6. Sang Pengasuh

Mila yang melihat rajuk menggemaskan dari Aziel akhirnya memilih untik bangkit.

"Aziel marah?" Membelai rambut Aziel yang memasang wajah manyun.

Anak laki-laki itu hanya diam tertunduk tidak mau mengangkat kepala melihat Mila.

"Jika baju ini Mama ganti, untuk jadi yang terakhir kali ya?" pinta Mila kembali.

Aziel mengangkat kepalanya dan mengangguk. Wajahnya kembali sumringah menyandarkan tubuhnya dengan manja dalam pelukan Mila.

"Kalau begitu, Mama ganti baju dulu."

Aziel melepaskan diri membiarkan orang yang dipanggilnya dengan Mama itu masuk ke kamar dan kembali mengganti pakaian. Setelah berganti, pakaian kali ini membuat dirinya menjadi lebih leluasa bergerak dibanding yang tadi. Kali ini ia memakai dress selutut, terlihat sangat manis pada tubuh mungilnya.

Setelah itu, Mila memungut pakaian-pakaian yang berserakan di dalam kamar yang sangat luas itu. Ia merapikan dan melipatnya dengan baik, lalu dimasukkan kembali ke dalam lemari.

Mila keluar dari kamar tersebut. Arsen baru saja pulang dari pekerjaan, terpana seakan melihat seseorang yang meninggalkannya lima tahun yang lalu. Kini tampak berlalu lalang keluar masuk di kamarnya, menggunakan baju istrinya. Arsen menggelengkan kepala dengan cepat.

"Apa yang kau lakukan?" hardiknya.

Mila terperenjat mendengar teriakan pria itu. Ia menundukkan kepala merasa takut karena jelas teringat olehnya, Arsen memberi peringatan untuk tidak boleh keluar masuk di kamarnya.

Arsen berjalan dengan hentakan kaki berat. Ia berdiri tepat di hadapan wanita yang sengaja diberi nama Mila ini, agar dia tidak bingung bila memanggilnya nanti.

"Apa kau tidak mendengarkan peringatanku? Jangan masuk ke kamarku lagi! Ini bukan kamar umum!"

"Ma-maafkan aku, Tuan. A-aku tadi—"

Tiba-tiba, bocah lelaki yang memiliki bermata coklat, mirip istrinya Jovita, berdiri merentangkan tangan tepat di hadapan Mila.

"Papa nggak boleh marahin Mama!" Kali ini bocah lima tahun itu yang berteriak dengan sangat lantang di hadapan Arsen.

"Apa yang kalian lakukan pada pakaian mendiang istriku? Bukankah sudah jelas larangan yang aku beri? Jangan sentuh pakaian itu!" Suaranya menggelegar, membuat semua yang mendengar merasakan sakit, apalagi di telinga.

"Aziel yang minta Mama untuk memakai baju ini! Jangan marahin Mama, Pa." Aziel mulai terisak karena ia pun mulai takut pada sang ayah.

Mia berjongkok dan memeluk Aziel. "Sudah, jangan menangis. Mama tidak apa kok—"

"Jangan sebut dirimu mamanya! Kau bukan siapa-siapa! Kau tak akan pernah sebanding dengan istriku, Jovita!" Arsen berjalan masuk ke dalam kamarnya. Pintu tersebut dihempaskan hingga membuat Mila dan Aziel terkejut.

"Mama jangan takut, ya? Ada Aziel yang akan jagain Mama dari Papa." Aziel merangkul Mila dengan tangan kecilnya.

Mila menganggukkan kepala dan bangkit. Ia melihat pakaian yang entah sudah keberapa kali diganti atas permintaan Aziel. Ia tidak memiliki pakaian, selain piyama rumah sakit yang ia kenakan kemarin.

Saat berjalan menuju ke bagian luar, ternyata, banyak sekali bungkusan besar di atas meja di ruang tamu. Mata Aziel membulat dan menarik Mila untuk mendekati benda itu.

"Ini pasti dibawakan Papa." Tanpa permisi bocah itu mengeluarkan isi dari bungkusan butik tersebut.

Aziel membuka bibirnya dengan bentuk bulat. "Ini kayaknya baju buat Mama." Aziel menyerahkan semua kepada Mila.

"Ah, tidak mungkin. Ini mungkin buat yang lain," ucap Mila memasukkannya kembali ke dalam kantong. Banyak sekali pakaian perempuan yang dibeli oleh Arsen lengkap beserta dengan onderdilnya. Akan tetapi, mereka tidak tahu pakaian itu untuk siapa.

Saat makan malam, Mila telah memakai piyama rumah sakit yang sudah dicucikan oleh asisten rumah ini. Arsen mengerutkan keningnya.

"Kenapa kamu pakai baju itu?"

Mila menunduk dengan wajah takut. "A-aku cuma punya ini."

"Bukan kah aku sudah membelikan pakaian buatmu? Semuanya buat kamu! Jangan pakai baju istriku lagi!"

Mila masih menunduk, dia tidak tahu harus berkata apa.

"Malam ini kamu tidur di kamar tamu! Setelah itu kamu boleh pergi sebelum aku berubah pikiran." Lalu Arsen melihat ke arah Aziel yang diam dengan wajah murungnya.

"Aziel, kamu harus tahu bahwa Papa tidak mau, jika kamu menyerahkan benda peninggalan mamamu kepada orang lain. Apalagi dia itu hanya lah orang asing!"

"Mama Mila itu mamanya Aziel, Pa," rajuk bocah itu.

"Dia bukan mamamu! Dia itu hanya orang asing! Mamamu itu namanya Jovita! Bukan Mila, atau siapa pun!"

Aziel menunduk dan turun dari kursi. Ia belum memakan satu apa pun, berjalan menuju kamarnya. Mila mengejar Aziel dan ikut masuk ke dalam kamar anak itu.

"Papamu benar Aziel, Mama ini bukan mamamu. Kamu harus tahu, agar kamu tidak salah sampai kamu dewasa nanti."

Aziel sesegukan memeluk Mila. "Mama jangan pergi. Kalau Mama pergi, Aziel juga mau ikut."

Mila memeluk Aziel dalam diam seribu bahasa. Ia sendiri bingung harus pergi ke mana.

"Mama, jangan pergi ya? Pliiiss, Mama jangan dengerin Papa. Papa itu jahat," rengek bocah 5 tahun itu.

"Iya, Sayang. Kita lihat nanti saja ya? Mama juga tidak tahu harus pergi ke mana. Bahkan, Mama tidak tahu harus mencari siapa," terang Mila.

Tanpa mereka ketahui, di luar kamar Aziel, Arsen mendengar obrolan dua orang tersebut. Hati Arsen luluh dengan tangisan Aziel yang takut kehilangan Mila.

Arsen menarik gagang pintu, dan mengintip tanpa melihat ke arah mereka. "Mila, kau boleh tinggal di sini, tapi sebagai pengasuh anakku." Lalu ia menutup kembali pintu tanpa menunggu jawaban.

"Horeeee! Mama tinggal di sini saja ya?" pinta Aziel kembali.

Arsen memasang wajah datar, meski mendengar sorak gembirang anaknya. Rautnya yang cukup kaku, perlahan mengendor, ia menghela napas menggeleng beberapa kali. Mulai hari ini, Mila resmi menjadi pengasuh yang dipanggil Mama, untuk Aziel.

*

*

*

Tiga bulan kemudian, Axel terbangun dari tidurnya. Ia segera menuju kamar mandi.

"Huweeek, huwweeekk, huuweeeek."

Ia memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Hal ini telah terjadi semenjak beberapa hari belakangan. Setelah menyudahi hajatnya itu, sang ibu telah berada di belakangnya.

"Kamu kenapa? Kenapa seperti wanita hamil, mual setiap pagi?"

Axel hanya diam, tak menganggap sang ibu ada. Seluruh tenaganya terkuras setiap usai muntah.

"Sampai kapan kamu begini sama Mama? Sudah tiga bulan kamu mendiamkan Mama," ucap sang ibu keluar dari kamarnya.

Ia kembali teringat pada istrinya yang telah masuk daftar korban kecelakaan pesawat tiga bulan lalu. Dengan perasaan bimbang, antara percaya dan tidak, ia masih mengharapkan istrinya itu masih hidup dan kembali berjumpa dengannya.

"Sayang, jika kamu di sini bersamaku, mungkin saat ini kita sedang menikmati indahnya berita berita tentang kehamilanmu. Kamu di mana? Berikan aku petunjuk."

Saat sore hari, setelah pulang dari kantor, Axel singgah pada sebuah super market. Ia ingin membeli sesuatu yang ia butuhkan.

"Mama, Mama, ini Ma ... Aziel mau ini."

Mata Axel refleks menatap anak kecil yang terlihat ceria menarik benda yang diinginkannya di hadapan seorang wanita.

Namun, alangkah terkejutnya ia melihat siapa wanita yang dipanggil Mama oleh anak kecil itu.

"Sayang?"

Terpopuler

Comments

FieAme

FieAme

3 bln kmudian?

2023-04-11

0

lihat semua
Episodes
1 1. Aku Ini Menantu, Bukan Babu
2 2. Diusir Mertua
3 3. Diselamatkan atau Dikorbankan?
4 4. Pergi Kau Orang Jahat!
5 5. Sebuah Nama Baru
6 6. Sang Pengasuh
7 7. Seseorang Berwajah Sama
8 8. Apakah Dia Hamil?
9 9. Periksa Keadaan
10 10. Tak Pernah Datang Bulan
11 11. Pertemuan Kembali
12 12. Bertemu Mantan
13 13. Anak Kecil yang Menyelinap
14 14. Mencari Aziel
15 15. Dua Mama
16 16. Menjadi Tersangka
17 17. Keanehan Keluarga Ini
18 18. Sebuah Kasus Klient Baru
19 19. Arsenio Wijaya
20 20. Pasien Baru
21 21. Calon Mangsa Baru
22 22. Pemulung Belia
23 23.
24 24. Aziel Anakku
25 25. Mabuk Kendaraan
26 26. Sengaja Menjebak Arsen
27 27. Anakku Bukan Anak Haram
28 28. Akting
29 29. Penyelamatan
30 30. Menggoda Istri Orang
31 31. Aku Bukan Duda
32 32. Mama Aziel yang Sebenarnya
33 33. Laporan yang gagal
34 34. Jatuhnya Harga Diri Arsen
35 35. Ngidam Bareng
36 36. Cincin di Jemari Mila
37 37. Brigpol Luki
38 38. Misi Penyamaran
39 39. Mundur
40 40. Tempat Bercerita
41 41. Bukan Seperti yang Dikira
42 42. Bertahanlah!
43 43. Antara Axel dan Mila
44 44. Menyelamatkan Axel
45 45. Penggeledahan
46 46. Secarik Kertas
47 47. Hilang Kembali
48 48. Menyusun Puzzle
49 49. Interogasi
50 50. Permintaan
51 51. Jangan Hin4 Istriku
52 52. Plus Enam Dua
53 Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi Yang Merayakan
54 53. Cerita Axel dan Liani
55 54. Aku akan Menjemputmu
56 55. Arsen vs Axel
57 56. Akhirnya Bisa Memelukmu Kembali
58 57. Kamu adalah Istriku
59 58. Getaran Cinta
60 59. Permintaan Arsen
61 60. Hadiah Terbesar (Rahasia Arsen)
62 61. Perjuangan Mendapatkan Aziel
63 62. Perselisihan Axel dan Aziel
64 63. Obat Sakit Kepala
65 64. Pamit
66 65. Maafkan, Papa!
67 66. Pelarian
68 67. Menidurkan Aziel
69 68. Celoteh Aziel
70 69. Proses Terbentuknya Bayi
71 70. Terpaksa Kembali ke Rumah Mertua
72 71. Komisi Perlindungan Anak
73 72. Surat Edaran
74 73. De Javu
75 74. Rumah Baru
76 75. Sekali Babu tetap Babu
77 76. Kasus Dokter Diki, Selesai
78 77. Waktunya untuk Meninggalkan Rumah Ini
79 78. Hukuman
80 79. Ditinggal Sendiri
81 80. Arsen Kabur
82 81. Kabar Arsen Kabur
83 82. Mana Aziel?
84 83. Hilang
85 84. Mencari Aziel
86 85. Mengejar Para Penculik
87 86. Kesedihan dalam Diam
88 87. Aziel Tidak Bisa Tidur
89 88. Pembalasan Sang Ayah
90 89. Ikatan Batin Ayah dan Anak
91 90. Rasa Iri Ayah Kandung
92 91. Merindukan Keluarga
93 92. Perdebatan Calon Adik
94 93. Data Orang Tua Kandung
95 94. Abang
96 95. Aksi Film Mafia
97 96. Live Streaming Toktok
98 97. Menjemput Masa Lalu
99 98. Tentang Orang Tua Yuvi
100 99. Foto Masa Lalu
101 100. Aziel & Thifa
102 101. Snow White vs Kaisar Perang
103 102. Awal Cinta Virtual
104 103. Telepon untuk Pertama Kali
105 104. Kecengan Baru
106 105. Mengikatmu dengan Benang Merah
107 106. Video Call
108 107. Tukang Ancam
109 108. Surat Cinta Adik Kelas
110 109. Feli
111 110.Salah Paham
112 111. Yuvi vs April
113 112. Paket Gratis
114 113. Berusaha Menghubungi
115 114. Seorang Lelaki
116 115. Pasangan Bucin
117 116. Upin Ipin vs Kak Ros
118 117. Ibu Jatuh Sakit
119 118. Sidang Kompre
120 119. Putus dan Pergi
121 120. Nyonya Hong
122 121. Fatamorgana
123 122. Mas, Aku Kangen
124 123. Pertemuan Tak Terduga
125 124. Pemalu
126 125. Menikmati Malam Berdua
127 126. Kembali Berpisah
128 127. Kejutan
129 128. Memancing Kedatangan Kekasih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
1. Aku Ini Menantu, Bukan Babu
2
2. Diusir Mertua
3
3. Diselamatkan atau Dikorbankan?
4
4. Pergi Kau Orang Jahat!
5
5. Sebuah Nama Baru
6
6. Sang Pengasuh
7
7. Seseorang Berwajah Sama
8
8. Apakah Dia Hamil?
9
9. Periksa Keadaan
10
10. Tak Pernah Datang Bulan
11
11. Pertemuan Kembali
12
12. Bertemu Mantan
13
13. Anak Kecil yang Menyelinap
14
14. Mencari Aziel
15
15. Dua Mama
16
16. Menjadi Tersangka
17
17. Keanehan Keluarga Ini
18
18. Sebuah Kasus Klient Baru
19
19. Arsenio Wijaya
20
20. Pasien Baru
21
21. Calon Mangsa Baru
22
22. Pemulung Belia
23
23.
24
24. Aziel Anakku
25
25. Mabuk Kendaraan
26
26. Sengaja Menjebak Arsen
27
27. Anakku Bukan Anak Haram
28
28. Akting
29
29. Penyelamatan
30
30. Menggoda Istri Orang
31
31. Aku Bukan Duda
32
32. Mama Aziel yang Sebenarnya
33
33. Laporan yang gagal
34
34. Jatuhnya Harga Diri Arsen
35
35. Ngidam Bareng
36
36. Cincin di Jemari Mila
37
37. Brigpol Luki
38
38. Misi Penyamaran
39
39. Mundur
40
40. Tempat Bercerita
41
41. Bukan Seperti yang Dikira
42
42. Bertahanlah!
43
43. Antara Axel dan Mila
44
44. Menyelamatkan Axel
45
45. Penggeledahan
46
46. Secarik Kertas
47
47. Hilang Kembali
48
48. Menyusun Puzzle
49
49. Interogasi
50
50. Permintaan
51
51. Jangan Hin4 Istriku
52
52. Plus Enam Dua
53
Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi Yang Merayakan
54
53. Cerita Axel dan Liani
55
54. Aku akan Menjemputmu
56
55. Arsen vs Axel
57
56. Akhirnya Bisa Memelukmu Kembali
58
57. Kamu adalah Istriku
59
58. Getaran Cinta
60
59. Permintaan Arsen
61
60. Hadiah Terbesar (Rahasia Arsen)
62
61. Perjuangan Mendapatkan Aziel
63
62. Perselisihan Axel dan Aziel
64
63. Obat Sakit Kepala
65
64. Pamit
66
65. Maafkan, Papa!
67
66. Pelarian
68
67. Menidurkan Aziel
69
68. Celoteh Aziel
70
69. Proses Terbentuknya Bayi
71
70. Terpaksa Kembali ke Rumah Mertua
72
71. Komisi Perlindungan Anak
73
72. Surat Edaran
74
73. De Javu
75
74. Rumah Baru
76
75. Sekali Babu tetap Babu
77
76. Kasus Dokter Diki, Selesai
78
77. Waktunya untuk Meninggalkan Rumah Ini
79
78. Hukuman
80
79. Ditinggal Sendiri
81
80. Arsen Kabur
82
81. Kabar Arsen Kabur
83
82. Mana Aziel?
84
83. Hilang
85
84. Mencari Aziel
86
85. Mengejar Para Penculik
87
86. Kesedihan dalam Diam
88
87. Aziel Tidak Bisa Tidur
89
88. Pembalasan Sang Ayah
90
89. Ikatan Batin Ayah dan Anak
91
90. Rasa Iri Ayah Kandung
92
91. Merindukan Keluarga
93
92. Perdebatan Calon Adik
94
93. Data Orang Tua Kandung
95
94. Abang
96
95. Aksi Film Mafia
97
96. Live Streaming Toktok
98
97. Menjemput Masa Lalu
99
98. Tentang Orang Tua Yuvi
100
99. Foto Masa Lalu
101
100. Aziel & Thifa
102
101. Snow White vs Kaisar Perang
103
102. Awal Cinta Virtual
104
103. Telepon untuk Pertama Kali
105
104. Kecengan Baru
106
105. Mengikatmu dengan Benang Merah
107
106. Video Call
108
107. Tukang Ancam
109
108. Surat Cinta Adik Kelas
110
109. Feli
111
110.Salah Paham
112
111. Yuvi vs April
113
112. Paket Gratis
114
113. Berusaha Menghubungi
115
114. Seorang Lelaki
116
115. Pasangan Bucin
117
116. Upin Ipin vs Kak Ros
118
117. Ibu Jatuh Sakit
119
118. Sidang Kompre
120
119. Putus dan Pergi
121
120. Nyonya Hong
122
121. Fatamorgana
123
122. Mas, Aku Kangen
124
123. Pertemuan Tak Terduga
125
124. Pemalu
126
125. Menikmati Malam Berdua
127
126. Kembali Berpisah
128
127. Kejutan
129
128. Memancing Kedatangan Kekasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!