Bab 9 Mari Kita Berpisah

Siang itu Ajeng dan beberapa rekannya menikmati makan siang di Marugame Ud*n yang berada dalam kawasan mall terkenal di Surabaya. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke 28. Karena sudah kadung janji dengan para besti ia pun mengajak ketiganya untuk makan  bersama.

“Waktu istirahat kita masih sisa satu jam. Cuci mata dulu yuk!” ajak Intan sambil menarik tangan  Mira yang masih berbicara dengan Ajeng.

“Hei, mau kemana?” Gina menahan langkah Intan.

“Tuh, Mira ngajakin cuci mata,” saut Intan cepat.

Karena tak ingin mengecewakan mereka Ajeng pun mengikuti langkah ketiganya yang kini mulai memasuki pusat perbelanjaan terkenal di kota Surabaya. Mereka berempat sibuk bercerita dan saling bercanda ria. Apa lagi sekarang masih bulan muda, otomatis kantong masih gendut.

Saat  sibuk memilih tas bermerk yang terpajang di etalase retail Sog*, ketiganya begitu antusias apalagi banyak barang baru yang berdatangan membuat  mata benar-benar dimanjakan.

“Yang ini bagus deh mas. Pas dipadankan dengan batik kantor hari Kamis,” suara manja seorang perempuan  membuat  Mira menyikut pergelangan tangan Ajeng yang masih menerima telpon  dari Rumida baby sitter yang kini menjaga Lala di rumah mertanya karena sudah berpengalaman. Ia mendapatkannya dari yayasan sesuai arahan Nurita.

“Ganteng lakinya,  istrinya juga cantik. Pasangan ASN yang sempurna,” celetuk Mira.

Ajeng terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Bagaimana tidak Bisma sedang menemani Deby berbelanja barang keperluan wanita. Hatinya terluka semakin dalam atas apa yang ia lihat.

Tidak ada yang tau, bahwa laki-laki yang kini jadi pusat perhatian rekan sekantornya adalah Bisma. Ia memang tidak pernah memajang foto keluarga dan menceritakan kehidupan pribadinya dengan teman sekantornya yang rata-rata pegawai baru.

Yang mereka tau, suami Ajeng seorang pegawai dan berkantor di Jakarta Utara. Saat acara aiqahan putrinya pun memang tidak ada pernak-pernik foto keluarga yang dipajang di rumah Nurita.

Ajeng sangat tertutup dengan kehidupan luar. Karena ia tau, Bisma sangat tidak suka dengan campur tangan orang luar dalam kehidupan rumah tangga mereka.

“Maaf mbak, saya yang duluan mengambil tas ini,” Intan dengan cepat meraih tas edisi terbatas yang diperlihatkan Deby pada Bisma.

Deby menatap Intan dengan perasaan tidak senang. Ia sudah lama menginginkan tas itu. Tapi demi menjaga image-nya di depan lelaki incarannya akhirnya ia tersenyum tipis.

“Oh, gitukah mbak. Yah gak pa-pa deh. Biar saya cari yang lain,” tuturnya lembut.

Bisma terkejut menyadari kehadiran Ajeng diantara empat perempuan muda yang kini berdiri di hadapannya dan Deby. Sekilas ia dapat melihat raut penuh luka tergambar di sana.

“Yuk mas. Kita pindah tempat aja. Masih banyak yang belum kita lihat di gerai sebelah .... “ dengan suara manjanya Deby mengajak Bisma keluar dari gerai tas yang menjual produk luar yang terkenal dan digandrungi  para sosialita.

Ajeng megalihkan pandangan ketika Bisma kembali menatapnya saat melangkahkan kaki mengikuti Deby yang sudah berjalan di depannya.

“Pengen ya dapat  pasangan seperti itu. Kelihatan banget kalau bucin sama istrinya,” Gina berkata seadanya melihat Bisma dan Deby yang kini berjalan semakin menjauh.

Hati perempuan mana, apalagi dirinya yang bergelar istri tidak terluka dengan semua yang ia lihat dan ia dengar akan perlakuan Bisma pada perempuan yang di matanya memang sangat sempurna.

“Tampaknya suaminya pejabat euy. Udah ganteng, mapan lagi, dan setia ....” Intan terus memuji Bisma dengan tulus.

Ia tidak menyadari semua yang mereka ucapkan semakin membuat Ajeng terluka. Tak terasa air matanya mengalir memburamkan pandangannya.

“Hei, kamu kenapa?”  Mira terkejut melihat Ajeng yang kini berpegang pada etalase agar tubuhnya tidak lunglai.

“Mbak Ajeng ... “ Gina pun merasa khawatir melihat Ajeng yang pucat dengan air mata mengalir semakin deras.

“Jeng ... “ Intan menggenggam tangannya yang terasa dingin.

“Kita pulang sekarang,” Mira segera mengambil keputusan.

Ia tidak tau apa yang terjadi pada rekannya itu. Ajeng begitu tertutup akan permasalahannya. Ia rasa lebih baik mereka kembali khawatir kondisi Ajeng lebih parah dari yang mereka bayangkan.

“Kita langsung ke rumahmu?” tawar Mira.

Ajeng berusaha menguatkan diri. Ia tidak ingin terlihat rapuh di mata siapa pun. Dengan cepat ia menggelengkan kepala.

“Kita kembali ke kantor,” ujarnya lesu, “Aku gak pa-pa. Hanya kurang istirahat. Lala rewel belakangan ini.”

Hanya itu yang dapat ia katakan pada rekannya. Memang itu kenyataan yang terjadi sebenarnya. Sudah beberapa malam ini putri kecilnya rewel setelah diimunisasi sehingga ia harus berjaga di malam hari.

Tidak mungkin ia mengganggu jam istirahat bu Rumida yang sehari-hari sudah repot mengurus dan mengasuh putri kecilnya.

Bisma semakin jauh untuk ia raih. Kini Ajeng sudah pasrah dengan yang terjadi dalam rumah tangganya. Ia sudah berusaha menempatkan diri sebagai istri dan ibu yang baik dalam rumah tangganya. Tapi semua itu tidak berarti di mata Bisma yang kini sedang dimabuk asmara.

Usia Lala kini sudah enam bulan. Ada tidak adanya Bisma di rumah bukan lagi masalah buat Ajeng. Ia mulai menyibukkan diri dengan usaha yang kini semakin berkembang di kota Malang.

Setiap Sabtu pagi ia membawa bu Rumida dan putri kecilnya ke Malang untuk melihat usaha yang dikelola Hendra dan istrinya. Tak jarang ia menginap di sana dan Minggu sore baru kembali ke Surabaya.

Bisma merasa bahwa rumah tangganya dan Ajeng semakin hambar.  Semenjak pertemuannya  dan Ajeng di mall Pakuw*n  bersama Deby, interaksi mereka semakin jarang.

Ajeng pun mulai menghindari untuk berkomunikasi dengannya. Bagi Bisma tidak masalah, karena ia tau Ajeng hanya memerlukan materi darinya. Ia sangat tau kondisi keluarganya di kampung.

Sore Minggu  itu Bisma sudah menunggu kepulangan Ajeng. Ia tidak pernah ingin tau apa pun yang dikerjakan istrinya. Baginya Ajeng hanya sekedar memenuhi keinginan mamanya untuk mempunyai pendamping di mata keluarga besarnya. Karena bukannya ia tak tau, ada yang menganggapnya memiliki orientasi sek*ual yang berbeda, sehingga terpaksa ia menikahi Ajeng untuk menyelamatkan wajah keluarganya.

Sekarang saatnya ia memulai kebahagiaan sendiri. Senyum sinis terbit di wajah tampannya begitu mobil yang disupiri pak Kusni memasuki pekarangan rumah mewah miliknya.

Ajeng melihat Bisma duduk di sofa keluarga saat ia menuju kamar. Ia segera memberikan Lala yang sudah tertidur lelap pada bu Rumida. Ia yakin ada sesuatu yang ingin disampaikan  lelaki batu yang tak lain adalah suaminya.

“Ku tunggu di ruang kerjaku,” ujar Bisma datar saat Ajeng sudah berdiri tepat di hadapannya.

Setelah menyampaikan apa yang ia inginkan Bisma berlalu dengan cepat menuju ruang kerjanya di lantai atas.

Ajeng menghela nafas. Ia tidak berani berspekulasi. Tapi ia sudah meyakinkan diri untuk menjalani apa pun dan menerima apapun yang menjadi keinginan  suaminya.

Setelah membersihkan diri secara kilat, Ajeng segera menemui Bisma di lantai atas untuk berbicara. Sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan selama hampir dua tahun berumah tangga.

Bisma sudah menunggunya di meja kerja seperti seorang pimpinan yang arogan dengan sikap dinginnya yang begitu nyata.

“Mari kita berpisah .... “ suara tegas Bisma langsung menancap ke jantung Ajeng.

Lelaki batu yang bergelar suaminya itu memang tidak pernah melibatkan emosi dalam setiap perkataan yang  ia ucapkan.

Ajeng terpaku. Rasanya  tak percaya, untuk kedua kalinya Bisma mengucapkan kata sakti  itu.  Tatapnnya fokus menatap kedalaman  hitam pekat  mata Bisma. Ia berusaha mencari sasuatu yang membuatnya bisa mempertahankan rumah tangga yang baru seumur jagung ini.

Tapi ia tidak menemukan apa pun yang tergambar di mata elang suaminya. Hanya kelam dan datar. Tidak ada yang terpancar di sana.

Ia meringis dalam hati menyadari nasibnya yang menyedihkan. Dapat ia ingat kembali, bagaimana tatapan dan senyum yang tulus di wajah suaminya saat bersama perempuan yang berpakaian dan kecantikannya begitu sempurna. Kini ia sadar, bahwa hati Bisma memang tidak akan pernah ia sentuh. Perempuan itu telah memiliki hati suaminya sepenuhnya.

Jika memang ini membuat Bisma bahagia maka ia akan mundur dari ikatan pernikahan yang tidak mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka. Ia pun teringat kembali omongan Sari.

Mulai detik ini ia akan menciptakan kebahagiaan sendiri dengan putri kecilnya bersama dengan orang-orang yang sayang dan peduli padanya.

“Baiklah,” Ajeng menjawab seketika.

Bisma tertegun mendengar jawaban Ajeng yang penuh keyakinan. Tidak ada sanggahan atau pun penolakan yang terucap dari perempuan yang sudah membersamainya dalam dua tahun belakangan ini. Raut  kesedihan pun  tidak kelihatan di  wajah perempuan yang sudah memberinya seorang putri.

“Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi aku permisi,”  tanpa menunggu jawaban Bisma, Ajeng langsung bangkit dari hadapan Bisma.

“Besok kita ke rumah mama untuk memperjelas semuanya,” ujar Bisma lagi dengan tatapan tak teralihkan dari wajah tegas Ajeng.

Begitu keluar dari ruang kerja Bisma dan menutup pintunya. Ajeng langsung bersandar dan menepuk dadanya  berulang kali. Ia merasakan sesak yang membuatnya susah untuk bernafas dengan benar.

“Ya Allah ... kuatkan hamba menjalani semua ini. Hamba yakin Engkau Maha mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-M .... “ dengan  lunglai Ajeng menguatkan langkahnya untuk turun kembali ke bawah .

Keinginannya hanya satu, memeluk putri kecilnya. Itulah satu-satunya  kekuatan yang ia miliki untuk bertahan.

Terpopuler

Comments

Nurhayati Nia

Nurhayati Nia

yang sabar dan tawakal ya untuk mama nya lala ingat kamu masih punya futri mu lala

2025-03-02

0

Ds Phone

Ds Phone

betul betul tak ada hati

2025-02-18

0

dewi

dewi

jawaban bagus 👍👍👍👍

2025-01-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!