Aku menunggu siapa yang berani mencari masalah denganku lagi, siapa tahu ada tambahan lagi dalam beberapa hari ini. Tapi mungkin karena provokatornya saja tidak berani lagi maka beberapa hari ini suasana agak tenang.
Tapi kenapa si Iblis itu tidak bergerak membalasku, aku penasaran sekarang. Tapi rasa penasaranku tak bertahan lama. Dia mendatangiku dua hari setelahnya.
"Nona, Tuan Montgomery ingin bertemu denganmu." Akhirnya dia muncul juga. Ayo kita sambut dia, apa dia mau mengibarkan bendera putih. Jika iya itu akan terlalu mengecewakan.
"Tuan Montgomery, ada apa?"
Saat akhirnya dia muncul di depanku aku berpura-pura sibuk dengan dokumenku. Dia duduk di depanku sekarang. Wangi parfumnya itu membuatmu harus melihatnya. Kenapa wanginya enak sekali.
"Siapa yang ada di belakangmu sehingga kau bisa didukung oleh Alan?"
"Kebenaran dan penegakan aturan." Aku menjadi sok patriotis, tak akan menjawabnya biarkan dia berpikir aku semankin rumit. "Kenapa kau harus tahu siapa yang ada di belakangku, apa yang kau lakukan itu salah, walaupun kau akan mewarisi saham terbesar hotel ini, tetap saja itu salah. Seperti kubilang di sini ada setidaknya 60 % yang bukan uang pribadimu. Apa itu tidak cukup sebagai dasar. Jika kau ingin bersenang-senang gunakan saja uangmu bukan uang orang lain." Aku memberinya kuliah panjang sekarang.
"CEO Gabriel nampaknya mendukungmu?" Dia membuat tebakan. Jika dia tahu yang memerintahkanku adalah Ayah dan Ibunya sendiri, dia akan dapat kejutan yang sebenarnya . Aku menghela napas.
"Kau tak tahu kau mempersulit pekerjaan semua orang, jika kau mau menaati aturan, maka permasalahan kita selesai. Aku tak mengerti kenapa kau harus memakai uang perusahaan. Lagipula apa bagusnya kau menghadiahi wanita-wanita dengan hadiah-hadiah itu."
"Itu urusanku." Iblis, tak akan menyerah dengan mudah.
"Kalau begitu baiklah, pelanggaranmu urusanku. Sederhana bukan." Dia memanggilku penyihir. Mari kita sihir dia menjadi pangeran buruk rupa karena dia tidak membawa kartu saktinya. Tanpa uang pria setampan apapun terlihat jelek.
³"Berapa umurmu?" Sekarang kenapa dia menanyakan umurku.
"Umurku?"
"Kenapa wanita semudamu bisa duduk di kursi Direktur? Kau simpanan salah satu pemegang saham?" Sekarang emosiku naik, rupanya itu yang dia pikirkan tentangku selama ini.
"Rupanya kau pikir wanita itu tidak punya jenjang karier? Kau pikir wanita itu cuma berhenti di sekertaris dan assisten, jika kau mengelilingi dirimu sendiri dengan wanita macam itu, itu jelas salahmu sendiri." Dia meremehkan wanita, terlalu biasa meremehkan wanita.
"Ohh bukan? Kau baru berusia 33 tahun saat diangkat jadi Direktur keuangan wilayah barat. 33 tahun... Wow, apa kau jenius keuangan, aku tak begitu kenal dengan bagian barat, mungkin aku harus cari informasi kau dekat dengan pemegang saham siapa?"
Jika dia tahu aku dekat dengan Ayah dan Ibunya, dia akan stroke. Aku penerima beasiswa pendidikan yayasan yang dikelola oleh Pamannya sampai SMA, bahkan masuk Stanford dengan rekomendasi yayasan. Tapi tuduhan bahwa aku memakai cara kotor keterlaluan. Dan itu diutarakan tanpa bukti. Aku berdiri dan memberinya tatapan aku akan menjadikan ini masalah personal.
"Kau dengar aku Tuan Montgomery yang terhormat, aku sudah bekerja sejak 21 tahun, saat itu aku sudah berkarier di sana 12 tahun, posisi pertamaku assisten junior direktur keuangan, dalam 5 tahun kemudian menjadi assisten utama Direktur keuangan, dan 7 tahun kemudian jadi penganti Direktur keuangan. Aku dari keluarga miskin, aku membiayai keluargaku, pekerjaan yang kudapat adalah segalanya bagiku, aku memperlakukan pekerjaanku di atas segalanya, tidak seperti kau yang punya segalanya dari keluargamu, aku memberikan 200% untuk pekerjaanku, jadi kau ... Tuan Montgomery, jangan menyamakan aku dengan gadis-gadis cantik yang menyerah padamu untuk sebuah tas LV. Aku tidak membuka kaki hanya untuk jadi assisten dengan tas LV, baj*ingan sepertimu memang tak pernah menghargai wanita pekerja keras. Kau jelas!" Aku mengebrak meja dan menunjuknya langsung di mukanya.
Menyinggungnya? Aku tak takut menyinggungnya! Jelas aku mau menyinggungnya, dia juga menyinggungku terang-terangan.
"B*angsat seperti kau tak tahu di dunia ini ada wanita yang dari awal tak tergantung pada pria, aku mungkin dari keluarga sederhana, tapi jelas aku tak membuka kaki untuk mengemis tas LV padamu atau laki-laki lain. Lain kali kau bicara seperti itu, kau akan lihat apa yang bisa aku lalukan padamu. Assh*ole!"
Dia diam tapi tak membalasku. Sekarang ini jadi personal. Aku benar-benar membenci Iblis ini, aku tak menyukainya secara pribadi, setelah ini penilaianku akan sepenuhnya buruk padanya.
"Kau sudah selesai?! Jika sudah, kau boleh keluar dari ruanganku!" Aku sekalian menunjuk pintu keluar. "Kau dengar aku, jika dalam laporan kartu kredit bulan depan kutemukan pembelian apapun yang bukan untuk kepentingan perusahaan akan kututup permanen kartumu! Kau ingat itu, kau pikir aku tak berani menutup kartumu."
Dia tidak menjawab, apa lagi yang dia tunggu? Dia mau aku melemparnya dengan salah satu binder dokumen di mejaku. Berhadapan dengan iblis ini ternyata bisa membuatmu memikirkan cara yang paling buruk.
"Fine..fine, aku salah aku minta maaf, aku hanya curiga kenapa kau bisa jadi Direktur di usia 33." Kejutan dia minta maaf. Tapi semua terlambat
Dia pikir hanya maaf menyelesaikan masalah. Itupun minta maaf tak serius.
"Kau bisa keluar sekarang juga."
"Bagaimana kalau aku mentraktir makan malam untuk permintaan maaf."
"Apa?" Sekarang dia pikir aku mengharapkan makan malam dengannya?! Bangsat ini akan menyebarkan bahwa aku juga terpesona dengannya. Dia pikir dia bisa menanganiku dengan cara itu.
"Kau berpikir aku mengharapkannya. Kau berpikir aku berharap makan malam denganmu?"
"Ini untuk permintaan maaf. Bukan masalah kau mengharapkannya atau tidak. Aku minta maaf telah menyinggungmu."
"Aku tak menganggap itu adalah permintaan maaf sayangnya. Kau boleh keluar." Aku tetap menunjuk pintu keluar.
"Ya baiklah, mungkin lain kali."
"Tidak ada lain kali."
"Cuma makan malam, tempat manapun yang kau mau aku benar-benar minta maaf."
"Butuh lebih dari makan malam untuk minta maaf padaku. Sekarang keluar, aku tak mengharapkan kau meminta maaf padaku lagipula." Sekarang dia tersenyum, aku benci senyum sok memahami ini. Benar-benar benci seorang playboy yang berpikir semua wanita itu mudah, hanya perlu ketampanan dan uangnya.
Ban*gsat seperti itu rasanya tak asing di cerita hidupku.
bersambung besok----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Daanii Irsyad Aufa
jan kasih kendor Carla. orang macam David harus d tampar biar otaknya bekerja
2024-10-03
0
Virgo Girl
Setujuhhh.... the power of money 😁😁
2024-06-28
0
Kinara (Hiatus)
selalu keren mak
2024-05-09
2