Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?

Akhirnya Ajeng merasa lega karena telah mempertemukan Hendra dan ustadz Zakri keesokan harinya di kediamannya. Ia telah mantap untuk memulai bisnis yang akan ia jalani ke depan.

Seperti nasehat Sari yang begitu membekas, bahwa kita tidak bisa mengharapkan kebahagiaan dari orang lain. Kita punya kekuatan untuk menjadi diri sendiri dan membahagiakan diri sendiri.

Berharap pada manusia hanya akan mendatangkan kekecewaan. Tapi berharaplah kepada Allah. Dia-lah yang lebih tau mana yang terbaik untuk umat-Nya. Kini Ajeng sangat meyakini itu.

Ia kini telah memasrahkan semua pada Yang Kuasa. Ia yakin, banyak yang ingin ditanyakan Sari padanya saat kunjungannya yang sudah beberapa kali, karena  tidak pernah bertemu dengan suaminya.

Ajeng pun tidak ingin menceritakan keadaan rumah tangganya. Ia sangat menjaga aib dan nama baik keluarga dan mertuanya. Ia yakin, semua ini adalah ujian Allah pada dirinya yang telah diberikan segala kecukupan dalam hidup.

Sebagai seorang perempuan dan seorang istri hatinya mulai berfirasat. Tidak mungkin Bisma bertahan di Jakarta hanya untuk bekerja. Apalagi ia adalah lelaki dewasa.

Ia mulai merasa bahwa telah ada seseorang yang mengalihkan dunia Bisma. Entah perempuan mana yang mampu menyentuh hatinya, sehingga melupakan keluarga kecil yang baru saja terbina.

Sekeping cinta yang sempat ia rasa di awal pernikahan, kini mulai menjadi serpihan-serpihan akibat perilaku dan penolakan yang sering ia terima setelah satu tahun pernikahan berjalan.

Ajeng berusaha menguatkan diri demi si kecil yang sangat membutuhkan dirinya. Tidak ada  lagi yang akan menjadi sandaran di kala bapak telah mendahului ke pangkuan ilahi.

Dimas masih terlalu muda untuk memegang tanggung jawab dalam melindunginya dan si kecil. Ia harus berpijak pada kaki sendiri, agar tidak diremehkan siapa pun di masa depan.

Dengan menyerahkan semuanya di tangan Yang Kuasa, Ajeng mencairkan uang deposito yang menjadi mahar kawinnya untuk usaha yang kini telah sah menjadi miliknya yang dikelola oleh Hendra dan Asih di kota Malang.

Hanya dengan menghabiskan uang untuk memulai bisnis mendatangkan kebahagiaan baginya. Walau itu bukanlah kebahagiaan hakiki. Tapi paling tidak ia bisa mengenyampingkan perasaan duka akibat cinta yang tak terbalas.

Nasibnya benar-benar miris.

Bisma tersenyum sinis melihat e-banking tentang pergerakan dua milyar uang yang memang sudah ia berikan pada Ajeng.

“Dari awal aku yakin, kamu hanya memanfaatkan uangku. Tapi mama terlalu memujamu ...” desis Bisma mencibir, “Setiap perempuan sama. Matre ....”

Dengan malas Bisma memasukkan ponselnya kembali. Ia sudah malas untuk melibatkan diri pada pernikahan yang tidak ia inginkan. Tapi demi menghargai mama dan Mayang terpaksa ia menuruti semuanya.

Kini setelah bertemu Deby ia mulai menemukan tujuan hidupnya. Dan ia akan memutuskan apa yang terbaik baginya di masa depan.

“Kita berangkat sekarang mas?” Deby merasa senang karena Bisma menjemputnya di apartemen untuk segera ke bandara Soetta.

Jam baru saja menunjukkan pukul satu siang. Bisma telah membulatkan tekadnya dan akan membawa Deby ke rumah mamanya sekaligus memperkenalkan pada mama dan Mayang.

“Kita makan dulu di kafetaria bandara,” ujar Bisma lembut.

Deby kini merasa di atas angin. Satu demi satu keinginannya telah dituruti Bisma. Ia ingin mengenal keluarga Bisma yang saat ini lelaki itu sendiri tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya.

Dan mereka berdua pun belum terlalu dekat untuk saling terbuka satu sama lain. Semua mereka jalani seperti air yang mengalir, lancar tanpa hambatan.

Perlakuan dan perhatian Bisma yang begitu lembut membuat Deby berangan lebih jauh. Ia tak bisa menundanya lebih lama. Ia begitu menginginkan menjadi milik Bisma seutuhnya.

Ia tak peduli apa pun omongan rekan sekantornya yang mengatakan bahwa Bisma sudah memiliki istri. Selama kedekatan yang terjadi, dan sesekali melihat ponsel lelaki masa depannya, ia tidak pernah melihat gambar perempuan di sana.

Bisma pun tidak pernah membahas statusnya ketika mereka berbicara atau sekedar menghabiskan waktu dengan makan malam atau pun sekedar jalan menghabiskan waktu.

Hari ini ia akan melihat kehidupan calon lelaki masa depannya. Dan ia akan bertemu dengan keluarga laki-laki yang sudah ia yakini bakal ia miliki seutuhnya.

Di kediaman Nurita, sudah banyak undangan yang berdatangan. Nurita juga mengundang beberapa pondok pesantren yang terdekat dengan tempat tinggal mereka.

Ajeng tak bisa menolak ketika mertuanya telah memberikan putri kecil mereka dengan nama Andhara Salshabilla Dirgantara.

“Sayang oma. Lala cantik .... “ Nurita begitu bersemangat melihat cucunya yang kini sudah dicukur dan didoakan kyai dan alim ulama yang sengaja ia undang.

“Ma, kenapa Bisma belum juga muncul?” Mayang sudah uring-uringan karena sanak saudara terus menanyakan Bisma yang tidak muncul saat semua tamu sudah berdatangan.

Ajeng diam tanpa suara. Walau pun statusnya istri, ia merasa tidak ada hak untuk mengkomplen ketidak hadiran sang suami. Rudi Hartoyo  suami Mayang yang menggendong Lala saat rambutnya digunting oleh para tetua yang bersholawat sambil membacakan doa kebaikan untuknya.

Hingga pukul empat sore, para tamu sudah mulai meninggalkan kediaman Nurita, menyisakan pihak katering yang mulai berbenah untuk mengakhiri tugas mereka yang hampir selesai.

“Lek Sumi dan Dimas pulang aja dulu,” ujar Ajeng pelan pada bibinya yang kelihatan sudah tampak lelah.

“Ya Jeng.  Memang baru kerasa capeknya,” Lek Sumi berkata pelan sambil memijit betisnya yang terasa pegal.

Memandang kepergian lek Sumi dan Dimas yang memakai motor Vari* miliknya perasaan Ajeng nyesek. Walau pun suaminya kaya, dan ia mampu bukan berarti Dimas ikut menikmati semua yang ia miliki.

Ia pun bersyukur, Dimas tidak pernah menuntut untuk dibelikan barang mewah atau motor sport seperti kebanyakan temannya. Bapak sudah mengajarkan mereka untuk selalu hidup sederhana.

Ajeng mendengar suara mobil memasuki halaman ketika ia meng-asi-hi Lala di kamar depan. Dari tempatnya duduk saat ini ia melihat dengan jelas sosok suaminya turun dari mobil.

Perasaan senang langsung menyergap di hatinya. Kerinduan akan sosok tegap dan wanginya membuat senyum terbit di wajahnya. Tapi kebahagiaan Ajeng tak bertahan lama.

Bisma langsung membukakan pintu mobil. Senyum bahagia terbit di wajah tampan itu, begitu sosok perempuan memakai hijab keluar dari pintu yang telah ia buka.

Rasa bahagia yang sempat hinggap langsung lenyap seketika. Ajeng merasa ada yang ngilu di hatinya melihat pandangan yang ada di depannya. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti ia melihat senyum yang tak lekang dari wajah Bisma.

“Ya Allah, kenapa sesakit ini?”

Tanpa terasa, setitik air mata Ajeng jatuh membasahi lubuk hatinya yang terdalam. Tidak pernah ia melihat wajah Bisma dengan senyum bahagia yang begitu sempurna di wajahnya.

Ia mulai sadar, apa yang ia rasa belakangan ini sesuai dengan yang ia pikirkan. Perasaan seorang istri memang tak pernah salah. Ajeng kini meyakini itu.

Keduanya segera memasuki rumah yang masih terbuka lebar dengan obrolan ringan yang terjadi.

“Wah, ternyata ia memang tajir seperti yang orang bilang,” batin Deby  begitu memasuki rumah bergaya Eropa dengan isinya barang serba lux.

“Aku akan memperkenalkan kamu dengan mama dan mbak Mayang,” Bisma berkata dengan penuh semangat.

Nurita yang baru selesai salat Ashar keluar barengan Mayang. Ia terkejut melihat Bisma tidak datang sendiri. Ada perempuan berhijab yang usianya mungkin sebaya putranya itu memasuki rumah dengan senyum cerahnya.

Ia merasa kelakuan Bisma sangat keterlaluan jika perempuan itu seperti apa yang ia pikirkan saat ini. Tapi Nurita masih berusaha positif. Ia dan Mayang saling berpandangan.

“Tumben, datang juga?” suara sinis Mayang membuat Nurita langsung mencubitnya.

Bisma tidak mempedulikan sindiran Mayang. Ia langsung mendekati mamanya dan memeluknya erat.

“Maaf ma, Bisma terlalu sibuk,” ia meraih tangan Nurita dan menciumnya.

“Selamat sore tante. Perkenalankan saya Deby,” Deby mengikuti perilaku Bisma dan menampilkan senyum ramahnya saat memperkenalkan diri.

Nurita berusaha membalas keramahan yang ditampilkan perempuan muda di depannya. Ia dapat melihat bagaimana sikap perempuan itu dalam memandang putranya dengan penuh kekaguman.

“Deby rekan kerjaku ma,” Bisma dapat melihat raut tak senang di wajah yang berusaha disembunyikan mamanya. Ia sangat paham arti tatapan itu, walau pun berusaha Nurita sembunyikan dari senyum ramahnya.

“Di ajak makan dulu rekannya,” Nurita memandang Bisma sambil menunjukkan meja prasmanan yang tersedia.

Mata Deby melihat sekilas dekor yang masih belum dilepas. Hanya ada foto bayi yang tampak.

“Wah ada acara ya mas, kok gak bilang sama aku?” suaranya yang manja membuat Mayang malas berada di sana.

“Ma, aku ke belakang dulu,” tanpa menunggu persetujuan Nurita, Mayang bergegas meninggalkan ruang tengah.

Ia ingin mencari keberadaan Ajeng. Ia sangat marah atas tindakan Bisma yang membawa perempuan lain walau pun atas nama rekan kerja pada acara aqiqahan putrinya. Itu benar-benar perbuatan yang tidak etis di matanya.

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

kau ja yg gak tahu kalau selingkuhanmu tu lbh matre. biarkan sj Bisma hidup dalam penyesalan yang. jangan mau kau balikan lagi sm bisaka ya ajeng. kalau kau balikan sm dia, kau adalah manusia paling bodoh

2025-01-01

0

Ds Phone

Ds Phone

perumpuan tu tak malu dah tahu orang ada bini

2025-02-18

0

dewi

dewi

tunggulah hari penyesalanmu tiba....

2025-01-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!