Di sela sela lelahnya Milen, dan Brian yang mencari jalan pulang. Ia dikejutkan dengan sosok kakek misterius, berkaki panjang akan tetapi wujudnya menyerupai dan mewanti wanti agar mereka waspada. Hingga ia mensucikan diri, berwudhu dalam tempayan kendi kuno dan berjamur hijau tapi airnya bersih.
Setelah Milen ibadah dan berdoa, hal yang tak layak ia dapati adalah sosok menyerupai dirinya, ketika berada di sebuah pintu dan menghilang.
'Astagfirullah!' batin Milen, yang sebenarnya ia sudah lelah melihat hal yang tidak kasat dan nyata.
"Mil, lo bisa jelasin ga. Kenapa sosok hantu mbak kun, yang ada di dapur itu bisa ikut camping, terus dia ga muncul lagi?" tanya Brian, kala menyodorkan teh.
"Hantu penjaga, dia sosok terdekat gue. Yang gue sendiri belum tahu secara detail dia bisa selalu ada didekat gue. Tapi karena energi hutan mati ini cukup gede, hantu itu ga bisa masuk di saat kita tersesat, dia cuma bisa kasih tahu sesuatu aja, seolah ingetin." jelas Milen.
"Namanya mirip sama lo, jangan jangan ada hubungan keluarga." celetug Brian.
"Dahlah, mending istirahat. Bagus pendopo disini kita bisa istirahat, biar besok kita cari regu lain. Semoga besok pagi membuahkan hasil."
"Amiin! nih gue punya coklat, saling setengah. Tahan lapar aja ya! salah gue, gue asal comot dan dapat ide lokasi ini dari seseorang. Andai gue kagak milih lokasi ini." cetus Milen lagi.
"Udah lah! ga perlu di sesali. Udah terjadi kan, gue capek. Lo tidur diujung ya!"
"Ok." ucapnya, seolah ia meraih ransel untuk sebuah bantal.
Sementara Milen, ia bergeser disebuah bangku panjang. Pendopo itu terbuka, tanpa pintu yang layak. Banyak lubang celah, seolah rasa angin dan dingin malam bercampur. Hal itu juga membuat Milen berusaha merebahkan diri, meski ia sudah melihat hal aneh di sekeliling pendopo yang berusaha mengintip, dan mengelilingi tapi tak bisa mendekat.
'Apa karena air suci yang kakek bilang ya, sehingga ga bisa diganggu lagi. Cuma diliatin aja, ya ampun. Hei mahluk tak nyata, kita ciptaan gusti agung. Jangan ganggu! saya hanya mau istirahat, dan biar besok pagi bisa pulang, nemuin jalan tanpa tersesat.' batin Milen penuh harap.
Brian yang sudah membalik punggung, dengan sebuah tepokan karena nyamuk mengigitnya. Ia rebahakan dan berusaha sekali untuk tenang. Kupingnya ia sumpel dengan tisue, matanya ia pejamkan dengan sebuah kain, karena Brian juga terlihat lelah dengan makhluk astral. Sekilas mbak kunti, pocong serta mahluk kurus dengan posisi jalan terbalik, merayap bagai laba laba disekitar luar pendopo.
Brruugh!!
Tiba saja kaki Milen, kejatuhan sebuah buku. Dan perlahan Milen yang ragu, ia perlahan menyentuh dan mengambilnya.
Buku apa ini?! Milen mengusap buku berdebu, dan melihat sebuah judul khodam dan kemampuan yang tak terlihat.
Perlahan, Milen mulai membaca. Ada pembukuan mirip mantra, membuat sosok diluar pendopo berteriak dan menghilang. Hal itu Milen langsung abaikan, dan kembali membaca bait demi halaman. Niatnya untuk cepat mengantuk, tapi ia penasaran dengan isi buku itu, sehingga ia baca.
Khodam merupakan jin baik yang bisa diwariskan leluhur kepada keturunannya. Bait pertama, membuat Milen terdiam dan menelan saliva. Lalu kembali membaca di bait berikutnya.
'Mereka yang mendapatkan warisan khodam dari leluhurnya, biasanya akan selalu didampingi dan dilindungi secara gaib.'
'Perlindungan gaib tersebut bisa menghindarkan seseorang dari berbagai mara bahaya.'
'Sehingga, wajar bila banyak sekali orang yang menginginkan warisan khodam leluhur.'
Berhenti Milen, lalu ia kembali menunjuk bait halaman berikutnya. Dengan sebuah tulisan mantra yang tak bisa dipahami, apalagi tau artinya.
Namun sayangnya, leluhur tidak akan sembarangan mewariskan khodam kepada keturunannya, karena satu hal.
Yang pertama, adalah ucapannya sering menjadi kenyataan. Mereka yang sudah diberikan warisan khodam oleh leluhurnya, terkadang juga akan memiliki suatu kelebihan.
"Apa melihat mereka yang sudah mati juga kelebihan?" tanya Milen, pada diri sendiri.
Kedua yaitu, kemampuan melihat masa lalu. Selain setiap ucapannya bisa menjadi kenyataan, orang yang telah diberikan khodam juga bisa mempunyai kelebihan lainnya.
Terdiam Milen, karena ia pernah beberapa kali mengalami dengan ucapan yang menjadi kenyataan.
Yang ketiga ialah, memiliki tanda khusus pada anggota tubuhnya. Biasanya, leluhur dapat mewariskan khodam sejak keturunannya baru lahir. Sehingga, mereka yang mendapatkan warisan khodam ketika baru lahir, bisa jadi akan memiliki tanda khusus pada anggota tubuhnya.
Akan tetapi, umumnya hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat tanda khusus tersebut.
Dan terakhir adalah bisa dipercaya! yaitu memiliki kepekaan terhadap hal gaib. Secara tidak langsung, orang yang sudah diberikan khodam oleh leluhurnya akan memiliki kepekaan terhadap hal hal gaib. Dan disarankan untuk tidak penakut, dan mau membantunya yang tidak bersalah.
Milen menutup buku itu, lalu meletakkan dengan rapih. Ia juga mengerti, di setiap langkah Milen, ada sesuatu dan hal aneh yang sama persis seperti di buku yang baru ia baca.
"Peka, apakah aku termasuk gadis seperti itu." ujar Milen, lalu ia kembali memejamkan mata.
Tak begitu lama, Milen bagai mimpi yang nyata. Baru saja ia memejamkan mata, seolah tubuhnya berada di ruangan sangat gelap dan berdiri memperhatikan seseorang, yang tingginya melebihi dirinya bak seperti tiang.
"Siapa kamu, aku dimana lagi ini?" tanya Milen kaget bukan main, dalam ruangan gelap di alam lain ia seorang diri di tampakan sosok yang seram dan bau hanyir.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments