"Untungnya, cuma kucing yang diri di pohon. Bikin kaget aja deh." gerutu Brian, dan Milen menuju lantai lain istirahat.
Pukul satu dini hari, Milen telah kembali pulang, saat ini Brian ikut menemani di teras rumah.
Milen terbangun, ia ingin pipis, dengan segera ia bangkit dan membuka pintu dan berjalan ke dapur. Kakinya terhenti kala ia merasakan sesuatu yang menggesek kepalanya. Dengan ragu gadis itu mendongak ke atas, dan nampak lah sudah, bahwa yang menggesek kepalanya adalah kain putih. Milen syok menelan saliva nya kasar, apa ini yang disebut Kuntilanak? Sebelumnya ia belum pernah melihat penampakan Kuntilanak dengan kepala dan rambut yang sangat besar, namun ia hanya mendengar ciri cirinya saja dari sang nenek.
Badan Milen kala itu lemas, ia takut, keringat bercucuran dari dahinya.
"Ha-ntu!!"
Milen membuka matanya, kini ia berada dipangkuan sofa besar, dan terlihat Brian mengaji sedari tadi, lalu berhenti kala Milen bangun.
"Mil, syukurlah dah sadar! masih sakit, kepalanya atau apa yang sakit? gue udah panggil mantri, dia otw menuju ke sini. Sekalian gue hubungi Sika, biar ikut nginep di rumah lo." jelas Brian.
"Gue kenapa Ryan?"
"Lo jatuh, di anak tangga. Lo ga inget, tadi pas nyampe lo katanya mau ke atas. Gue denger lo teriak, tau tau udah tergeletak dibawah tangga. Bagus tangga lo kecil, enggak manjang, bisa geger otak lo yang ada."
"Oh, sorry ya! gue ngerepotin lo."
"Ga apa, cari kotak bloody mary nya besok pagi aja, gue udah hubungi Sika, Jaet sama lagi otw."
Brian meletakkan nasi bungkus, ia makan bersama karena sudah sangat lapar. Sedari tadi di kampung sebelah, ia sudah melihat hal hal aneh. Karena Milen lah, Brian semakin tidak penakut melihat yang jelas sama seperti Milen.
"Makan dulu, lo pasti laper kan."
"Thanks, gue ga tau lagi kalau ga ada lo Brian."
"Mil, kita seimbang. Gue minta bantuan lo soal kasus cewe gue, gue bantuin lo cari alamat nenek lo. Deal kan? eh iya, lo sejak kapan lihat hal kaya gini?"
Milen menghela nafas, ingatan saat dahulu kala.
"Saat gue sadari usia delapan tahun, nenek bilang gue udah sering lihat seperti itu. Gue dulu ga ngerti, kalau mereka tidak nyata dan bukan manusia." terdiam Brian.
Tak lama, Milen bergegas ke kamar. Milen meninggalkan Brian, yang berada di lantai teras, menunggu teman lainnya. Tapi tidak dengan Milen saat ini yang berada di kamar.
Kreeeek!!
Gelap, sangat gelap. Apakah aku buta? Pandangan netraku yang mengarah ke layar laptopku, namun entahlah aku tidak melihat apapun. Seakan ada semacam bayangan hitam yang menghalangiku. Apakah aku membuka kedua netraku? Hanya gelap yang menghiasi pandanganku.
"Pergilah, pergilah!" lirih Milen.
Udara sedingin es kutub yang menyelimuti leherku itupun pergi dengan cepat, sesaat aku mengucap doa. Anugerah? Iya, kadang aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah ini pemberian yang harus aku syukuri? atau aku sesali.
Ku usap perlahan sepasang mata bulat hitamku. Pandangan kosong yang bersarang di dalamnya seakan bersih dengan adanya doa. Bayangan hitam itu sudah tidak menghalanginya lagi.
Nafas yang selalu pelan aku hembuskan, sangat membuatku sedikit merasa lega. Bulu-bulu yang tumbuh di atas kulitku, terus berdiri dengan sendirinya. Angin semriwing yang seolah olah membuat leherku seperti terhembus udara yang menusuk, sangat membuat tubuhku bergetar.
Mulailah lagi aku gerakkan jari-jemariku. Bahkan menekan huruf demi huruf yang kurangkai menjadi sebuah cerita. Kisahku yang dimulai sejak saat pulang camping, aku harus ketakutan ketika tak ada nenek di sampingku. Saat aku mengalami semuanya, mengetahui, merasakan kehadiran mereka semakin banyak dan semakin gila, seolah meminta jiwa.
Namaku Milen Carey yang artinya Kebahagiaan dan pemberani. Entah itu kebetulan atau memang sudah menjadi takdirku. Aku duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Saat itu tubuhku terbaring lemas selama empat puluh enam hari di ranjang kamarku. Suhu tubuhku mencapai hampir empat puluh derajat. Pandanganku seakan melayang layang tidak menentu, karena aku kehilangan saudara kembarku yang bernama Milen.
Milen membuka lemari, dan ia mengusap kotak berdebu dan meniupnya. Saat ini ia jelas tak ingin menyentuh barang itu, tapi sebuah kepastian hilangnya Mia, pak Kola adalah hal mistis sebuah pertanda mereka berada di alam gaib.
Milen harus mencari tahu, dengan adanya permainan bloody mary, memanggil sosok hantu yang masih tak ia lihat saat ini, mungkin saja hantu penjaga dirinya masih tertinggal di hutan mati, dan bayangan melalui permainan inilah Milen bisa mencari tahu keberadaan mereka.
"Nek, setelah Milen mencari tahu keberadaan teman, dan guru Milen yang hilang. Milen akan menyusul nenek." lirihnya.
Milen menatap kotak, yang dalam isinya banyak benda mistis untuk memanggil arwah. Bloody Mary merupakan permainan horor klasik yang mengharuskan setiap pemain untuk memanggil hantu Bloody Mary melalui cermin kamar mandi. Yang harus dilakukan untuk memanggilnya hanyalah menyalakan lilin dan masuk ke kamar mandi sendirian.
Rencana Milen akan bergantian dengan Brian, dan teman lainnya menunggunya di luar dengan posisi melingkar berbentuk segitiga, permainan mereka tidak boleh melepas tangan sampai ritual pemanggilan selesai.
Took! Took!
Kaca jendela kamar Milen, terketuk keras. Milen menatap dengan perasaan berdebar. Ia menghampiri suatu bayangan dari balik tirai hordeng yang terlihat bentuk seorang yang sedang berdiri.
"Nek, apa itu nenek?" terkejut Milen, kala membuka hordeng.
Aaarrrrgh!!
Teriakan Milen, membuat mata Brian melotot kembali, membucahkan seluruh nasi di dalam mulutnya.
Arrrgh!!
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments