Dalam beberapa hari berikutnya, pagi ini aku menapaki lobby gedung kantor Charleston Hotel Worldwide Office , di 57th Street tepat di depan Central Park.
Notes: Yang menjadi referensi gedung ini adalah Park Hyatt Hotel Central Park Manhattan
Gedung hotel ini 5 lantai diantaranya kami ambil sebagai office, worldwide office 1 ini mengatur seluruh Amerika Timur, Karibia, Amerika Tengah. Sedangkan aku sebelumnya memegang jaringan hotel Amerika tengah dan Barat , Hawaii, dan Kanada.
Baru menginjakkan kaki di lobby 2 tempat kami masuk kantor, aku merasa aura negatif menyelimuti sekelilingku, aku lewat di lobby merinding melewati sekelompok gadis yang menatapku seakan mereka punya dendam tak terselesaikan denganku.
Ini pasti pekerjaan Iblis David itu. Entah apa yang dia sebarkan di sini yang jelas dia akan berusaha keras menargetkanku dengan menggunakan tangan orang lain. Iblis selalu punya banyak cara untuk menang.
Pandangan menusuk itu terus mengikutiku, aku tak perduli, membawa kopiku aku melewati mereka. Tapi empat gadis itu mengikutiku berjalan ke lift. Mereka mungkin akan mencoba sesuatu yang terlihat seperti tabrakan tak sengaja padaku karena aku membawa gelas kopi panas. Tebakanku langsung bermain.
Aku menunggu lift ke atas. Jariku terulur menyentuh tombol lift. Mereka menunggu di belakangku siap menabrakku ketika aku masuk pintu lift.
Aku meringis, mereka pikir apa yang akan mereka lakukan tak bisa kubaca, jelas aku tak mau terjebak permainan murahan oleh gadis-gadis pengemar David Montgomery itu.
Pintu lift terbuka, beberapa orang keluar, aku menyingkir ke samping, mengikuti orang yang keluar aku berputar balik ke arah reception. Aku melihat mereka yang kebinggungan sekarang. Mau tak mau mereka naik ke atas.
Aku selamat dari upaya satu percobaan pembunuhan hari ini. Lain kali aku harus sudah menyiapkan baju ganti di sini. Gadis-gadis itu tak akan berhenti sampai di sana.
Aku naik setelah mereka naik dan sampai ke kantor divisiku. Janette salah manager keuangan yang kupunya disini menghampiriku. Untuk jelasnya dia adalah manager yang mengurus semua pengeluaran di level direktur ke atas di wilayah ini. Dia adalah satu-satunya orang yang kubawa dari kantor LA ke sini.
"Nampaknya kita punya masalah di sini Carla. Kenapa aku merasa orang-orang ini menatapku seakan kita musuh mereka?" Janette datang langsung mengeluh padaku.
"Hmm karena kita menggangu David, dia Direktur yang sangat populer di sini. Dia menyebarkan gosip buruk tentang kita, orang-orang yang mendukung David akan berusaha membuat kita dalam masalah."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Aku akan bicara padanya. Baik-baik."
"Baik-baik? Kemarin bukankah kau memulainya dengan sangat 'baik-baik'."
"Kemarin adalah tahap 1, dia tidak mendengarkan kita akan punya banyak masalah, iblis tetaplah iblis, dia tidak mudah dihadapi, tapi aku masih punya banyak kartu truft di tanganku. Jadi akan kuperingatkan dia sebelum aku menggunakannya."
"Ohh begitu. Kau pikir dia akan menyerah dengan ancamanmu."
"Tentu tidak, dia akan mencoba membalasku."
"Lalu...?"
"Kau akan meladeninya sampai dia mematuhiku." Jeanette melihatku tapi tak mengerti apa yang akan aku lakukan. "Yang penting jangan biarkan iblis itu merayumu."
"Jelas tidak, aku tahu siapa dia. Mana mau aku di rayu oleh orang yang hanya memanfaatkan wanita seperti dia. Tapi, dia memang tampan." Jelas siapapun akan mengatakan Iblis itu tampan itu hal yang tidak dapat disangkal lagi.
"Jelas dia tampan, kalau tidak dia tidak akan jadi playboy. Aku ke ruangannya dulu."
Saat aku memasuki kantor divisinya, aura yang sama kurasakan kembali. Dia mungkin ingin satu gedung memusuhiku.
"Nona boleh bertemu Sir David sebentar. Apa dia sudah datang" Aku sampai ke meja sekertarisnya.
"Ditunggu sebentar Nona, ..." Sekertarisnya juga cantik, dia memang pecinta wanita cantik.
"Sihlakan masuk Nona." David sudah ada ternyata.
Aku masuk ke ruangannya, ini pertama kali aku masuk ke sini. Ruangannya di dominasi warna coklat gelap, paduan abu-abu dan sedikit warna putih polos di ujung ruangan. Ya, iblis memang bersarang di tempat yang gelap. Lebih besar dari ruanganku, jelas saja karena dia ahli waris yang akan mewarisi hotel ini.
"Nona Carla, apa yang membuatmu ke sini. Kau sudah sarapan. Aku punya sandwich kau mau."
"Tidak terima kasih Tuan Montgomery."
"Teh, kopi, sekertarisku bisa menyiapkannya."
"Tidak." Aku duduk di depannya.
"Apa yang bisa kubantu pagi ini." Dia bersender di kursinya dengan gaya sombong.
"Iya memang ada yang bisa kau bantu." Aku juga menyender di kursi dan menyilangkan kaki. "Aku ke sini bekerja sesuai aturan, kau nampaknya tidak suka aku menegakkan aturan. Aturan yang sederhana, Dan menghasut kantor ini untuk membenciku. Bahkan sampai gadis-gadis divisi lain tahu aku perlu diusir, aku tidak akan pergi, ini tugasku. Jika kau mempersulitku, aku bisa saja membatalkan kartumu." Dia menaikkan alisnya dan tersenyum.
"Aku benar-benar tak tahu apa maksudmu. Kau punya bukti aku menyuruh gadis-gadis itu membencimu. Kau jangan bicara tanpa dasar." Dia masih mencoba mengelak dengan kata-kata liciknya.
"Aku tak perlu merepotkan diriku mencari bukti. Yang perlu kau ingat adalah jika ada kecelakaan padaku, saat itu juga kartu kreditmu dibatalkan. Kau bisa memakai uangmu sendiri dan aku akan yang balik menyusahkanmu dengan memperketat banyak hal untuk reimbursement. Kau mengerti." Bibirnya terkatup sekarang tanda aku berhasil memancing amarahnya.
*reimbursement \= penggantian uang.
"Jika aku sudah memegang tempat ini, kau yang pertama akan dipecat." Aku tersenyum kecil.
"Jangan mimpi, itu masih lama, malah mungkin saja tak akan terjadi, mungkin aku yang akan diangkat dari CEO daripada kau, mungkin pamanmu memegang terbesar, tapi tetap saja itu 15% saja... masih ada 85% di luar sana. Atau mungkin saja Pamanmu lebih memilihku jadi CEO.... Bisa saja bukan."
"Kau terlalu jauh. Kau pikir kau siapa?"
"Setidaknya aku bekerja baik, aku tak menghabiskan uang perusahaan untuk membeli tas LV dan memesan striptease. Jika Rapat umum pemegang saham berlangsung sekarang dan kita berdua calonnya kau pikir mereka akan memilihmu? Mustahil."
"Kau sudah selesai." Nampaknya dia sudah kalah.
"Sudah itu saja."
"Kau boleh keluar."
"Baik aku keluar. Ingat satu kali lagi kau mencari masalah, ucapkan selamat tinggal untuk kartu kreditmu. Aku memegang dompetmu Jangan macam-macam denganku." Aku sedikit tersenyum padanya, senang rasanya bisa melihat rahangnya menjadi kaku karena kesal.
Dia tak akan menyerah dengan ancaman ini. Tapi itu memang sudah kuperhitungkan. Lebih menyenangkan mengambil dompetnya dan dia akan merasakan bagaimana dia harus mengeluarkan setiap sen nya sendiri dan kupersulit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Dwi Sasi
Akankah david memainkan trik lain??
Tidak semudah itu fergusooo....
/Grin//Grin/
2024-01-01
0
Klara Rosita
waaah kereeen Carla.. pemberani 👍👍
2023-10-03
1
YuWie
lebih jozz lagi klo kamu besa bela diri..biar si Motmot itu semakin terkalahkan..hahahahaha
2023-07-27
1