Brian, tidak pernah menyangka di hari ulang tahunnya yang ke 23 tahun, membuat hatinya terkunci dan membenci kue ulang tahun. Ima sosok kakak yang ia sayangi, harus berakhir dengan tragis karena kecelakaan.
Tepat hari ke tujuh, Brian hanya bisa meratapi makam Ima yang tak jauh dari rumah. Terlebih sang ibu tak bisa hadir, karena proses perijinan rumit di alzeera ke indonesia.
"Brian, lo yang sabar!"
"Di saat kaya gini, nyokap gue ga ada. Dia pikir semua bisa dengan uang, gue benci dengan keadaan seperti ini. Kakak gue harus pergi, apa seperti ini rasanya kehilangan. Bokap gue meninggal di saat gue umur 6 tahun, lalu gue sendirian."
"Allah swt, ada dia penolong sebaik baiknya. Kita berangkat sekarang! kita ke kampus, setelah kasih hasil skripsi, kita buka kotak bloody marry. Masih inget tugas dan amanat arwah itu kan? Maaf Brian!"
"Soal arwah leher yang ikut gue di hutan, udah di bantu. Semoga beritanya cepat selesai hari ini. Hanya aja kita harus ke rumah arwah bapak tua, dengan perut yang berantakan. Entah kenapa kejadian itu, tepat dengan lokasi ka Ima. Apa dia yang sebab in ka Ima meninggal. Atau karena kita belum selesaikan proses pencarian paviliun camping."
"Istighfar Brian! takdir, dan sepertinya ada hal mistis yang kita harus pecahin. Sebab jalan itu seperti ada hal aneh."
Milen dan Brian saat ini pergi, ia meninggalkan makam ka Ima. Mereka berdua menuju kampus, guna memberikan skripsi. Entah kenapa, Sika, Jaet khir akhir ini menghindar. Hal itu membuat Milen dan Brian selalu pergi berdua, atau karena rumor yang kini terdengar sampai kampus, jika Milen dan Brian adalah penyebab kutukan bencana.
"Lihat deh, penyebab pak Kola hilang. Itukan yang namanya Milen, ulah dia yang sok mistis. Jangan jangan dia anak dukun, tuh jadi bala ke kita. Awas aja, kalau ada yang berani deketin tuh anak, kita kasih pelajaran." ujar seseorang yang bergosip.
Brian dan Milen menatap tajam, kerap semua mata menatap ke arah mereka terlihat aneh, terutama menatap Milen tak sukanya.
"Mil, jangan di ambil hati, mau gue bungkam mulutnya?"
"Brian, udah ah. Jangan terhasut, kita ke sini cuma mau kasih ini aja. Terus kita cabut, lo mau tau keadaan Mira kan."
"Ok, kalau itu mau lo. Mile, gue ke kelas dulu. Kita ketemuan ditempat biasa kalau udah selesai ya!"
"Oke."
DI RUANG BK.
Milen menunggu di ruang tunggu, sementara Brian pergi ke toilet. Namun entah kenapa saat ini Milen merasa aneh dan janggal, pada suasana kantor, salah satu ruang dosen mereka. Milen tak sendiri ada beberapa murid lainnya yang ikut menunggu untuk bergantian memberikan skripsi.
Kegaduhan semakin menjadi-jadi. Milen menutup telinganya.
"Berisik!" kesalnya. Suara langkah kaki terdengar, seketika kelas menjadi sunyi senyap. Pak Brody menatap murid murid, mereka yang lain, tetap tertib walaupun ia keluar sebentar dari kelas.
Milen memutar bola matanya malas, begitu munafiknya teman temannya Milen ini, di ruang kelas ia memberikan ekspresi acuh dan menunjuk Milen adalah gadis kutukan. Tak sedikit berbicara di ruangan ini ada anak dukun pembawa sial. Milen melupakan dan mencoba menahan sabar saat itu.
Semuanya sudah lama menunggu, sebagian dari mereka memilih tidur, Pak Brodi masih setia mengawasi kelas lain dan belum kembali, hingga bau amis kembali tercium, Milen menatap seisi kelas.
Sapu yang berada di belakang teman di ujung pintu jatuh dengan sendirinya, semuanya menatap ke arah sapu tersebut, kecuali Milen yang menatap ke arah luar. Bulu kuduk mereka merinding, termasuk Pak Brodi yang baru saja datang, Pak Brody mengambil sapu yang jatuh tadi dan meletakkannya kembali ke tempatnya.
Mata Milen masih setia menatap keluar jendela hingga sebuah bayangan terlintas, spontan Milen diam tak bergerak. Ia yakin ia tak salah lihat. Belum sampai disitu, pintu yang tadinya tertutup terbuka dengan sendirinya, seperti ada yang mendorong pintu tersebut. Pak Brody yang kebetulan berada di samping pintu ikut terlonjak kaget.
"Angin?" pak Brodi.
"Apa ada angin kencang tadi?" tanya pak Brodi, menatap siswa lain.
"Siapa tadi?"
"Siapa?" teriak pak guru.
'Hantu?' batin Milen, ingin sekali ia menjawab, tapi tidak semua percaya padanya. Maka ia umpat dan simpan dalam hati.
"Siapa yang dorong?"
"Siapa?" teriak pak Brody, dan teman lain ikut terdiam bagai patung.
Milen kembali melihat bayangan hitam, dengan sosok bergaun merah. Rambut menjuntai dengan kepala yang bocor, mengeluarkan amis darah segar. Hal itu ingin sekali membuat Milen pergi ke toilet. Rasa dari penciuman arwah tersebut mencoba mendekati Milen dan meminta bantuan.
'Tolong aku! Milen, aku tahu namamu. Aku tahu kamu bisa melihatku, aku tahu kamu bisa mendengarku...' nada suara Arwah bergema, hanya Milen yang mendengar.
Wajah pucat Milen terlihat aneh, kala pak Brody mendekat.
"Milen kamu sakit? kamu kenapa?" tanya guru.
Mual, pening itu yang ia rasakan kala arwah itu berusaha masuk dan mencoba berkomunikasi.
"Jangan sekarang." lirih Milen takut dianggap cari sensasi lagi oleh mahasiswa siswi lainnya.
Terkejut pak brody. "Haah, apanya. Kamu bilang jangan sekarang? sentag pak guru, dengan tawa siswa lain ikut membuly.
Huuuuuuu!! teriak siswa lain.
"Ma-maf pak! saya izin ke toilet, ini hasil skripsi saya." ucap Milen, lalu ia pergi mencari toilet.
Sesampai Milen di toilet, ia memuntahkan darah dengan belatung berwarna putih. Hal itu membuat Milen semakin lemas, dan arwah wanita kepala bocor itu, mendekat dan menunjuk ke arahnya.
"Aaaaargh!" teriak Milen, ia membungkuk dan menekan tengku lehernya. Memejamkan mata seolah Milen, sudah berada di dimensi lain.
"Aw, sakit sekali. Dimana aku?" lirih Melin yang kebingungan dan takut. Kala tempat ini gelap, dan sangat menakutkan. Terlihat darah dari sebuah toilet yang membuat Milen semakin takut.
Kenapa banjir darah? siapa kamu, perlihatkan apa yang bisa aku bantu. Teriak Melin, dan hampir syok kala Melin melihat adegan yang tragis di depan matanya. Seolah Melin adalah korban, dan ia ikut merasakannya.
'Bantu aku Melin! jika kamu tidak bantu, kamu akan merasakan tidak enak berkepanjangan karena energi kamu berbeda.' suara arwah menggema jelas di telinga Melin, ingin meminta bantuan tapi suaranya sulit bersuara.
Arrrrghh!!
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments