Brian, saat malam itu juga sangat takut. Baru saja ia mendapat kabar dari Sika, Jaet juga mengirim pesan, jika ia tidak berani menuju rumah Melin.
Motor pun berhenti, Milen kini berada di rumah Brian! terlihat tidak baik, pagi sekali ia sudah menginap di rumah pria.
"Brian! serius ga apa apa ini?"
"Ga apa apa lah, emang kenapa?"
"Ga enak aja, takut tetangga pada risih."
"Besok kita bicarakan lagi, kamar tamu di sana! gue tinggal sama kakak, dah gih lo istirahat Melin, dari pada lo cari kost udah mau malem ini, gue yakin disini enggak ada hantu yang seperti lo liat!"
"Baiklah, gue ngerti sekarang. Thanks Brian, buat tumpangannya."
Milen pun sudah penat, ia masuk ke kamar dan memejamkan mata, sehingga beberapa jam ini ia bisa tidur dengan nyenyak dan sangat rileks.
Mimpi yang Milen alami, saat itu menjadi nyata. Bahkan Milen tetap terdiam melihat mereka yang terus menatap, hingga makanan lezat saja yang baru Brian beli tadi, tidak di sentuh sedikitpun.
Memang mimpi itu tampak seperti nyata bagiku. Namun, hal tersebut tidak mungkin terulang kembali. Atau malah terulang setiap hari. Milen malas, tetap saja makhluk tak kasat mata terus mengikutinya, meski kali ini ia hanya berada di luar jendela.
Esok Hari.
"Brian, akhir-akhir ini kau sangat aneh. Sepertinya ada perubahan dengan pandanganmu. Kakak amati kau melihat sesuatu yang lain di dalam rumah ini." ucapan kakakku saat itu membuat Brian hanya terdiam tanpa menjawabnya.
"Ah, perasaan kakak saja kali. Milen! jangan masukin dalam hati ya! kak Ima memang seperti itu."
Milen mengangguk, tapi Milen tahu. Jika saat ini Brian juga ikut merasakan hal yang Milen lihat, di pojok kulkas dapur. Hanya saja Brian memberi kode, agar Milen tidak berteriak menakuti ka Ima, yang mempunyai asma. Sehingga Milen hanya menahan dan bicara dalam hati batinnya.
'Pergi kau dari rumah ini! Aku bukan temanmu!' batin Milen, pasalnya Ima dia tidak melihat sepertinya, padahal Milen benar benar ingin sehari saja tak melihat arwah gentayangan.
Brian tahu, ketika Milen terdiam bagai patung, raga Milen pasti berpencar seolah sedang berkomunikasi, pada sosok di samping kulkas. Sehingga Brian mengalihkan pembicaraan lain, dan mengajak ka Ima ke ruang kebun sebelum ka Ima berangkat kerja.
"Milen, ka ima tinggal dulu ya! kamu ga apa sendiri, ka Ima mau bicara sama Brian."
"Iy kak." senyum Milen.
Milen kini di dalam, melirik sedikit ke arah mereka yang masih tajam menatapku. Leher itu semakin mengeluarkan cairan merah dengan cepat.
Sepasang mata ini rasanya semakin susah untuk berkedip. Tengkuk ku serasa berat dan kepalaku pusing. Hanya dalam beberapa menit pikiranku seakan melayang melewati sebuah lorong waktu yang menuntunku ke sana.
Apa yang ada di dalam kepalaku berputar putar, hingga membuatku memejamkan sepasang mataku.
Seharusnya kegelapan yang bisa aku lihat, namun bayangan sebuah hutan terus mengelillingi isi kepalaku ini. Iya hutan dengan para penduduk yang hanya menggunakan kain kemben yang menutupi sebagian tubuh mereka, para gadis dan wanita yang berlalu lalang di sana. Paviliun yang nampak dekil seperti paviliun milik paman saat ini, 'Sebenarnya apa mau mereka, kenapa aku diperlihatkan terus. Apa mau mereka mengikuti aku terus?'
Aku semakin dalam masuk kepada sesuatu yang terus menuntunku dengan menjalankan pandangan dalam mata tertutup.
'Apakah kalian mau menunjukkan sesuatu kepadaku?' batin Milen yang terus terucap dengan tanpa henti, yang akhirnya mendapat jawaban dengan suara yang sangat pelan dan serak.
'Lihatlah jejak kematian kami! bantu aku, aku ingin pulang di makamkan dengan layak!'
Suara lirih dan pelan itu sangat menggetarkan telinga Melin, hingga terasa sakit dan nyilu.
'Untuk apa aku harus melihatnya?'
Kembali aku membatin dengan satu pertanyaan, yang mungkin tidak akan ada jawabannya. Namun suara itu kembali datang menghampiri telingaku.
'Ingatlah, dan tuliskan kisahku!'
Deg.
Milen terdiam, ia menutup rapat mulut dan badannya seolah menggigil dan ikut merasakan panasnya api yang tiba saja menggebu besar dengan kilat.
'Aku tahu kamu bisa merasakan dan melihat keberadaan kami, kami tidak akan berhenti sampai kamu mau membantu kami!' suara tak kasat memekik telinga Melin.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments