Axelle melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia melewati jalanan kota dimalam hari dengan perasaan kacau. Dia merasa kesal karena sang papa selalu membanding-bandingkannya dengan Askara sang kakak. Padahal jika kedua orang tuanya mau memperhatikannya, Axelle memiliki banyak bakat. Walaupun itu bukan di dalam bidang bisnis.
"Kenapa sih papa selalu membanggakan kakak? Aku akui kakak memang pintar. Tapi semua orang 'kan mempunyai kelebihan masing-masing," Batin Axelle kesal sambil terus melajukan motornya.
Namun, Axelle harus menghentikan motornya ketika melihat lampu merah menyala. Axelle berusaha menahan rasa kesalnya sambil menunggu lampu merah berganti. Saat sedang menunggu, tiba-tiba perhatian Axelle teralih ketika melihat wanita cantik dan lugu sedang berjualan di pinggir jalan.
"Hai!" Teriak Axelle memanggil wanita itu.
"Kakak memanggil saya?" Tanya wanita itu tersenyum.
"Kau jual rokok ********?"
"Ia, Kak! Ini," Ucap wanita itu memberikan sebungkus rokok untuk Axelle.
"Apa kakak mau minum? Aku juga jual minuman," Tawar wanita itu.
"Boleh!" Ucap Axelle menepikan motornya dan memarkirkannya di samping warung wanita itu.
Warungnya terlihat kecil dan juga hanya di lengkapi beberapa kursi dan meja. Namun, walaupun kecil, akan tetapi warung itu ramai akan pembelinya. Selain penjualnya yang cantik lokasi warung itu juga sangat strategis. Di pinggir lampu merah, sehingga sambil menunggu para pengemudi bisa sekalian minum dan membeli sesuatu di sana. Axelle terus menatap wanita itu yang sedang melayani pembelinya yang lain. Cantik dan ramah, hanya itu yang ada di pikiran Axelle tentang wanita itu.
"Maaf ya, Kak! Kakak mau minum apa?" Tanya wanita itu melihat Axelle hanya diam menatapnya.
"kopi," Ucap Axelle melihat kendaraan mulai melaju.
"Kau berjualan sendiri?" Tanya Axelle menatap wanita itu.
"Ia, Kak!"
"Orang tuamu mana? Kenapa mereka membiarkanmu jualan sendiri di malam-malam seperti ini?"
"Mama sudah meninggal, Kak. Aku tinggal bersama Ayah dan mama tiriku," Ucap Wanita itu memberikan secangkir kopi untuk Axelle.
"Alissa! Mana uang? Kakak mau nongkrong," Ucap seorang pria yang berpenampilan seperti preman menghampiri Alissa.
"Kenapa kakak meminta uang kepadaku? Bukankah aku sudah membayar setoran tadi siang?" Tanya Alissa.
Setiap harinya Alissa harus membayar setoran, kepada preman yang katanya pemilik lapak lokasi tempat Alissa berjualan. Alissa yang tidak punya pilihan lain hanya bisa diam dan memberikan uang setoran setiap harinya. Karena bagaimanapun, Alissa sangat membutuhkan lapak itu untuk berjualan.
"Arghh! Banyak bacot! Apa kau mau aku bilang sama mama? Biar sekalian kau di usir dari rumah," Teriak pria itu menatap tajam Alissa.
"Ini!" Ucap Alissa mengalah dan memberikan selembar uang lima puluh ribu kepada Niko kakak tiri Alissa.
"Ini dapat apa?" tanya Niko melihat uang pemberian Alisa.
"Kau masih punya uang di sini 'kan?" tanya Niko merampas tas pinggang Alissa. Di mana di dalam tas itu tersimpan uang hasil penjualan Alissa satu hari ini.
"Hai! Jika kau mau uang kau harus mencarinya dong. Bukan main malak adikmu sendiri," Ucap Axelle merasa geram melihat kelakuan Niko.
"Kau siapa? Main ikut campur masalah orang saja. Apa kau tidak tau aku siapa?" Tanya Niko menatap tajam Axelle.
"Kau itu hanya pecundang yang beraninya sama perempuan," Ucap Axelle tersenyum meremehkan.
"Dasar kau!" Teriak Niko mengepalkan tangannya geram.
"Sudah!" Ucap Alissa menderai keduanya.
"Kakak mau uang 'kan? Ini uangnya, sekarang lebih baik kakak pergi," Ucap Alissa memberikan separuh hasil dagangannya kepada Niko.
"Gitu dong! Jadi adik itu harus nurut," Ucap Niko mencium uang pemberian Alissa.
"Ingat urusan kita belum selesai," Ucap Niko menunjuk Axelle lalu pergi mengunakan sepeda motornya.
Axelle hanya diam sambil menatap kepergian Niko. Dia tidak menyangka jika ada pria seperti Niko yang tega memalak adiknya sendiri. Dia membenarkan jaketnya lalu kembali duduk di kursi plastik sambil mengatur emosinya.
Alissa adalah seorang anak piatu. Mamanya meninggal sejak dia berusia lima tahun. Setelah sang mama meninggal, Ayahnya menikah dengan janda beranak satu yaitu Niko. Setelah papanya menikah dengan mama Niko, kehidupan Alissa menjadi berubah drastis. Dia selalu di siksa oleh ibu dan kakak tirinya.
Bahkan sejak kecil Alissa berjualan di lampu merah untuk membiayai kebutuhannya, dan juga kebutuhan dapur. Sepulang berjualan dia harus menyetor uang hasil penjualannya kepada mama tirinya. Jika tidak, dia akan di pukul dengan rotan dan di suruh tidur di teras semalaman.Ayah Alissa yang melihat kekejaman istrinya kepada Alissa hanya diam saja. Bahkan dia sering ikut menyiksa Alissa karena mengangap jika Alissa adalah beban hidupnya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Axelle memeriksa tubuh Alissa.
"Aku tidak apa-apa! Lebih baik kakak pulang saja. Jangan sampai Kak Niko kembali bersama teman-temannya," Ucap Alissa panik.
"Kenapa kau cemas seperti itu? Aku tidak akan kenapa-napa," Ucap Axelle santai sambil menyeruput kopi buatan Alissa.
"Kopi buatanmu sangat enak. Mulai sekarang aku akan menjadi salah satu pelangan setiamu," Ucap Axelle tersenyum manis.
"Kau Alissa 'kan? Kenalkan aku Axelle," Ucap Axelle memperkenalkan diri.
"Kakak tau namaku dari mana?" Tanya Alissa mengerutkan keningnya binggung.
"Tadi pecundang itu memanggilmu Alissa. Jadi namamu Alissa 'kan?"
"Ia! Namaku Alissa," Ucap Alissa tersenyum.
"Kak!" Ucap beberapa bocah berpenampilan kumuh menghampiri Alissa.
"Hai! Kalian sudah pulang? Apa kalian sudah makan?" Tanya Alissa tersenyum.
"Belum, Kak!"
"Kebetulan. Kakak udah beli makanan untuk kalian. Kalian makannya, maaf kakak hanya bisa beli nasi putih sama tahu tempe saja," Ucap Alissa memberikan makanan yang dia beli untuk para bocah itu.
Walaupun serba kekurangan dan memiliki hidup yang sangat kelam, akan tetapi Alissa tidak pernah mengeluh. Bahkan dia selalu menyisihkan uang hasil jualannya untuk memberi anak-anak gelandangan makan. Dengan begitu Alissa merasa sangat bahagia karena bisa berbagi walaupun hanya sedikit.
Axelle yang melihat itu, hanya bisa menatap binggung ke arah Alissa. Dia berpikir kenapa Alissa memberikan para bocah gelandaangan itu makan. Sedangkan dia saja dalam kesulitan.
"Mereka adikmu?" Tanya Axelle menatap para bocil itu.
"Tidak! Tapi aku sudah menganggap mereka seperti adikku sendiri," Ucap Alissa tersenyum.
"Kakak mau beli apa lagi? Hari semakin larut, aku mau tutup," Ucap Alissa.
"Tidak ada! Ini uangnya," Ucap Axelle memberikan lima lembar uang seratus kepada Alissa.
"Kak! Ini banyak sekali," Ucap Alissa kaget melihat uang yang di berika Axelle.
"Ambil saja untukmu," Ucap Axelle langsung melajukan motornya.
Axelle melirik jam tangannya dan melihat jika dia sudah terlambat untuk melakukan balapan liar. Axelle melajukan motornya menuju tempat tujuannya dan berharap jika dia masih bisa mengikuti balapan liar itu. Selama di perjalanan dia terus membayangkan senyuman polos Alissa. Senyuman yang sangat indah bahkan bisa membuat jantungnya berhenti seketika.
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
senjasabdaalam
serem dong kalo berhenti yg bner ya jantung berdebar2
2024-01-19
0
IndraAsya
👣👣👣 jejak 💪💪💪😘😘😘
2023-06-30
1
Adila Ardani
mampir thor
2023-06-08
1