Bab 10 Nasehat Nurita

Pagi Senin  itu  keduanya sudah berada di kediaman Nurita. Bisma tidak ingin menundanya lagi. Dengan terpaksa Ajeng meninggalkan kerjaannya hanya untuk mengikuti keinginan Bisma yang mengajaknya bertemu mertua.

“Eh, pagi-pagi sekali kalian berdua sudah bertamu di sini ..... “ senyum ramah terpancar di wajah Nurita melihat putra dan menantu kesayangannya sudah bertandang di rumahnya, “Lala mana?”

Matanya memandang ke kiri dan kanan berusaha mencari sosok mungil cantik kesayangannya.

“Di rumah ma, sama sus Rumida,” Ajeng berusaha menjawab dengan ceria untuk menutupi hatinya yang terluka.

Bisma memandang Ajeng sejenak. Ia melihat Ajeng bersikap biasa saja. Ia berharap kerjasama Ajeng untuk meyakinkan mamanya bahwa keputusan mereka adalah yang terbaik.

“Ma, aku ingin membicarakan sesuatu,” Bisma sudah tidak sabar untuk mencapaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka sepagi ini.

“Wah, mama jadi penasaran,” Nurita segera menggandeng tangan Ajeng mengajaknya duduk di sofa ruang keluarga.

Bisma menghela nafas sesaat sebelum mengungkapkan apa yang sejak awal sudah  ia pikirkan selama perjalanan.

Kini ia  berhadapan dengan mamanya yang duduk di samping Ajeng. Ia harap Ajeng bisa meyakinkan mamanya.

“Aku dan Ajeng sudah  sepakat untuk berpisah,” Bisma berkata seketika membuat Nurita membulatkan mata tak percaya.

“Candaan apa ini?” Nurita masih tak percaya dengan ucapan Bisma.

Ia memandang Ajeng yang terdiam tanpa suara. Bagaimana mungkin rumah tangga keduanya yang tampak adem tak bergejolak harus berada di titik ini. Nurita tidak akan membiarkan hal buruk menimpa rumah tangga anak dan menantu kesayangannya.

“Aku serius ma. Kami sudah membicarakan ini,” tegas Bisma.

Nurita menatap Ajeng lekat. Sebagai sesama perempuan ia dapat melihat sorot kesedihan tergambar di wajah menantunya. Ia yakin, setiap perempuan tidak menginginkan terjadinya perpecahan dalam rumah tangga yang telah terbina.

Walau terkadang permasalahan hidup yang terlalu berat, membuat pasangan memilih jalan terakhir sebagai solusi untuk mendapat ketenangan masing-masing.

“Jeng, apa benar apa yang dikatakan suamimu?”

Nurita berusaha meyakinkan pendengarannya. Ia mengelus pundak Ajeng yang terdiam sambil menghela nafas.

Ia mulai yakin, Bisma lah yang telah membuat keputusan. Dan ini pasti berkaitan dengan perempuan yang dibawanya ke rumah  beberapa bulan yang lalu saat aqiqahan Lala.

Hati perempuan mana yang tak akan kecewa, jika lelakinya telah menghadirkan seseorang diantara mereka. Apalagi seorang istri, tak akan bisa menerima kenyataan bahwa sang suami telah mendua.

“Nak, katakan semua kebenarannya. Apa benar kamu dan Bisma telah sepakat untuk berpisah?”

Ajeng mengangguk perlahan. Bibirnya terasa terkunci untuk mengungkap kenyataan pahit yang melanda rumah tangganya dan Bisma.

“Apa karena perempuan itu?” Nurita tanpa tedeng aling langsung menembak Bisma  yang menatap Ajeng  dengan sinis.

“Mama tidak  perlu melibatkan orang lain dengan perpisahan kami,” Bisma berusaha mengelak atas tuduhan yang dilontarkan mamanya.

“Yang namanya perpecahan dalam ruamah tanggga tentu saja ada pemicunya. Mama yakin kalian tidak punya masalah. Semuanya baik-baik saja. Tapi semenjak kamu membawa perempua n itu, semua jadi berubah.”

“Namanya Deby ma. Bukan dia yang menyebabkan kami berpisah,” Bisma tidak terima dengan tuduhan Nurita yang terus menerus menyudutkan perempuan yang secara perlahan mulai hadir di benaknya.

“Kamu putra mama satu-satunya. Walau kamu berusaha mengelak, seorang ibu paling tau apa yang disembunyikan putranya,”  Nurita berkata dengan parau.

Ia tidak menyangka hati Bisma begitu keras. Dapat ia rasakan bahwa pikirannya sama dengan Ajeng, bahwa kedekatan Bisma dan Deby lah yang membuat perpecahan dalam  rumah  tangganya.

“Terserahlah,  mama bisa menyimpulkan apa pun. Hanya  mama perlu tau, pernikahan yang ku jalani hampir dua tahun ini tidak memberikan apa pun dalam kehidupanku,” Bisma mulai mengakui apa yang ia rasakan dalam rumah tangga yang telah mereka arungi.

Hati Ajeng kembali teriris  mendengar ucapan suaminya. Pengorbanan yang ia berikan selama ini, ternyata tidak memberi arti dan berdampak apa pun pada Bisma.

“Kamu bilang apa?” Nurita tak mempercayai pendengaranya.

“Tak perlu ku jelaskan,” Bisma menolak untuk mengatakan semua pada mamanya, “Selama ini aku sudah berusaha memenuhi keinginan mama. Dan aku sudah  mengabulkan keinginan mama untuk memberikan seorang cucu.”

Nurita menggelengkan kepala tak percaya dengan ucapan Bisma. Nafasnya sesak. Ia merasa terluka atas pengakuan Bisma. Ia melihat Ajeng yang diam  tanpa kata. Ia berdosa pada menantunya karena memaksakan  kehendak yang membuat anak dan menantunya tidak bahagia dengan pernikahan yang mereka jalani.

“Aku bukan suami yang baik buat Ajeng. Dan aku merasa berdosa karena menjadi suami  yang dzolim .... “

“Apa semua ini tidak bisa diperbaiki? Kalian berdua telah memiliki Lala. Bertahanlah untuk tumbuh kembangnya,” pinta Nurita penuh harap.

Bisma menggelengkan kepala dengan tegas, “Sampai kapan pun Lala adalah putriku. Kami bisa berbagi waktu untuk membesarkannya.”

“Mama tak habis pikir dengan jalan pemikiranmu .... “ Nurita menggeleng-gelengkan kepala atas kekeuhnya pendirian  putranya.

“Mama tidak usah khawatir. Menantu mama tetap akan pendapatkan tunjangan  dengan  perpisahan kami. Dia tidak akan kekurangan walau pun kami tidak bersama. Aku sudah memperhitungkan itu sejak awal,” ujar Bisma sambil memandang Ajeng datar.

Ucapan Bisma sangat melukai Ajeng. Ia tau bukan kali ini saja Bisma mengatakan bahwa  ia hanya menginginkan hartanya.

“Nak .... “ Nurita menepuk pundaknya yang terpekur dalam kesedihan.

“Ya ma .... “ suara Ajeng nyaris tak terdengar.

“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?” Nurita bertanya dengan prihatin.

Berusaha mengumpulkan kekuatan yang tersisa Ajeng menampilkan senyum walau pun berbalut luka.

“Mama tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja,” lirih Ajeng getir.

Ia tidak ingin memandang wajah datar Bisma. Saat lelaki batu bergelar suaminya mengucapkan kata pisah, ia meyakinkan diri dalam hati tidak akan memandang wajah yang telah menorehkan luka di lubuk hatinya terdalam.

“Tidak! Mama tau Bisma telah memaksamu menerima semua ini,” Nurita masih berusaha  membujuk keduanya dengan segala wejangan sebagai orang tua ia sampaikan..

Ia yakin Ajeng akan menuruti perintahnya. Ia ingin menantunya bersabar dan tetap mempertahankan pernikahan mereka. Ia tidak ingin keluarga besar mereka mengetahui keretakan hingga menyebabkan perpisahan dalam  keluarga kecil Bisma.

“Mama jangan mengkhawatirkan tanggapan orang-orang,” Bisma menyadari kegundahan mamanya, “Perceraianpun tidak akan terjadi secepat ini.”

Luka hati Ajeng kembali berdarah mendengar  Bisma yang  menyebut kata cerai dengan enteng. Ia tidak tau, bagaimana harus menceritakan masalah besar ini pada Dimas dan  lek Yati keluarga terdekatnya.

“Apa kamu  sudah mempunyai rencana menikahi perempuan itu?” Nurita benar-benar kesal dengan jalan pikiran Bisma.

Tapi kembali lagi ke masalah hati, ia sadar tidak bisa selamanya memaksakan kehendak yang hanya membuat keduanya menderita dalam pernikahan mereka.

“Jika waktunya tepat, mama pasti orang pertama yang akan ku beritahu. Tapi tidak dalam tahun ini. Semuanya masih perlu waktu,” nada Bisma mulai santai mendengar suara mamanya yang melunak.

Tatapannya kembali pada Ajeng yang termenung menatap ke luar jendela. Ia tidak tau apa  yang berada dalam  pikiran  istrinya yang tak lama lagi akan menjadi mantan.

“Jika ini sudah menjadi keputusan kalian berdua, mama bisa berkata apa....” Nurita berkata dengan pasrah, “Mama hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Bagi mama, Ajeng bukan hanya menantu, tapi sudah menjadi putri mama seperti Mayang.”

Bisma merasa lega setelah mengungkapkan keinginannya dan mamanya merespon dengan positif walau tak bisa menyembunyikan kesedihan di wajahnya yang semakin menua.

“Dalam dua bulan ke depan, mungkin aku tidak bisa pulang. Kerjaan di Jakarta begitu menyita waktu,” Bisma melanjutkan perkataannya, “Sore ini aku akan kembali ke Jakarta.”

Bisma tidak menunggu lama di rumah mamanya. Ia pamit kembali ke rumah untuk bersiap kembali ke Jakarta. Ajeng masih bertahan di rumah Nurita karena mertuanya meminta ia tinggal sementara.

Setelah kepergian Bisma, keduanya terlibat percakapan serius. Nurita mulai mengungkit rasa penasaran akan perpisahan yang kini dialami putra dan menantu kesayangannya itu.

“Sebenarnya sebelum saya mengandung Lala, mas Bisma telah mengungkapkan keinginannya untuk berpisah .... “ Ajeng berkata lirih berusaha mengingat kembali  semua yang pernah mereka bicarakan setahun lewat.

“Astaghfirullahaladjim .... “ Nurita menepuk dadanya yang terasa sesak.

Ia tidak menyangka putra kebanggaannya bisa menyakiti menantu kesayangannya sedalam itu.

“Mungkin jodoh kami memang hanya sampai di sini ma ....” pasrah Ajeng sambil menatap wajah Nurita yang kelihatan kesal bercampur sedih.

“Maafkan mama nak. Mama tidak tau kamu menderita dalam pernikahan ini,” rasa sesal begitu dalam di mata Nurita saat mengatakannya.

Ajeng menggelengkan kepala. Ia tidak ingin membuat mertuanya yang begitu menyayanginya bersedih.

“Mama tidak bersalah. Semua sudah takdir dari Yang Kuasa dan harus saya terima dengan lapang dada,” Ajeng sudah menerima kenyataan bahwa Bisma memang bukan tercipta untuknya.

Nurita memeluk Ajeng dan menumpahkan tangisnya. Ia tau bahwa menantunya itu memang perempuan shaleha dan ia tidak akan membiarkan keduanya dalam kesusahan jika perceraian telah dilegalkan.

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

Kurita terlalu egois. demi memuaskan keinginan dia. dia masih mengharap akan agar ajeng masih berstatus istrinya bisma. tapi dia tdk memikirkan mental menantunya

2025-01-01

0

yuyunn 2706

yuyunn 2706

Ajeng jgn terlalu lemah,tunjukan kalau kamu mampu mandiri

2025-02-23

0

Lilik Juhariah

Lilik Juhariah

hiks hiks hiks

2025-02-27

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!