Bab 8 Suami Tak Berhati

Hanya satu jam Deby mampir ke  kediaman Nurita. Bisma langsung mengantarkan ia ke rumah saudaranya selama ia berkunjung ke Surabaya.

Setelah keduanya memasuki mobil dan meninggalkan kediaman Nurita. Dengan cepat Ajeng membersihkan sisa-sisa air mata yang tak bisa ia bendung keluar. Bening mata putri kecilnya membuatnya berusaha tegar.

“Jeng .... “ Nurita dan Mayang yang duduk bersama di sofa ruang keluarga menatap kehadiran Ajeng di hadapan mereka.

“Maaf ma, mbak ... saya ketiduran .... “ Ajeng berusaha menyunggingkan senyumnya.

Nurita dan Mayang saling berpandangan. Mereka merasa lega jika apa yang dikatakan Ajeng benar. Artinya saat Bisma datang dengan teman wanitanya Ajeng tidak melihat.

“Bisma sudah menghubungimu?” Nurita bertanya dengan hati-hati.

“Belum ma.  Mungkin papanya Lala masih ada kerjaan yang gak bisa ditinggal,” Ajeng berusaha menetralkan suaranya yang bergetar menahan kesedihan.

“Dasar anak itu,” Nurita mendengus kesal dengan tingkah Bisma seperti orang lajang tak memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, dan kini telah menjadi seorang ayah.

“Assalamu’alaikum .... “ taklama kemudian suara bariton Bisma sudah muncul di hadapan mereka.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” ketiganya menjawab kompak.

Tanpa rasa bersalah Bisma langsung duduk di hadapan Ajeng. Ia menatap bayi cantik yang kini matanya terbuka cerah.

Bisma merasakan getaran yang berbeda saat matanya menatap bayi perempuan yang baru berusia tujuh hari itu. Dengan perasaan berdebar jemarinya mengelus rambut putrinya yang tampak ikal lebat.

“Badan dibersihkan dulu jika ingin menggendongnya,” dengan cepat Mayang menginterupsinya.

Ajeng hanya diam menyaksikan interaksi adik kakak itu. Ia  ingin segera beristirahat dari semua peristiwa dan kejadian hari ini yang membuat tidak hanya fisik tetapi mentalnya juga lelah.

“Bayi itu sangat sensitif. Kamu baru datang dari luar. Jangan sampai membawa virus untuk Lala,” Nurita menasehati Bisma.

Tatapan Bisma beralih pada Ajeng yang tetap tenang tak terusik dengan percakapan ketiganya. Ia membelai kepala putrinya yang kini mulai menguap karena kecapean.

“Ma, aku bersiap pulang,” Ajeng mulai bangkit dari duduknya, “Kasian  pak Kusni udah nungguin dari tadi.”

“Kita pulang bersama,” tegas Bisma.

Ia ingin segera kembali ke rumah. Masih banyak laporan yang harus ia kerjakan pulang dari kunker ke luar negeri.

“Baik mas. Aku akan membereskan semua barang Lala di kamar,” Ajeng segera mengulurkan Lala pada Mayang yang ingin menggendongnya,

Bayi Lala memang mendatangkan kebahagiaan bagi segenap penghuni rumah, walau Ajeng tidak yakin dengan Bisma sendiri.

“Kenapa kamu membawa perempuan disaat acara anakmu?” tembak Nurita langsung begitu Ajeng sudah tidak berada di hadapan mereka, “Apa kamu tidak bisa menjaga perasaan Ajeng? Untung saja para tamu sudah pulang, dan Ajeng tidak melihat semuanya.”

Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan  putra bungsunya itu. Sebagai seorang perempuan, ia dapat melihat bagaimana cara pandang Deby terhadap putranya.

“Dia hanya teman sekantor,” kilah Bisma, “Apa salahnya mengajaknya mampir dan mengundangnya sekalian.”

“Memang kado apa yang ia bawa untuk Lala?” kejar Mayang tak suka.

Ia pun yakin dengan pemikiran mamanya bahwa Deby bukan hanya rekan biasa di mata adiknya.

Bisma terdiam. Ia pun melupakan kado yang sepatutnya ia berikan, sebagai tanda terima kasih pada Ajeng yang telah memberinya seorang putri yang kini begitu dibanggakan mamanya dan Mayang.

“Aku merasakan bahwa kamu dan perempuan itu memiliki hubungan spesial,” Mayang menatap Bisma seperti menguliti adiknya, “Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar.

“Aku sudah dewasa. Dan aku bisa menentukan mana yang baik atau tidak untukku,” Bisma berusaha membela diri karena merasa terus dipojokkan kedua perempuan yang sangat ia sayangi dalam hidupnya.

“Mudahan apa yang kamu katakan benar, bahwa kalian hanya rekan kerja,” Nurita menimpali perkataan Bisma, “Mama tidak ingin ada gangguan dalam pernikahan kalian.”

Dalam mobil saat kembali ke rumah mereka, tidak ada percakapan yang terjadi. Ajeng pun malas untuk membuka mulut. Ia mengikuti saja ritme yang diciptakan Bisma. Ia  hanya ingin menciptakan kenyamanan bagi dirinya dan putri kecilnya serta orang-orang yang masih peduli padanya.

Begitu mobil tiba di rumah, Dimas yang masih berada di dalam langsung keluar dan membantu membawa kado yang diberikan keluarga besar Nurita yang berdatangan pada saat acara tadi.

Ia dapat melihat suasana hening yang terjadi antara kakaknya dan kakak iparnya. Selama ini Dimas memang jarang berinteraksi dengan Bisma. Jika ia dan almarhum bapak berkunjung, kakak iparnya itu berada di luar kota.

Ia tidak berani untuk mendekat dan bersikap sok akrab, apalagi Ajeng sudah mengingatkan jauh-jauh hari, bagaimana sikap suaminya pada adik semata wayangnya.

“Suamimu gak ikut makan malam nduk?” lek Sumi memandang Ajeng saat ketiganya menghadapi meja makan untuk makan malam bersama.

“Ayahnya Lala jarang makan malam Lek. Porsi makannya sangat dijaga,” Ajeng berusaha memberi alasan.

Ia melihat sejak habis shalat Magrib Bisma langsung memasuki ruang kerja. Kalau sudah seperti itu, biar ada bencana atau badai sekalipun tak akan membuatnya keluar dari sana.

Lek Sumi menatapnya dengan lekat. Ia yakin Ajeng menyembunyikan sesuatu akan hubungannya dengan sang suami.

Pada  acara tujuh bulanan kemaren saat ayahnya masih hidup, ia sempat menyampaikan kecurigaannya tentang hubungan ponakan dan suaminya yang sangat pendiam dan jarang berinteraksi dengan mereka.

Tapi seperti Ajeng, bapaknya pun tidak banyak bicara. Ia hangya mendoakan semoga hubungan pernikahan anaknya berjalan langgeng dan hanya ajal yang memisahkan.

“Apa masmu selalu sibuk seperti itu nduk?” lek Sumi ingin memastikan kcurigaannya.

Ia dapat melihat raut tertekan pada wajah ponakannya yang berusaha ia sembunyikan dengan tetap tersenyum pada suaminya yang bersikap dingin.

“Ya lek. Apalagi ayahnya Lala baru pulang dinas luar negeri. Banyak laporan perjalanan yang harus ia buat sebagai pertanggung jawaban,” Ajeng berkata pelan sambil meraih piring di hadapannya untuk di isi nasi.

“Seperti pesan almarhum bapakmu, kamu harus bahagia,” mata lek Sumi berkaca-kaca saat mengucapkannya, “Selama  ini, keluarga kita selalu diremehkan orang kampung.”

“Terserah orang ngomong lek .... “ Dimas menyahut santai mendengar ucapan lek Sumi.

Selama ini di kampungnya hanya Ajeng dan Sari yang bersekolah hingga SMA. Kebanyakan begitu tamat SMP langsung bekerja dan menikah.

Apalagi semenjak Ajeng mulai berkuliah, makin banyak yang nyinyir dan mengatakan bahwa semua yang ia lakukan  hanya membuang-buang uang.

“Sekarang semua warga di kampung kagum dengan keberhasilanmu,” lek Sumi bercerita dengan penuh semangat, “Apalagi setelah kamu menikah dengan nak Bisma.”

Ajeng tersenyum miris. Orang hanya melihat di permukaan. Mereka tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi dalam rumah tangga mereka. Tapi ia tidak ingin membukanya di depan lek Sumi dan  Dimas. Biar ia menanggung semuanya sendiri. Karena dari awal ia tau, inilah resiko yang akan  ia terima karena menerima perjodohan sepihak.

Kini hari-harinya kembali sepi setelah  kepergian lek Sumi. Tepat  3 bulan ia menemani Ajeng menjalani cuti melahirkan dan mengasuh baby Lala hingga menjadi bayi yang semakin menggemaskan.

“Apa kamu gak bisa mendiamkan anakmu?” suara Bisma membuat Ajeng terkejut.

Tadi siang ia baru saja membawa Lala untuk imunisasi. Tentu saja Bisma tidak pernah menemaninya untuk mengantar bayi mungil mereka. Ajeng telah mati rasa atas semua sikap Bisma. Hanya keajaiban yang membuat lelaki batu itu menjadi perhatian.

Tanpa menjawab ucapan Bisma, ia berjalan ke kamar sambil menepuk punggung Lala dengan pelan. Setiap habis imunisasi si kecil memang selalu rewel. Ia pun tak berharap Bisma untuk mengantar apalagi menemani si kecil untuk imunisasi atau pun ke dokter jika ada keluhan tentang bayi mereka.

Bisma menatap Ajeng yang hanya memandangnya sekilas. Ia menghela nafas sesaat. Pekerjaannya benar-benar menyita waktu. Walau pun sekarang ia selalu kembali di akhir pekan, tetap saja tak merubah sikapnya dengan keluarga kecil yang kini semakin lengkap.

Ada keinginannya untuk menggendong Lala, putrinya yang sangat cantik dan menggemaskan. Tapi ia risih karena masih terlalu kecil. Ia pun belum pernah menggendong seorang bayi atau pun anak kecil. Jadi ia menekan keinginannya untuk berinteraksi dengan putri mereka.

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

bener2 keparat ni si bisma...kapan dapat karmanya

2024-11-08

1

Nurhayati Nia

Nurhayati Nia

ayah macam apa kau ini bismaaa

2025-03-02

0

Ds Phone

Ds Phone

tinggal kan aja hati nya pun dah kelain

2025-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!