Melihat Milen terlentang di pangkuan Brian dari jauh, Sika sontak heran. Ada apa gerangan dengan yang terjadi di sana.
Karena penasaran, Sika langsung berlari. Dia melepas pegangannya pada patok tenda yang hendak ditancapkan kuat kuat.
Sementara itu, Jaet yang berseberangan dengan Sika, tak sadar bahwa Sika telah melepaskan pegangannya. Hal itu pun membuat tenda itu roboh seketika. Padahal tinggal sedikit lagi tenda itu selesai.
"Y-ya-yah," gerutu Jaet. Pandangan kesalnya tertuju pada Sika yang tampak berlari.
"Sika.. woy!" teriak Jaet dengan suara beratnya.
Sika tak berbalik. Dia meneruskan langkahnya ke arah Brian dan Milen, yang membuatnya syok dengan mulut berdarah darah.
Uhuuuk!! tangan Brian terluka bagai sabetan hitam dan memar berdarah beku. Lalu ia melihat Milen yang masih saja mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Mil, ayo sadar! kita udah keluar. Angin tadi buat kita ke dasar dunia nyata lagi. Ayo bangun!" ujar Brian nada panik.
"Gu-gue salut. Lo harus terus kaya gini ya! kita bakal duet lagi selamatin mereka." pingsan Milen membuat tatapan Brian termangu diam.
"Kalian darimana aja? kita cari ke kamar kalian ga ada loh. Dan Rian, Milen lo kenapa memar berdarah gini sih." ucap Sika yang baru saja mendekat ke arahnya.
Toloooong!! teriak Sika membuat tatapan yang lain ikut mendekat dan bergerumun.
"E-emang yah. Te-temen gue ka-kagak ada yang be-beres. O-oleng semuanye." Jaet dan Tono, mengoceh setelah dia bangkit dari jongkoknya, ia bingung kenapa teman lainnya ikut berhamburan mendekat ke arah Sika.
Sementara itu, kembali pada Milen yang masih kejang kejang. Brian masih mencoba menyadarkannya. Namun, usahanya itu gagal walaupun dia berniat untuk menggertak Milen dengan iming iming ingin menciumnya.
"Go-obolok!" ujar Pak Kola, saat dia mendengar Brian mengiming imingi Milen, dengan sebuah ciuman.
"Kamu kira ini main-main. Ayo angkat dia. Bawa ke tenda!" seru Pak Kola dengan nada panik.
Brian pun langsung menggendong Milen. Dia mengangkat badan Milen yang agak bongsor. Langkahnya tertatih tatih, hingga membuat dia tak sanggup menggendongnya.
"Pak? Bantuin napa?" Brian mendongak setelah dia meletakkan Milen ke tanah lagi.
Mendengar nada menyeru yang dilontarkan Brian itu tak sopan, mata Pak Kola melotot marah tak habis pikir. Namun, karena saat itu Pak Kola tengah panik, jadi tidak terlalu berpengaruh pada emosionalnya.
Pak Kola pun menurut dengan ikhlas. Walau, saat itu dia tak terima dengan apa yang barusan saja dilakukan Brian yang berani songong memerintahnya.
"Ada apa nih, ada apa?" Jaet, Sea datang. Berucap dengan spontan nada penasaran.
"Lagi ngemut gula paga pago," celetuk Brian.
Plaak!! tamparan pada Sika.
"Ya lagi, dia pake nanya. Ga liat, gue memar memar. Milen berdarah darah."
"Milen, lo kenapa tbc?" ucap Jaet dengan tegang, membuat toyoran Sika kembali menghajar.
"Diem lo! mending bantu cariin air hangat, sama kompresan. Kasian Milen." celetug Sika.
Beberapa puluh menit semua khawatir, terlebih Milen yang pingsan. Bria tahu, jika Milen saat ini mendapat luka dalam. Terlebih jika ia ceritakan, tidak banyak semua yang percaya akan ceritanya saat ini.
"Sebenarnya kenapa ini Brian?" tanya pak Kola, yang tidak mungkin Brian katakan karena sangat tabu jika ia bilang, mereka berdua habis melihat alam lain dan bertempur.
"Kecelakaan pak. Yang bapak lihat sendiri. Yang jelas ini bukan ulah manusia, kami semua lebam dan sakit menyeramkan semalaman."
Plaak!! "Kalau ngomong jangan bertele tele, yang jelas! kalau bukan manusia apa? Zombie. Ingat kita sampai sore buat cari data air bersih di desa ini. Sekaligus camping kita berakhir di paviliun ini. Atau kamu semalaman menghilang main main sama Milen ya? astagfirullah. Ini desa orang! kalian berani macam macam. Nanti gancet loh! petaka loh." ucap pak Kola.
"Ya allah bapak. Bapak kalau ngomong tuh jangan kotor terus. Saya dan Milen ga kaya gitu, yang ada kita pergi nyelamatin semua regu. Aah! susah dijelasin kalau kaya gini mah. Capek, dan mending kasih tahu caranya biar Milen bisa siuman. Terus kita cabut dari sini sebelum sore! ayo pak! percaya sama saya. Heuh" ucap Brian menahan sakit di tangan, dan menoel tangan sang guru.
"Ga usah toel toel. Bukan sabun colek! ayo semuanya bersiap. Mendata ke desa tetangga! setelah itu cepat berkumpul! kita akan melakukan perjalanan pulang dengan bantuan kepala desa."
"Jangan pak!"
Brian yang menahan sang guru, benar saja pak Kola tak percaya apa yang ia jelaskan. Sementara Sea dan Sika berusaha menahan, untuk Brian tenang. Jika mereka percaya apa yang dikatakan oleh Brian.
"Brian! seenggaknya udah kasih tahu. Kita selamatin aja Milen dulu, biar kita bisa cepat pergi dari tempat ini!" ucap Sika.
"Tapi Milen ga akan mau tinggal begitu aja, dia berusaha kaya gini karena nyelamatin kalian dan kita semua. Di hutan ini ada hantu pemakan jiwa. Dan ga ada kepala desa yang tinggal di hutan ini! ga ada penghuni manusia di hutan ini!" jelas Brian, membuat Sea dan Sika merengkut ketakutan.
"Jadi maksud lo? kita bener bener di desa mati. Di hutan yang mati, kemarin pak Desa itu bilang .."
"Dia bukan manusia, dia jelmaan dari hantu penunggu pohon besar. Gue main congkel ternyata itu kukunya, dan semua belum berakhir. Dia menyatu sama hantu yang gue lihat di rumah Milen. Di dapur Milen yang menjelma jadi nenek bongkok. Please! gue ga bisa jelasin banyak, cuma Milen yang bisa komunikasi. Gue cuma bisa lihat karena Milen, dan adanya dia gue jadi ga penakut." jelasnya berteriak, sementara banyak teman mereka yang mendreskriminasi jika Brian gila, atau caper saat itu.
"Huhuu! Brian pembohong, pembual!" "Tau nih, caper aja lu!" ujar regu lain.
"Kalian boleh ga percaya! pak Kolla juga boleh ga percaya. Tapi satu hal, begitu Milen sadar, kita bakal ga nolongin kalian. Jika kalian tersesat dan ga percaya sama omongan gue."
Huuuuuuhuuuuu!! sorak semua regu camping. Termasuk pak Kola menggeleng kepala, dan meminta mahasiswa dan mahasiswi lainnya segera menyelesaikan tugas mereka.
Benar saja beberapa saat setelah semua pergi dengan pak Kola.
Sisa, Sea dan Brian sedikit lega, kala Milen terbatuk dan siuman.
Uhuhuuuk! Uhuuuk!
"Milen, lo udah sadar. Minum! pelan pelan lo duduknya!" ujar Sika merangkul.
"Gue, gue kenapa. Aah! iya gue ingat. Makasih ya, udah mau nungguin gue."
"Lo pasti masih sakit."
"Yang lain kemana?" tanya Milen, setelah minum air dalam gelas yang di sodorkan Sika.
WuuushWuuush!! hembuusan angin lebat, membuat mata mereka kelilipan. Seketika kabut menjulang gempal dan tebal mengelilingi mereka. Padahal mereka dekat, tapi tak melihat.
"Aaah! dimana ini?" teriak Sea.
"Pegangan, jangan berhenti atau melepas. Kita doa sama sama sesuai agama kepercayaan masing masing. Uhuuuk uhuuuk." ucap Milen, dan Brian merapatkan saling pegangan.
Tapi Brian yang terpaku dengan tangan berkuku panjang, ia sudah yakin jika yang ia pegang bukan tangan Milen.
Uuuuwaaa, siapa lagi ini masih sempetnya nongol di tengah kabut gelap tebal gini sih?! batin Brian mencoba melepas tapi tak dibolehkan saat Milen bilang.
'Jangan lepas tangan kalian, meski kalian lihat aneh dan seram! paviliun ini kita bakal keluar dari sini.' teriak Milen, membuat yang lain gemetaran.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments