Beberapa menit berlalu ketukan kembali terdengar, dan disusul oleh gedoran yang cukup keras. Membuat Milen terperanjat kaget, ia memegang tangan ke hati, hampir saja jantungnya ini berhenti berdetak, karena Milen mulai terganggu. Ia memutuskan untuk melihat keluar, tapi tidak ada orang.
Kegelapan sepanjang lorong. Hanya ada cahaya di ujung lorong. Ia mulai kebingungan, ia mencoba untuk tetap berpikir positif. Milen menyalakan lampu dan tiba tiba melihat satu sosok hitam di ujung lorong. Milen membulatkan matanya, ia belum pernah melihat Makhluk seperti itu.
Milen terdiam, badannya lemas, ia tak tahu harus berbuat apa apa. Sosok itu melihat Milen dengan mata merah menyala dan jangan lupakan gigi taringnya, menyeramkan. Sosok itu pun mendekat ke arah Milen, seolah menginginkan hati jantung Milen dengan tangan besar yang memanjang.
"Aaargh!" teriak Milen, berusaha lari tapi kedua kakinya terasa kaku.
Bruugh!!
Milen ingin berlari dari tempatnya namun nihil, tubuhnya tidak bisa digerakkan, perlahan namun pasti sosok itu semakin dekat dengan dirinya. Beberapa detik berikutnya penglihatan Milen menggelap, dan gadis itu terjatuh.
Milen masih ingat jelas, jika dirinya saat itu ingin lari, ketika sebuah tangan dari lima kilo meter meraih dan melilit kakinya. Hal itu pun membuat Milen menutup mata, ketika dirinya terbentur tembok, dan jatuh ke anak tangga.
***
DESA SEBELAH
Ceruk matahari pagi, membuat mata Milen silau dan sedikit perlahan membuka mata. Milen yang terkejut karena ia sudah berada di tempat lain, dan terlihat pagi menterik.
'Hah, aku dimana?'
Saat pagi harinya yang sangat aneh, Milen ditemukan pingsan oleh warga sekitar. Milen menatap seorang warga, yang memberikannya minum dan membuat mata Milen mengelilingi dimana dirinya saat ini.
"Bu, makasih bantuannya. Tapi saya dimana ya?"
"Kampung sebelah! kamu di temukan di bawah pohon Pinus tunggal. Dari mana kamu malam malam toh? nenek kamu belum pulang ndok?"
"Mbok kenal nenek saya?"
"Iyo! nenek Kari kan? panggil saya mbok Mina. Kami sempat ke pasar bersama hampir tiap hari. Tapi udah empat hari ini, ga lihat ke pasar. Kemana toh nenek Kari?"
Milen menggeleng, dan merendahkan suaranya jika yang ia tahu dari surat, nenek pergi ke kampung pakde karena rindu dengan makam pakde. Hal itu membuat mbok minah bungkam, dan mengangguk.
"Kenapa ga nyusul? kamu camping ya, mbok sempet denger dari nenek kamu. Udah sepuh harusnya dikawal."
"Iya, tapi aku lupa mbok. Terakhir waktu kecil umur delapan tahun."
"Walah, repot kalau gitu. Moga nenek cepet pulang, kembali dengan sehat ya. Kangen mbok, nenek kamu itu humble sama warga sini."
Setelah kejadian tersebut, Milen memutuskan untuk mencari kost, dan berharap di kost barunya, ia tidak akan mengalami kejadian menyeramkan seperti malam itu lagi. Sampai sang nenek kembali pulang ke rumah. Tapi ia juga tidak tega, jika rumahnya tak terawat. Terlebih siapa yang mau membantu membersihkan rumahnya, apalagi Milen tidak bekerja.
"Sudah sadar lu?" tanya Brian, yang tiba saja datang.
"Brian." terbata.
Milen mengangguk lemah, mata Milen tertuju pada Brian, yang menatapnya takut takut.
"Milen, lo kenapa?"
"Brian, g-gue ga apa apa, cuma .." terdiam Milen.
"Bicara aja!"
"Brian, semalam gue lihat penunggu baru, mirip jelmaan di hutan waktu itu, seakaan dia ikutin kita dan minta jiwa kita lagi kaya waktu itu, kita dikejar ...."
"Sudah gue duga. Nenek lo udah tahu, kita bicarain ini. Kali aja nenek tahu, solusinya. Kita bisa kembali ke paviliun, minta bantuan ada rekan dan guru kita yang ilang saat camping. Kita jelasin semuanya Mil, supaya kita ga beban, karena kita tahu ada yang hilang tapi ..."
"Untuk apa? Nenek gue ga ada di rumah, selepas kita pulang camping. Gue bingung, jujur gue ga berani tinggal di rumah sendirian. Hanya ada surat, kalau nenek pergi ke kampung."
Brian tak ingin memperpanjang pembicaraan ini, dia memutuskan untuk mengangguk pertanda bahwa ia sudah paham apa yang Milen rasakan. Brian juga bimbang, bicara jika Mia kekasihnya belum ditemukan hingga kini.
"Mia juga ga ditemukan, tim sar hentikan pencarian. Milen, bantu gue cari dia. Gue bakal bantu lo cari alamat nenek lo, gimana?" lirih Brian, membuat Milen terdiam seolah berfikir.
"Ok, tapi gue ga tahu. Cuma ada satu cara cepat! lo berani, bisa lo tahan ga penakut?" tanya Milen.
"Soal apa, lo buat cara apa?" tanya Brian, dan Milen berbisik.
Bloody Mary! kotak permainan dengan bantuan Arwah penasaran sama Jin, kita bisa tahu, dimana keberadaan Mia dan pak Kola sebenarnya. Mereka dibilang telah mati, tapi jasadnya sudah tiga minggu ga ditemukan kan.
"B-blody Mary! kaya difilm, lo serius? mirip jelangkung ga sih,?" gugup Brian berkata.
Milen mengangguk, dan Brian mulai merasakan kejangggalan, kala di pohon samping rumah penduduk. Seolah sedang memperhatikannya.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments