"Kau mau ke mana?" Tanya Askara melihat Axelle menuruni anak tangga.
"Ke kampus!" Ucap Axelle ketus tanpa menatap Askara.
"Apa kau semalam balapan lagi?"
"Kalau ia kenapa? Apa urusan kakak? Lebih baik kakak urus saja perusahaan papa itu,"
"Axelle! Apa salah jika kakak memperhatikanmu? Kau itu adik kakak, jadi wajar saja kakak bertanya,"
"Sudahlah! Aku sudah terlambat," Ucap Axelle melangkahkan kakinya tidak memperdulikan ucapan sang kakak.
Askara hanya mampu membuang napasnya kasar sambil menatap punggung Axelle. Dia memang terlalu sibuk dengan dunia bisnisnya, sehingga dia tidak mempunyai waktu bersama Axelle. Dulu Askara memang sempat tinggal di apartementnya sendiri karena kesal melihat kedua orang tuanya selalu bertengkar.
Namun, setelah Axelle kabur dari rumah karena sang mama dan papa bertengkar hebat. Akhirnya Askara memilih untuk kembali ke mension dan berharap dengan kehadirannya Axelle tidak merasa sendiri lagi. Akan tetapi orang tuanya malah selalu membandingkannya dengan Axelle. Sehingga membuat Axelle menjadi benci kepadanya.
Axelle melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju kampusnya. Dia melewati jalanan kota secara ungal-ugalan. Bahkan tidak jarang para pengemudi yang lain memakinya. Namun, Axelle memilih untuk terus melajukan motornya tanpa memperdulika ocehan pengemudi lainnya. Sesampainya di kampus dia melihat para sahabatnya sudah menunggu kedatangannya di parkiran kampus.
"Hai, Bro! Gue ada berita bagus," Ucap Birma padahal Axelle belum turun dari motornya.
"Berita apa?" Tanya Dirga dan Fran.
"Gue tidak bicara dengan kalian," Ucap Birma ketus.
"Berita apa?" Tanya Axelle menatap Birma.
"Lho di cariin Bu Indah!"
"Itu bukan berita bagus! Tapi berita basi," Ucap Axelle bergumam kesal lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ke tiga sahabatnya itu.
"Ada berita lain lagi," Ucap Birma mengejar Axelle.
"Jika menyangkut soal kuliah lebih baik tidak usah lo beritau gue," Ucap Axelle kesal ketika mendengar sesuatu yang berbau kuliah dan juga dosen mereka.
"Tidak! Nanti malam ada balapan besar. Seluruh pembalap dari luar kota akan berkumpul malam nanti," Jelas Birma.
"Berapa hadiahnya?" Tanya Axelle.
"Lima puluh juta,"
"Gue akan ikut," Ucap Axelle terus melangkahkan kakinya.
"Lho mau ke mana? Kelas ada di sebelah sini," Tanya Pran menatap langkah Axelle yang menjauhi kelas.
"Ke kantin!" Ucap Axelle santai.
"Lo gak masuk kelas?"
"Tidak! Tugas gue belum selesai. Jika kalian mau masuk kelas, masuk saja," ucap Axelle santai.
Bolos kelas adalah hal yang biasa untuk Axelle. Jika dia tidak menyukai dosen yang membawa mata pelajarannya, maka dia lebih memilih untuk bersantai di kantin. Walapun seperti itu, nilai Axelle selalu bagus di saat ujian semester. Hal itulah yang membuat Axelle semakin angkuh dan selalu berbuat sesuka hatinya. Bahkan dia tidak sengan-sengan protes kepada dosen jika nilainya tidak sesuai dengan yang dia harapkan.
"Kami ikut lho!" Ucap ketiganya.
"Axelle! Mau ke mana kamu?" Tanya seorang dosen wanita yang bernama Indah.
Mendengar pertanyaan Indah, Axelle langsung menghentikan langkahnya. Dia menatap Indah tanpa rasa takut sedikitpun. Dia hanya berdiri dengan santainya sambil memperhatikan Indah yang berjalan mendekatinya.
"Apa kau tidak mendengar pertanyaanku?" Tanya Bu Indah menatap kesal Axelle.
"Apa ibu tidak tau ini menuju ke mana?" Ucap Axelle kembali bertanya.
"Ok! Ibu tau ini menuju ke kantin. Tapi jam pelajaran akan segera di mulai," Ucap Indah bertindak tegas kepada Axelle.
"Lalu urusannya denganku apa?"
Mendengar pertanyaan Axelle, Indah hanya membuang napasnya kasar. Dia berusaha mengatur emosinya untuk berbicara dengan Axelle. Sebagai seorang dosen dia harus mendidik mahasiswanya dengan baik. Walaupun yang dia dapatkan hanyalah ucapan pedas yang keluar dari mulut Axelle. Namun, dia tetap berharap agar Axelle dan teman-temannya bisa mendengarkannya dan menghargainya sebagai dosen mereka.
"Dalam semester ini kau terhitung berapa kali masuk kelas. Bahkan tugasmu juga sampai sekarang belum kau selesaikan. Apa kau mau tidak lulus dalam mata pelajaran ibu?"
"Terserah! Aku tidak perduli," Ucap Axelle tersenyum sinis lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Axelle! apa kau mau aku mengadukan sikapmu ini kepada papamu. Aku yakin jika papamu tau dia akan semakin kecewa kepadamu," ucap Indah mengancam.
Mendengar ancaman Indah, Axelle langsung tersenyum sinis. Dia menatap Indah dengan tatapan penuh keangkuhan, bahkan tidak ada sedikitpun rasa takut yang terpancar di matanya.
"Silahkan saja! aku tidak takut," ucap Axelle menantang Indah.
Indah adalah istri kedua dari papa Axelle. Usia indah memanglah masih sangat muda. Bahkan dia lebih cocok menjadi putri Nando di bandingkan menjadi istrinya. Namun, karena Nando kaya raya dan juga masih terlihat mempesona, jangankan Indah. Wanita yang jauh lebih muda darinya saja bisa Nando dapatkan.
Hal itulah yang membuat Axelle semakin membenci Indah. Bukan hanya tidak mau menerimanya sebagai ibu tirinya, bahkan Axelle tidak pernah menghargainya walaupun sebagai dosen.
"Ayo kita pergi! tidak ada gunanya bicara dengan wanita ****** ini. Tampangnya saja yang alim, tapi aslinya lebih keji dari iblis," ucap Axelle menatap remeh Indah lalu melangkahkan kakinya meningalkan Indah.
Mendengar ucapan Axelle, Indah hanya mampu mengepalkan tangannya geram. Axelle memanglah mahasiswa yang pintar, akan tetapi karena selalu membuat onar di kampus, dia menjadi terlihat buruk di mata para dosen lainnya.
Seperti biasanya Axelle akan bolos bersama teman-temannya dan memilih menghabiskan waktu di kantin. Mereka merokok dan juga bercanda gurau tanpa menghiraukan tangapan orang lain kepada mereka. Walaupun di cap sebagai brandal kampus, akan tetapi begitu banyak wanita yang mengantri untuk meluluhkan hatinya. Mereka bersedia melakukan apapun asalkan bisa berkembang dengan Axelle.
"Aku ke toilet sebentar ya. Kalian lanjutkan saja," ucap Axelle membuang puntung rokoknya ke sebarang tempat.
"Arghh!" pekik seorang wanita karena terkena api dari puntung rokok Axelle.
"Alissa!" ucap Axelle terkejut ketika melihat Alissa meringis kesakitan sambil memegang mempan yang berisi beberapa jenis makanan.
"Hai, gadis miskin! mana pesanan kami," ucap seorang wanita dari salah satu meja dengan begitu lantangnya.
Mendengar Alissa di hina di depan matanya. Axelle langsung mengepalkan tangannya geram. dia mengambil mampan yang ada di tangan Alissa dan berjalan menghampiri grombolan wanita yang membully Alissa.
Brakk.....
"Makan itu! Dasar manusia berhati iblis," teriak Axelle melemparkan makanan yang ada di tangannya ke wajah wanita itu.
"Untuk apa kaya harta, akan tetapi miskin akhlak sepertimu. Wajahmu saja yang cantik, tapi sikapmu melebihi binatang," ucap Axelle kembali sehingga membuat semua orang yang ada di kantin itu menatap ke arahnya.
Melihat amarah Axelle semua orang yang ada di kantin hanya diam saja. Mereka tidak berani berkutik karena takut menjadi sasaran kemaraha Axelle. Namun, banyak juga yang memperhatikan Alissa. Mereka menatap Alissa dengan tatapan penuh kebingungan. Mereka berpikir kenapa Axelle bisa semarah itu? Karena selama mereka mengenal Axelle, Axelle tidak pernah semarah itu hanya demi membela seorang wanita. Apalagi wanita dari kalangan kelas bawah seperti Alissa.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
senjasabdaalam
kok berkembang??lbh enk bersama atau menjadi kekasih gk sih
2024-01-19
2
피롷
sebenernya ceritanya bagus thor cuma utk ortu atau dosen itu tambahin depannya pke pak bu gtu atau utk ortu bisa papa nando mama mirna utk dosen bu indah gtu jga dgn dosen lain,,,,wlopun hanya cerita tpi ada sedikit kesopanan ke yg lbh tua itu bisa jdi nilai plus thor
2023-07-09
1
Qaisaa Nazarudin
Exelle mah emang lg kesel dgn ibu tiri nya,Eh nambah lg yg di kantin,mah gitu tuh jadi nya…😅
2023-06-15
1