Kehidupan yang sebenarnya

Mulai hari ini kita akan menggunakan POV AUTHOR, ya.

Sudah seminggu Aira dan tinggal seatap. Sepertinya yang direncanakan, mereka melakukannya hampir setiap hari karena Reyhan sering sekali bangun dan membuat Aira harus melayaninya.

Dan kini, saatnya Aira dan Reyhan berpisah. Reyhan sudah mengemasi semua pakaiannya ke dalam tas kecil. Kini saatnya dia harus kembali ke rumah istrinya.

"Aira, aku pulang dulu. Aku berharap kau segera hamil dan kita tidak perlu melakukannya."

Ucapan dan tatapan dingin Reyhan membuat hati Aira sedikit nyeri. Pria itu jelas menunjukkan bahwa tidak ada apa-apa diantara mereka selain perjanjian untuk memiliki anak.

"Iya, Mas," sahut Aira sambil menundukkan kepalanya. Tak ingin Reyhan melihat wajahnya yang sangat sedih. Entah mengapa malam-malam yang dilalui mereka membuat Aira merasa nyaman dengan pria yang sepuluh tahunan lebih tua darinya.

Reyhan pun segera pergi dari penthouse tersebut dan kembali ke rumahnya. Menemui sang istri yang ternyata sedang berdebat dengan ibunya. Ya, mereka memang tinggal satu atap dengan sang ibu dikarenakan ibunya Reyhan seorang janda yang hanya memiliki satu orang anak, yaitu Reyhan.

"Tidak, Ma. Mama harusnya mendengarkan aku. Tidak bagus rasanya jika vas bunga ini diletakkan di ruang tamu. Kalau sampai pecah karena ada tamu yang datang bagaimana? Aku membeli vas bunga ini sangat mahal," ucap Sera sambil menatap sang ibu mertua dengan kesal.

"Diam! Di sini sayalah yang paling berkuasa karena saya adalah ibunya Reyhan! Kamu hanya seorang menantu yang bahkan tidak bisa memberikan anak saya keturunan hingga lima tahun usia pernikahan kalian. Kalau saja kamu tidak mengikuti ambisimu yang ingin menjadi wanita karir, pasti sejak lama kalian bisa mengikuti program hamil! Kalau sekarang? Usiamu bahkan sudah tidak muda lagi. Mana bisa memberikan saya keturunan," ucap Ibu Reyhan yang bernama Raya.

Sera yang terkejut dengan ucapan mertuanya langsung menangis tersedu-sedu.

"Ma, cukup, Ma! Mengapa sekalipun Mama tidak bisa menghargai Sera!" Reyhan yang tiba-tiba saja muncul langsung mengagetkan mereka.

"Rey, kamu sudah pulang dari luar kota?" tanya Raya dengan tatapan senang. Dilihatnya sang anak membawa koper yang dia pikir bahwa Reyhan benar-benar sedang ada tugas di luar kota. Padahal tidak, Reyhan sedang dalam proses membuat anak untuk mamanya agar berhenti menyalahkan Sera.

"Ma, mengapa Mama tidak pernah sekalipun menghargai Sera? Dia itu istriku, Ma. Mengapa Mama harus kembali mengungkitnya," ucap Reyhan kembali membicarakan peristiwa barusan.

"Sudah, Mas, tolong jangan perpanjang lagi," ucap Sera dengan suara parau karena habis menangis.

"Halah, hapus saja air mata buaya mu itu. Selama ditinggal Reyhan, kamu selalu bertingkah sesuka hatimu di rumah ini. Pulang malam dan sibuk dengan ponselmu!"

"Ma, aku kan kerja, Ma. Ya wajar jika aku sibuk dengan ponselku dan pulang malam. Mengapa setiap hari Mama selalu menyalahkan aku." Sera kembali menangis. Namun kali ini, dia menangis di pelukan Reyhan yang langsung mengusap punggungnya.

"Ma, Mama jangan seperti itu, Ma. Kasihan Sera kalau terus Mama salahkan. Apapun yang dia lakukan selalu salah di mata Mama." Kini Reyhan yang menanggapi ucapan sang ibu.

"Kamu itu sejak menikah sama dia selalu aja berani melawan Mama, ya, Rey. Apa sih hebatnya dia? Hanya karena dia itu cantik, pintar, mandiri, sehingga kamu tergila-gila sama dia!"

"Ma, cukup, Ma! Jangan memojokkan Sera. Mengapa Mama tidak pernah bisa menganggap dia menantu sekalipun!"

"Diam kamu, Rey! Kamu tahu kan kenapa Mama tidak suka sama dia! Mamanya ini adalah orang yang jahat! Tadinya, setelah menikah denganmu, Mama kira dia bisa menjadi istri dan menantu yang baik. Tapi tidak, dia sama saja seperti mamanya. Kamu saja yang tidak tahu bagaimana kelakuannya kalau tidak ada kamu di rumah ini!"

"Udahlah, Ma. Mengapa Mama selalu memojokkan Sera hanya karena mamanya. Mana mungkin Sera seperti mamanya. Jangan hanya karena Mama pernah disakiti oleh mamanya saat masih muda, lantas Mama malah menyalahkan Sera? Singkirkan prasangka buruk Mama padanya, Ma."

Reyhan yang terlanjur kesal langsung membawa Sera pergi dari hadapan mamanya. Tak bisa dipungkiri bahwa dia ingin sekali tinggal di tempat lain bersama Sera. Namun, dia juga memikirkan mamanya yang hidup sendiri.

Yuk, baca karya terbaruku. Kunjungi profilku ya, hehe

Terpopuler

Comments

Puja Kesuma

Puja Kesuma

pasti ada sebab knp mama kamu gk suka sama sera.... tugas kamu selidiki jgn membela sera trus reyhan...

2023-03-11

2

Ami Tarmini

Ami Tarmini

ok siap ka meluncur kesitu

2023-03-10

1

Amin Salam

Amin Salam

ya tar gk tauini jln ceritanya nanti

2023-03-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!