Bab 16

Sudah beberapa hari bahkan mungkin hampir sepuluh hari Marvin harus menahan rindu pada sang pujaan hati, yang menjadi milik orang lain. Mulutnya selalu berkata untuk mencoba ikhlas, tapi dalam hati ia masih berharap jika Jizzy akan menjadi miliknya. Ya ... semoga saja, Marvin akan siap menjadi obat peliput lara bagi Jizzy. Karena ia tahu, jika pernikahannya dengan Zavier tak membuatnya bahagia. Itulah yang ada dalam pemikiran anak kodok ini.

Saat ini ia sedang berada di rumah Theo, pamannya yang seusia dengannya itu. Ia sedang tak ingin berada di rumah karena kedua orang tuanya sedang berada di kantor. Dan akan pulang malam nanti, setelah makan malam katanya. Karena kebetulan mereka akan ada acara makan malam bersama dengan koleganya. Dan hal itu sudah biasa bagi Marvin, dan ia pun merasa tak keberatan, karena itu sudah menjadi tuntutan pekerjaan untuk orang tuanya. Marvin tak ingin bersikap manja, karena suatu saat nanti ia pun akan menjadi pemimpin perusahaan.

Dan hal ini pasti akan terjadi pada anaknya suatu hari nanti. Jadi, ia melatih diri untuk bersikap dewasa dan tidak selalu bergantung pada orang tua. Sikap inilah yang membuatnya merasa sudah pantas menjadi suami, wwkwkwk.

Theo yang berdecak sebal saat melihat keponakan sekaligus sahabatnya ini, yang selalu merenung karena patah hati yang tiada ujungnya.

"Sampai kau akan seperti ini?" tanya Theo yang melihat Marvin yang sejak tadi hanya duduk merenung sambil memainkan ponselnya.

"Sampai aku bisa memilikinya," jawab Zavier.

"Teruslah bermimpi, bosan aku melihatmu seperti itu,"

"Kau belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, jika kau sudah merasakannya. Kau pasti akan tahu rasanya patah hati,"

"Siapa bilang aku belum jatuh cinta, justru saat ini aku sedang jatuh cinta pada gadis cantikku. Yang sangat jagoan itu," Theo berkata sambil tersenyum-senyum membayangkan wajah cantik Zia, yang selalu menghiasi pikirannya setiap hari.

"Maksudmu planet galak yang selalu membuat kepalaku benjol?"

"Memangnya siapa lagi, hanya gadisku yang mampu melakukan itu!" ujar Theo yang sangat bangga saat mengucapkannya.

"Mampu kepalamu, jika kau menjadi kekasih dari gadis galak itu, aku jamin kau pasti akan menjadi gulai kodok!" ucap Marvin sangat yakin.

"jangan membicarakan dirimu sendiri, dasar kodok payah!"

"Lihat saja suatu saat nanti aku akan membalas perbuatan dari planet pluto menyebalkan itu,"

"jangan berani menyentuhnya, jika kau tak ingin berhadapan denganku!

Marvin hanya mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan dari Theo. Semangat sekali ia ingin melindungi Zia, padahal Zia bukanlah gadis lemah yaang harus dilindungi. Justru malah kebalikannya, Theo lah yang akan dilindungi oleh Zia.

*

*

*

Di tempat yang berbeda, Jizzy pun sedang mengobrol berdua dengan Zia. Ia sedang mengungkapkan semua isi hatinya saat ini.

"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan makhluk cantik itu?" tanya Zia.

Jizzy pun jadi tertawa saat membayangkan bagaimana hubungannya dengan zavier, yang sudah maju sattu langkah.

"Hubungan kami baik-baik saja, malah sekarang kami sudah tidur dalam satu kamar dan juga satu selimut,"

"Woaahhh benarkah? Jadi, sekarang sepupuku ini adalah mantan perawan?" tanya Zia, ia cukup terkejut saat mendengar tentang kemajuan hubungan dari sepupunya ini.

"Enak saja, kami masih sama-sama tersegel meskipun kami tidur di tempat yang sama,"

"Sangat mengecewakan hubungan kalian ini, aku pikir hubungan kalian sudah dalam tahap mencetak bayi,"

"Jangan terlalu terburu-buru, kau tahu kan bagaimana suamiku yang cantik dan imut itu. Harus perlahan-lahan dan juga harus sangat lembut dalam memperlakukannya,"

"Kau benar, suamimu yang cantik itu harus diperlakukan dengan sangat lembut. Jika aku jadi kau, mungkin sudah aku paksa dia untuk membuka celan@,"

"Kau ingin membuatnya pingsan?'

Zia malah terbahak-bahak mendengarnya, pikirannya kini sedang berkelana membayangkan suami keponakannya, yang pingsan karena dipaksa untuk dibuka segelnya.

*

*

*

Di lain tempat, seorang wanita cantik sedang menatap keluar gedung yang dihadapannya, terbentang kaca yang sangat lebar. Hingga ia bisa melihat pemandangan seluruh kota.

Ia sedang memikirkan bagaimana cara membalas dendam untuk membayar rasa sakit yang selama bertahun-tahun ia rasakan. Sakit, karena ia memiliki banyak cinta, untuk seorang pria yang tak mencintai dirinya.

Dan karena rasa cintanya yang begitu besar, membuat ia gelap mata hingga ia akhirnya melakukan kejahatan . Yang membawanya untuk tinggal dibalik jeruji besi. Ia tak pernah menyangka kehidupan yang pahit akan menghampirinya, hingga membawanya ke dalam jurang penderitaan yang tak pernah ia bayangkan.

"Kau yakin akan membalas mereka semua?"

"Sangat yakin, memangnya apa yang membuatku ragu untuk melakukannya,"

"Aku hanya memastikan saja, aku pikir kau ragu akan melakukannya. Dimana kau akan berhadapan dengan orang-orang yang tak mudah dikalahkan,"

"Sebuah kekuatan besar jangan pernah kau lawan dengan kekuatan juga, karena jika kau adu kekuatan maka kau akan kalah. Tapi, jika kau melawan sebuah kekuatan besar dengan sebuah siasat dan juga sebuah kepintaran. Maka kau akan bisa mengalahkannya."

"Terserah kau saja, aku akan membantumu jika kau membutuhkannya,"

"Kau memang harus membantuku,"

*

*

*

"Sam, apa menurutmu aku sudah terlihat keren? Menurutmu aku banyak perubahan kan?" tanya Zavier pada Samuel asistentnya. Dan seperti biasa, Zavier selalu memberikan pertanyaan yang tidak mudah untuk Samuel.

Kalau saja boleh jujur, Samuel ingin mengatakan jika dalam dirinya sama sekali tidak ada perubahan. Ia tetap seorang pria dengan sindrom ocg dan selalu menyusahkan orang lain terutama dirinya.

Akan tetapi, tak mungkin ia berkata dengan jujur setidaknya ia harus sedikit berbohong. Agar makhluk karbol yang ada dihadapannya ini merasa bahagia dan merasa dihargai. Bukankah begitu, karena sebagai asisten yang baik dan bertanggung jawab, ia harus mampu membahagiakan bosnya. Meskipun ia adalah orang yang sangat aneh. Bahkan sangat aneh, untuk ukuran manusia normal.

"Iya Pak, anda berubah keren. Saya bahkan tidak percaya dengan apa yang saya lihat sekarang ini," jawab Samuel.

Namun, bukannya senang dengan jawaban Samuel, Zavier justru merasakan kesal. "Jika kau berbohong setidaknya, berbohonglah sedikit saja. Jangan terlalu mengada-ada!"

"T-tapi Pak,"

"Sudahlah, aku juga ingin bertanya lagi padamu,"

Astaga, kenapa akhir-akhir ini makhluk cantik ini senang sekali bertanya padaku.

"Anda ingin bertanya apa, Pak?"

Zavier pun kemudian mendekati Samuel sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Seolah ia akan mengatakan sebuah rahasia penting.

"Begini, ini hanya rahasia kita oke. Ini hanya kita berdua yang tahu jangan sampai bocor karena aku sangat malu," bisik Zavier.

..."I-iya Pak, saya tidak akan mengatakannya pada siapa pun,"...

"Begini, apa kau pernah berciuman? Aku ingin tahu bagaimana rasanya," bisik Zavier.

"Apa?"

Astaga, ada apa dengan otak Zavier. Kenapa ia bertanya hal seperti itu pada seorang jomblo. Mana Samuel tahu, rasanya berciuman bahkan kekasih saja ia tidak punya.

***

Besok senin jangan lupa votenya ya 😘😘😘

Terpopuler

Comments

Mi Iwan

Mi Iwan

Astajim.... Karbooooolllll..... 🙈🙈🙈🙈🙈

2023-06-19

2

Giantini

Giantini

siapa yg mau balas dendam..

2023-06-18

1

Eko Sujatno

Eko Sujatno

lanjutken Thor,,,,,

2023-06-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!