POV Carla
Sekarang David menganggapku serius. Setelah beberapa bulan bekerja bersama akhirnya David tak pernah mengajukan pertanyaan yang aneh dan menyinggung masalah pribadi lagi. Dia berkerja denganku sebagai kolega dan nampaknya tidak berpikir aku adalah gadis yang harus digoda.
Pekerjaan berjalan lebih lancar karena aku tak perlu merasa emosiku terpancing karena dia meremehkanku.
Tepatnya itu dimulai sejak Janette bilang David bertanya apa dia benar membiayai semua adik-adikku. Sekarang David memberiku rasa hormat yang aku perlukan. Dia menganggapku setara dan berfungsi sebagai profesional.
Dan dia tak masalah aku masih menahan kartu kreditnya. Assistennya memberi semua keterangan yang diperlukan untuk reimbursement dan situasi berjalan dengan damai tanpa satu bon pun ditolak. Itu keajaiban yang perlu di apresiasi. Secara profesional aku tak punya masalah dengannya sekarang.
Tapi jelas penilaian secara personalku ke Iblis itu tidak berubah. Aku tetap menempatkannya sebagai seseorang yang tidak boleh didekati sama sekali. Itu tidak pernah berubah.
"Carla." Kali ini David memanggilku di koridor kantor. Aku menoleh mendapatkan pria yang kali ini memakai kemeja gelap itu membawa sebuah kartu undangan di tanganku dan menaruhnya di tanganku.
"Apa ini?" Aku membaca ini adalah undangan resepsi pernikahan, dengan nama orang yang sama sekali tidak kukenal.
"Pernikahan Putra Tuan Oliver Cheshire, pemilik hotel di Midtown yang kita beli, Putranya menikah di Barbados, mereka memakai hotel kita. Kau dan aku harus pergi karena Ayah dan Ibuku tak bisa pergi. Ibuku bilang kau yang harus ikut jangan yang lain." Aku menerima undangan itu dengan tak percaya, Nyonya Maria menyuruhku pergi dengan Iblis ini, dia sendiri yang bilang dia tak boleh terpengaruh dengannya.
Apa sekarang aku disuruh mengawasi kehidupan pribadi Iblis ini , tugas ini terlalu berat untukku. Aku tidak dibayar untuk tugas baby sitting ini.
"Mana mungkin. Aku tak mau." Kukembalikan undangan yang ada di tanganku kepadanya.
"Aku baru tahu Ibuku mengenalmu?" Sekarang aku tergagap dengan pertanyaan tiba-tiba itu.
"Tentu saja aku mengenal Nyonya Maria, dia istri pemegang saham terbesar. Bagaimana mungkin aku tak mengenalnya. Aku pernah bicara dengannya beberapa kali secara pribadi." Dia meneliti ekspresiku dengan lekat.
"Cuma itu. Benarkah, kenapa dia bisa menyuruhmu pergi denganku?"
"Jelas cuma itu." Dia menatapku, nampaknya dia tak percaya dengan kata-kataku. "Mana aku tahu kenapa dia ingin aku pergi denganmu. Kau pikir aku mau pergi denganmu? Jika kau mau pergi denganmu, kau pergi dan cari partner sendiri."
"Kau telepon Ibuku sendiri untuk menolaknya. Terserah padamu." David meninggalkanku dan mengembalikan undangan itu ke tanganku dan ketidakmampuanku untuk membantah apapun.
Aku tak mau pergi dengannya. Tugasku hanya mengawasi dompetnya, bagaimana mungkin Nyonya Maria menyuruhku harus pergi dengannya ke Barbados hanya berdua.
Aku langsung mengangkat ponselku saat kembali ke ruanganku.
"Nyonya Maria." Dia mengangkatnya dengan cepat.
"Ada apa Carla sayang." Dia mengangkat teleponku dengan suara riang.
"Kenapa kau menyuruhku pergi dengan David. Aku tak mau pergi dengannya." Jelas aku langsung protes.
"Aku tahu kau akan meneleponku. Aku minta tolong padamu, aku tak mau dia pergi dengan seseorang yang tak jelas indentitasnya ke sana. Hanya dua malam, anggap saja liburan. Kau akan mendapat kamar terpisah tentu saja."
"Nyonya mana mungkin aku mengawasinya, kau tahu David itu jika dia mau dia bisa duduk sendiri di bar dalam lima menit dan wanita-wanita kesepian langsung mengerubunginya seperti hyena kelaparan. Kau memberiku tugas yang mustahil Nyonya."
"Jika dia begitu itu hanya akan bertahan satu malam. Kau tenang saja, dia tak akan menyusahkanmu, dia tahu tak bisa macam-macam denganmu. Lagipula dia tak akan mempermalukan dirinya di depan kolega dengan membawa orang asing, kau partnernya di pesta itu, tolong bertahanlah untuk akhir pekan ini. Hanya dua malam Carla sayang, oke ..."
"Tapi Nyonya..."
"Carla sayang, anggap saja aku meminta tolong padamu. Sekali ini saja, tolong Bibi. Oke, jika dia macam-macam padamu telepon aku, aku akan memarahinya dan memotong gajinya untukmu 20%!"
"Apa..."
"Aku berjanji kau boleh memotong gajinya 20% dan mentransfernya ke rekeningmu sendiri. Akan kukatakan pada Gabriel. Oke, masalah ini selesai. Nikmati liburanmu sayang."
Telepon itu terputus dan dia tidak memberiku kesempatan menjawab apapun lagi.
"Ini menyebalkan, kenapa aku harus pergi dengan Iblis itu. Memangnya aku baby sitter!"
Tapi kupikir lagi, jika dia berani macam-macam mengodaku, aku akan ditransfer 20% gaji Iblis itu. Aku hanya harus menghadiri pernikahan itu 2 malam, 3 hari, mulai jumat sore ke sana jadi tamu, pergi menjelajah Barbados sendiri bukan. Minggu sore kami sudah pulang menurut jadwal acaranya.
Anggap saja itu liburan seperti kata Nyonya Maria. Menghela napas panjang aku berusaha berpikir positif.
Ini hanya akan jadi liburan di Barbados, lagipula aku belum pernah ke sana.
Baiklah, liburan. Ini hanya akan jadi liburan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Erfi Ana
Yeay holiday
2024-02-10
0
Dwi Sasi
Waah... Ada udang dibalik bakwan
2024-01-01
0
Al Fatih
kayaknya bakal terjadi sesuatu
2023-10-27
0