Bab 6 Memulai Usaha

Alih-alih menyambut kelahiran putri kecilnya, Bisma malahan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri mendampingi gubernur dan staf kementerian perdagangan melakukan kunjungan ke Polandia.

Bisma benar-benar seperti orang jatuh cinta. Sikap Deby yang jinak-jinak merpati membuatnya melayang. Mereka memang beda kantor , Deby bekerja di kantor gubernur bagian protokoler, sedangkan dirinya di kantor walikota Jakarta Utara.

Alam sepertinya mempertemukan keduanya terus menerus, rapat yang diadakan kantor gubernur membuat Bisma rutin mendampingi walikota untuk datang. Kesempatan ini tak disia-siakan Deby untuk menarik hati lelaki yang di matanya begitu menawan.

Ia tidak peduli dan tidak mau tau dengan status Bisma. Selagi ia mendapatkan apa yang ia mau, hal lain urusan belakangan. Bukan hal tabu, pejabat bermain dengan bawahannya. Apa lagi di jaman sekarang, materi menjadi hal nomor satu. Tak peduli halal haram, hantam.

Semenjak bertukar nomor ponsel, keduanya mulai sering berkomunikasi melalui medsos. Perasaan Bisma melayang. Ia seperti menemukan secercah cahaya dalam hidupnya. Kehadiran Deby, dengan pakaian tertutupnya membuat ia seperti remaja yang merasakan jatuh cinta.

Kesibukan serta tuntutan kerja membuatnya melupakan keluarga kecil yang sangat menantikan kehadirannya.

Untuk pertama kali ia merasakan begitu ingin memandang seorang perempuan. Walau ia tau, itu tidak pantas. Tapi Bisma begitu yakin, bahwa untuk pertama kalinya ia merasakan jatuh cinta.

Panggilan telpon dan mama atau Mayang tak ia pedulikan. Foto yang dikirim Mayang pun hanya ia lihat sekilas. Kini ia benar-benar merasakan dimabuk cinta di usianya yang sudah tidak lagi muda.

Senyum-senyum sendiri membaca chat yang dikirim Deby membuatnya bersemangat menjalani hari.

“Assalamu’alaikum .... “ terpaksa Bisma mengangkat ponselnya begitu ia baru mendarat di bandara Soetta, setelah kepergiannya selama 5 hari.

“Minggu ini kamu harus pulang. Aqiqahan putrimu jangan lupa!” tegas Nurita, “Acaranya di rumah mama.”

Bisma menghela nafas berat. Mau tidak mau lusa ia harus kembali ke Surabaya. Padahal ia sudah janji ketemuan dengan Deby setelah sekian lama hanya bertukar kabar melalui medsos.

....

Dengan memeluk bayi merahnya Ajeng menangis di keheningan malam. Untung saja lek Yati  dan  Dimas menemaninya di rumah, jadi ia tidak kesepian sendiri. Ia memang meminta lek Yati datang  mendampinginya selama tiga bulan cuti dari pekerjaan. Apalagi di kampung anaknya mengijinkan. Ajeng sangat bersyukur masih memilliki keluarga yang perhatian.

Walau ia akui  Mayang dan mertuanya selalu sedia untuknya, tapi ia tak bebas untuk melakukan apa pun.

Siang itu ia dikejutkan dengan kedatangan Sari dan suaminya ustadz Zakri bersama Azka putra sulung mereka.

Melihat penampilan agamis ustadz Zakri membuat Ajeng merasa tak nyaman. Ia segera menutupi rambutnya dengan pashmina yang selalu tersedia di lemari pakaian miliknya.

“Masya Allah cantiknya .... “ puji Sari begitu meraih putri kecilnya dari gendongan Ajeng.

“Alhamdulillah Sar. Terima kasih udah nyempetin datang ke rumah,” Ajeng tak bisa menutupi rasa gembiranya.

Semenjak menikah, ia memang sudah tidak bebas untuk bergaul dengan siapa pun. Ia yang membatasi diri, untuk menjaga nama baik keluarga suaminya.

“Siapa nama dede cantik ini?” Sari meraih bayi mungil itu dari pangkuan Ajeng dan menciumnya dengan perasaan haru.

“Lusa aqiqahannya sekalian pemberian nama,” Ajeng menjelaskan langsung pada Sari, “Mama minta dirayakan di rumahnya.”

“Syukurlah hidup kita selalu dikelilingi orang baik,” Sari berkata dengan rona bahagia.

Ajeng meringis di dalam hati mendengar ucapan sahabatnya itu. Kalau saja Sari tau bagaimana pernikahan yang ia jalani, tentu kata-katanya akan berbeda.

“Semoga menjadi anak sholeha kebanggaan kedua orang tua di dunia hingga akhirat .... “  uztadz Zakri turut mendoakan bayi merah yang kini mulai menguap.

Setelah puas berbasa-basi, akhirnya Sari pun menyampaikan keinginannya untuk mengajak Ajeng bekerja sama mengelola sebuah rumah makan yang ingin dijual oleh keluarga suaminya di Malang.

Ustadz Zakri menceritakan bahwa saudaranya tidak mampu lagi mengelola karena sudah tua, dan anak-anaknya pun semua  bekerja di luar daerah.

Mendengar keseriusan ustadz Zakri membuat Ajeng jadi tertarik. Ia juga memiliki usaha semenjak masih gadis, hasil dari gajinya sebagai pegawai bank membuatnya memiliki keuangan yang cukup stabil.

Usaha yang kini dikelola saudara jauhnya Hendra dan istrinya Asih. Keduanya mengolah makanan ringan untuk menjadi oleh-oleh khas Malang dan dikerjakan secara home industri mengkaryakan tetangga dekat mereka.

Setelah berpikir secara matang, Ajeng pun memutuskan menerima tawaran ustadz Zakri. Ia segera meminta sepupunya Hendra datang ke rumah untuk membicarakan keinginannya menambah usaha kafe resto sesuai penggambaran ustadz Zakri.

Di tempat yang berbeda. Setelah  rapat evaluasi bulanan di kantor gubernur, Bisma yang sudah bersiap untuk kembali ke rumah terkejut melihat Deby yang menunggunya di parkiran.

“Mas, boleh nebengkan?” Deby dengan gaya manjanya menatap dengan penuh harap pada Bisma.

“Boleh,” Bisma tak membuang kesempatan itu.

Ia tidak ingin terlalu lama bermain dengan perasaannya. Dari bisik-bisik staf gubernur serta rekan sekantornya, ia memperoleh info bahwa Deby seorang single parent, bercerai dengan suaminya yang seorang pengusaha.

Ia tidak ingin menggali lebih dalam. Sebagai seorang lelaki yang merasakan pertama kali jatuh cinta, ia ingin berjuang untuk meraih cinta sejatinya. Apa lagi sebagai lelaki dewasa, ia menyadari banyak rekannya yang juga menyukai Deby yang sangat pandai dalam memikat lawan jenis.

“Kita sekalian mampir makan ya,” ajak Bisma karena ia malas untuk masak saat pulang ke rumah nanti.

Dan ia pun tidak mungkin membawa Deby mampir ke rumahnya. Ia masih menyadari batas yang tak boleh ia langgar, walau ia tau telah bermain hati.

Pembawaan Deby yang manja dan ceria membuat Bisma semakin bersemangat. Ia yakin telah menemukan soulmate yang ia dambakan selama ini.

“Gimana ole-ole Polandianya?” pancing Deby setelah keduanya menikmati makan  di sebuah restoran yang berada di dalam mall megah di kawasan ibukota.

“Maaf ya gak kepikiran arah sana,” Bisma tidak enak hati karena ditodong langsung oleh perempuan yang telah memberikan warna berbeda dalam hidupnya, “Gantinya gimana kalau kita cari barang yang kamu suka di sini?”

Melihat wajah kecewa yang tergambar di wajah cantik perempuan di depannya membuat Bisma memilih opsi lainnya. Ia tidak suka melihat raut kekecewaan di wajah Deby, perempuan yang kini mulai menanamkan geletar di hatinya.

Senyum sumringah dengan cepat terbit di wajah Deby. Ia tidak akan menolak tawaran lelaki tampan dan tajir yang sering dibicarakan rekan sekantornya.

“Gak pa-pa nih. Aku jadi gak enak lho mas ... atau lain kali saja .... ” Deby berusaha menolak, tetapi hatinya sudah ketar-ketir.

“Buatmu gak masalah. Ayo!” ujar Bisma santai.

Melihat senyum cerah di wajah Deby membuat hati Bisma menghangat. Ia merasakan sorenya begitu indah dan berkesan.

Dalam perjalanan menuju outlet tas terkenal merk luar, ponselnya kembali berdering.  Bisma mengeluarkan dari saku celanya dengan cepat.

“Assalamu’alaikum ma .... “ ia menjawab cepat.

Deby menatapnya sekilas. Tapi kembali ke tujuan awal. Ia tidak mau tau siapa pun yang menelpon laki-laki yang kini mulai ia targetkan di masa depan.

“Jadikan pulang besok. Acaranya sore ba’da Ashar,” Nurita berkata dengan tegas.

Ia tau, rumah tangga Bisma dan menantu kesayangan tidak berjalan normal seperti rumah tangga lainnya. Tapi ia berharap dengan kehadiran putri kecil mereka akan membuat Bisma lebih perhatian. Karena ia sangat yakin, dari sekian banyak perempuan muda yang ia kenal, Ajeng lah kriteria menantu yang mendekati sempurna.

Tapi kembali lagi ke masalah hati. Ia tidak bisa memaksa. Tetapi di dalam doanya, tak putus-putus ia mengharap kepada Yang  Kuasa untuk merubah putranya menjadi suami yang bertanggung jawab sehingga menciptakan keluarga samawa untuk selamanya.

“Baik ma,” Bisma berkata  tanpa semangat.

“Kenapa mas?” melihat wajah lesu Bisma, membuat Deby penasaran.

“Besok aku harus kembali ke Surabaya,” ujar Bisma sambil memasukkan kembali ponsel ke saku celana.

“Wah, udah lama juga aku gak berkunjung ke sana. Apa boleh aku ikut? Janji gak akan ganggu,”  Deby mulai mengacaukan pikiran Bisma.

Ia menatap perempuan yang begitu mempengaruhi dunianya saat ini. Dengan eye puppies-nya membuat Bisma tak bisa menghela nafas.

“Kalau mas  keberatan ya gak pa-pa deh. Lain kali aja,” terdengar nada merajuk Deby melihat Bisma yang terdiam tanpa komentar.

Tangannya yang telah memegang tas limited edition langsung melepasnya dengan rasa tak rela. Padahal ia sangat menginginkan tas merk Gu**i tersebut. Apalagi rekan satu ruangannya yang bernama Elsa sudah pamer terlebih dulu.

“Hei, kenapa dikembalikan?” dengan cepat Bisma meraih tas pilihan Deby dan mengambilkan satu lagi yang sangat manis di matanya.

Dalam hati Deby bersorak melihat Bisma yang membawa dua tas branded langsung berjalan ke kasir.

“Besok kita akan ke Surabaya bersama . Jam tiga sore ku jemput,”  ujar Bisma sambil tersenyum.

Rasanya Deby ingin melompat saking gembirannya mendengar ucapan Bisma. Dengan dua paper bag yang berisi tas branded membuatnya merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Panahnya tepat mengenai sasaran.

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

betul cari masalah

2025-02-18

0

Soraya

Soraya

pelakor berhijab

2025-01-31

0

guntur 1609

guntur 1609

biadab kau bisma

2025-01-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!