Bab 5 Nasehat Sari

Tinggal menunggu hari menjelang lahiran bayinya. Ajeng  pun sudah mengambil cuti tiga bulanan dari bank tempatnya mengabdi.

Suara ponsel mengejutkannya yang sedang berjalan mengitari sekeliling rumah. Ia sudah tidak berani berjalan sekeliling kompleks. Setelah menyiapkan sarapan Bisma, yang kebetulan menyempatkan diri pulang ke rumah ia segera ke halaman depan.

"Dimas ..." ia terkejut melihat panggilan adiknya dari kampung.

"Mbak, bapak .... " suara Dimas terdengar parau.

"Bapak kenapa?" perasaan Ajeng mulai tidak nyaman.

"Mbak pulang sekarang!" isak Dimas mulai terdengar.

Ajeng sudah tidak karuan perasaannya mendengar tangisan Dimas. Tanpa berpikir panjang ia melangkah kembali ke rumah, langsung mengetuk ruang kerja Bisma.

"Mas ... " suaranya semakin tercekat sambil menggedor pintu ruang kerja Bisma.

Bisma yang masih menghadap laptop terkejut mendengar ketukan di pintu dan suara Ajeng yang terdengar lemah. Dengan cepat ia membuka pintu kamar. Tampak wajah Ajeng pucat dengan bibir bergetar.

"Ada apa?" Bisma bertanya datar.

"Bapak. Aku ingin pulang sekarang," suara tangis Ajeng langsung pecah.

"Mbak .... " panggilan Dimas masih terdengar di telinga Bisma.

Dengan cepat ia meraih ponsel Ajeng dan berbicara dengan adik iparnya yang kini mulai menangis.

Akhirnya Bisma ikut mengantar Ajeng kembali ke kampung halamannya di Kediri.  Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.  Mertuanya meninggal tanpa Bisma dan Ajeng dapat bertemu dengannya.

Menurut  cerita Dimas, bapaknya hanya mengeluh dadanya yang terasa sakit.  Dan ditemukan dalam keadaan salat  Zuhur di kamar.  Saat dipanggil lek  Yati untuk makan siang, beliau tidak menjawab. Saat Dimas menuju kamar, bapak sudah terbujur kaku.

Terpaksa Bisma mengajukan izin tiga hari ke tempat tugasnya untuk mendampingi Ajeng yang kelihatan sangat terpukul. Bapaklah satu-satunya orang yang membuat ia bertahan dan kuat. Kini tiada sandaran baginya untuk mengadukan segala keluhan.

Dapat ia lihat, walau pun Bisma berada di sisinya, tapi ponsellah yang menjadi perhatian utamanya. Ajeng berusaha menutupi permasalahan dalam rumah tangganya dari semua keluarga bapak yang datang untuk turut berbela sungkawa.

Sudah tujuh hari kepergian bapak, Ajeng pun sudah kembali ke Surabaya. Ia menitipkan Dimas pada lek Yati. Jika Dimas sudah tamat SMP, ia ingin Dimas mengikutinya pindah ke kota.

Sore ini ia meminta pak Santo supirnya  berhenti di sebuah taman terbuka. Ia barusan dari rumah mertuanya. Banyak belanjaan yang telah dipersiapkan Mayang dan Nurita untuk menyambut calon keluarga baru mereka.

Dengan perasaan sedih Ajeng berjalan menuju kursi taman. Setelah sampai ia mulai menghenyakkan tubuhnya secara perlahan. Perasaannya sangat sedih. Di saat-saat seperti ini, ia sangat membutuhkan perhatian sang suami.

Matanya mengabur melihat banyak pasangan  yang berjalan-jalan menikmati matahari di senja temaram itu. Pandangannya nanar melihat sepasang suami istri dengan anak kecil yang tertawa riang berjalan ke sana kemari.

Ia tidak menyangka kehidupan seperti ini yang ia jalani setelah menikah. Bukan inginnya. Tapi takdir telah membawanya dalam situasi kehidupan pernikahan yang begitu rumit.

“Ajeng .... “ sebuah suara lembut menyapanya.

Spontan Ajeng mengusap air mata yang tanpa kompromi mengalir tak terbendung. Ia langsung mencari sumber suara.

Tatapan matanya memandang seorang perempuan muda yang berjalan membawa seorang anak laki-laki sekitaran 10 tahun.

“Kamu tidak mengingatku?” kembali perempuan ramah itu menegurnya dan langsung duduk di sampingnya.

“Maaf .... “ Ajeng merasa tidak enak hati.

Saking banyaknya nasabah yang ia temui setiap hari, membuatnya lupa dengan orang yang jarang berinteraksi dengannya.

“Aku Sariyem teman SMP mu di kampung,” ujarnya dengan senyum teduh.

“Masya Allah Sari, sudah belasan tahun kita tidak bertemu,” Ajeng menyambut uluran tangan teman SMP nya dengan perasaan hangat, “Putramu?”

Sari menggangguk dengan perasaan bangga.

“Azka .... “ dengan lembut ia memanggil putranya yang asyik memandang beberapa anak yang bermain bola.

“Bagaimana kabarmu?” Ajeng dapat melihat kesederhanaan dari sahabat SMP nya yang cukup dekat kala itu.

“Alhamdulillah baik. Kamu sendiri udah berapa bulan?” Sari menatapnya antusias.

Ajeng membelai perutnya dengan perasaan tak menentu, “Tinggal menunggu waktu debay nya keluar ini .... “ ia berusaha menampilkan senyum terbaiknya.

“Kok sendirian aja, mana suamimu?” Sari tak bisa menutupi rasa penasaran karena melihat Ajeng sendiri.

Sementara para bumil lain tampak begitu mesra dengan pasangan mereka yang begitu perhatian.

Melihat Ajeng yang tak menjawab membuat Sari merasa ada hal yang sengaja sahabatnya itu tutupi darinya. Ia pun melihat raut mendung yang tersirat dari mata Ajeng saat menatapnya.

“Kalau ada masalah, jangan terlalu bawa perasaan. Kasian debaynya,” Sari mencoba mencairkan suasana yang beku diantara mereka, "Aku juga turut berduka cita atas kepergian pak dhe. Beliau sangat baik."

"Terima kasih Sar. Bapak sudah tenang di alam sana," kembali mata Ajeng mengabur mengingat almarhum bapak yang telah pergi menghadap ilahi.

Ajeng masih terdiam. Ia tau, tidak mungkin dipertemuan pertama ini mereka langsung saling curhat. Apalagi permasalah rumah tangga, yang artinya membuka aib sendiri. Dan mereka bukan lagi remaja tanggung yang suka berbagi segalanya. Zaman berubah, setiap orang pun pasti berubah.

“Suamiku seorang pengasuh pondok pesantren. Aku sekarang hidup berpoligami dengan istri tua beliau,”  tanpa ditanya Ajeng, Sari langsung menceritakan kondisi rumah tangganya.

“Maafkan aku,” Ajeng merasa tidak enak hati mendengar suara Sari yang terdengar lirih.

Akhirnya mengalirlah cerita Sari tentang kehidupan rumah tangganya. Ia menikah dengan seorang ustadz di pondok pesantren. Setamatnya  SMA ia tidak melanjutkan kuliah karena ketiadaan biaya.

Selama menganggur, ia diajak bu de Wati kakak ayahnya untuk membantu di salah satu ponpes yang ada di Kediri. Hingga sang ustadz yang belum memiliki keturunan atas persetujuan istri tuanya meminang Sari untuk  menjadi madunya.

Tidak ingin berhutang budi pada bu de Wati, yang sudah menyekolahkannya selama ini, apalagi kedua orang tuanya telah tiada tanpa ada saudara kandung, akhirnya Sari menerima pinangan ustadz Zakri.

“Kamu bahagia?” rasa penasaran hinggap di pikiran Ajeng melihat Sari yang selalu mengulas senyum di bibirnya.

“Bahagia itu bisa kita ciptakan sendiri,” Sari berkata dengan bijak, “Tidak  pernah terbayang atau terbersit keinginanku untuk hidup bermadu. Tapi Allah berkehendak lain.”

“Bagaimana dengan keluarga mertuamu serta madumu?” rasa penasaran Ajeng semakin tinggi, sehingga melupakan kesedihan yang menggantung di benaknya.

“Alhamdulillah, semuanya sangat baik. Mereka mendukungku dan menyayangi Azka. Pak ustadz juga memberiku modal untuk usaha.”

Tampak suka cita di wajah Sari saat menceritakan keluarga besarnya. Aura positif yang dibawa Sari akhirnya menular juga pada Ajeng. Wajahnya yang mendung saat memasuki taman, kini mulai berseri.

“Aku gak tau permasalahanmu. Tapi aku yakin, kamu pasti tau cara untuk membahagiakan diri sendiri, walau tanpa harus keluar dari jalan syar’i .... “

“Ya bu ustadzah .... “ senyum manis kini terbit di wajah Ajeng mendengar ucapan Sari yang banyak memberikan nilai-nilai positif dalam hidupnya.

“Apa kegiatanmu sekarang?” melihat wajah  Ajeng yang mulai cerah membuat Sari penasaran dengan kehidupan temannya.

Dari penampilan fisik yang ia lihat, tampak bahwa cara berpakaian dan semua yang melekat di tubuh Ajeng adalah barang branded semua

“Seperti yang kau lihat,” Ajeng berkata perlahan.

“Aku yakin, suamimu seorang pejabat atau seorang pengusaha. Dan kamu wanita karier yang mapan, sesuai dengan cita-citamu waktu kita di bangku sekolah dulu.”

“Kamu selalu benar dalam menganalisa sesuatu,” puji Ajeng seketika, “Bagaimana kalau kita bekerja sama membuka usaha?”

“Hm .... “ senyum tipis terbit di bibir Sari, “Dasar otakmu dari dulu bisnis aja.”

“Hanya itu satu-satunya hal yang membuatku bahagia. Mengumpulkan uang yang banyak.”

“Bagaimana suamimu?” Sari akhirnya menanyakan keberadaan suami Ajeng. Ia tak bisa menahan penasaran lebih lama.

“Ia tugas di Jakarta  seorang  abdi negara,” Ajeng menjawab dengan lirih.

“Pantas aja tuh wajah kusut kayak setrikaan. Hilang cantiknya. Ternyata LDR tho .... “ Sari tersenyum begitu menyadari tentang kondisi rumah tangga sobatnya, “Yang sabar ya dek. Nanti pasti  ayah datang juga.”

“Terima kasih Sar. Bertemu denganmu telah membuka pemikiranku,” Ajeng berkata dengan tulus.

“Kayak orang lain aja. Kita itu dari dulu udah besti. Kalau ada apa-apa yang ingin dibicarakan, atau sekedar bernostalgia hubungi aja nomorku. Nanti  main ke pondok. Tak kenalin dengan suamiku dan keluarga besar kami.”

Keduanya saling bertukar nomor ponsel. Ajeng seperti mendapat spirit baru. Dari penampilan bersahaja temannya yang paling sederhana waktu SMP membuatnya memilki kekuatan untuk manapaki hari.

Bisma  masih mengikuti rapat dinas dengan pejabat DKI di kantor Gubernur. Tatapan matanya tertuju pada seorang perempuan yang berpakaian tertutup. Yang menjadi moderator selama diskusi terjadi.

Ponselnya berdering tanpa henti. Dengan cepat Bisma menon-aktifkan, karena mengganggu diskusi yang tampak alot.

Begitu ada jeda waktu  break, ia berjalan dengan cepat keluar.  Nada panggilan berhenti hanya pesan gambar.

Matanya terpukau melihat bayi mungil tergambar dengan emot love  yang dikirim Mayang.

“Permisi pak Bisma, anda di panggil karena rapat akan dimulai kembali,” perempuan yang tadi sempat mencuri perhatiannya kini berada tepat di hadapannya dan memintanya untuk mengikuti rapat kembali.

Tanpa membalas pesan gambar  Mayang, Bisma memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia mengikuti langkah gemulai perempuan yang ia ketahui bernama Deby untuk kembali ke ruang rapat..

Aroma parfum lembut Deby begitu memanjakan indera penciumannya. Bisma berusaha mengalihkan pikirannya dari Deby yang juga mulai mencuri-curi pandang padanya.

***Hayoo mulai main hati .... ***

Terpopuler

Comments

dewi

dewi

lek Yati saudaranya lek Sumi kah?... yg merawat bapak dan Dimas dikampung selepas ditinggal Ajeng bekerja..

2025-01-20

0

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

tu kan bisma udah mulai tergetar hatinya dg seorang perempuan....hmmm....kasian ajeng

2024-11-08

0

Ds Phone

Ds Phone

dah berkenan orang lain

2025-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Awal Mula
2 Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3 Bab 3 Mencoba Bertahan
4 Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5 Bab 5 Nasehat Sari
6 Bab 6 Memulai Usaha
7 Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8 Bab 8 Suami Tak Berhati
9 Bab 9 Mari Kita Berpisah
10 Bab 10 Nasehat Nurita
11 Bab 11 Curhat Ajeng
12 Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13 Bab 13 Resign
14 Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15 Bab 15 Amarah Bisma
16 Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17 Bab 17 Masa Lalu Deby
18 Bab 18 Sisi Lain Deby
19 Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20 Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21 Bab 21 Makan Siang Bersama
22 Bab 22 Ajeng Mendua?
23 Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24 Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25 Bab 25 Merasakan Cemburu
26 Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27 Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28 Bab 28 Ingin Mendekat
29 Bab 29 Marah Tak Beralasan
30 Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31 Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32 Bab 32 Kekesalan Ibnu
33 Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34 Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35 Bab 35 Usaha Deby
36 Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37 Bab 37 Kekecewaan Deby
38 Bab 38 Melanjutkan Rencana
39 Bab 39 Semakin Mendekat
40 Bab 40 Keisengan Bisma
41 Bab 41 Pengakuan Bisma
42 Bab 42 Kekecewaan Bisma
43 Bab 43 Siapa Pembelinya?
44 Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45 Bab 45 Curhat Hilman
46 Bab 46 Curhat Deby
47 Bab 47 Keinginan Rujuk
48 Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49 Bab 49 Kemarahan Ajeng
50 Bab 50 Penyesalan Bisma
51 51 Kesedihan Bisma
52 Bab 52 Keputusan Bisma
53 Bab 53 Kepergian Bisma
54 Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55 Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56 Bab 56 Perhatian Sigit
57 Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58 Bab 58 Pov Hilman
59 Bab 59 Pov Hilman2
60 Bab 60 Keinginan Hilman
61 Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63 Bab 63 Keputusan Ajeng
64 Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65 Bab 65 Terbiasa Sendiri
66 Bab 66 Prahara Duka Dewi
67 Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68 Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69 Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70 Bab 70 Dr. Fransiska
71 Bab 71 Lamaran Mayang
72 Bab 72 Tempat Tugas Baru
73 Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74 Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75 Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76 Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77 Bab 77 Kedatangan Bisma
78 Bab 78 Pernikahan Mayang
79 Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80 Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81 Bab 81 Bertemu Dimas
82 Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83 Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84 Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85 Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86 Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87 Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88 Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89 Bab 89 Rencana Wirya
90 Bab 90 Pengakuan Lala
91 Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92 Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93 Bab 93 Bertemu Teman Lama
94 Bab 94 Dewi Dipermalukan
95 Bab 95 Tetangga Baru
96 Bab 96 Bertemu Ibnu
97 Bab 97 Proposal Bisma
98 Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99 Bab 99 Dijemput Bisma
100 Bab 100 Ajakan Bisma
101 Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102 Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103 Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104 Bab 104 Cerita Mayang
105 Bab 105 Insiden Acara Mayang
106 Bab 106 Fakta Sebenarnya
107 Bab 107 Pov Bisma
108 Bab 108 Ancaman Bisma
109 Bab 109 Siasat Siska
110 Bab 110 Senjata Makan Tuan
111 Bab 111 Ajeng Opname
112 Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113 Bab 113 Over Dosis
114 Bab 114 Rencana Gugatan
115 Bab 115 Asisten Dadakan
116 Bab 116 Perasaan Bisma
117 Bab 117 Apa Mungkin?
118 Bab 118 Investigasi Bisma
119 Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120 Bab 120 Keberangkatan Bisma
121 Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122 Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123 Bab 123 Dilema Ajeng
124 Bab 124 Menuju Takdir
125 Bab 125 Lalat Pengganggu
126 Bab 126 Tiba-tiba Sah
127 Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128 Bab 128 Pov Bisma
129 Bab 129 Tugas Mendadak
130 Bab 130 Bisma Sakit
131 Bab 131 Perawat Spesial
132 Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133 Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134 Bab 134 Pamit Pulang
135 Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136 Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137 Bab 137 Makanan Pembuka
138 Bab 138 Kita Bikin Romantis
139 Bab 139 The Pillow Talk
140 Bab 140 Kekesalan Ajeng
141 Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142 Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143 Bab 143 Makanan Penutup
144 Bab 144 Kenekatan Siska
145 Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146 Bab 146 Keputusasaan Siska
147 Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148 Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149 Bab 149 Kedatangan Ajeng
150 Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151 Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152 Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153 Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154 Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155 Bab 155 Pengakuan Darmawan
156 Bab 156 Pelantikan Bisma
157 Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158 Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159 Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160 Bab 160 Ajeng Pingsan
161 Bab 161 Kabar Bahagia
162 Bab 162 Morning sickness
163 Bab 163 Kegundahan Bisma
164 Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165 Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166 Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167 Bab 167 Pesona Bumil
168 Bab 168 Persiapan Lahiran
169 Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170 Bab 170 Lahirnya Bisma Junior
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Bab 1 Awal Mula
2
Bab 2 Bersuami Rasa Janda
3
Bab 3 Mencoba Bertahan
4
Bab 4 Menangis Dalam Kesendirian
5
Bab 5 Nasehat Sari
6
Bab 6 Memulai Usaha
7
Bab 7 Diakah Yang Membuatmu Berubah?
8
Bab 8 Suami Tak Berhati
9
Bab 9 Mari Kita Berpisah
10
Bab 10 Nasehat Nurita
11
Bab 11 Curhat Ajeng
12
Bab 12 Nasehat Sari Yang Syarat Makna
13
Bab 13 Resign
14
Bab 14 Meninggalkan Semua Kesempurnaan
15
Bab 15 Amarah Bisma
16
Bab 16 Menginap di Kediaman Deby
17
Bab 17 Masa Lalu Deby
18
Bab 18 Sisi Lain Deby
19
Bab 19 Pertemuan Tak Terduga
20
Bab 20 Tidak Saling Mengenal
21
Bab 21 Makan Siang Bersama
22
Bab 22 Ajeng Mendua?
23
Bab 23 Deby Yang Tak Tau Diri
24
Bab 24 Berkunjung ke Tempat Ajeng
25
Bab 25 Merasakan Cemburu
26
Bab 26 Curhat Lelaki Dewasa
27
Bab 27 Apa Ini Rasanya Merindu?
28
Bab 28 Ingin Mendekat
29
Bab 29 Marah Tak Beralasan
30
Bab 30 Melihatmu Dengan Rasa Yang Berbeda
31
Bab 31 Selalu Ingin Dekat
32
Bab 32 Kekesalan Ibnu
33
Bab 33 Merindukan Saat Bersama
34
Bab 34 Curhat Membawa Kebaikan
35
Bab 35 Usaha Deby
36
Bab 36 Mulai Menyusun Rencana
37
Bab 37 Kekecewaan Deby
38
Bab 38 Melanjutkan Rencana
39
Bab 39 Semakin Mendekat
40
Bab 40 Keisengan Bisma
41
Bab 41 Pengakuan Bisma
42
Bab 42 Kekecewaan Bisma
43
Bab 43 Siapa Pembelinya?
44
Bab 44 Makan Siang Di Rumah Ajeng
45
Bab 45 Curhat Hilman
46
Bab 46 Curhat Deby
47
Bab 47 Keinginan Rujuk
48
Bab 48 Pembicaraan Serius Ajeng dan Hilman
49
Bab 49 Kemarahan Ajeng
50
Bab 50 Penyesalan Bisma
51
51 Kesedihan Bisma
52
Bab 52 Keputusan Bisma
53
Bab 53 Kepergian Bisma
54
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka
55
Bab 55 Ada Apa Dengan Hilman
56
Bab 56 Perhatian Sigit
57
Bab 57 Semua Masih Bisa Dibicarakan
58
Bab 58 Pov Hilman
59
Bab 59 Pov Hilman2
60
Bab 60 Keinginan Hilman
61
Bab 61 Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62 Pertemuan Ajeng dan Hilman
63
Bab 63 Keputusan Ajeng
64
Bab 64 Berakhir Sampai Di sini
65
Bab 65 Terbiasa Sendiri
66
Bab 66 Prahara Duka Dewi
67
Bab 67 Dendam Kesumat Dewi
68
Bab 68 Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri
69
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang
70
Bab 70 Dr. Fransiska
71
Bab 71 Lamaran Mayang
72
Bab 72 Tempat Tugas Baru
73
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang
74
Bab 74 Perempuan Pendamping Bisma
75
Bab 75 Satu Hari Bersama Ranti Family
76
Bab 76 Pembicaraan Ranti dan Nurita
77
Bab 77 Kedatangan Bisma
78
Bab 78 Pernikahan Mayang
79
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma
80
Bab 80 Kedatangan Tamu Istimewa
81
Bab 81 Bertemu Dimas
82
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan
83
Bab 83 Sarapan di Pagi Hari
84
Bab 84 Percakapan di Pagi Hari
85
Bab 85 Perjuangan Belum Berakhir
86
Bab 86 Masih Jauh Api Dari Panggang
87
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang
88
Bab 88 Tetap Semangat Jangan Kasi Kendor
89
Bab 89 Rencana Wirya
90
Bab 90 Pengakuan Lala
91
Bab 91 Langkah Pertama Bisma
92
Bab 92 Gila Talak Gila Rujuk
93
Bab 93 Bertemu Teman Lama
94
Bab 94 Dewi Dipermalukan
95
Bab 95 Tetangga Baru
96
Bab 96 Bertemu Ibnu
97
Bab 97 Proposal Bisma
98
Bab 98 Ulang Tahun Bisma
99
Bab 99 Dijemput Bisma
100
Bab 100 Ajakan Bisma
101
Bab 101 Mantan-Mantan Terindah
102
Bab 102 Kejutan Manis Bisma
103
Bab 103 Tamu Tak Tau Diri
104
Bab 104 Cerita Mayang
105
Bab 105 Insiden Acara Mayang
106
Bab 106 Fakta Sebenarnya
107
Bab 107 Pov Bisma
108
Bab 108 Ancaman Bisma
109
Bab 109 Siasat Siska
110
Bab 110 Senjata Makan Tuan
111
Bab 111 Ajeng Opname
112
Bab 112 Mantan Yang Bertanggung Jawab
113
Bab 113 Over Dosis
114
Bab 114 Rencana Gugatan
115
Bab 115 Asisten Dadakan
116
Bab 116 Perasaan Bisma
117
Bab 117 Apa Mungkin?
118
Bab 118 Investigasi Bisma
119
Bab 119 Kunjungan Rekan Seperjuangan
120
Bab 120 Keberangkatan Bisma
121
Bab 121 Kedatangan Dari Tanah Suci
122
Bab 122 Usaha Pak De Susilo
123
Bab 123 Dilema Ajeng
124
Bab 124 Menuju Takdir
125
Bab 125 Lalat Pengganggu
126
Bab 126 Tiba-tiba Sah
127
Bab 127 Insiden di Tengah Malam
128
Bab 128 Pov Bisma
129
Bab 129 Tugas Mendadak
130
Bab 130 Bisma Sakit
131
Bab 131 Perawat Spesial
132
Bab 132 Membangunkan Macan Tidur
133
Bab 133 Klarifikasi Ajeng
134
Bab 134 Pamit Pulang
135
Bab 135 Semua Tentang Rasa (POV Bisma)
136
Bab 136 Romantisme Di Siang Menjelang ....
137
Bab 137 Makanan Pembuka
138
Bab 138 Kita Bikin Romantis
139
Bab 139 The Pillow Talk
140
Bab 140 Kekesalan Ajeng
141
Bab 141 Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu ....
142
Bab 142 Aqiqahan Baby Queena
143
Bab 143 Makanan Penutup
144
Bab 144 Kenekatan Siska
145
Bab 145 Sekali Tepuk, Dua Nyamuk Langsung Koit
146
Bab 146 Keputusasaan Siska
147
Bab 147 Kehancuran Wirya Di Depan Mata
148
Bab 148 Linda Menemukan Bukti
149
Bab 149 Kedatangan Ajeng
150
Bab 150 Percakapan Serius di Tengah Malam
151
Bab 151 Akhir Perjalanan Siska
152
Bab 152 Pertemuan Tak Terduga
153
Bab 153 Menghadiri Undangan Tasyakuran
154
Bab 154 Siapa Lelaki Itu?
155
Bab 155 Pengakuan Darmawan
156
Bab 156 Pelantikan Bisma
157
Bab 157 Berbagi Bahagia Dalam Kebersamaan
158
Bab 158 Mayang Bertemu Rudi
159
Bab 159 Percakapan Dua ‘Jones’
160
Bab 160 Ajeng Pingsan
161
Bab 161 Kabar Bahagia
162
Bab 162 Morning sickness
163
Bab 163 Kegundahan Bisma
164
Bab 164 Bisma Suntuk, Guntur Yang Sibuk
165
Bab 165 Ngidam Yang Aneh
166
Bab 166 Rindu Yang Tertahan
167
Bab 167 Pesona Bumil
168
Bab 168 Persiapan Lahiran
169
Bab 169 Mantan-Mantan Terindah
170
Bab 170 Lahirnya Bisma Junior

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!