Stetoskop 19, Menyimpan cerita

dokter Raz dilarikan ke Rumah Sakit setempat, setelah melalui dua bulan perjalanan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Beliau merasakan sakit seluruh badan bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sudah tiga hari kurang fit dan meminum obat. Makin hari merasakan kedinginan dan demam, bukannya makin membaik, justru makin berlanjut dan tambah parah di sore ini.

Akhirnya tim memutuskan untuk membawa dokter Raz ke Rumah Sakit, dalam perjalanan, dokter Raz tiba-tiba merasakan seluruh badannya terasa sakit. Sakitnya seperti pegal tapi ga hilang-hilang, bahkan nyeri sampai ke tulang dan persendian. Demam tinggi hingga 39 derajat.

Nafsu makannya sejak tadi pagi sudah hilang total, bahkan untuk minum air saja sulit karena perut terasa mual sekali.

Setelah cek laboratorium, ternyata trombositnya hanya 60.000. Langsung diputuskan untuk rawat inap. Bahkan dihari kedua turun lagi hingga 15.000.

dokter yang merawat juga sudah mempersiapkan tindakan transfusi darah jika trombosit terus turun diangka 10.000. Beliau juga tidak boleh menyikat giginya untuk menghindari pendarahan. Karena jika terjadi pendarahan, bisa fatal akibatnya.

dokter Raz tidak memberikan kabar berita beliau dirawat ke keluarga karena khawatir keluarga jadi panik. Sekarang beliau dan tim ada di pulau Kalimantan. Kegiatan terus berjalan meskipun dokter Raz tidak ikut rombongan tim. Nanti jika sudah diijinkan keluar dari Rumah Sakit, dokter Raz akan langsung menyusul tim untuk bergabung kembali.

Pada hari ketiga, trombositnya mulai naik, sesuai dengan pola pelana kuda demam berdarah dengue. dokter Raz baru diperbolehkan pulang di hari keenam, dalam kondisi yang masih lemas tapi sudah bisa jalan seperti biasa. Matanya celong karena lumayan turun berat badannya sampai lima kilogram. dokter Raz didampingi oleh salah satu supir Rumah Sakit menuju Bandara karena dia akan langsung terbang menuju Sulawesi Utara, tempat timnya sekarang berada.

"dok.. inget ga kalo jaman dulu ada tuh iklan layanan masyarakat tentang demam berdarah, digambarkan penderitanya dari keluarga yang ada di tempat tinggal yang kumuh, banyak genangan air .. ya pokoknya yang ga bersih deh. dokter Raz kan tinggal di Hotel, kenapa bisa kena ya dok?" tanya supir Rumah Sakit.

"Well, that’s not the case anymore. Iklan layanan ga seperti kenyataan. Lingkungan kita yang tampaknya bersih pun, ga bisa menjamin seratus persen aman dari nyamuk. Karena si nyamuk yang ada tanda belang putih di kakinya (Aiedes aegypti) akan terinfeksi ketika dia menghisap darah seseorang yang terinfeksi virus Dengue. Terus nyamuk itu mengigit kita" papar dokter Raz.

"Terus gimana dok biar ga kena DBD?" tanya sang supir.

"Ga kena seratus persen pun saya ga bisa jamin ya, tapi paling ga kita ada tindakan preventif. Kalo ada wadah air disekitar rumah, bersihkan dengan teratur biar nyamuk nggak bertelur disana. Bisa juga dengan pengasapan (fogging) dan semprotkan obat nyamuk agar nyamuk dewasa terbasmi. Terus kalo demam bersiklus, misalnya hari ini demam besok ngga, terus tiga hari kemudian demam, langsung ke dokter biar cek laboratorium" jelas dokter Raz.

"dokter Raz enak ya.. ga usah ke dokter kalo tau gejalanya.. tau sakit apa dan obatnya gimana" lanjut sang supir.

"Ya ga gitu juga.. saya sudah minum obat, tapi saatnya ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pengobatan ya kesana jugalah. Ga mungkin saya menginfus diri sendiri" jawab dokter Raz.

.

Kedua anaknya dokter Raz memang sudah curiga, seperti ada sesuatu yang terjadi terhadap Ayahnya karena menolak video call sudah seminggu ini. Biasanya dokter Raz yang meminta untuk video call agar melihat wajah anak-anak sebagai pelepas rindu. Tapi dokter Raz selalu beralasan sedang bersama orang penting jadi tidak bisa video call.

🌿

"Hana.. gimana hubungan kamu sama dokter Raz?" tembak Bapaknya Hana.

"Ya ga gimana-gimana Pak.. begini aja" jawab Hana.

"Kalo memang kamu merasa keberatan dan ga nyaman sama perkenalan ini, baiknya diputuskan sebelum dokter Raz balik ke Jakarta. Jangan menggantung harapannya" pinta Bapak.

"Pak.. dokter Raz aja kasih waktu sampai beliau balik ke Jakarta, jadi kita tunggu bersama nanti jadinya kaya gimana" ucap Hana.

"Tapi Ibu ga enak Han.. udah banyak yang bilang kalo kamu suka diajak pergi sama keluarga dokter, mentang-mentang janda jadinya bebas pergi kemana aja" kata Ibu.

"Ibu kan tau.. Hana pergi selalu ajak Nabila dan itu juga pergi sama keluarga dokter Raz. Sekedar menemani anak-anak nonton atau jalan-jalan cari hiburan" ujar Hana.

"Ga usah banyak dengerin omongan tetangga Bu.. dimata mereka, kita ga akan pernah benar meskipun kita sudah mencoba hidup sesuai norma yang berlaku" saran Bapak.

"Bapak banyak di rumah aja, nih Ibu yang ketemu tiap arisan.. tiap ke warung.. asyik aja ngomongin tentang Hana" adu Ibu.

"Ngomongin apa lagi Bu?" tanya Hana.

"Katanya liat kamu di Klinik sama laki-laki brengsek itu... janjian ya?" tukas Ibu kesal.

"Ya Allah.. dia lagi sama istrinya, kebetulan mereka ada didekat Klinik saat istrinya pendarahan" tutur Hana.

"Oh udah kawin.. kirain masih kumpul kebo" nyinyir Ibu.

"Bu.. ga baik ngomong begitu" ingat Bapak.

"Kenyataannya kan!!!" kata Ibu ga mau kalah.

"Pak.. Bu.. tau kalo mertua Hana meninggal?" tanya Hana.

"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. kapan? kok ga ada yang kasih tau" jawab Bapak.

"Kata Bang Hari.. tapi belum jelas Pak.. nanti kalo ketemu lagi Hana tanya makamnya dimana" kata Hana.

"Ehhhh... ga ada ya ketemu dia lagi.. biarin aja orang tuanya ga ada.. udah mantan ini" oceh Ibu.

Hana dan Bapaknya memilih diam, Ibu-ibu kalo udah ngoceh itu kaya bajaj.. ga ada rem, pilihan terbaik adalah diam.

🍒

"dok.. biasanya jaga malam kaya gini, pasti mojok buat video call atau teleponan.. kayanya udah sebulan ini ngga kaya gitu.. lagi berantem yaaa.." ledek perawat.

"Berantem sama siapa?" tanya dokbar.

"Itu cewe yang waktu itu ketemu di Mall" sahut perawat.

"Oh.. " jawab dokbar.

"Oh doang? itu pacar kan dok?" tanya perawat penasaran.

"Tau nih dok.. diumumin gitu kalo dah punya pacar. Biar para perawat sama para dokter umum yang standby di ruang rawat jadi ga bertanya-tanya statusnya dokbar lagi. Kita-kita nih yang di IGD selalu jadi sasaran bertanya" saran perawat yang lain.

"Malam-malam malah ngegosip... mending ngopi di pos security, mereka mah paham kalo duduk disana pasti ditawarin kopi sama gorengan. Ga kaya disini, ngegoreng kisah saya yang ga jelas sumber beritanya dan kebenarannya.. " sindir dokbar datar.

"Sensi amat dok.. belum cair jasmed (jasa medis)?" perawat menduga dokbar sedang becanda.

dokbar langsung melangkahkan kakinya ke pos security samping, letaknya tidak jauh dari IGD.

"kehilangan selera humor karena cinta" kata perawat.

"Kalo liat cewe yang waktu itu di Mall.. kayanya emang ga cocok. Tipe cewek agresif, kaya, pintar dan ga bisa diajak susah" nilai perawat yang lain.

"Lah.. gw juga kalo lahir kaya juga ga mau diajak hidup susahlah.. secara udah mah cantik, modelan kaya gitu banyak yang rebutan ngelamar pastinya. dokbar kan masih dokter umum, masih jaga IGD lagi.. ga cukup kali buat beli bedak sama parfumnya tuh cewe" sahut lainnya.

"Ini cewe-cewe udah kehabisan pekerjaan atau gimana nih? enak beut ngomongin dokbar. Kita ga tau apa yang lagi ada dipikirannya. Pengertian dikit dong sama dokter jaga disini, mereka kan rata-rata juga praktek di tempat lain. Kali lagi ada masalah sama tempat kerja yang lain. Jangan nilai tiap cowo galau itu karena cewe doang. Heloooo... cewe itu jumlahnya lebih banyak di dunia ini dibandingkan cowo.. jadi besar kemungkinan kita kaum adam pasti dapat satu hawa.. tapi kaum hawa belum tentu dapat satu kaum adam.. catetttt" perawat lelaki protes.

"dok... tolong dok.. tolong...." teriak pendamping pasien.

"Pasiennya dimana Pak?" tanya perawat yang langsung gercep menghampiri.

"Di mobil.. bawa tempat tidur Mas.. ga bisa jalan" pinta pendamping pasien.

Brankar ditarik, dokbar yang melihat ada mobil berhenti didepan IGD langsung sigap berlari menuju IGD. Dia langsung menghampiri pasien.

"Malam.. keluhannya apa?" sapa dokbar.

Pasien mengaduh kesakitan. Yang mendampingi mengusap kepalanya pasien dengan penuh kasih sayang.

"Apa yang Bapak rasakan?" tanya dokbar.

"Tolong dok.. sakit" jawab pasien sambil meringis kesakitan.

"Kenapa ini?" tanya dokbar lagi.

"Nyangkut dok..." bisik pendamping pasien.

"Apa yang nyangkut?" tanya dokbar makin ga paham.

Dibukanya sarung yang dikenakan oleh pasien sesuai instruksi dari pendamping pasien.

"Sejak kapan?" tanya dokbar sambil melihat kebagian belakang tubuh pasien.

"Dari tadi pagi dok. Udah berusaha nyabut, terus minum obat pencahar, ga keluar juga. Katanya mules doang tapi ga ada dorongan buat bisa ngeluarin alat itu" jelas pendamping pasien.

dokbar keluar dari bilik periksa dan menuju tempat alat-alat kemudian memisahkan dalam satu wadah, meminta bantuan perawat lelaki untuk menyiapkan tindakan.

Pria berusia empat puluh tahunan ini

menceritakan bahwa dia secara sadar telah memasukkan Mr P palsu sepanjang tiga puluh tiga centimeter kedalam tubuhnya sendiri karena sedang berantem sama "pacarnya" dan ingin memuaskan dirinya yang sudah lama tidak ketemu dengan kekasih hatinya.

Sebelum akhirnya meminta bantuan tim medis, pasien menjelaskan tindakan apa saja yang sudah berusaha untuk mengeluarkan alat tersebut. Sedari siang berusaha merogoh langsung kebagian dalam, mengkonsumsi obat pencahar bahkan meminta bantuan "pacarnya", semuanya nihil.

dokbar meminta pasien untuk di rontgen terlebih dahulu untuk melihat posisi alat sehingga akan dipertimbangkan apa bisa dilakukan tindakan di IGD.

dokbar juga meminta foto rontgen segera dikirim ke IGD (dalam kondisi darurat bisa langsung diserahkan ke dokter jaga tanpa dibaca terlebih dahulu oleh dokter radiologi).

dokbar melihat hasil dan menjelaskan sekilas kepasangannya pasien.

"Cepet dok.. perut rasanya sakit banget" keluh pasien.

dokbar memakai apron medis untuk tindakan medis, kemudian memakai sarung tangan latex hingga tiga lapis. Bruder yang mendampingi juga memakai pakaian yang sama.

Penanganan pun mulai dilakukan. Obat pencahar digunakan kembali. dokbar menjelaskan bahwa mainan tersebut terbilang jenis yang soft dan ukurannya panjang sehingga sudah agak mendekat kearah usus karena proses mengeluarkan alat oleh pasien sendiri membuat alat jadi makin masuk kedalam. Jika penanganan di IGD tidak berhasil maka harus melalui tindakan operasi di kamar bedah.

dokbar pernah membantu tindakan untuk pasien dengan kasus seperti ini saat dulu masih di stase kulit dan kelamin.

dokbar mencoba kreatif dengan pemasangan kawat melalui kateter untuk menciptakan semacam "jerat" yang diharapkan bisa terkail ke mainan tersebut dan mengeluarkannya secara perlahan. Kawat dimasukkan ke tubuh pasien bagian bawah, dengan ujung kawat yang membungkus mainan, secara perlahan ditarik hingga bisa keluar.

Setelah itu tempat tidur IGD penuh dengan nanah dan kotoran yang sangat berbau busuk. Semua yang ada disana merasa mual dan keluar dari IGD. dokbar dan perawat yang menangani berusaha menahan mual yang ada. Membersihkan pasien serta mengeluarkan sisa nanah yang masih ada.

Setengah jam berlalu. IGD sudah dibersihkan oleh petugas pembersih bahkan disemprot pengharum ruangan dan disinfektan. Pasien-pasien IGD yang datang dengan keluhan yang ringan diperiksa di ruang poli umum karena IGD perlu dibersihkan, hal ini dilakukan untuk kenyamanan pasien. Pasien ditangani oleh dokter jaga dari ruang rawat inap karena dokbar masih tindakan pembersihan lukanya pasien.

dokbar memang sudah berkoordinasi dengan Manager on duty (dokter umum yang ditunjuk sebagai penanggung jawab shift tersebut jika ada suatu kondisi yang mengharuskan diambil tindakan dengan cepat guna memperlancar pelayanan pada pasien maka orang tersebut diberikan wewenang mengambil keputusan). Oleh karena itulah diputuskan dokbar tetap menangani pasien ini di IGD, bagi pasien yang tidak gawat darurat ditangani di poli umum.

Setelah tidak ada pasien lagi, dokbar langsung mandi, tubuhnya sudah berkeringat dan agak bau, tadi dia sampai meminta maaf berkali-kali ke pasien lain jika ada aroma kurang sedap dari tubuhnya karena sedang menangani pasien.

Pasien dan pasangannya sedang nangis bersama di bilik IGD. Pasangan sesama jenis ini lebih terlihat romantis dibandingkan pasangan berbeda jenis.

dokbar menulis tindakan yang dilakukan kedalam rekam medisnya kemudian menunggu hingga kondisi pasien stabil.

.

Satu jam kemudian, pasien sudah bisa bangun dan berjalan meskipun perlu dipegangi.

Kedua lelaki ini kini berada tepat dihadapan dokbar.

"Saya resepkan antibiotik ya, selama masih mengeluarkan kotoran yang tidak terkontrol dan bernanah, saya sarankan untuk dibersihkan oleh tim medis setiap harinya. Bisa juga untuk sementara pakai popok dewasa tapi kontinu diganti agar tidak menimbulkan infeksi lagi. Saya tidak menganjurkan untuk dibersihkan sendiri karena terlihat tadi ya, didalam lubang pengeluaran banyak bintil kecil dan bernanah. Sudah terjadi infeksi, sehingga perlu penanganan medis. Saya juga akan merujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin agar lebih spesifik lagi penangangannya" jelas dokbar.

"Ga bisa disini aja dok dibersihkannya? malu dok kalo ke dokter lain lagi.. nanti jadi banyak yang tau" kata pasien dengan malu-malu.

"Kami para dokter sudah disumpah untuk tidak membocorkan rekam medis pasien yang bersifat penting dan rahasia. Semua yang tertulis di rekam medis adalah riwayat pasien selama melakukan pengobatan di Rumah Sakit ini" papar dokbar.

"Tapi dokter ini sangat cekatan dan telaten banget... ga nimbulin rasa sakit, mana cakep lagi" sahut pasien.

Pasien langsung dicubit pahanya oleh pasangannya yang cemburu karena memuji lelaki lain dihadapannya.

"Resepnya nanti ditunggu ya, sedang disiapkan oleh pihak farmasi. Kemudian ini rujukan untuk ke spesialis. Dan ini surat keterangan untuk dilakukannya pembersihan luka, tolong dibawa kalo datang ya" ujar dokbar sambil menyerahkan kertas dan amplop kosong ke pasien.

"Kalo kita ke Klinik lain boleh dok?" tanya pasangannya pasien.

"Boleh saja.. kan ada surat keterangan kondisi pasien, jadi silahkan ditunjukkan saja" jawab dokbar.

"Ih kenapa sih... pokoknya disini aja bersihinnya sama dokter ganteng" kata pasien.

Kedua makhluk sesama jenis ini saling memandang. Ada rasa cemburu tampak disana.

"Saya ga setiap hari ada di Rumah Sakit.. jadi belum tentu ketemu sama saya lagi. Jika tidak ada pertanyaan silahkan menunggu didepan instalasi farmasi" potong dokbar yang tau kondisi sudah tidak nyaman.

.

Setelah pasien tersebut pulang, dokbar masih duduk di meja konsultasi sambil membaca buku, seminggu lagi dia akan ikut test beasiswa untuk kuliah spesialisnya.

"dok.. Wandi muntah-muntah terus tuh dari tadi" adu salah satu perawat.

"Biarin dia istirahat aja, ga usah jaga. Masih kebayang tindakan yang tadi dia" jawab dokbar.

"Idenya ada aja dokbar.. segala pake modifikasi kateter gitu.. kok kepikiran sih dok?" tanya perawat.

"Ya.. namanya di IGD.. kita harus bisa berpikir cepat dan tepat" kata dokbar.

"Tapi gelay banget dok.. Wandi cerita katanya pas dokbar lagi memasang kateter, malah bangun ya dok..hahaha.. terangsang dia dipegang dokbar.. " oceh perawat.

"Inget ya.. ini adalah rahasia pasien yang harus kita jaga. Jangan menceritakan apapun yang terjadi di bilik periksa. Jalankan tugas kita sebagai tenaga medis sesuai sumpah yang sudah kita ucapkan" lurus dokbar.

"Baik dok... " jawab perawat kompak.

dokbar kembali membaca buku. HP nya berbunyi, tanda ada pesan masuk. Dari teman kuliahnya yang sekarang membuka praktek sendiri di Solo.

dokbar memandang foto yang dikirim dengan wajah datar, kemudian menutup HP tersebut dan kembali membaca bukunya.

Terpopuler

Comments

Jasreena

Jasreena

bayangin alat getar nya Segede apa... trs muntahannya jg.. 🤮🤮

2023-09-29

1

Jasreena

Jasreena

waduh... baek2 dokbar d taksir n d ajakin action 😱

2023-09-29

1

Jasreena

Jasreena

tenaga medis nya g bisa ngakak y klo gini... d tahan2n buat ntar... 🤢🤢

2023-09-29

1

lihat semua
Episodes
1 Stetoskop 1, Permulaan
2 Stetoskop 2, Pada awalnya
3 Stetoskop 3, Masa lalu
4 Stetoskop 4, Masa kelam
5 Stetoskop 5, Kisahpun bermula
6 Stetoskop 6, Perkenalan
7 Stetoskop 7, Menjemput impian
8 Stetoskop 8, Realitanya ada
9 Stetoskop 9, Dinamika IGD
10 Stetoskop 10, Bertemu masa lalu
11 Stetoskop 11, Hari dan wanita
12 Stetoskop 12, Tugas dokter
13 Stetoskop 13, Para lelaki
14 Stetoskop 14, Tak sesuai bayangan
15 Stetoskop 15, Berbincang
16 Stetoskop 16, Rencana baru
17 Stetoskop 17, Merenung
18 Stetoskop 18, Sekelumit kisah
19 Stetoskop 19, Menyimpan cerita
20 Stetoskop 20, Keresahan
21 Stetoskop 21, Mencari jalan
22 Stetoskop 22, Dilema
23 Stetoskop 23, Putaran takdir
24 Stetoskop 24, Perubahan
25 Stetoskop 25, Kisahnya Barra
26 Stetoskop 26, Penolakan
27 Stetoskop 27, Demi masa depan
28 Stetoskop 28, Dan terjadilah..
29 Stetoskop 29, Perbaikan
30 Stetoskop 30, Kehilangan
31 Stetoskop 31, Menahan emosi
32 Stetoskop 32, Bicara
33 Stetoskop 33, Tragedi
34 Stetoskop 34, Rutinitas
35 Stetoskop 35, Duka
36 Stetoskop 36, Pertemuan
37 Stetoskop 37, Jalan berdua
38 Stetoskop 38, Hati ke hati
39 Stetoskop 39, Mencari
40 Stetoskop 40, Harus bisa
41 Stetoskop 41, Menuju yang lebih baik
42 Stetoskop 42, Langkah
43 Stetoskop 43, Berjuang
44 Stetoskop 44, Mengenal
45 Stetoskop 45, Penjajakan
46 Stetoskop 46, Keadaan
47 Stetoskop 47, Terkuak
48 Stetoskop 48, Kedua kalinya
49 Stetoskop 49, Seperti biasa
50 Stetoskop 50, Musibah
51 Stetoskop 51, Melihat dari berbagai sisi
52 Stetoskop 52, Keras hati
53 Stetoskop 53, Berduaan
54 Stetoskop 54, Rejeki tidak hanya berupa uang
55 Stetoskop 55, Akhirnya..
56 Stetoskop 56, Keputusan
57 Stetoskop 57, Menuju halal
58 Stetoskop 58, Menyerahkan
59 Stetoskop 59, Bercerita masa lalu
60 Stetoskop 60, Gosip
61 Stetoskop 61, Menuju bahagia
62 Stetoskop 62, Pengantin baru
63 Stetoskop 63, Cinta
64 Stetoskop 64, Jumpa lagi
65 Stetoskop 65, Antara bahagia dan kecewa
66 Stetoskop 66, Pendekatan
67 Stetoskop 67, Rasa sayang
68 Stetoskop 68, Pasangan?
69 Stetoskop 69, Peristiwa
70 Stetoskop 70, Pelepasan PPDS
71 Stetoskop 71, Kesempatan baru
72 Stetoskop 72, Penyesuaian
73 Stetoskop 73, Diskusi masa lalu
74 Stetoskop 74, Berjumpa
75 Stetoskop 75, Kegiatan
76 Stetoskop 76, Malam ini
77 Stetoskop 77, Babak baru
78 Stetoskop 78, Bertemu lagi
79 Stetoskop 79, Langkah selanjutnya
80 Stetoskop 80, Takut
81 Stetoskop 81, Menemani
82 Stetoskop 82, Mengusik hati
83 Stetoskop 83, Hampir aja
84 Stetoskop 84, Terselamatkan
85 Stetoskop 85, "Kesasar"
86 Stetoskop 86, Dunia milik berdua
87 Stetoskop 87, Setan berbisik
88 Stetoskop 88, Bertemu
89 Stetoskop 89, Campur aduk
90 Stetoskop 90, Aku berhak atas rasaku
91 Stetoskop 91, Nikah Yukkkk
92 Stetoskop 92, Lembaran baru
93 Stetoskop 93, Kembali bersama
94 Stetoskop 94, Rangkaian cerita
95 Stetoskop 95, Tembung
96 Episode 96, Ricuh
97 Stetoskop 97, Pendekatan
98 Stetoskop 98, Perbincangan
99 Stetoskop 99, Gamang
100 Stetoskop 100, Membuka hati
101 Stetoskop 101, Ricuh
102 Stetoskop 102, Menjelang hari H
103 Stetoskop 103, Rencana busuk
104 Stetoskop 104, Di rumah
105 Stetoskop 105, Ketahuan
106 Stetoskop 106, Kesibukan di hari Sabtu
107 Stetoskop 107, Kondangan
108 Stetoskop 108, Ciuman pertama
109 Stetoskop 109, Kembali
110 Stetoskop 110, Kurang fit
111 Stetoskop 111, Miskom
112 Stetoskop 112, Berdebat
113 Stetoskop 113, Pria gila
114 Episode 114, Di Rumah Sakit
115 Stetoskop 115, Jalan pulang
116 Stetoskop 116, Percakapan mendalam
117 Stetoskop 117, Membahas tentang nikah
118 Stetoskop 118, Edisi curhat
119 Stetoskop 119, Resign
120 Stetoskop 120, Touring
121 Stetoskop 121, Sharing ilmu
122 Stetoskop 122, Teman
123 Stetoskop 123, Breaking news
124 Stetoskop 124, Duka menggelayut
125 Stetoskop 125, Sepanjang gang
126 Stetoskop 126, Tidak bersedia
127 Stetoskop 127, Pemakaman
128 Stetoskop 128, Bermuka dua
129 Stetoskop 129, Masih ramai
130 Stetoskop 130, Berjumpa
131 Stetoskop 131, Di kamar Bhree
132 Stetoskop 132, Yang muda yang bercinta
133 Stetoskop 133, Ketahuan
134 Stetoskop 134, ICU
135 Episode 135, Tahap pemulihan
136 Stetoskop 136, Ruang rawat
137 Stetoskop 137, Kecurigaan
138 Stetoskop 138, I love you
139 Stetoskop 139, Tetirah
140 Stetoskop 140, Berbincang
141 Stetoskop 141, Pulang
142 Stetoskop 142, Kangen
143 Stetoskop 143, Bersamamu
144 Stetoskop 144, Berkegiatan
145 Stetoskop 145, Terkuak
146 Stetoskop 146, Berdekatan
147 Stetoskop 147, Ngedate
148 Stetoskop 148, Kencan
149 Stetoskop 149, Emosi jiwa
150 Stetoskop 150, Ada-ada saja
151 Stetoskop 151, Duduk bersama
152 Stetoskop 152, Nakal
153 Stetoskop 153, Komitmen baru
154 Stetoskop 154, Panggilan darurat
155 Stetoskop 155, Berangkat
156 Stetoskop 156, Kehebohan
157 Stetoskop 157, Mau menikah
158 Stetoskop 158, Temu kangen
159 Stetoskop 159, Tak disangka
160 Stetoskop 160, Maaf
161 Stetoskop 161, Gawat
162 Stetoskop 162, Menggelitik jiwa
163 Stetoskop 163, Kesibukan menjelang pernikahan
164 Stetoskop 164, Perbincangan laki-laki
165 Stetoskop 165, Menegang
166 Stetoskop 166, Ambang kesabaran
167 Stetoskop 167, Persiapan
168 Stetoskop 168, H-1
169 Stetoskop 169, Tegang
170 Stetoskop 170, Sah
171 Stetoskop 171, Ramah tamah
172 Stetoskop 172, Caption
173 Stetoskop 173, Kegiatan pasangan
174 Stetoskop 174, Full of love
175 Stetoskop 175, Jumpa lagi
176 Stetoskop 176, Ricuh
177 Stetoskop 177, Penjelasan
178 Stetoskop 178, Di Solo
179 Stetoskop 179, Warna warni kehidupan pasangan
180 Stetoskop 180, Ribut lagi
181 Stetoskop 181, Mantu dan mertua
182 Stetoskop 182, Kesibukan dokbar
183 Stetoskop 183, Manja
184 Stetoskop 184, Bertengkar
185 Stetoskop 185, Pembicaraan tepi jurang
186 Stetoskop 186, Hiburan
187 Stetoskop 187, Ruwet
188 Stetoskop 188, Kesibukan harian dokbar
189 Stetoskop 189, Edisi curhat
190 Stetoskop 190, Rahasia yang terkuak
191 Stetoskop 191, Quality time
192 Stetoskop 192, Obrolan penting
193 Stetoskop 193, Pesona Barra
194 Stetoskop, kegiatan Bhree
195 Stetoskop 195, Perkembangan
196 Stetoskop 196, Hidup baru Tama
197 Stetoskop 197, Perbincangan keluarga
198 Stetoskop 198, Curhatan Barra
199 Stetoskop 199, Isu yang tak hangat
200 Stetoskop 200, Pandangan terhadap Barra
201 Stetoskop 201, Di rumah Prof Andjar
202 Stetoskop 202, Menuju bahagia
203 Stetoskop 203, Dunia masing-masing
204 Stetoskop 204, Kehidupan
205 Stetoskop 205, Kegiatan seperti biasa
206 Stetoskop 206, Lelah
207 Stetoskop 207, Menggelitik kalbu
208 Stetoskop 208, Mikir
209 Stetoskop 209, Obrolan yang ga penting
210 Stetoskop 210, Berita menggelegar
211 Stetoskop 211, Mellow
212 Stetoskop 212, Bola panas
213 Stetoskop 213, Kebaikan
214 Stetoskop 214, Menahan emosi
215 Stetoskop 215, Pelan tapi pasti
216 Stetoskop 216, Berbeda
217 Stetoskop 217, Karena masa lalu
218 Stetoskop 218, Sedikit mereda
219 Stetoskop 219, Perbincangan
220 Stetoskop 220, Kejadian tak biasa
221 Stetoskop 221, Kabar duka
222 Stetoskop 222, Kejadian luar biasa
223 Stetoskop 223, Keajaiban itu ada
224 Stetoskop 224, Perbincangan
225 Stetoskop 225, Jenguk
226 Stetoskop 226, Tak seperti yang diharapkan
227 Stetoskop 227, Terus terang
228 Stetoskop 228, Berkunjung
229 Stetoskop 229, Belum ada titik terang
230 Stetoskop 230, Bintangnya
231 Stetoskop 231, Ngobrol santai
232 Stetoskop 232, Rahasia terbongkar lagi
233 Stetoskop 233, Dukacita
234 Stetoskop 234, Ada aja kendalanya
235 Stetoskop 235, Di rumah aja
236 Stetoskop 236, Masih panas
237 Stetoskop 237, Emosi dokbar
238 Stetoskop 238, dokbar hari ini
239 Stetoskop 239, Dilema lagi
240 Stetoskop 240, Masih belum nyaman
241 Stetoskop 241, Obrolan
242 Stetoskop 242, Tambah pusing
243 Stetoskop 243, Tidak terlibat
244 Stetoskop 244, IGD
245 Stetoskop 245, Saat ini
246 Stetoskop 246, Kamar VVIP
247 Stetoskop 247, Kematian di IGD
248 Stetoskop 248, Suasana terkini
249 Stetoskop 249, Akhirnyaaa
250 Stetoskop 250, Ambulans
251 Stetoskop 251, Drama yang berakhir juga
252 Stetoskop 252, Pengakuan
253 Stetoskop 253, Mengiris perih
254 Stetoskop 254, Duka mendalam
255 Stetoskop 255, Menyembuhkan luka
256 Stetoskop 256, Pengumuman mengejutkan
257 Stetoskop 257, Mencoba berdamai
258 Stetoskop 258, Masih gamang
259 Stetoskop 259, Keputusan
260 Stetoskop 260, Oh begitu....
261 Stetoskop 261, Memaafkan
262 Stetoskop 262, Berdua dengan segala ceritanya
263 Stetoskop 263, Berdamai
264 Stetoskop 264, dokbar on duty
265 Stetoskop 265, Persiapan
266 Stetoskop 266, Berita lagi
267 Stetoskop 267, Waktu bersama
268 Stetoskop 268, Sowan kesana kemari
269 Stetoskop 269, Mengakhiri bab di Cinta Medika
270 Episode 270, Duka diujung senja
271 Stetoskop 271, Mencari jalan tengah
272 Stetoskop 272, Perpisahan dan pertemuan
273 Stetoskop 273, Cemburu
274 Stetoskop 274, Legowo
275 Stetoskop 275, Bertemu kawan lama
276 Stetoskop 276, Kumpul lagi
277 Stetoskop 277, Mumet lagi
278 Stetoskop 278, Berita yang membuat pening
279 Stetoskop 279, Mencoba menyelesaikan masalah
280 Stetoskop 280, Sampai disini
Episodes

Updated 280 Episodes

1
Stetoskop 1, Permulaan
2
Stetoskop 2, Pada awalnya
3
Stetoskop 3, Masa lalu
4
Stetoskop 4, Masa kelam
5
Stetoskop 5, Kisahpun bermula
6
Stetoskop 6, Perkenalan
7
Stetoskop 7, Menjemput impian
8
Stetoskop 8, Realitanya ada
9
Stetoskop 9, Dinamika IGD
10
Stetoskop 10, Bertemu masa lalu
11
Stetoskop 11, Hari dan wanita
12
Stetoskop 12, Tugas dokter
13
Stetoskop 13, Para lelaki
14
Stetoskop 14, Tak sesuai bayangan
15
Stetoskop 15, Berbincang
16
Stetoskop 16, Rencana baru
17
Stetoskop 17, Merenung
18
Stetoskop 18, Sekelumit kisah
19
Stetoskop 19, Menyimpan cerita
20
Stetoskop 20, Keresahan
21
Stetoskop 21, Mencari jalan
22
Stetoskop 22, Dilema
23
Stetoskop 23, Putaran takdir
24
Stetoskop 24, Perubahan
25
Stetoskop 25, Kisahnya Barra
26
Stetoskop 26, Penolakan
27
Stetoskop 27, Demi masa depan
28
Stetoskop 28, Dan terjadilah..
29
Stetoskop 29, Perbaikan
30
Stetoskop 30, Kehilangan
31
Stetoskop 31, Menahan emosi
32
Stetoskop 32, Bicara
33
Stetoskop 33, Tragedi
34
Stetoskop 34, Rutinitas
35
Stetoskop 35, Duka
36
Stetoskop 36, Pertemuan
37
Stetoskop 37, Jalan berdua
38
Stetoskop 38, Hati ke hati
39
Stetoskop 39, Mencari
40
Stetoskop 40, Harus bisa
41
Stetoskop 41, Menuju yang lebih baik
42
Stetoskop 42, Langkah
43
Stetoskop 43, Berjuang
44
Stetoskop 44, Mengenal
45
Stetoskop 45, Penjajakan
46
Stetoskop 46, Keadaan
47
Stetoskop 47, Terkuak
48
Stetoskop 48, Kedua kalinya
49
Stetoskop 49, Seperti biasa
50
Stetoskop 50, Musibah
51
Stetoskop 51, Melihat dari berbagai sisi
52
Stetoskop 52, Keras hati
53
Stetoskop 53, Berduaan
54
Stetoskop 54, Rejeki tidak hanya berupa uang
55
Stetoskop 55, Akhirnya..
56
Stetoskop 56, Keputusan
57
Stetoskop 57, Menuju halal
58
Stetoskop 58, Menyerahkan
59
Stetoskop 59, Bercerita masa lalu
60
Stetoskop 60, Gosip
61
Stetoskop 61, Menuju bahagia
62
Stetoskop 62, Pengantin baru
63
Stetoskop 63, Cinta
64
Stetoskop 64, Jumpa lagi
65
Stetoskop 65, Antara bahagia dan kecewa
66
Stetoskop 66, Pendekatan
67
Stetoskop 67, Rasa sayang
68
Stetoskop 68, Pasangan?
69
Stetoskop 69, Peristiwa
70
Stetoskop 70, Pelepasan PPDS
71
Stetoskop 71, Kesempatan baru
72
Stetoskop 72, Penyesuaian
73
Stetoskop 73, Diskusi masa lalu
74
Stetoskop 74, Berjumpa
75
Stetoskop 75, Kegiatan
76
Stetoskop 76, Malam ini
77
Stetoskop 77, Babak baru
78
Stetoskop 78, Bertemu lagi
79
Stetoskop 79, Langkah selanjutnya
80
Stetoskop 80, Takut
81
Stetoskop 81, Menemani
82
Stetoskop 82, Mengusik hati
83
Stetoskop 83, Hampir aja
84
Stetoskop 84, Terselamatkan
85
Stetoskop 85, "Kesasar"
86
Stetoskop 86, Dunia milik berdua
87
Stetoskop 87, Setan berbisik
88
Stetoskop 88, Bertemu
89
Stetoskop 89, Campur aduk
90
Stetoskop 90, Aku berhak atas rasaku
91
Stetoskop 91, Nikah Yukkkk
92
Stetoskop 92, Lembaran baru
93
Stetoskop 93, Kembali bersama
94
Stetoskop 94, Rangkaian cerita
95
Stetoskop 95, Tembung
96
Episode 96, Ricuh
97
Stetoskop 97, Pendekatan
98
Stetoskop 98, Perbincangan
99
Stetoskop 99, Gamang
100
Stetoskop 100, Membuka hati
101
Stetoskop 101, Ricuh
102
Stetoskop 102, Menjelang hari H
103
Stetoskop 103, Rencana busuk
104
Stetoskop 104, Di rumah
105
Stetoskop 105, Ketahuan
106
Stetoskop 106, Kesibukan di hari Sabtu
107
Stetoskop 107, Kondangan
108
Stetoskop 108, Ciuman pertama
109
Stetoskop 109, Kembali
110
Stetoskop 110, Kurang fit
111
Stetoskop 111, Miskom
112
Stetoskop 112, Berdebat
113
Stetoskop 113, Pria gila
114
Episode 114, Di Rumah Sakit
115
Stetoskop 115, Jalan pulang
116
Stetoskop 116, Percakapan mendalam
117
Stetoskop 117, Membahas tentang nikah
118
Stetoskop 118, Edisi curhat
119
Stetoskop 119, Resign
120
Stetoskop 120, Touring
121
Stetoskop 121, Sharing ilmu
122
Stetoskop 122, Teman
123
Stetoskop 123, Breaking news
124
Stetoskop 124, Duka menggelayut
125
Stetoskop 125, Sepanjang gang
126
Stetoskop 126, Tidak bersedia
127
Stetoskop 127, Pemakaman
128
Stetoskop 128, Bermuka dua
129
Stetoskop 129, Masih ramai
130
Stetoskop 130, Berjumpa
131
Stetoskop 131, Di kamar Bhree
132
Stetoskop 132, Yang muda yang bercinta
133
Stetoskop 133, Ketahuan
134
Stetoskop 134, ICU
135
Episode 135, Tahap pemulihan
136
Stetoskop 136, Ruang rawat
137
Stetoskop 137, Kecurigaan
138
Stetoskop 138, I love you
139
Stetoskop 139, Tetirah
140
Stetoskop 140, Berbincang
141
Stetoskop 141, Pulang
142
Stetoskop 142, Kangen
143
Stetoskop 143, Bersamamu
144
Stetoskop 144, Berkegiatan
145
Stetoskop 145, Terkuak
146
Stetoskop 146, Berdekatan
147
Stetoskop 147, Ngedate
148
Stetoskop 148, Kencan
149
Stetoskop 149, Emosi jiwa
150
Stetoskop 150, Ada-ada saja
151
Stetoskop 151, Duduk bersama
152
Stetoskop 152, Nakal
153
Stetoskop 153, Komitmen baru
154
Stetoskop 154, Panggilan darurat
155
Stetoskop 155, Berangkat
156
Stetoskop 156, Kehebohan
157
Stetoskop 157, Mau menikah
158
Stetoskop 158, Temu kangen
159
Stetoskop 159, Tak disangka
160
Stetoskop 160, Maaf
161
Stetoskop 161, Gawat
162
Stetoskop 162, Menggelitik jiwa
163
Stetoskop 163, Kesibukan menjelang pernikahan
164
Stetoskop 164, Perbincangan laki-laki
165
Stetoskop 165, Menegang
166
Stetoskop 166, Ambang kesabaran
167
Stetoskop 167, Persiapan
168
Stetoskop 168, H-1
169
Stetoskop 169, Tegang
170
Stetoskop 170, Sah
171
Stetoskop 171, Ramah tamah
172
Stetoskop 172, Caption
173
Stetoskop 173, Kegiatan pasangan
174
Stetoskop 174, Full of love
175
Stetoskop 175, Jumpa lagi
176
Stetoskop 176, Ricuh
177
Stetoskop 177, Penjelasan
178
Stetoskop 178, Di Solo
179
Stetoskop 179, Warna warni kehidupan pasangan
180
Stetoskop 180, Ribut lagi
181
Stetoskop 181, Mantu dan mertua
182
Stetoskop 182, Kesibukan dokbar
183
Stetoskop 183, Manja
184
Stetoskop 184, Bertengkar
185
Stetoskop 185, Pembicaraan tepi jurang
186
Stetoskop 186, Hiburan
187
Stetoskop 187, Ruwet
188
Stetoskop 188, Kesibukan harian dokbar
189
Stetoskop 189, Edisi curhat
190
Stetoskop 190, Rahasia yang terkuak
191
Stetoskop 191, Quality time
192
Stetoskop 192, Obrolan penting
193
Stetoskop 193, Pesona Barra
194
Stetoskop, kegiatan Bhree
195
Stetoskop 195, Perkembangan
196
Stetoskop 196, Hidup baru Tama
197
Stetoskop 197, Perbincangan keluarga
198
Stetoskop 198, Curhatan Barra
199
Stetoskop 199, Isu yang tak hangat
200
Stetoskop 200, Pandangan terhadap Barra
201
Stetoskop 201, Di rumah Prof Andjar
202
Stetoskop 202, Menuju bahagia
203
Stetoskop 203, Dunia masing-masing
204
Stetoskop 204, Kehidupan
205
Stetoskop 205, Kegiatan seperti biasa
206
Stetoskop 206, Lelah
207
Stetoskop 207, Menggelitik kalbu
208
Stetoskop 208, Mikir
209
Stetoskop 209, Obrolan yang ga penting
210
Stetoskop 210, Berita menggelegar
211
Stetoskop 211, Mellow
212
Stetoskop 212, Bola panas
213
Stetoskop 213, Kebaikan
214
Stetoskop 214, Menahan emosi
215
Stetoskop 215, Pelan tapi pasti
216
Stetoskop 216, Berbeda
217
Stetoskop 217, Karena masa lalu
218
Stetoskop 218, Sedikit mereda
219
Stetoskop 219, Perbincangan
220
Stetoskop 220, Kejadian tak biasa
221
Stetoskop 221, Kabar duka
222
Stetoskop 222, Kejadian luar biasa
223
Stetoskop 223, Keajaiban itu ada
224
Stetoskop 224, Perbincangan
225
Stetoskop 225, Jenguk
226
Stetoskop 226, Tak seperti yang diharapkan
227
Stetoskop 227, Terus terang
228
Stetoskop 228, Berkunjung
229
Stetoskop 229, Belum ada titik terang
230
Stetoskop 230, Bintangnya
231
Stetoskop 231, Ngobrol santai
232
Stetoskop 232, Rahasia terbongkar lagi
233
Stetoskop 233, Dukacita
234
Stetoskop 234, Ada aja kendalanya
235
Stetoskop 235, Di rumah aja
236
Stetoskop 236, Masih panas
237
Stetoskop 237, Emosi dokbar
238
Stetoskop 238, dokbar hari ini
239
Stetoskop 239, Dilema lagi
240
Stetoskop 240, Masih belum nyaman
241
Stetoskop 241, Obrolan
242
Stetoskop 242, Tambah pusing
243
Stetoskop 243, Tidak terlibat
244
Stetoskop 244, IGD
245
Stetoskop 245, Saat ini
246
Stetoskop 246, Kamar VVIP
247
Stetoskop 247, Kematian di IGD
248
Stetoskop 248, Suasana terkini
249
Stetoskop 249, Akhirnyaaa
250
Stetoskop 250, Ambulans
251
Stetoskop 251, Drama yang berakhir juga
252
Stetoskop 252, Pengakuan
253
Stetoskop 253, Mengiris perih
254
Stetoskop 254, Duka mendalam
255
Stetoskop 255, Menyembuhkan luka
256
Stetoskop 256, Pengumuman mengejutkan
257
Stetoskop 257, Mencoba berdamai
258
Stetoskop 258, Masih gamang
259
Stetoskop 259, Keputusan
260
Stetoskop 260, Oh begitu....
261
Stetoskop 261, Memaafkan
262
Stetoskop 262, Berdua dengan segala ceritanya
263
Stetoskop 263, Berdamai
264
Stetoskop 264, dokbar on duty
265
Stetoskop 265, Persiapan
266
Stetoskop 266, Berita lagi
267
Stetoskop 267, Waktu bersama
268
Stetoskop 268, Sowan kesana kemari
269
Stetoskop 269, Mengakhiri bab di Cinta Medika
270
Episode 270, Duka diujung senja
271
Stetoskop 271, Mencari jalan tengah
272
Stetoskop 272, Perpisahan dan pertemuan
273
Stetoskop 273, Cemburu
274
Stetoskop 274, Legowo
275
Stetoskop 275, Bertemu kawan lama
276
Stetoskop 276, Kumpul lagi
277
Stetoskop 277, Mumet lagi
278
Stetoskop 278, Berita yang membuat pening
279
Stetoskop 279, Mencoba menyelesaikan masalah
280
Stetoskop 280, Sampai disini

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!