Acara liburan ke Bogor yang sudah direncanakan dengan penuh sukacita itu langsung batal begitu saja. Gwiyomi sudah kehilangan mood-nya karena sikap Hazel yang benar-benar keterlaluan.
Hazel sendiri masih kesal karena Gwiyomi berpihak kepada Rain, meski pria itu telah menolong istrinya, tapi tetap saja hatinya merasa jika Rain merupakan sebuah ancaman bagi hubungannya.
"Kamu yakin kita nggak jadi pergi?" Hazel kembali bertanya sebelum ia pergi meninggalkan tempat tadi.
"Enggak, aku udah nggak mood," sahut Gwiyomi dingin.
"Ayolah Gwi, hanya karena masalah pria itu kita jadi bertengkar seperti ini. Aku merasa dia memang sengaja melakukannya untuk menarik simpatimu," kata Hazel mengutarakan isi hatinya.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Jelas-jelas dia melindungi ku hingga terluka, tapi kau malah seperti ini? Harusnya kita berterimakasih padanya Haz," sergah Gwiyomi membentak kesal.
"Oke aku salah, aku minta maaf untuk masalah tadi. Please, aku nggak mau kita bertengkar kayak gini, aku mencintaimu," ujar Hazel memegang kedua pipi Gwiyomi dan memandangnya lembut.
"Aku nggak suka dengan sikap kamu tadi," ujar Gwiyomi mulai mengendurkan nada bicaranya.
"Aku hanya takut, aku takut dia menarik perhatianmu dan kau akan pergi meninggalkanku," ujar Hazel semakin dalam tatapan matanya.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu percaya satu sama lain?" Kata Gwiyomi mengingkatkan Hazel tentang janji yang sering mereka ucapkan.
"Maafkan aku." Hazel menunduk menyesal, ia mencium kedua tangan Gwiyomi dengan sangat dalam.
"Asal jangan mengulanginya lagi," tutur Gwiyomi.
"Iya Sayang, sekarang kita jadi pergi ya?" Kata Hazel mengangguk-angguk mengerti, ia kembali membahas hal yang sempat tertunda tadi.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat." Gwiyomi ikut mengangguk. "Setelah kita pulang liburan, kau harus menemui Rain dan meminta maaf padanya," sambung Gwiyomi masih belum tenang jika Hazel belum minta maaf pada Rain, bagaimana pun juga pria itu sudah menyelamatkan nyawanya dan juga bayinya.
Hazel memainkan mulutnya, pertanda ia cukup kesal dengan syarat itu. Namun, Hazel mengangguk menyanggupi daripada Gwiyomi semakin marah.
"Nah gitu dong, itu baru suami aku." Gwiyomi bertepuk tangan pelan lalu memberikan ciuman manisnya di pipi Hazel.
"Masih kurang," ujar Hazel memasang wajah manja.
"Nanti, aku akan memberi bonus," bisik Gwiyomi mengerlingkan matanya menggoda.
"Benar ya, aku mau yang kayak kemarin," ujar Hazel menarik tangan Gwiyomi lalu menggenggamnya erat.
"Yang kayak kemarin apa?" Ujar Gwiyomi berpura-pura lupa.
"Aku tahu kau pasti mengingatnya Gwi," ujar Hazel tersenyum santai.
Gwiyomi hanya membalasnya dengan tawa renyah. Beginilah hubungan mereka, mudah marahan, tapi mudah juga berbaikan. Mungkin karena faktor umur juga yang membuat pikiran mereka masih begitu labil.
******
Hazel dan Gwiyomi sampai di kota Bogor saat hari sudah masuk sore, semilir angin terasa begitu sejuk menerpa kulit Gwiyomi ketika ia turun dari mobilnya.
"Ahhh, paling seger banget emang udara disini." Gwiyomi merentangkan tangannya lebar-lebar seraya menghirup udara yang menyejukkan.
Hazel tersenyum tipis, ia mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang. "Nyaman?" Tanyanya menyandarkan kepalanya dipundak Gwiyomi.
"Heem, andai rumah kita yang di Jakarta seperti ini, aku pasti betah banget." Gwiyomi mengangguk setuju.
"Aku juga pengen punya rumah yang suasananya sejuk, nanti kalau kita punya rumah, aku mau yang halamannya luas agar anak-anak kita bisa bermain dengan nyaman." Hazel menerawang jauh, membayangkan bagaimana hidupnya akan sangat menyenangkan. Dengan ditemani anak-anak yang ceria dan istri yang cantik, impian sederhana yang akan segera terwujud.
"Kapan kita punya rumah?"
Gwiyomi bertanya bukan tanpa alasan, masa depan mereka masih abu-abu dan tidak jelas, sekarang saja mereka masih bergantung pada orang tua mereka. Memang Hazel sudah mencari pekerjaan untuk kebutuhan pribadi mereka, tapi untuk kuliah dan tempat tinggal, mereka masih belum memikirkannya.
"Aku sedang berusaha, setidaknya biarkan aku menyelesaikan kuliahku dulu," sahut Hazel semakin merasa dirinya kecil karena belum bisa memberikan masa depan yang mapan untuk Gwiyomi.
"Hahaha, itu masih sangat lama, sekarang saja kau baru semester 1." Gwiyomi tertawa kecil mendengar ucapan Hazel.
"Aku sedang mencari pekerjaan sampingan, percayalah aku tidak akan membiarkanmu dan anak kita kelaparan nantinya," ujar Hazel mengelus perut Gwiyomi penuh kasih.
Mungkin karena mengenali sentuhan dari Ayahnya, bayi dalam perut Gwiyomi tiba-tiba bergerak seperti sebuah kedutan.
"Eh? Dia bergerak!" Seru Hazel begitu heboh.
"Iya Haz, biasanya kalau malam dia suka berkedut, mungkin dia senang kau menyentuhnya," kata Gwiyomi tak kalah semangatnya.
"Sekarang kita coba lagi." Hazel kembali menyentuh perut Gwiyomi, kali ini rupanya tidak bergerak membuat wajah mereka sedikit kecewa.
"Tidak apa-apa, nanti juga pasti bergerak lagi. Mungkin sekarang dia sedang menunggu Ayahnya menjenguk secara langsung," ujar Hazel menaikturunkan alisnya.
"No!" Gwiyomi segera melepaskan dirinya dari Hazel. "Aku mau mandi, capek banget habis perjalanan jauh. Nanti malam kita jadi ke … kan? Aku pengen banget makan jagung bakar," ujar Gwiyomi berjalan masuk kedalam Vila.
"Tergantung cuaca nanti Sayang, kita istirahat aja dulu," kata Hazel mengerti kalau saat ini Gwiyomi pasti lelah dan ia tidak ingin egois. Lagipula ia juga lelah sejak tadi menyetir sendiri, jadi memang lebih baik mereka beristirahat daripada bercinta.
*******
Sementara itu disisi lain, Rain terlihat baru saja kembali ke rumahnya. Punggungnya sudah diobati dan ia bisa langsung pulang. Sesampainya di kamar, ia membuka bajunya dan melihat punggungnya di kaca rias.
"Sial, kenapa aku jadi melakukan hal seperti ini untuk wanita itu?" Rain tidak tahu apa alasannya bisa begitu tertarik dengan sosok Gwiyomi.
"Apa mungkin karena masalah itu?" Rain kembali menerawang jauh.
Flashback On.
Rain benar-benar hancur saat ia sudah membuat Jingga terluka dan tidak bisa memiliki wanita itu. Ia mencoba mengubur dalam-dalam perasaannya pada wanita yang memang tidak seharusnya ia cintai sejak awal.
Namun, hatinya yang belum benar-benar sembuh harus kembali disiram air garam yang membuat lukanya semakin parah. Dimana pria yang dia sebut sebagai seorang Ayah telah menyakiti wanita yang sangat dicintainya sebelum Jingga, yaitu Ibunya.
"Kalau Ayah lebih memilih wanita itu, maka semua yang sudah Ayah bangun dengan susah payah, akan aku hancurkan detik ini juga." Rain mengancam Ayahnya sebelum pria itu benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.
Rain sangat tahu apa yang Ayahnya inginkan, nama yang besar dan kesuksesan yang besar dalam dunia hiburan tanah air. Dimana dulu pria itu gagal menjadi artis karena keterbatasan biaya.
Namun, karena hal itu juga yang membuat Ayahnya begitu terobsesi menjadikan Rain sosok orang yang harus sesuai keinginannya. Dari kecil ia sudah dididik untuk menjadi seorang aktor, hari-harinya hanya diisi dengan belajar akting dan terus saja seperti itu hingga Rain sama sekali tidak memiliki waktu untuk bermain.
"Kau pikir aku takut Rain? Kalau kau menghancurkan semuanya, kau pasti juga akan hancur saat itu juga," ujar Ayah Rain malah menantang karena berpikir Rain hanya menggertak.
"Baik, jika itu mau Ayah, bersiaplah mendengar namaku menjadi top trending di negara ini besok pagi."
Rain sudah terlalu muak dengan Ayahnya, selama ini ia membiarkan pria yang sejatinya menjadi orang favoritnya itu berselingkuh hingga memiliki anak. Rain membiarkannya karena ia berpikir selama Ayahnya masih bersama dirinya dan Ibunya, semua pasti akan baik-baik saja. Tapi nyatanya Rain salah, Ayahnya malah lebih memilih keluarga barunya ketimbang dirinya dan Ibunya.
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Ita rahmawati
gk mgkin rain bersaudara sm hazel kn 😁
2023-05-12
1
Bucinnya Rajendra 💞
bingung mau milih di tim mana 😁
2023-03-12
3
Anonymous
Lanjutannnnnnn
2023-03-12
2