Milen saat ini masih menunggu Brian yang berganti baju, tak lama kak Ima. Sosok kakak Brian tiba saja pulang, lalu menarik Milen saat ia senyum menyapa.
"Ka Ima udah pulang? maaf ya Milen, masih di rumah ini. Sebentar bersiap mau pergi, karena kita .."
"Udah, izinnya nanti aja! sini, ke dapur yuks! ka Ima ada penawaran khusus, bantu ka Ima surprise Brian! hari ini dia ulang tahun, tapi ka Ima berlaga lupa."
"Brian, jadi dia ulang tahun."
"Heuuumph! nanti saat dia cari kamu, kita bawa kue ini. Ayo, ikut ka Ima." ujarnya, dan Milen pun menurut.
Sementar bayangan lagi, entah kenapa Milen saat ini merasakan bayangan berwarna merah jingga, entah apa Milen mencoba berjalan dengan menyentuh benda asap berwarna itu di balik punggung ka Ima. Jika hitam, itu adalah tanda penjemputan Azal dan bahaya pada seseorang, tapi Milen bergetar, karena asap merah jingga itu tembus, seolah panas jika di sentuh.
'Asap apa itu ya?' batin Milen, masih mode menunduk ketakutan, meski saat itu tampilan ka Ima sangat ceria, ia sangat bahagia membuat kejutan untuk sang adik.
Hingga Beberapa Jam Kemudian :
"Milen ... Milen .. lo dimana?" teriak Brian, sampai tiga kalinya, dari arah lain.
"Surprise .. kejutan. Happy birthday, selamat ulang tahun.. selamat ulang tahun Brian, selamat hari lahir. Yeeaay! maaf ya, kakak telat, semoga hari lahir ini kamu bertambah sehat, panjang umur dan apa yang dicita citakan tercapai." ujar ka Ima, mode suara nyanyi.
"Kak! oh, makasih. Kakak juga sehat selalu ya, makasih buat kejutannya."
Milen juga ikut mengucapkan, tapi dengan kode panik ketakutan. Milen meminta Brian, tidak menoleh ke belakang pintu.
"Sssst!! kenapa lo Mil? sini, sebelum berangkat cicipin kue dari ka Ima dulu!" ujar Brian.
"Sssst! Brian, jangan menoleh, ada ci- cak."
"Waaauh, semenjak kapan gue takut ama ciii..caaa ..k." menelan saliva Brian, karena berusaha melirik dibelakang pintu.
Ia menarik nafas seolah benar benar hidupnya tidak karuan, tak bisa berteriak atau mengompol, karena ada ka Ima yang jiwa penakut dan riwayat penyakit asma.
'Kan gue bilang apa, jangan noleh!' cibir Milen, mendekat ke samping ka Ima.
Milen masih membungkuk, di dekat meja. Ia menatap dengan gelisah serta fokus. Kala sosok arwah pria menyapa dalam batin berbicara, Milen juga ikut bergeser seolah mengambil air minum di dekat wastafel, tengkuk leher ia turunkan dan memejamkan mata.
Tanggal enam april 1986 hari Senin Legi pukul setengah tiga sore, hampir memasuki waktu Ashar.
Sesosok laki laki berseragam yang terus mengamatiku di sudut ruangan, dengan tubuh di penuhi luka hingga isi di dalam tubuhnya terlihat.
Pandangan itu terus mengusikku. Semakin lama mungkin aku bisa menjadi gila. Entahlah ini kenyataan atau bukan. Milen harus melihat tragedi kecelakaan, yang di ikuti oleh sosok ka Ima dan sampailah ke rumah ini, karena rumah Brian mirip rumahnya yang ia cari. Entah dari mana, atau aura arwah yang tahu, jika ia bisa tepat meminta bantuan.
'Tolong aku! tanganku masih tertinggal di selokan, bilang saja kejadian tahun 1986, jalan alananggrek! pak Sito tukang kebun, yang tertabrak truk muatan besar. Rumah kami tak jauh dari lima kilometer, beberapa warga pasti masih ingat dan mengenalnya!'
Huaaaah!!
Teriak, Milen membuka matanya lagi, sungguh melelahkan hari ini bagi Milen. Hanya ia yang bisa diperlihatkan komunikasi, belum hantu wanita dengan banyak leher meminta bantuan, tapi saat ini malah arwah yang mengekor pada sosok ka Ima, setelah ia pulang membeli kue.
"Mil kok bengong sih, ayo cicipin! kamu minum aja dari tadi." tarik Ima, pada tangan Milen yang merasakan dingin sekali tangan kak Ima.
"Ah! iy kak, Milen jadi haus." senyum, Milen melotot pada sosok Brian, seolah memberi kode.
"Kamu kenapa Mil, jujur sama kakak?"
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments