Chapter 17

Alice bergegas turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya menuju kamar Clay. Gadis itu pelan-pelan membuka pintu dan melangkah dengan hati-hati agar gadis kecil itu tidak terbangun.

DING...

["Kau akan tidur di sini Alice?"] tanya Sistem Ai saat melihat Alice mulai membaringkan tubuhnya di samping Clay.

"Aku terpaksa melakukannya," jawab Alice sedikit acuh karena ia benar-benar sudah mengantuk. Sedari tadi ia menahan agar tidak tidur karena jika tertidur maka ia tidak tahu apa yang akan Davis lakukan padanya.

Menghindar ke kamar Clay adalah satu-satunya alasan agar ketika pria itu bangun ia tidak akan marah-marah jika tahu dia tidak ada di sampingnya. Alice tidak ingin mencari masalah dengan mantan ibu mertuanya itu dan juga Samanta. Akan jadi masalah jika mereka tahu Davis tidur bersamanya.

Dan lagi, bagaimana bisa Alice tidur bersama pria yang pernah menjadi suaminya walau hanya sehari. Apalagi Davis tidak menganggap dirinya, dia hanya datang karena wajah yang di miliki Alice sama persis dengan wajah mantan istrinya. Entah apa yang akan Davis lakukan jika ia tahu dirinya adalah Alice, si wanita yang dulu melarikan diri darinya hingga tertabrak dan mati sia-sia.

DING...

["Ku pikir kau akan membangunkannya agar Davis keluar dari kamar."]

Alice serentak bangun dari tiudurnya. Ia yang hampir terlelap sekejap membuka mata lebar-lebar. "Kau benar, itu ide bagus. Jadi aku tidak harus tidur berdempetan di kasur kecil ini dengan Clay."

Alice melepaskan selimut yang menutupi Clay, sengaja ia lakukan agat gadis itu kedingianan. Ac nya pun ia naikan agar suhu di dalam kamat benar-benar dingin. Clay masih berumur 3 tahun, ia pasti tidak akan bangun dan mengecilkan Ac atau memperbaiki selimutnya. Ia pasti akan langsung ke kamar Ayahnya. Untuk tidur di sana, jika Davis tidak ada di kamarnya ia pasti akan mencari Clarissa ke kamarnya. Dan di situlah Alice akan melakukan dramanya.

Alice keluar setelah memastikan Clay terjaga dari tidurnya. Buru-buru ia kembali lagi ke kamarnya. Beruntung tidak ada yang tahu apa yang sedang ia lakukan.

Dan benar saja, Clay benar-benar melakukan semua yang Alice bayangkan tadi. Kini gadis kecil itu sudah berada di luar kamarnya sedang mengetuk-ngatuk pada pintu kamar Alice. Alice tidak berada di samping Davis, melainkan ia di depan pintu, pura-pura kebingungan mondar mandir sambil menunggu Davis terbangun.

"Kau yakin ini berhasil Ai. Aku sedikit gugup," ujar Alice sambil menggigit ujur kukunya.

DING...

["Aku bukan peramal masa depan Alice. Kau hanya perlu yakin dengan rencana mu."]

Alice memutar kedua bola matanya. Sambil menatap ke bawah tepatnya ke bagian dada Alice berkata. "Bisakah kau memulai percakapan tanpa Ding dang ding dang mu itu. Aku selalu saja seperti kesetrum setiap kalau mendengar nada itu. Please, hilangkan. Jika tidak aku akan selalu menganggap aku adalah transformer. Manusia yang di rasuki oleh robot yang bisa berbicara."

["Aku adalah sistem penjaga anak Alice bukan transformer."]

"Alu tahu, lagipula itu hanya perumpamaan saja. Astaga. Apa aku harus memanggilmu robot juga. Ataukah kau adalah mahluk halus yang merasuki tubuh ku. Yah setidaknya jika kau adalah mahluk halus, aku beruntung mendapatkan mu dan bisa hidup kembali."

"Clarissa?"

Alice terkesiap lalu menutup mulutnya erat-erat. "Ya Tuhan! Semoga saja Davis tidak mendengar apapun."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!