Milen segera berlari menuju lantai guru, termasuk teman teman lainnya. Tapi!! Wuuush.
Villa kayu itu berubah menjadi kosong dan hening, hanya ada suara teriakan tolong. Dan Milen serta Brian tidak bisa melihatnya.
"Brian, kita dimana?" tanyanya.
"Jangan panik Brian! mau ga mau, karena kita yang bisa lihat alam mereka. Dan karena ulah lo kemarin, teman mereka masih ga tenang dan lo wajib tenang, kuat terbiasa lihat hal hal kaya gini."
"Kok gitu? kali aja temen camping buat salah juga, bukan gue aja yang kencing di pohon kemarin." paniknya menoleh ke arah Milen.
"Karena gue minta bantuan sama hantu penjaga gue! ceritanya panjang, dan dia cuma bisa kasih tahu seberapa besar dunia para hantu di tiap level, sisanya kita yang masih bernyawa yang harus lakuin buat bebasin kita semua dari hutan ini dengan selamat." jelas Milen.
Sontag hal itu membuat Rian menutup mata, dan ketakutan, karena sudah berada di tempat tidak nyata.
"Hendak apa kamu datang kemari?" Penunggu pohon berucap pada hantu penjaga, yang Milen lihat saat ini.
Kali ini tubuh hantu itu tersedot besar, sepadan dengan hantu pemakan jiwa. Wujud aslinya diperlihatkan. Gigi yang tajam dan besar menyerupai gading gajah, juga wajah rusak seperti habis hangus terbakar api. Matanya merah, dengan pelupuknya yang terlihat rusak.
Ada urusan apa kamu mengganggu urusan saya? ketus hantu pemakan jiwa.
Mengapa kau bertanya balik? Di sini bukan tempatmu! mbak Kun .. dengan nada tegasnya.
Lalu? Kamu berani menantang saya?!
Saat itu terjadi perdebatan antara penunggu pohon besar dengan hantu mbak kunti. Brian menatap jelas kala penunggu di rumah Milen ikut berkemah dan meminta maaf pada penunggu hutan. Sementara itu, Brian masih terus berlari bersama Milen, mencari jalan keluar. Hingga napas mereka tersengal.
"Stop Milen, ntar dulu. Gue capek," ucap Brian membungkuk, sembari mendongak pada Milen.
Milen pun duduk. "Hah, masih jauh kah itu pohon asamnya?"
"Entah. Kata Brian, kita terus saja hingga mendapat pohon as--"
Di sela perbincangan mereka, tiba tiba terdengar suara benturan keras, hingga membuat ucapan Brian terhenti lagi. Seperti hantaman pohon, tapi kali ini lebih besar dari sebelumnya. Brian bicara agar kembali lari, ketika melihat lubang cahaya maka itu adalah jalan keluar. Sementara mbak kuntilanak menahan penunggu pohon besar yang ingin merangkul Milen dan Brian dengan tangan berbulu besarnya.
Di luar pemukiman, tampak kedua hantu itu saling baku hantam. Pepohonan di sekitar ikut porak poranda dibuatnya. Saling adu kekuatan, seperti sapi yang saling beradu tanduk. Milen pun lengah. Tubuhnya terpental setelah terkena hantaman dari hantu pemakan jiwa.
Aaaaagggh!! Milen terbang dan terpental ke arah pohon, dari mulut terlihat mengeluarkan darah. Brian pun dengan kilat menjangkau tubuh Milen.
"Mil ..? Di mana ini--"
"Mil, lo baik baik aja kan. Ayo gue papah!"
Seketika Brian membungkam Milen, setelah mendengar jejak kaki yang tak asing di telinganya.
'Ini jejak kaki yang dulu gue denger di rumah Milen.' ucap Brian dalam hati.
"Hm," gumam Milen.
"Ssttt!" Brian menempelkan jari telunjuknya di bibir, berisyarat pada Milen untuk diam, dan memberikan sapu tangan.
Terdengar endus napas sangat jelas oleh Brian. Karena penasaran, dia mengintip di celah dinding yang terbuka agak lebar. Benar saja, itu adalah sosok makhluk yang dilihatnya waktu di rumah Milen, entah kenapa wujud mbak kunti yang sering di panggil Milen, berubah menjadi makhluk menyeramkan. Seperti menyatu antara kuntilanak dengan genduruwo.
Makhluk itu masih mengendus endus. Semakin lama dia mengendus, pandangannya perlahan ke arah bilik tempat Brian dan Milen bersembunyi.
Mata Brian terbelalak di celah dinding, setelah bertemu tatap dengan makhluk yang disebut hantu pemakan jiwa. Tatapan tajam dengan mata merahnya begitu pekat. Makhluk itu tampak bahagia, sebab dia tahu bahwa apa yang dicari sudah didapatkannya.
Degup jantung Milen ikut melirik, seketika berdetak cepat. Dia menoleh pada Brian dan menggenggam tangannya dengan erat, lalu bangkit dan berlari ke arah pintu belakang rumah.
"Milen, maafkan gue. Dia lihat gue tadi." celetuk Brian dengan cepat.
"Hantu itu, alias mbak kunti udah aura negatif. Dia udah ga sejalan dan terus meminta tumbal, karena ngorbanin dirinya demi nahan kita untuk keluar. Sepertinya penunggu pohon itu sengaja ngelepasin kita, karena dia tahu kita bertemu regu lain. Dan semua, kita semua akan mati Brian." lirih Milen dengan panik berkeringat.
"Astaga! kita harus cepat cepat keluar dari sini. Kita bantu teman yang lain, sebentar lagi pagi kita akan aman." ujar Brian.
"Sepertinya! lo benar Brian."
Brian membawa berlari kererimbun. Brian terus berlari, menjauh dari rumah itu. Sekitar seratus meter mereka berlari, tidak ada tanda tanda sesuatu yang mengejar. Brian pun terhenti, bingung kenapa makhluk itu tak mengejar mereka.
"Kok dia nggak ngejar yah?" Brian menghadap pada Milen.
Pandangan Milen teralihkan pada seseorang agak jauh dari belakang Ryan. Seorang pria botak berbadan ideal dengan jubahnya yang terseret di rerumputan, berjalan di balik pohon menjulang rindang dan berubah menjadi monster raksasa, yakni hantu pemakan jiwa.
Aaaaaakh!! teriak Milen ketika sebuah tangan besar raksasa dan berbulu hitam, ingin menerkam mereka. Beruntungnya Brian mendorong Milen hingga jatuh ke semak semak, dan sebuah karung sampah dedaunan. Entah dari mana Brian bisa kilat terjatuh atau mungkin refleks.
Aaargh! sakit bodor! ucap Milen, menyentuh pinggangnya.
"Sorry Milen! gue refleks tadi. Habis bayangan hitam tangan, gue jadi main dorong lo aja deh. Sini gue urut bentar, biar reda sakitnya!"
"Ga usah." ucap Milen sambil menahan sakit, dan berdiri.
Kukuukuuriiiiiuuk!! suara ayam jantan, membuat Milen bernafas lega. Pasalnya suara ayam di pagi hari, akan membuatnya aman dari makhluk tak kasat mata, tapi ternyata Milen salah.
Langit sudah terang. Pandangan Milen terpaling pada makhluk makhluk yang berjalan ke arah mereka.
"Mereka sudah tiba," ucap Brian dalam hati.
"Brian!" berteriak histeris.
"Kenapa, Milen?"
"Itu mereka yang di luar pagar! Dari mana mereka?" Milen berucap dengan nada takut.
Sontak Milen teringat pada pesan hantu mbak Milen, bahwa tak boleh ada ucapan jika sudah berada di area pohon asam. Yang Brian tak sadar mendorongnya, sudah sampai terjatuh dibawah pohon asam, dekat karung sampah dan dedaunan.
"Ssttt." Brian membungkam Milen. Dia mengisyaratkan diam dengan telunjuknya ditempelkan pada bibir.
Brian mengangguk, menarik tangan Milen. Mereka berputar mengitari pohon asam itu. Sementara para makhluk di luar pagar terlihat geram, mencoba masuk ke dalam pagar.
Pada putaran ke enam, terdengar suara retakkan bambu. Terlihat hantu pemakan jiwa dengan tatapan tajamnya mencoba mendobrak pintu.
'Bruk-bruk'
Tatapan Brian, sontak dipalingkan pada pintu yang hampir terbuka. Lima meter lagi mereka sampai pada putaran ketujuh, sontak Milen jadi jatuh terkilir. Napasnya tersengal, tak kuat lagi berlari.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Gomen nasai
Masih mending jatuh ke pelukannya sih, soalnya dunia hantu bawaannya ngeri terus
2023-06-24
0
Syabla
sereeeem
2023-05-19
1