Milen pun melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kuil. Brian berlari karena takut, yang penasaran juga, tak tanggung-tanggung untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan juga.
Sementara itu, Brian merasa ingin buang air kecil. Dia berbalik, lalu melangkah berlawanan arah dengan sahabatnya.
"Milen, gue cari toilet dulu." teriak Brian.
"Hey anak muda?" Seruan itu terdengar setelah Brian selesai buang air kecil.
Brian sontak berbalik. "Eh buju buset kodok tipes lu-eh kodok tipes lu," celetukan latah.
Pandangan Brian tertuju pada seorang pria berjanggut lebat, dengan kumisnya yang hampir menutupi mulut. Usianya sekitar sembilan puluhan.
"Sedang apa kau di sini? Di sini sangat bahaya." Lelaki itu berucap was was.
Brian mengerutkan dahinya. "Emang napa, Kek, eh tapi kakek manusia kan?" tanya Brian. Perasaannya juga sudah tak tenang melihat raut wajah lelaki itu.
"Kamu sendirian saja?"
"Kagak lah. Yah kali gue sendirian. Gue sama sahabat gue. Kenapa emang? Kepo bat sih lu." Brian berucap dengan sikapnya yang masih sama saja.
"Di mana mereka? Kenapa hanya kamu seorang?"
"Mereka di kuil sono noh," tutur Brian menunjuk ke arah kuil yang tampak dari celah-celah semak. "Emang napa sih lu? Gua nanya tadi kagak dijawab. Malah banyak nanya lagi."
"Astaga. Ayo cepat ke sana. Jangan sampai mereka memasuki kuil." Lelaki itu memegang tangan Brian, menarik dia agak kasar.
"Eh buset. Sakit woy. Kagak sopan bat jadi orang. Udah tua juga kagak tau tata krama," gerutu Brian, tanpa menyadari bahwa ucapannya itu pun sama sekali tak ada tata krama kepada yang lebih tua darinya.
Sementara di dalam kuil, Milen menjelajahkan matanya hingga ke sudut-sudut ruangan. Beberapa bilik mereka masuki, hingga di suatu tempat Milen berpijak, membuatnya ingin berlama-lama di tempat itu.
"Eh, Kok di sini ada ranjang yah?" ucap Milen.
Matanya disambut oleh ranjang reot beralaskan kain putih, tetapi tampak kusam dan lusuh di dalam paviliun gubuk. "Keknya bangunan ini belum lama tak ditinggali deh. Buktinya meski ranjang ini terlihat reot, tapi masih kuat buat gue duduki." Milen berucap saat dia duduk di atas ranjang, karena lelah.
"Ta-tapi, di-dilihat dari tampilan bangunannya. Ke-keknya ini u-udah tak be-berpenghuni se-selama bertahun-tahun deh." tersengal Milen, karena haus.
"Ah nggak usah pikirin itu dah. Intinya gue suka tempat ini. Gimana kalo kita nginap di sini untuk malam ini. Biar besok lanjutin lagi perjalanan."
Mata Milen sontak agak melotot. "Kok Brian kagak seperti yang biasanya yah?" batin Milen, melihat Brian akan tiba mendekat.
Ia segera menghampiri Brian, yang berdiri tegap melewatinya begitu saja.
"Brian, mau kemana jauh banget sih. Jangan naik tangga, itu tangganya terlihat ga aman." teriak Milen, ia memberhentikan langkah Brian tapi Brian tak jawab sepatah katapun.
Brian tampak memicingkan mata. Pandangannya juga menyambut Milen dari jarak agak jauh, ia tersenyum menampaki gigi dan kembali pergi, terasa aneh.
"Brian, lo kenapa sih?" tanya Milen mendekat ke arah tangga, tapi langkahnya dihentikan saat seseorang menepuk bahunya.
"Nah akhirnya keluar jug--aaa!" Brian berucap, sontak Milen berteriak dan berbalik ke arah punggungnya.
"Hah, kok lo dibelakang gue sih ..?" panik Milen.
"Gue cariin, lo malah disini. Gue ketemu kakek ini. Nyusul cari lo." Brian menunjuk kebelakang punggungnya, tapi tak ada seorang pun kakek.
"Jiahaha, dia ilang." rengek Brian baru sadar.
Begitu juga Milen, ia terdiam pucat pasi. Karena ia juga melihat Brian berada naik diatas tangga dengan sikap aneh. Dan akhirnya Brian asli menepuknya dan berada di depannya saat ini.
"Plaaak!" Milen menampar Brian.
"Adaaw,, ih kenapa lo nampar gue, Mil?" meringis Bruan.
"Lo bilang ada kakek disamping lo, tapi ga ada. Dan gue baru lihat lo naik ke anak tangga situ, jadi mastiin lo Jin atau beneran Brian."
"Waduh."
Mendengar hal itu, Brian menciut dan memegang ujung baju, di lengan Milen Untuk segera pergi dari kuil ini.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments