Di depan kediamannya tepatnya di halaman, Eric yang seorang Jenderal berlutut dengan wajah yang menyedihkan. Sesekali mantan kapten satuan khusus itu menatap nanar ke arah jendela kamar di atasnya, berakting semenyedihkan mungkin agar istrinya mengampuninya.
Wanita yang sedang mengamuk itu memang sedang mengintip dari balik tirai jendelanya di kamar lantai atas, ia sesekali menghela nafas melihat suaminya tidak mau masuk. Bukan ia yang mengusir keluar suaminya itu, tapi Eric lah berinisiatif sendiri.
Amber menyalakan earphone di telinganya, "Eric, mau sampai kapan kamu seperti itu? Sampai petir menyambarmu! Kau tidak merasakan udaran sangat dingin dan lembab? Sebentar lagi akan turun hujan! Masuklah! Jangan membuat adegan hujan-hujanan seperti di film-film India!"
Mata Eric masih menatap jendela, tubuhnya lesu bahunya lunglai. "Sayang, saat aku masuk... kamu pasti tidak mau dekat denganku 'kan? Jadi, untuk apa aku masuk. Lebih baik aku menghukum diriku sendiri..." lirihnya melalui earphone.
"Baguslah kamu sadar akan kesalahanmu dan pantas menerima hukuman, tapi aku lah yang akan menentukan hukumanmu. Jadi masuklah..."
"Aku salah, Amber... meskipun aku seorang Jenderal dan bisa mengutus siapa saja menjadi umpan, tapi aku malah mengutus putri kita. Itu karena aku lebih percaya pada Danielle... Aku tahu kamu mencemaskan keselamatannya dan selama ini selalu menentang Danielle karena kamu sedikit trauma karena pernah kehilangan anak kita saat dalam kandungan. Tapi Amber, percayalah pada putri kita. Meskipun Danielle tidak bisa diatur dan sedikit berperilaku angkuh tapi itu karena dia mampu. Bukankah ini saatnya kamu berbaikan dengan Danielle dan mengirim kepergiannya dengan penuh kepercayaan. Itu akan sangat berarti untuk putri kita..."
Amber akhirnya membuka jendela, dia duduk di ambang jendela. "Masuklah, aku tidak akan menghukum mu. Tapi masuk lewat jendela ini, udara sangat dingin cocok untuk kita saling menghangatkan," Amber tersenyum lebar, perkataan suaminya memang benar dia seharusnya mendukung putrinya sekarang dan bukan waktunya bersikap egois dengan selalu mengekang keinginan Danielle. Putrinya sudah dewasa, ia akan mempercayai putrinya mulai sekarang.
Eric seketika bangkit dari sujudnya, wajahnya berbinar bahagia. Bagaimana tidak? Undangan makan sudah terbuka, tinggal melahap hidangan yang sudah disuguhkan.
Saat Eric baru saja melangkah menuju ke bawah jendela, suara putranya menghentikan langkahnya.
"Dad, Mommy... Apa kalian lupa, earphone kalian terhubung padaku. Sejak tadi aku sudah menahan mualku karena adegan melodramatis kalian... Uhhh oekkkkk..."
"Skyler, kamu bisa mematikannya bukan? Itu hanya alasanmu mengganggu Daddy!" teriak Eric kesal.
"Weeeeeeee!" Skyler mencemooh Ayahnya.
Sreekkk!
Suara sambungan earphone terputus, Eric tahu putranya sudah mencopot earphone.
"Aku datang, sayang..." Eric mulai memanjat tembok untuk sampai ke ambang jendela di atasnya dengan kelincahan seorang tentara yang terasah selama bertahun-tahun.
Lain lagi dengan suasana hangat di kediaman keluarganya, Danielle sedang memasak di dapur camp. Perempuan militer itu sedang mengaduk kuali besar, memasak untuk makan malam para prajurit di camp.
"Sial! Sial ! Sial!" Air mata terus saja membasahi wajahnya, mengupas bawang yang bejibun sejak tadi membuat matanya masih kepanasan.
"Jangan merajuk! Kau sendiri yang memancing hukuman, lakukan saja!" ujar Deana, ia dengan santainya memainkan apel di tangannya melempar ke atas lalu saat apel itu turun ia mengigitnya langsung.
Krauk!
Dengan sengaja ketua satuan khusus sekaligus sahabat Danielle itu mengunyah apel dengan bersuara keras, suara kunyahan yang renyah apalagi seruputan air apel yang terdengar begitu lezat membuat Danielle kesal. Ia mengambil bawang bombai besar lalu melemparnya ke arah sahabatnya, Wush !
Grap!
Bawang itu dengan mudah ditahan oleh tangan kiri Deana yang kosong sebelum bawang itu menghantam wajahnya. "Hahaha... Hahahaha!"
Danielle semakin kesal, jiwa tak mau kalahnya terpancing. Ia mengambil spatula dari wajan panas berisi masakan, bibirnya tersenyum tipis.
Wush !
Tapi sekali lagi dengan sigap Deana menangkis benda yang dilempar Danielle dengan kakinya, bahkan untuk membalas temannya itu ia melempar pisau yang berada dekat dengannya.
Dsing !
Pisau melesat cepat ke arah wajah Danielle, perempuan itu menghindar tepat waktunya.
"Brengsek!" Danielle merengsek maju ingin menghajar ketuanya, tapi suara tembakan diluar terdengar.
Dorrrrr!!!
Dorrrrr!!!
Bukan sekali bahkan dua kali tembakan.
"Siaga!" Deana mengambil senjata di pinggangnya, begitu pun Danielle.
Saat keluar ruangan masak, mata Danielle langsung membelalak melihat tulisan di spanduk yang dipegang beberapa prajurit. Bertuliskan, DANIELLE, AYO MENIKAH !
"Danielle, terima cintaku... Aku akan bersamamu di setiap hembusan nafasmu, di setiap langkah beranimu. Sebelum pergi menjalankan misi kali ini, maukah kamu menerima lamaranku? Danielle, setelah misi kali ini selesai, AYO MENIKAH !!! AKU MENCINTAIMU !"
Salah satu anggota satuan khusus bernama Lucas sedang bersujud dengan sebelah kakinya, tangan lelaki militer itu memegang kotak berisikan sebuah cincin. Lelaki itu sudah sejak lama memendam perasaannya, tapi kini saat Danielle diputuskan akan menjadi umpan dan akan membahayakan nyawa. Lucas tidak ingin menunggu untuk mengutarakan perasaannya lebih lama lagi, saat misi berlangsung ia akan menjaga keselamatan Danielle dengan nyawanya sekalipun.
Danielle tak mempercayai pendengaran dan penglihatannya, tiba-tiba ada lelaki yang melamarnya. Ia hanya mematung bahkan saat Lucas mendekatinya dan ingin melingkarkan cincin di jarinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Erna Wati
/Smug//Smug//Smug//Smug//Smug//Smug//Smug/
2024-11-21
0
Femmy Femmy
bhahahhaa 🤣
2024-10-26
0
Oi Min
wkwkkwkwwkwk.....anak Erick ada yg ngelamar
2024-01-18
1