"Apa yang kau inginkan?" Dia malah bertanya apa yang kuinginkan. Yang kuinginkan cuma satu. Tidak melihat wajahnya lagi sekarang.
"Keluar dari sini Tuan Montgomery." Aku bersikap praktis lagi, mataku kembali ke dokumen yang kupegang.
"Ya baik-baik... Sekali lagi maaf."
Aku tak menanggapinya, menganggapnya tak pernah minta maaf. Menurutku dia hanya sedang berusaha memyelamatkan apa yang tersisa.
Berani-beraninya dia menuduhku punya hubungan dekat dengan salah satu pemegang saham seperti dia dan Margienya itu.
Dia mungkin berharap dapat menemukan sesuatu dari menuduhku seperti itu tapi yang dia temukan hanya kemarahanku karena semua itu tidak benar.
Tapi kabar itu termyata sudah terlanjur disebarkan.
"Kau tahu Nona, di kantor beredar kabar kau dekat dengan salah satu pemilik saham. Maksudnya dekat dalam arti yang negatif." Itu pasti ulah David Montgomery. Rupanya dia hanya meminta maaf di mulutnya saja tetap saja dia menyebarkan kabar itu.
"Biarkan saja malah bagus tak ada uang berani macam-macam denganku karena aku punya hubungan dengan pemegang saham, tapi untuk orang-orang yang bekerja dekat dengan kita kau boleh membantahnya."
"Begitu?"
"Iya, tak usah mengurusinya. Yang penting jika ada pelanggaran lagi kita tutup kartu kreditnya. Lagipula itu bagus untukku, siapa yang berani macam-macam denganku lagi. Aku punya backup salah satu pemegang saham."
Dalam seminggu berikutnya laporan kartu kredit datang. Sudah kuduga, kali ini pembelian beberapa hadiah di sebuah butik barang mewah lainnya di NY, disamarkan dengan pengiriman ke pria.
Aku menutup kartu kreditnya. Kali ini aku memberitahunya sendiri.
"Bulan ini aku memotong 32,000 dari gajimu. Dan kartu kreditmu kututup. Efektif hari ini kau tak bisa menggunakan kartu itu lagi." Kutaruh map rekapan pengeluaran yang kupotong kepadanya. "Kau ada keluhan? Sudah kuperingatkan padamu."
"Fine." Sekarang dia seperti tak perduli apa yang aku katakan.
"Fine?"
Itu saja? Dia tidak berusaha membantahku atau apapun?
"Jadi selanjutnya aku minta pengantian padamu jika ada transaksi?"
"Iya, masukkan bonnya ke Jannete."
"Ya baiklah." Dia nampaknya tidak ingin membahas aku menutup kartu kreditnya. Benarkah dia menyerah? "Aku butuh tandatanganmu untuk ini. Analisa biaya pembelian hotel lama di Midtown East, biaya awal, konsep, biaya renovasi, proyeksi pendapatan, Sir Gabriel sudah tahu soal ini." Dia langsung membahas masalah lain seolah hal ini tak menganggunya.
Mungkin dia masih punya banyak pemasukan di tempat lain yang memungkinkannya membiayai pacar-pacarnya. Jadi dia tidak perduli aku menutup kartu kreditnya. Mungkin juga dia tahu dia tidak bisa menghentikanku malakukannya.
"Kau tak ingin mempermasalahkan kartumu?"
"Tidak. Aku ingin tahu apa kau bisa menyetujui pengajuan biaya untuk proyek itu." Dia benar-benar tak mempermasalahkan aku menutup kartu kreditnya?
"Akan kulihat dulu." Aku mengambil map tebal itu, dan masih menyelidik dengan penasaran kenapa dia menyerah tanpa perlawanan. Padahal tadi aku sudah siap bertengkar habis-habisan dengannya.
"Terima kasih. Mau makan siang." Dia tersenyum padaku. Apa sekarang? Apa dia mulai mencari celah untuk berteman denganku.
"Tidak." Satu kata cukup untuknya.
"Ayolah Carla, ini cuma makan siang."
"Makan siang denganmu membuat derajat kelasku turun." Dia tertawa ngakak sekarang.
"Sangat kejam." Dia tersenyum seakan ini adalah permainan yang menyenangkan. Dasar iblis, kau pikir kau bisa mempermainkanku di sini, sekali aku makan siang denganmu, kau akan menyebarkan berita bahwa aku tergila-gila denganmu. Aku tak sudi menjadi korbanmu dan derajatku langsung turun jika aku menerima ajakan makan siangmu.
"Bagus kau tahu aku kejam. Jangan dekat-dekat."
Kutinggalkan ruangannya. Yang tadinya sudah siap berperang jadi tak bisa bisa memarahinya membuat perasaanku jadi penasaran.
Kenapa dia tidak mencari masalah denganku, belakangan wanita-wanita klub pengemarnyapun berhenti mencari masalah denganku.
Apa dia tobat?! Sepertinya mustahil?
Karena penasaran aku menelepon CEO Gabriel .
"Sir, aku memblokir permanen kartu David."
"Oh, apa dia marah-marah padamu?"
"Tidak, aku heran kenapa dia tidak marah-marah padaku. Apa dia bertanya sesuatu padamu tentangku Sir?"
"Ohh, dia hanya bertanya bagaimana kau bisa jadi Direktur Keuangan di usia 33 tahun. Kujawab kau sebenarnya sudah 12 tahun bekerja plus kau memang dicalonkan oleh Direktur Keuangan yang lama. Hanya aku tak bilang kau adalah penerima beasiswa yayasan. Aku tetap di cerita kita kau dekat dengan pemegang saham lain ."
Jadi dia percaya ceritaku sekarang?
"Ini kemajuan kau bisa menarik kartu itu dan dia tidak protes padaku atau Kakakku."
"Aku sendiri hampir tak percaya jika dia tak protes Sir. Saat aku mengatakan aku akan menutup kartunya dia menerimanya dengan enteng dan beralih ke proyek pengambilan hotel di Midtown Manhattan."
"Iya, dia yang menemukan hotel dan melakukan deal itu. Itu alih management, kau tolong periksa apa semua proyeksi yang dibuatnya benar. Ya sudah mungkin dia sudah menemukan seseorang yang benar sehingga dia tidak menghabiskan uang ke wanita lagi. Kita fokus saja ke proyeknya dulu."
Bahkan akhirnya Pamannya pun sendiri menganggap hal yang terjadi adalah keajaiban. Mana mungkin dia menemukan wanita yang benar. Siapa? Margie, jangam bercanda.
Tapi aku tak percaya semudah itu. Entah apa yang terjadi kurasa iblis itu menyembunyikan sesuatu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Dwi Sasi
Carla....
Penasaran akan menyulitkanmu
🤭🤭🤭
2024-01-01
0
Klara Rosita
Waaah David sedang memainkan triknya... 😁😁😁
2023-10-03
0
🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka
tetap waspada Carla..
2023-07-26
1