Seperti Aku Sudah Mencintaimu.

Justin setiap hari menunggu Danielle menghubunginya, ia sudah kembali dari tempatnya berlibur dengan Danielle. Malam terakhir bertemu wanita itu, ia lupa mengatakan jika ia mengetahui keberadaan Leon dan akhirnya dia mengirim pesan.

Drrrttt Drrttt.

Nomer tidak dikenal, feeling Justin mengatakan itu adalah Danielle.

"Halo?"

"Ini aku, Danielle. Aku sudah menerima pesanmu."

"Aku sudah menduganya, dimana kita bertemu?"

"Di cafe tempo hari, aku akan membawamu ke ruangan rahasia kami. Jenderal-ku sudah memerintahkan untuk mengajakmu bekerja sama, datanglah kemari."

"Oke, aku akan pergi sekarang."

Tuttttt.

"Yesss! Aku bisa berdekatan dengannya lagi, la... la... la..." Justin menyandungkan lagu dengan gembira, akan bertemu pujaan hati yang sejak lama ada dalam hatinya. Ia memilih pakaian yang akan disukai Danielle, lalu memakainya.

Tak lama ia sampai di cafe, Danielle sudah menunggu diluar. "Ikuti aku."

Justin mengikuti Danielle mengekor di belakang wanita itu, bersikap santai seperti biasanya meskipun ia tau akan bertemu para elit militer terpilih dari negaranya.

Ceklek.

Danielle membuka pintu, masuk lebih dulu diikuti Justin lalu mengunci pintu.

Plok ! Plok !

"Kalian semua berkumpul" perintah Deana saat Danielle dan Justin sudah masuk.

Kevin, Lucas dan ketiga anggota lainnya merengsek maju mendekat pada Kapten mereka.

"Oke, Jenderal Eric sudah menurunkan perintah terbaru. Kalian pasti sudah mengenal Tuan Justin, tapi aku akan memperkenalkan secara resmi," ujar Deana.

"Tuan Justin, nilai - nilai sekolahnya dulu sangat--" Deana berhenti saat melihat data nilai sekolah Justin yang rendah. "Sangat tidak mencapai rata - rata."

"Bisa dibilang murid bodoh!" celetuk Lucas mengejek.

Tatapan Justin seketika mengarah pada Lucas, sepertinya lelaki militer itu memusuhinya sejak awal. "Aku memang bodoh, sampai situs resmi pemerintahan pun banyak aku bobol. Perkenalkan, aku adalah seorang hacker yang sering dimintai bantuan oleh Menteri."

Justin tak ingin lelaki lain menyepelekan dirinya di depan wanita yang ia sukai, mungkin saatnya ia menyombongkan keahlian IT-nya.

"Uhuk! Yang dikatakan Tuan Justin benar, Jenderal sudah mendapatkan informasi terbaru tentang Tuan Justin. Keahliannya jangan diragukan lagi, kalian harus bekerja sama dengan Tuan Justin mulai saat ini. Apalagi Tuan Justin sudah mengetahui keberadaan Leon, itu lebih penting dari apapun. Kalian semua mengerti?" Deana mengedarkan pandangan mendominasinya sebagai capten, matanya berhenti di Lucas menatapnya dengan mata teguran lalu beralih pada Danielle menatapnya penuh arti.

"Kalian mengerti?!" teriak Deana sekali lagi.

"Yes, Capt!"

"Hm, Tuan Justin. Danielle akan menerangkan tentang misi kami dan tugas dari masing - masing Agen. Silahkan kalian berdua bicara."

"Semuanya, kembali ke tempat masing - masing."

"Yes, Capt!"

Danielle selesai menerangkan semua pekerjaan dalam tim, juga tentang mafia yang sedang mereka buru. "Kamu mengerti sampai sini?" tanya wanita itu.

"Hm, kurang lebih. Jadi, kapan kita akan mulai mendekati target?" tanya Justin.

"Itu tergantung dari informasimu tentang keberadaan Leon," jawab Deana mendekati Justin dan Danielle yang selesai bicara.

"Capt Deana, Anda percaya padaku?" tanya Justin.

"Bukan hanya aku, kami sebagai satu tim harus mempercayai penilaian dari atasan kami. Jadi, ya. Kami semua mempercayaimu," jawab Deana.

Justin mengangguk, ia menoleh pada Danielle, "Aku akan membantu sebisaku, apalagi kalau kita terus berdekatan," Justin mengedipkan sebelah matanya.

Danielle memutar bola matanya, sudah bisa dipastikan kehidupannya mulai sekarang harus banyak menabung kesabaran menghadapi Justin.

Sang capten hanya mengulum bibirnya melihat Justin yang sepertinya sudah bertekuk lutut pada Danielle, tapi sepertinya temannya itu akan menyulitkan Justin dalam mendapatkan hati Danielle.

Dua hari kemudian, Danielle menyamar menjadi seorang staff hotel bersama Justin di hotel tempat Leon akan menghadiri sebuah pesta. Mereka sedang memakai alat - alat komunikasi, Danielle membatu memakaikannya pada tubuh Justin.

"Danielle, saat aku mengelus punggungmu tempo hari... punggungmu sangat lembut, bukankah orang - orang militer selalu mendapatkan luka?"

"Aku juga banyak terluka, tapi Mommy-ku selalu memberikan perawatan untukku ketika aku pulang. Ibuku bilang, bagaimana pun seorang wanita akan menikah dan harus menjaga penampilannya. Tapi sebenarnya aku tidak berniat menikah dan hanya menuruti keinginan Ibuku meskipun kami selalu bertengkar."

"Ibumu menyayangimu, seperti aku sudah mencintaimu," ujar Justin, tangan nakalnya mengelus pipi Danielle dengan lembut.

"Justin, lepaskan tanganmu dari wajahku! Sebelum aku mematahkannya!"

"Kau semakin galak padaku, ckckck. Mungkin nanti aku akan patah hati, Danielle."

"Itu deritamu, itu bukan urusanku!" jutek Danielle.

"Hei! Dewa Cupid! Kenapa kau menembakan panah cinta padaku! Lihatlah aku jatuh cinta pada wanita angkuh ini!" Justin berteriak seperti orang bodoh.

"Cih ! Aku tidak memintamu mencintaiku Pria gila!"

Justin melihat bibir mengerucut Danielle seperti mengundangnya untuk melahapnya, tanpa berpikir panjang dia menahan bagian kepala wanita itu lalu menciumnya.

Ciuman Justin kali ini memancing gairah Danielle, darah panasnya berdesir meminta dipuaskan. Ia menutup matanya meresapi ciuman itu, bahkan tubuhnya tidak memberontak membiarkan Justin mengambil alih atas kendali dirinya.

Terpopuler

Comments

Dia Amalia

Dia Amalia

terbucin² nanti daneelle🤣😂🤣
klu uda ketemu ular piton👏👏👏

2023-12-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!