Bab 16 Menginap di Kediaman Deby

Setelah kondisi mamanya stabil, Bisma memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia tidak memusingkan ketidak beradaan Ajeng dan  Lala di rumah. Apalagi chat dari Deby telah membuatnya melupakan hal-hal yang tak ia anggap penting dalam hidupnya.

Perasaan Bisma lega karena perjalanan dinasnya dan tim telah berakhir, saatnya untuk kembali ke rumah. Satu minggu mereka berada di Semarang mengikuti workshop dan seminar yang diadakan kementerian perdagangan.

Ini adalah perjalanan dinasnya yang terakhir sebelum kepindahan ke Malang. Bisma merasa lega, semua sudah ia jalankan sesuai dengan SOP. Staf ahli yang bakal menggantikan tugasnya pun,  mulai menjalankan amanat yang ia emban.

Badannya sudah terasa lunglai. Ia tak menolak ketika Deby menawari untuk pulang bersama, karena diantara ia dan tim yang berjumlah sebanyak 5 orang, hanya ia dan Deby yang searah.

Untuk kembali ke apartemen atau pun ke rumahnya masih memerlukan waktu satu jam. Ia hanya menganggukkan kepala ketika Deby menawarkan untuk menginap di rumahnya.

Taxi berhenti tepat di depan sebuah rumah megah. Suasana mulai sepi ketika keduanya memasuki perumahan. Bisma mengikuti langkah Deby yang mengantarnya ke sebuah kamar tamu yang berada di dalam rumah miliknya.

Walau pun raganya lemah tak bertenaga, tapi tak menyurutkan Bisma untuk membersihkan diri dan segera mengambil wudhu untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.

Setelah melaksanakan salat Isya Bisma belum sempat  membuka kancing baju koko dan sarung yang menutupi tubuhnya, sepasang tangan melingkar di perutnya dengan erat.

“Deb, apa yang kau lakukan?” Bisma berkata dengan nada penuh keterkejutan akan sikap perempuan muda yang kini  mulai ada dala rencana masa depannya..

Ia tak menyangka Deby  yang sudah tiga bulan belakangan semakin  dekat dengannya berani berbuat lancang.  Walau tak ia sangkal perlakuan Deby membuat sesuatu dalam dirinya menegang.

“Apa mas gak ingin kehangatan. Malam ini rasanya tepat untuk kita memulai sesuatu yang lebih intim .... “ suara Deby terdengar mendesah manja di indera pendengarannya.

Aroma parfum mewah serta pakaian seksi Deby terlihat dari pantulan kaca lemari hias tempat keduanya berdiri saat ini. Dengan jelas setiap lekuk tubuh Deby terpampang nyata. Kulit putih mulus dengan tubuh padat sempurna membuatnya menahan nafas.

Hari ini ia dapat melihat semuanya. Rambutnya yang dicat pirang menambah kesempurnaan kecantikannya. Yang  biasanya keseharian Deby menggunakan pakaian tertutup, walau pun dengan hijab yang masih mengikuti mode kekinian, tapi kini hanya selembar kain tipis yang menutupi area berharga miliknya..

“Tapi ini salah Deb .... “ ujar  Bisma tegas.

Ia berusaha melepas rangkulan Deby di perutnya. Sejak awal ia sudah berkomitmen tidak akan merusak dan mengganggu yang belum menjadi haknya. Ia sudah berprinsip tidak akan mengambil keuntungan dari setiap hubungan yang ia jalani.

Tapi bukan Deby namanya kalau tidak berhasil dengan keinginannya. Jemarinya mulai menyentuh area sensitif Bisma agar membalas sentuhan yang ia berikan.

“Kita sudah sama-sama dewasa. Dan aku tau apa yang kita berdua inginkan,” ujar Deby menatap tepat di mata Bisma dengan pandangan sayu.

“Tidak,” Bisma menjawab  tegas.

“Jangan munafik. Aku tau mas juga menginginkan aku kan? Ayolah mas, kapan lagi kita punya kesempatan seperti ini ....” Deby masih tak menyerah.

Ia tau sorot mata dan bahasa tubuh lelaki tegap di depannya tidak bisa berbohong, dan ia menikmati semuanya. Ia yakin malam ini Bisma akan jatuh dalam pesonanya, seperti dirinya yang tidak bisa tidur tiga bulan belakangan semenjak mengenal Bisma.

Malam-malamnya ia habiskan untuk menghayal menghabiskan waktu berbagi kehangatan dengan laki-laki  yang kini sudah hampir berada dalam genggaman.

Bisma teringat pesan almarhum ayahnya. Semenjak ia beranjak dewasa kata-kata untuk selalu menghormati perempuan selalu ia dengar. Ibunya seorang perempuan yang paling ia sayangi dalam hidup, kemudian kakaknya Mayang yang akhirnya memilih berpisah dengan sang suami karena tidak mampu memberikan keturunan dalam kehidupan rumah tangga mereka.  Lala batita mungil buah pernikahan antara ia dan Ajeng pun kini mulai bermain di benaknya.

Bisma memalingkan wajah. Bayangan wajah sendu Ajeng tiba-tiba melintas di benaknya. Ia tidak tau, kenapa wajah Ajeng melintas di saat keduanya sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi.

“Mas .... “

Dengan nekat Deby mencuri ciuman di bibir Bisma, melihat tidak ada pergerakan  darinya, sedangkan ia sendiri merasakan gelora yang sudah naik ke kepala.

“Hentikan Deby!” akhirnya suara Bisma menggelegar.

Ia menahan tangan Deby dengan tatapan membunuh. Imannya masih kuat, walau pun gejolak dalam tubuh juga berperang ingin dipuaskan setelah satu tahunan tidak melakukan hubungan int*m dengan Ajeng.

Melihat raut Bisma, nyali Deby  langsung menciut. Laki-laki yang memperlakukan setiap perempuan dengan penuh hormat itu kini membentaknya. Air mata penuh drama langsung meluncur di pipi mulusnya.

Mendengar isakan Deby tak ayal amarah Bisma langsung cair. Ia paling tidak bisa melihat perempuan menangis. Dengan cepat ia meraih Deby ke dalam pelukan. Membelai rambutnya dengan penuh kasih.

Senyum kecil terbit di ujung bibir tipisnya ketika dirinya berada dalam pelukan Bisma. Ia harus memutar otak agar secepatnya Bisma meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Aroma parfum maskulin dengan dada kokoh membuatnya tak ingin terlepas dari pelukan Bisma.

Ia yakin akan mampu mengikat hati Bisma, walau pun ia tau, hubungan pernikahan Bisma telah berakhir. Tetapi ketuk palu pengadilan belum melegalkan perceraian mereka. Ia pun tidak berani untuk memulai dan mendesak Bisma mempercepat proses yang terjadi dalam rumah tangga mereka yangbelum berumur tiga tahun.

“Maafkan aku .... “ Bisma berkata pelan sambil membelai rambut Deby.

“Aku yang salah, karena tidak bisa menahan .... “ suara isak Deby membuat dramanya benar-benar sempurna di mata Bisma.

“Aku paham,” potong Bisma cepat, “Yakinlah jika telah terjadi ikatan halal, apa pun keinginanmu akan ku turuti .... “

“Tapi mas .... “ suara mendayu Deby menatapnya dengan pasrah.

Bisma menatap lekat wajah Deby. Kembali wajah sendu Ajeng mengganggu pemandangannya. Ia segera melepas rangkulannya dari tubuh ramping dan wangi Deby, dan membiarkan perempuan itu berlalu dari kamarnya.

Ia menghenyakkan tubuh di pembaringan.  Matanya tidak mau terpejam, senyum teduh dan tatapan sayu Ajeng kian berkelebat di matanya. Bisma tidak bisa menutupi rasa heran.

Tiba-tiba ia merasakan kerinduan akan suasana rumah tangga yang pernah ia jalani bersama Ajeng dan putri kecil mereka Lala. Sejenak lamunannya kembali ke masa dimana ia masih serumah dengan keluarga kecilnya.

Bisma akui ia memang tidak pernah melibatkan diri untuk bercengkrama dengan putri kecil mereka, apalagi urusan sepele dalam rumah tangga. Ia lebih fokus dengan kariernya di pemerintahan serta perkebunan  teh yang berada di Bogor.

Apalagi sebagai staf ahli di kantor walikota, membuatnya disibukkan dengan segala urusan yang berkaitan dengansemua pelaporan. Tak jarang ia pulang malam hari, bahkan sering bepergian mendampingi pak wali mengunjungi berbagai tempat.

Semenjak Ajeng memutuskan meninggalkan rumah yang sudah ia hadiahkan sebagai mahar pernikahan, sejak itulah komunikasi keduanya terputus. Ia semakin menyibukkan diri dengan kantor.

Sedangkan Lala putri kecil mereka yang kini telah berusia satu tahun, ia sangat tau perkembangannya, karena akhir minggu terkadang Mayang selalu membawanya menginap di rumah, untuk menemani kekosongan hatinya begitu ia memutuskan untuk berpisah dengan Rudi.

“Apa kabar Ajeng sekarang?” pertanyaan itu tiba-tiba mengusik kalbunya bersama dengan senyum tulus yang selalu tergambar di wajah ayu mantan istrinya.

Padahal begitu memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan Deby, perempuan yang ia lihat berpakaian sopan dengan menutup aurat, membuat hatinya merasa sejuk dan meneduhkan pandangan, membuat ia melupakan hal lain khususnya Ajeng.

Sifat manja dan aurat yang tertutupi membuat semua kebaikan seorang istri seperti tak berarti di matanya. Ajeng terlalu mandiri dalam bersikap, tidak pernah meminta bantuan, bahkan untuk hal-hal sekecil apa pun.

Ajeng dan Deby, sifat keduanya sangat bertolak belakang. Bersama Deby, Bisma merasakan bahwa dirinya menjadi seorang pria yang sangat dibutuhkan. Deby membuatnya merasakan arti jatuh cinta setelah sekian lama ia ingin merasakan seperti orang kebanyakan.

Memang selama ini Ajeng selalu melayani sebagai seorang istri dan cukup sempurna di matanya. Tapi kehadiran Deby membuat hidupnya lebih berwarna.

Karena itulah ia berani mengucapkan talak untuk kedua kali. Kehidupan rumah tangga yang ia rasakan bersama Ajeng sangat membosankan. Dan ia ingin jika pernikahannya bersama Deby terjalin kelak, maka dia tidak akan membiarkan Deby repot dengan urusan dapur. Ia hanya ingin Deby senantiasa berada di sampingnya.

Walau pun tubuhnya sudah lelah, tapi mata Bisma tak mampu memicing walau sejenak. Bayangan perlakuan Deby barusan membuatnya mengingat  urusan ranjangnya bersama Ajeng.

Terpopuler

Comments

dewi

dewi

ternyata ini tingkah perempuan yg menutup aurat yg disanjung sanjung sampe lupa ma anak istri sahnya.. hadeh 🤦

2025-01-21

0

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

menjijikkan berjelbab tapi kelakuan kayak jalang...cih.

2024-11-08

0

Jetty Eva

Jetty Eva

Bisma..: membuang mutiara demi jalang Syarii...

2025-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!