluh.

“Lo kenapa, Lin?” tanya Fiera bingung melihat teman sekelasnya seperti orang yang sedang putus asa.

Linda, teman sekelas Fiera mengangkat kepalanya dengan wajah yang memelas. “Fier, Lo tahu engga kalau gue lagi kesel?”

“Engga?”

Aaaaa

Linda kembali menelungkupkan kepalanya karena Fiera malah bercanda untuk menyahuti ucapannya.

Fiera tergelak melihatnya. Dia akhirnya memasang wajah serius sebelum bertanya.

“Baiklah, baiklah. Memang kenapa?”

“Gue kesel karena author kesayangan gue engga update bukunya selama tiga hari.”

Fiera mengerutkan keningnya. “Siapa author kesayanganmu itu?” tanyanya.  

Apakah ini sebuah kebetulan? Fiera juga sudah tiga hari ini tidak memperbarui ceritanya. Beberapa pembaca yang tergabung dalam grup whatsapp-nya sudah terus menghubungi untuk menanyakan hal itu.

“Memang cerita siapa yang lo baca?”

“Cerita Pena Rindu.”

Fiera menahan senyumnya karena ternyata dugaannya benar, kalau yang dimaksud Linda adalah dirinya. Ternyata, salah satu teman sekelasnya juga ada yang baca ceritanya?

Jika Fiera hanya menahan senyumnya, berbeda dengan Anisa yang terbahak di seberang meja.

“Heh, lo kenapa? Engga kesurupan, kan?”

Anis masih tertawa, dia menatap Linda setelah menyeka ujung matanya yang basah. “Lo baca cerita itu juga? Lo pasti kesel dengan tokoh Darma yang jadi penjahat?”

Linda berbinar mendengar ucapan temannya. Dia senang karena ternyata memiliki teman yang juga membaca cerita itu. “Kau juga membaca cerita itu?”

Anis mengangguk, seraya melirik ke arah Fiera yang meneruskan makan siangnya. Wanita itu kini pura-pura tidak mengerti. Padahal, jelas-jelas dia yang sedang dibicarakan.

“Hah... benar, kan, kalau author-nya menyebalkan karena engga update-update? Awas saja kalau nanti dia buat Riana-nya mati. Aku akan bikin hidup authornya tidak tenang.”

Mendengar hal itu, Fiera yang sedang makan langsung tersedak dan Anis kembali tertawa dengan pernyataan temannya. Dia tidak tahu saja kalau penulis yang dimaksud adalah Infiera.

“Fier, lo kenapa? Ini minum.” Linda menyerahkan gelas di depannya.

Fiera tidak mengatakan apa pun, dia hanya sibuk meredakan tenggorokannya yang sakit karena tersedak.

“Gue engga apa-apa.”

“Apakah saya boleh gabung?”

Suara seorang wanita terdengar dari arah keributan, membuat mereka yang sedang mengkhawatirkan Fiera langsung menoleh ke belakang. Ternyata, dosen barunya, Almira Shahira, yang baru tiga hari mengajar di kampus itu.

“Eh, Bu.” Bimo yang duduk di samping Fiera yang pertama kali berbicara. “Boleh, Bu, silakan.” Bimo bangkit dari duduknya dan berpindah ke sisi Anis yang ada di seberang meja.

“Makasih, ya, Bim.”

“Sama-sama, Bu.” Bimo terlihat girang karena dosen cantiknya mengingat namanya. Selain Bimo, yang lainnya juga terlihat senang dengan kedatangan dosen baru itu, karena ternyata dia sangat baik dan juga ramah. Padahal, baru tiga hari di kampus  itu untuk mengajar.

Sedangkan Fiera? Wanita itu hanya bisa mematung saat melihat Abimanyu, suaminya datang bersama dengan Bu Almira dan duduk sejajar dengannya.

Fiera memalingkan wajahnya, enggan melihat pria itu, pria yang selalu saja menyakitinya setiap kali mereka berbicara. Fiera merasa mereka tidak pernah bicara baik-baik selama ini. pembicaraan mereka terjalin hanya saat Abimanyu sedang kesal saja.

Di sisi lain, awalnya Abimanyu hanya ingin membeli air minum di kantin, tapi dia bertemu dengan Almira yang hendak makan siang.

Wanita yang masih memiliki tempat di hatinya itu meminta untuk ditemani karena dia belum benar-benar belum mengenal lingkungan barunya itu.

Sebenarnya Abimanyu sedikit enggan, tapi dia akhirnya mengiyakan ajakannya saat melihat mata Almira yang memohon. Dia merasa lemah saat di hadapan wanita itu.

Siapa sangka, Almira malah menariknya menuju bangku, di mana mahasiswanya berada, yang lebih mengejutkan lagi di sana juga Fiera sedang makan siang. Istrinya yang sejak tiga hari lalu bahkan tidak pernah menampakkan wajah di hadapannya.

“Kalian sedang membahas apa? Sepertinya seru banget?” tanya Almira memulai pembicaraan.

“Linda, ini, Bu, bisa-bisanya dia galau karena penulis kesayangannya engga update.” Bimo menjelaskan. Padahal, sejak tadi dia tidak ikut pembicaraan para wanita.

“Oh, ya, siapa penulisnya? Ibu juga suka baca buku online.”

“Pena Rindu.” Linda menyahut dengan sedih, lalu wajahnya kembali kesal mengingat penulis itu.

Abimanyu yang duduk di sebelah Almira, sejak tadi melirik ke arah Fiera yang hanya menunduk dan terlihat tidak nyaman dengan kehadirannya.

Apalagi... saat ini Almira bersama dengan mereka. meski sebenarnya, istrinya itu tidak pernah tahu jika Almira adalah mantan kekasihnya.

Tiba-tiba Abimanyu sedikit mengernyit saat mendengar nama itu. Pena Rindu?

Bukankah itu penulis yang seminggu lalu naskahnya dia tolak? Ternyata banyak juga penggemarnya. Abimanyu masih belum tergerak hatinya untuk menerbitkan cerita itu, karena dia masih tidak bisa menerima akhir yang bahagia pada cerita itu. Sedikit tidak masuk akal untuk plot yang terlalu kompleks.

“Wah, Pena Rindu, ya? Ibu juga penggemarnya.” Lalu, Almira menoleh pada Abimanyu yang duduk di sampingnya. “Pak, Anda tahu kalau penulis itu sangat berbakat. Saya berharap dia memiliki buku yang dicetak.” Almira berbicara secara formal karena dia sadar di mana dirinya berada.

Abimanyu memaksakan senyumnya. “Saya akan mencari tahunya terlebih dahulu.”

Fiera tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menoleh pada Almira, tapi mengabaikan Abimanyu terang-terangan. “Bu, saya permisi, ya.”

“Eh, kamu Infiera, kan? Yang kemarin memberikan ide menarik untuk diskusi pertama kita?”

Infiera tersenyum mendengar hal itu.

“Benar, Bu. Saya permisi dulu.”

Meski dia tahu kalau Abimanyu dan juga Almira adalah rekan sesama dosen. Entah kenapa Fiera merasa ada hal lain yang tidak diketahuinya mengenai mereka berdua.

Baginya, kedetakan mereka berdua sedikit berbeda. Bagaimana Abimanyu menatap wanita itu, begitu pun dengan sebaliknya. Dia tidak tahan tetap berada di sana dan menyaksikan kedekatan keduanya, meski tidak ada hal apa-apa yang akan membuat orang lain curiga, tapi hatinya mengatakan untuk segera pergi.

“EH—“

Almira menahan ucapannya yang ingin berbicara.

“Maaf, Bu, dia sepertinya sedang tidak enak badan. Sejak pagi mengeluh pusing.” Bimo yang menjelaskan saat melihat dosen barunya sedikit canggung karena dia hendak bicara, tapi Fiera sudah pergi begitu saja.

“Ah, begitu, ya?”

Mendengar kalau Fiera sedang sakit, Abimanyu mengalihkan pandangannya pada punggung istrinya yang sudah berjalan semakin menjauh dan berbelok di pintu keluar kantin. Hatinya menjadi tidak nyaman.

Terpopuler

Comments

Arsyilla Maroon

Arsyilla Maroon

kasih pelajaran Aby ny thor

2024-07-25

0

Alivaaaa

Alivaaaa

nyesek aku

2024-06-16

0

Tri Yuana

Tri Yuana

fiera yang di gituin q kok yang sakit ya..nyesek liatnya

2024-06-12

3

lihat semua
Episodes
1 Hukuman Dosen Galak
2 Seorang Penggemar
3 Dosen Baru
4 Pertengkaran
5 Memilih Mengabaikan
6 Gara-gara Pembalut
7 Kita Berteman
8 Kesialan Abimanyu
9 Mendapatkan Saingan
10 Maafkan Aku, Fiera
11 Mengajak ke KUA
12 Tuduhan yang Menyakitkan
13 Pemandangan tak Terduga
14 Termakan Godaan Sendiri
15 Bertamu Kembali
16 Sikap yang Membingungkan
17 Insiden Mengejutkan
18 Gara-gara Lingerie
19 Sangat Kecewa
20 Sindiran Gerald
21 Kebingungan Abimanyu
22 Ketegasan Infiera
23 Gagal Membujuk
24 Terus Mendiamkan
25 Abimanyu Sakit
26 Bagaimana Denganku?
27 Mints Bekal Makan Siang
28 Kecurigaan
29 Ajakan Makan Malam
30 Kencan Pertama
31 Mulai Bimbang
32 Dibawa Pergi
33 Maafkan Aku Fiera
34 Memberitahu Kebenaran
35 Gerald Pakar Cinta
36 Saingan Baru
37 Saatnya Pergi
38 Kepanasan
39 Menyusul ke Malang
40 Abimanyu Menggila
41 Senakin Cemburu
42 Pernyataan Cinta?
43 Gara-gara Baju
44 Kamu Istriku!
45 Membanggakan Istri
46 Baku Hantam
47 Meninggalkan
48 Rencana Mengumumkan
49 Aku Mencintaimu
50 Bolehkah Tidur Bersamamu?
51 Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52 Mengetahui Identitas Aslinya
53 Kenalkan, Infiera Istriku
54 Kekecewaan
55 Kekecewaan
56 Gara-gara Lingerie
57 Jawaban Lebih Menohok
58 Peringatan Gerald
59 Sebuah Permintaan
60 Retorika Perempuan
61 Persiapan Kejutan
62 Pikiran Picik
63 Kejutan Balas Dendam
64 Harapan Semu
65 Kebahagiaan Sempurna
66 Kebingungan Gerald
67 Kebohongan Gerald
68 Terpergok oleh Abimanyu
69 Sebuah Pesan
70 Maafkan Aku
71 Sadarlah Abimanyu!
72 Peringatan Gerald
73 Ingin Memberi Kejutan
74 Sebuah Kebohongan
75 Merasa Limbung
76 Peringatan Terakhir
77 Terlalu Sensitif
78 Tidak Bisa Berkompromi
79 Memergoki Semuanya
80 Semakin Kecewa
81 Kabar Kehamilan
82 Mencari keberadaan Infiera
83 Berpikir Sebelum Bertindak
84 Perlu Disadarkan
85 Sebuah Tamparan
86 Dukungan
87 Nasihat Orang Tua
88 Sayang, Bicaralah!
89 Kerinduan yang Disadari
90 Bertemu Kembali
91 Gara-gara Jaket Pink
92 Mengajarinya Cara Berkorban
93 Tertangkap Basah
94 Segalanya Sudah Berubah
95 Kekesalan Gerald
96 Tingkah Kekanakan
97 Abimanyu Ngidam?
98 Calon Ayah
99 Abimanyu Pingsan
100 Mengetahui yang Sebenarnya
101 Boleh Aku Melakukannya?
102 Merasa Tertarik
103 Fase Kehamilan
104 Kekasih Gerald
105 Mencoba Mengenalnya
106 Calon Istriku!
107 Mengharap Kejelasan
108 persiapan lamaran
109 Sebuah Kesepakatan
110 Menggoda Calon Pengantin
111 Gangguan Menyebalkan
112 Gombalan Gerald
113 Bertemu Masa Lalu
114 Gerald yang Galau
115 Keluh-kesah Gerald
116 Ketulusan Gerald
117 Pengganggu Menyebalkan
118 Saling Mengeja
119 Sebuah Permintaan
120 Tingkah Random
121 Proteksi Sang Kakak
122 Lika-Liku Calon Pengantin
123 Menuju Pertunangan
124 Nasehat Seorang Kakak
125 Hari pertunangan
126 Sebuah Bentakan
127 Undangan Bastian
128 Akal Bulus Bastian
129 Harus Tahu Diri
130 Pesan tak Terduga
131 Saling Berdamai
132 Tingkah Bastian
133 Holiday
134 Persiapan Lahiran
135 Hari Pernikahan
136 Kontraksi
137 Kebahagiaan yang Sempurna
138 Bonus 1
139 Bonus 2 Gagal Lagi
140 Bonus 3 Happy Ending
141 Penting
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Hukuman Dosen Galak
2
Seorang Penggemar
3
Dosen Baru
4
Pertengkaran
5
Memilih Mengabaikan
6
Gara-gara Pembalut
7
Kita Berteman
8
Kesialan Abimanyu
9
Mendapatkan Saingan
10
Maafkan Aku, Fiera
11
Mengajak ke KUA
12
Tuduhan yang Menyakitkan
13
Pemandangan tak Terduga
14
Termakan Godaan Sendiri
15
Bertamu Kembali
16
Sikap yang Membingungkan
17
Insiden Mengejutkan
18
Gara-gara Lingerie
19
Sangat Kecewa
20
Sindiran Gerald
21
Kebingungan Abimanyu
22
Ketegasan Infiera
23
Gagal Membujuk
24
Terus Mendiamkan
25
Abimanyu Sakit
26
Bagaimana Denganku?
27
Mints Bekal Makan Siang
28
Kecurigaan
29
Ajakan Makan Malam
30
Kencan Pertama
31
Mulai Bimbang
32
Dibawa Pergi
33
Maafkan Aku Fiera
34
Memberitahu Kebenaran
35
Gerald Pakar Cinta
36
Saingan Baru
37
Saatnya Pergi
38
Kepanasan
39
Menyusul ke Malang
40
Abimanyu Menggila
41
Senakin Cemburu
42
Pernyataan Cinta?
43
Gara-gara Baju
44
Kamu Istriku!
45
Membanggakan Istri
46
Baku Hantam
47
Meninggalkan
48
Rencana Mengumumkan
49
Aku Mencintaimu
50
Bolehkah Tidur Bersamamu?
51
Malam Syahdu Setelah Sekian Lama
52
Mengetahui Identitas Aslinya
53
Kenalkan, Infiera Istriku
54
Kekecewaan
55
Kekecewaan
56
Gara-gara Lingerie
57
Jawaban Lebih Menohok
58
Peringatan Gerald
59
Sebuah Permintaan
60
Retorika Perempuan
61
Persiapan Kejutan
62
Pikiran Picik
63
Kejutan Balas Dendam
64
Harapan Semu
65
Kebahagiaan Sempurna
66
Kebingungan Gerald
67
Kebohongan Gerald
68
Terpergok oleh Abimanyu
69
Sebuah Pesan
70
Maafkan Aku
71
Sadarlah Abimanyu!
72
Peringatan Gerald
73
Ingin Memberi Kejutan
74
Sebuah Kebohongan
75
Merasa Limbung
76
Peringatan Terakhir
77
Terlalu Sensitif
78
Tidak Bisa Berkompromi
79
Memergoki Semuanya
80
Semakin Kecewa
81
Kabar Kehamilan
82
Mencari keberadaan Infiera
83
Berpikir Sebelum Bertindak
84
Perlu Disadarkan
85
Sebuah Tamparan
86
Dukungan
87
Nasihat Orang Tua
88
Sayang, Bicaralah!
89
Kerinduan yang Disadari
90
Bertemu Kembali
91
Gara-gara Jaket Pink
92
Mengajarinya Cara Berkorban
93
Tertangkap Basah
94
Segalanya Sudah Berubah
95
Kekesalan Gerald
96
Tingkah Kekanakan
97
Abimanyu Ngidam?
98
Calon Ayah
99
Abimanyu Pingsan
100
Mengetahui yang Sebenarnya
101
Boleh Aku Melakukannya?
102
Merasa Tertarik
103
Fase Kehamilan
104
Kekasih Gerald
105
Mencoba Mengenalnya
106
Calon Istriku!
107
Mengharap Kejelasan
108
persiapan lamaran
109
Sebuah Kesepakatan
110
Menggoda Calon Pengantin
111
Gangguan Menyebalkan
112
Gombalan Gerald
113
Bertemu Masa Lalu
114
Gerald yang Galau
115
Keluh-kesah Gerald
116
Ketulusan Gerald
117
Pengganggu Menyebalkan
118
Saling Mengeja
119
Sebuah Permintaan
120
Tingkah Random
121
Proteksi Sang Kakak
122
Lika-Liku Calon Pengantin
123
Menuju Pertunangan
124
Nasehat Seorang Kakak
125
Hari pertunangan
126
Sebuah Bentakan
127
Undangan Bastian
128
Akal Bulus Bastian
129
Harus Tahu Diri
130
Pesan tak Terduga
131
Saling Berdamai
132
Tingkah Bastian
133
Holiday
134
Persiapan Lahiran
135
Hari Pernikahan
136
Kontraksi
137
Kebahagiaan yang Sempurna
138
Bonus 1
139
Bonus 2 Gagal Lagi
140
Bonus 3 Happy Ending
141
Penting

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!