Ternyata mbah berkaki panjang itu, membawa Milen dan Brian pulang. Mereka benar saja bisa kembali pulang, sesampai perbatasan sungai.
Terlihat juga regu lain, yang telah di tolong oleh beberapa penolong berjubah oren. Dan hal itu membuat Milen lega, akan tetapi ia menatap satu bungkusan oren, dan itu membuat Milen kebingungan.
"Brian! Milen. Bagus deh, kita bisa ketemu disini dan pulang. Tapi pak Kola, dan Milen, dia ga ketulung. Mereke ga-n-cet!"
Jleb, hati Milen dan Brian melemas. Jadi inilah mereka tak bisa pulang karena kena dampak dari manusia yang kotor, melakukan demi kesenangan tanpa berfikir panjang.
"Kita kembali pulang ya Mil! bus udah jemput." ujar Sika.
"Semuanya apa udah kumpul, kenapa sedikit?" tanya Milen.
"Sebagian masih dalam pencarian, Jaet udah di bus awal. Ada tiga orang yang hilang. Tapi masih dalam pencarian, kita ceritanya nanti aja ya Mil! kita pulang sekarang!" mode menangis panik Sika.
DI DALAM BUS.
Milen dan teman lainnya dalam perjalanan pulang, entah dari mana kakek berkaki panjang itu menunjukan jalan yang tidak pernah ia bayangkan, seolah ia sudah melewatinya berkali kali tapi tak ketemu juga jalan keluar, yakni persimpangan sungai ujung batu tapak tilas, pohon kapuk yang berdempetan dengan pohon asam.
'Orang yang lahir pada bulan Oktober biasanya memiliki kharisma yang tinggi, sifat yang jujur, cinta damai terhadap hal apapun, ramah kepada semua orang dan menyukai tantangan.' ingatan Milen, saat kakek itu bicara bulan lahirnya.
'Kakek tahu darimana bulan lahir saya?' tanya Milen saat itu.
'Khodam yang bersifat positif, juga menyukai orang yang lahir pada bulan Oktober. Jadi, suatu saat nanti orang yang lahir pada bulan ini pasti akan mendapatkan khodam pendamping diwaktu yang tidak disangka sangka. Milen kamu adalah gadis beruntung. Seberusaha mungkin kamu di jahati, sosok di belakangmu akan melindungi.'
Milen masih tak mendapat jawaban, sosok seperti apa dibelakangnya. Yang jelas, Milen lelah dan membuat matanya terpejam di dalam bus.
***
ESOK HARINYA.
Milen sudah berada di rumah, tapi ia tak mendapati sang nenek. Karena malam ini ia lelah, Milen berusaha tak mengunci pintu. Apalagi saat pintu terbuka saat Milen sampai rumah. Milen mencari kemana mana tak ada, apalagi sosok penunggu hantu Milen yang selalu ada di dapur tak kunjung terlihat. Alhasil Milen memutuskan istirahat di kamarnya.
Milen menatap laptopnya, ia menghela nafas panjang, setelah itu gadis berumur dua puluh tahun itu menutup laptopnya dan berjalan menuju tempat tidurnya yang sederhana. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Milen, Dosennya memberikan tugas yang sangat banyak, sehingga ia harus bagadang demi tugas yang diberikan Dosennya, meski ia telah mendapat kabar ditemukan dalam camping. Tetap saja tugas tetap berjalan.
Jam menunjukan angka satu malam, Milen sudah terlelap. Namun suara barang jatuh dari luar membuatnya terbangun. Milen menatap sekeliling kamarnya, ia mengucek matanya, gadis itu kembali melanjutkan tidurnya.
Deru nafasnya kembali teratur. Rumah yang ditinggali Milen adalah rumah design lama, jadi tak heran bahwa dirinya 'lah yang berani tinggal bersama sang nenek.
Dua puluh menit barlalu, Milen terbangun karena mendengar suara orang berlari. Milen mencoba tidak memperdulikannya. Namun, beberapa saat setelah Milen memejamkan matanya lagi, suara semakin keras dan pintu Milen diketuk beberapa kali.
Took! Toook!!
Milen mulai terganggu dan memutuskan untuk melihat keluar. Tapi tidak ada orang. Kegelapan sepanjang lorong. Hanya ada cahaya di ujung lorong, yakni gudang. Milen kembali menutup pintunya dan berjalan ke arah tempat tidurnya. Gadis itu memijit pelipisnya, kepalanya sudah terasa pusing. Dengan segera Milen membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan tangannya. Beberapa menit berlalu pintu kembali diketuk.
"Tolong jangan ganggu Aku!" habis sudah kesabaran Milen, saat ini yang ia butuhkan adalah tidur, tapi mengapa ada saja yang mengganggunya, menyebalkan.
Toook!! Took!!
Nek! apa nenak sudah pulang?! Milen capek nek, nenek sudah pulang. Milen akan hampiri ke kamar nenek ya! teriak Milen.
Karena beberapa saat, ia pulang. Terlihat secarik kertas tulisan sang nenek. Jika nenek pergi beberapa hari ke kampung halaman. Untuk membersihkan makam suami sang nenek di kampungnya, di jogja.
Milen membuka pintu, ia menuju lorong berusaha ke kamar sang nenek. Lampu gelap, terlihat cahaya sedikit ketika Milen menyalakan lampu. Tapi Milen menatap satu wanita dengan rambut gimbal, membuat mata Milen gelagap gugup.
"Nek, itu nenek kan? nenek udah pulang?" tanya Milen, yang belum menyadari jika sosok itu tidak menampaki kaki, dan mengambang.
Semakin dekat, Milen tak bisa lari. Saat jelas itu bukanlah sosok nenek. Milen ingin menjerit, tapi sosok itu sudah pergi dengan tawa khas ya.
Hiihihiee hihihiiiee ...!! Milen ... teriak tawa bergema, membuat Milen terdiam.
"Siapa kamu?" ujar Milen dengan memberanikan diri.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments