Bab 13 Resign

Ajeng saat ini sudah duduk berhadapan dengan pimpinannya untuk membicarakan masalah permohonannya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah ia geluti selama 6 tahun semenjak ia lulus kuliah.

Sudah tiga hari ke belakang ia memikirkan semuanya. Seperti kata Sari, ia harus fokus pada hal yang membuatnya bahagia, dan melepas semua beban yang membuatnya sulit untuk melangkah.

Tiga malam ini pun ia khusus menumpahkan semua  yang ia rasa kepada Sang empunya segala kekuasaan. Ajeng pasrah mengadukan segala hasrat serta keinginannya demi masa depan dirinya dan buah hatinya.

Ia telah mendapat jawaban atas semua doa-doa dan harapan yang ia panjatkan ke Rabbnya. Kini ia yakin untuk melangkah maju. Ia pun siap untuk mengakui semua pada Dimas serta keluarga di kampung.

Tiada lagi kekhawatiran serta ketakutan yang sempat ia rasa jika keluarga besarnya di kampung mengetahui tentang perpisahan yang terjadi antara dirinya dan Bisma.

Ia sangat-sangat bersyukur disaat dirinya berada dalam keterpurukan, Allah mendatangkan Sari dan mendekatkan keduanya yang sudah lama terpisah. Ia pun lebih fokus dalam memohon dan mengharap hanya semata-mata kepada Allah Sang pemilik segala kesempurnaan.

Ia tidak tau, sampai kapan tenggelam dalam kesedihan atas prahara rumah tangga yang tak bisa ia pertahankan. Jika saja  ia tak dipertemukan dengan Sari dan berbicara segala hal pada sahabat yang memang Allah datangkan kepadanya.

“Jadi bu Ajeng sudah memikirkan semua, seperti apa yang saya baca dalam surat permohonan pengunduran diri ini?” pak Sigit atasannya menatapnya dan bertanya dengan tegas.

“Benar pak,” Ajeng menjawab dengan yakin.

Sigit Herlambang, baru saja tiga bulan menjabat sebagai kepala cabang di tempat Ajeng bekerja saat ini. Orangnya simpatik, usianya belum mencapai 40 tahun. Wibawanya sebagai pimpinan membuat para pegawai merasa segan.

Sigit kembali memandang  selembar kertas yang berisikan tulisan tangan yang rapi dari perempuan yang sangat berprestasi di tempat yang kini ia pimpin.

“Padahal yang saya tau, kamu akan dipromosikan untuk kenaikan jabatan,” pancing Sigit dengan serius.

Ia tau, pegawai bank yang paling senior adalah Ajeng. Dan apa yang ia sampaikan adalah kebenaran. Baru tiga bulan ia memimpin, sudah banyak nilai positif yang ia lihat dari kinerja Ajeng.

Bukan hanya  ‘good looking’ yang membuat siapa pun tak jemu memandang dan berbicara dengannya, tapi keprofesionalannya dalam bekerja layak diacungi jempol. Tak heran, sudah tiga tahun terakhir ia mendapat predikat ssebagai pegawai teladan.

Mendengar perkataan atasannya, Ajeng hanya tersenyum tipis. Ia sudah menjelaskan secara terperinci alasan yang membuatnya resign.

“Apa ini permintaan suami bu Ajeng?” Sigit mesih mencecarnya dengan pertanyaan yang tidak ada kaitan sama sekali, “Di sini tertulis, alasan mengundurkan diri untuk pindah dan mengurus anak.”

Ajeng menghela nafas mendengar ucapan Sigit. Ia telah menuliskan semua sesimpel mungkin agar tidak memancing pertanyaan yang  berlebihan. Tapi kenyataannya, pimpinan baru mereka terus mengorek hingga ke dalam-dalamnya.

“Sebenarnya saya ingin meneruskan usaha keluarga,” akhirnya setelah berpikir beberapa saat Ajeng menjawab terus terang.

“Wah!” Sigit memandang Ajeng dengan takjub, “Saya yakin bu Ajeng mampu mengemban tugas ini. Tapi apa tidak bisa dipertimbangkan saja?”

“Saya ingin fokus dengan kepercayaan yang telah diberikan serta putri saya,” Ajeng menjawab apa adanya.

“Padahal bu Ajeng bisa mengurus mutasi bahkan naik jabatan jika tetap bertahan,” Sigit masih mencoba merubah pemikiran Ajeng, “Saya bisa bantu untu mempermudah semua.”

“Terima kasih atas perhatian bapak. Tapi saya sudah memikirkan semuanya belakangan ini. Dan saya sangat yakin dengan keputusan yang telah saya ambil,” tandas Ajeng seketika.

Ia tidak ingin berlama-lama seruangan dengan atasan barunya. Sebagai perempuan normal, ia tau arti pandangan yang ditujukan Sigit  padanya. Dan ia tak ingin rekan lain berprasangka negatif  atas perhatian yang diberikan atasannya yang masih lajang.

Sementara itu di sebuah ruangan walikota tempat Bisma mengabdi saat ini, ia sedang duduk berhadapan dengan bapak walikota yang akan melakukan lawatan ke negara tetangga.

Sebagai staf ahli, Bisma selalu dilibatkan dalam semua aktivitas pak wali. Ia yang tipe serius dan aktif dalam setiap tugas yang diberikan membuatnya mendapat kepercayaan lebih.

Senyumnya terkembang melihat chat Deby yang selalu mengingatkan untuk menjaga kesehatan dan pola makan yang teratur. Dua minggu ini keduanya tidak bertemu, karena Deby pun berada di luar kota mengikuti atasannya yang melakukan kunjungan ke daerah.

“Saya sebenarnya keberatan dengan pemutasian pak Bisma,” pak Prasetyo selaku pejabat walikota saat ini memang sedang melakukan rapat evalusi  dadakan.

Mereka mendapat kabar bahwa Bisma sedang diajukan mutasi untuk mengisi jabatan sebagai staf ahli  Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan  kota Malang yang akan memasuki masa purna tugas.

Sebagai putra daerah ia tidak keberatan untuk mengemban amanah tersebut. Apalagi ia sering dicecar mamanya untuk balik kampung dan mengabdi di kota seputaran wilayah  Surabaya saja.

Walau pun ia belum mengutarakan keinginan yang sempat terpikir beberapa tahun yang lalu. Tapi darah muda dan ambisi untuk menaklukkan garangnya ibu kota, kini telah ia lakukan selama delapan tahun  menjadi pegawai negeri dengan dua kali mutasi hingga menjabat staf ahli di kantor walikota.

Kabar bahwa ia akan dimutasi siang ini membuat pikiran Bisma terbagi. Satu sisi ia merasa lega, karena keinginan mamanya bakal terkabul. Tapi di sisi lain, hatinya sedikit bimbang.

Bagaimana mungkin ia menyampaikan berita ini pada Deby. Apakah perempuan yang kini sudah dekat dan secara perlahan mulai mengisi hatinya itu akan menerima atau bahkan keberatan untuk LDR-an dengannya?

“Pak Bisma ragu untuk menerima mutasi ini?” Prasetyo menatapnya dengan rasa ingin tau.

“Saya tidak keberatan sama sekali pak,” Bisma berkata tegas.

Ia akan membicarakan dengan serius pada Deby.  Ia yakin untuk memulai bersama perempuan yang telah mencuri hatinya untuk pertama kali.  Tiada yang lain dalam bayangannya setiap hendak memejamkan mata.

Hatinya semakin yakin untuk segera berlabuh pada Deby. Perempuan yang berpakaian dengan menutup aurat itu membuat Bisma tak bisa untuk memikirkan hal lain.

Mereka memang belum pernah berbicara serius tentang kelanjutan hubungan di masa depan. Tapi melihat perhatian kecil yang diberikan Deby, membuatnya mulai merajut masa depan yang bakal mereka lalui.

Walau pun setelah menemui mamanya bersama Ajeng untuk mengakhiri kisah rumah tangga mereka, namun Bisma belum sempat untuk mengurus perceraian mereka.

Aktivitas kantor memang telah memakan waktu dan menghabiskan masanya. Tetapi Bisma menikmati semuanya, karena ia memang tipe workhaholik. Dalam dua bulan ke depan, agenda kantor yang bakal ia jalani membuatnya harus melakukan sedikitnya 6 kali kunjungan ke berbagai tempat.

Jika jadwalnya longgar, maka ia akan mengagendakan pertemuan dengan Ajeng serta pengacara yang akan mengurus semua yang berkaitan dengan proses hukum untuk kasus perpisahan mereka.

Siang itu di sudut ruangan di salah satu bank milik pemerintah semua pegawai bank dari staf rendahan hingga pejabat tertinggi sedang berkumpul bersama.

Hari ini adalah hari terakhir Ajeng berada di ruangan yang telah membesarkan namanya dan memberi materi yang tak terhitung jumlahnya.

Ia memberikan kesan dan pesan yang ia rasakan selama mendapat kepercayaan  untuk mengabdikan diri sebagai pegawai. Ajeng tak lupa mengucapkan syukur  serta terima kasih yang mendalam karena mendapat dukungan serta bimbingan dari atasan maupun  rekan kerja selama ia bertugas dan mengabdi.

Rasa haru serta suka cita maupun duka luruh jadi satu, ketika sesi salam-salaman dan pemberian cindera mata dari kantor serta rekan yang memiliki kedekatan pribadi padanya.

Ajeng tak mampu menahan air mata, saat rekan perempuan memeluknya dan mengucapkan selamat jalan dan semoga berhasil dengan apa yang bakal ia lakukan di  masa depan.

“Semoga bu Ajeng sukses dengan apa pun yang bakal dijalani di masa depan,” Sigit menyalami tangannya dengan penuh kehangatan.

“Terima kasih pak,” Ajeng tersenyum dengan penuh haru.

Siang itu terlewati dengan berbagai perasaan yang tidak bisa Ajeng gambarkan. Walau pun berat, ia harus melangkah maju.

Segalanya telah ia dapatkan selama berkarier sebagai pegawai bank pemerintah. Kini saatnya ia melanjutkan perjuangan demi masa depan yang ia harapkan semakin cerah bersama orang-orang terdekatnya.

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

mampus kau nikahi dia manusia jalang yg matre tu. mampus kau bisma. tu adalah pilihanmu yg salah. kau nikmati sja

2025-01-01

0

Ds Phone

Ds Phone

bangkit terus kan hidup mu dan anak nya

2025-02-18

0

kompiang sari

kompiang sari

mampir yaw thor

2025-03-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!