Tugas pertama selesai

Aku tertunduk diam di antara heningnya malam di penthouse mewah ini. Aku baru saja selesai mandi malam, hal yang jarang aku lakukan karena setahuku, mandi malam itu tidak baik untuk kesehatan. Untungnya kamar mandi menyediakan air hangat sehingga aku tidak perlu kedinginan.

Sedangkan kini yang ada di kamar mandi adalah Mas Reyhan. Dia sengaja menyuruhku mandi duluan karena tak suka menunggu.

Sekarang, aku harus memakai sebuah piyama yang menurutku tidak pantas disebut sebagai piyama karena transparan sehingga bisa memperlihatkan pakaian d*l*m yang sedang aku gunakan. Tapi, ini adalah pakaian yang Mbak Sera berikan padaku. Katanya aku harus memakai ini agar malam ini lekas terlewati. Aku tahu, pasti Mbak Sera tidak ingin suaminya berlama-lama bersamaku. Ya, memangnya siapa yang mau merelakan suaminya bersama wanita lain? Bahkan aku yakin jika saat ini Mbak Sera pasti sedang menangis tersedu-sedu di kamarnya memikirkan suaminya bersama wanita lain.

Kini, mulai ku rasakan hawa dingin menusuk tubuhku yang terpaku di atas ranjang. Aku bahkan harus mengambil selimut untuk menutupi tubuhku yang amat sangat dingin ini. Aku melihat pantulan diriku di depan cermin. Sejak melakukan perawatan, aku merasakan perbedaan yang cukup mencolok pada diriku. Aku semakin cantik, tak pernah ku lihat diriku secantik ini.

Ceklekkk! Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Ternyata Mas Reyhan sudah selesai mandi. Mataku membola tak percaya melihat pemandangan yang ada di depan mataku. Astaga, Mas Reyhan! Tubuhnya bagus sekali! Seperti bentuk tubuh aktor yang banyak kotak-kotaknya. Otot-otot tangannya sangat kekar dan bidang d*danya yang lebar. Astaga, mengapa dia terlihat sangat tampan? Ayo, sadarlah, Aira, kau tidak boleh menaruh rasa apapun padanya? Dasar wanita! Baru melihat pria tampan sudah klepek-klepek.

Ku lihat Mas Reyhan masih mengenakan handuk yang dililitkan ke pinggang. Namun, anehnya, dia tidak langsung mengambil pakaian di lemari, melainkan mengambil minuman yang ada di atas meja dan meneguknya hingga habis.

Oh, minuman itu yang ternyata tadi disuruh minum oleh Mbak Sera. Ku lihat dia berdiam diri sambil duduk di kursi dengan mata terpejam. Aku bisa melihat dia sedang merasakan efek dari minuman itu? Sebenarnya itu minuman apa? Mengapa Mas Reyhan sampai gelisah seperti itu?

Tak berselang lama, Mas Reyhan pun membuka matanya dan menatapku dengan tatapan berbeda. Aku bisa melihat dia sedang memerhatikan lekuk tubuhku yang berbalut piyama transparan ini.

Seringai senyumnya membuat aku merinding. Mengapa dia harus tersenyum seperti itu? Aku jadi sedikit takut.

"Sera, Sayang, kamu cantik sekali," ucap Mas Reyhan sambil berjalan mendekatiku.

Apa? Sera? Mengapa dia memanggilku dengan nama istrinya? Apakah efek minuman itu membuatnya berhalusinasi? Dia mengira bahwa aku adalah Sera.

Eh, tapi apa ini? Aku mencium bau alkohol dari mulutnya yang sudah berada di depanku. Ternyata dia minum alkohol? Tapi, mengapa reaksi tubuhnya seperti ini? Apa yang Mbak Sera campurkan di minuman itu?

"Sayang, kamu sangat menawan," ucap Mas Reyhan yang kini mulai membawa tangannya menyentuh wajahku.

Matanya! Aku langsung berpaling saat matanya menatap mataku dengan serius. Aku tidak boleh membantah ucapan Mbak Sera.

"Sayang, aku sangat mencintaimu." Mas Reyhan langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibirku hingga membuatku terkejut setengah mati. Ini adalah ciuman pertamaku.

Eh, apa ini? Sekarang tangannya malah masuk ke sela-sela piyamaku. Meraba isinya yang membuatku merasa kegelian.

"Mas, hentikan, Mas, geli," ucapku berusaha melepaskan tangannya.

Namun, bukannya di lepaskan, Mas Reyhan malah mendorong tubuhku dan menindihku. Dia pun langsung mendaratkan ciuman berkali-kali di wajah, lalu ke leherku. Aku bisa melihat nafasnya yang menggebu-gebu.

Tangannya semakin liar dan merambat kemana-mana. Bahkan kini piyamaku sudah terlepas dari tubuhku. Hanya menyisakan pakaian d*l*m berwarna merah yang sangat tipis dan kecil.

"Sayang, kamu jangan menolak. Biasanya kan kita melakukannya dengan penuh kenikmatan," ucap Mas Reyhan ketika aku menahan sisa pakaian yang melekat ditubuhku ketika dia hendak membukanya.

"Mas, aku malu," ucapku pelan.

"Baiklah, matikan lampu!"

Sontak lampu pun mati dan berganti menjadi lampu tidur di dinding tengah ranjang yang temaram. Hebat! Bahkan lampunya bisa mati hanya dengan diberikan perintah seperti itu.

"Sudah gelap, Sayang. Sekarang ayo kita mulai, aku sangat tidak sabar."

Mas Reyhan langsung menarik paksa sisa pakaianku hingga terlepas. Dia melemparkannya ke sembarang arah hingga membuatku panik.

Kini, aku sudah polos tanpa sehelai benang. Mas Reyhan dengan segera membuang handuknya dan aku pun bisa merasakan sentuhan sesuatu yang tak ingin aku sebutkan namanya.

Dengan sebuah hentakan keras, Mas Reyhan pun berhasil menyatukan tubuh kami. Membuatku merintih karena rasanya sangat sakit. Tak pernah kurasakan rasa sesakit ini. Seperti sesuatu yang telah dirobek di dalam sana.

Dengan tempo yang bervariasi. Lambat, sedang cepat, akhirnya Mas Reyhan pun menuntaskan tugasnya.

Dia ambruk di sampingku dengan nafas yang terengah-engah. Akhirnya selesai juga. Aku bahkan tak merasakan kenikmatan di sini. Hanya rasa sakit karena aku rasa dia memiliki big size.

"Astaga, Sera, mengapa kau sangat berbeda, Sayang. Belum pernah aku merasakan yang sen*kmat ini. Kamu benar-benar telah membuat aku puas. Terima kasih, Sayangku," ucap Mas Reyhan. Mengapa dia jadi merancu tak karuan seperti ini? Apa itu efek alkoholnya?

Setelah merancu tak karuan, Mas Reyhan pun langsung terlelap. Sedangkan aku langsung ke kamar mandi untuk mensucikan diriku lagi. Mengapa Mas Reyhan tidak mensucikan tubuhnya sebelum tidur?

Meski dengan rasa yang perih, akhirnya aku selesai membersihkan diriku. Ku lihat di beberapa bagian tubuhku ada bekas cup*ng*n Mas Reyhan. Gawat kalau sampai Mbak Sera melihatnya. Ah, tapi mana mungkin dia menjemput suaminya ke sini? Pasti Mas Reyhan akan pulang sendiri.

Setelah selesai berganti baju, aku pun langsung pergi ke sofa untuk tidur di sana. Rasanya aku tak ingin tidur dengan Mas Reyhan karena pasti dia akan marah. Aku kan sudah melakukan tugasku? Mengapa aku harus tidur bersamanya?

Sofa itu sangat canggih karena bisa melebar seperti ranjang saja. Ada sisi pembatas sehingga aku tidak perlu takut jatuh. Dengan bantal dan selimut tebal, aku pun berhasil tidur dengan nyenyak meski tubuhku harus ku tutupi sampai ke kepala agar angin AC tidak masuk ke ubun-ubun. Lihat saja, setelah Mas Reyhan pulang, maka aku akan mengecilkan suhu AC di ruangan ini. Bila perlu aku matikan saja agar aku tidak perlu berperang melawan dingin. Dan semoga saja, setelah ini aku langsung hamil agar tak ada lagi malam kedua bagi kami. Segera terlepas dari pernikahan ini adalah impianku. Tapi anakku nanti? Bisakah aku berpisah darinya? Entahlah, semoga saja aku bisa menjalaninya. Hamil saja belum.

Terpopuler

Comments

Puja Kesuma

Puja Kesuma

jls bedalah yg msh v dgn yg udah blong seperti jalan tol😁😁😁

2023-03-06

0

Ami Tarmini

Ami Tarmini

waw sangat berbeda,dan sangat puas,,
apakah sera udah ga v....n waktu sama mas reyhan

2023-03-05

0

Ayas Waty

Ayas Waty

pasti mas Reyhan ketagihan sama kamu Aira

2023-03-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!