Chapter 16

Happy Reading.

Jihan berteriak histeris ketika merasakan perutnya yang terasa begitu sakit, posisi jatuhnya yang terjungkal kebelakang membuat punggungnya terbentur lantai dengan sangat keras.

Wanita itu benar-benar merasa di ambang kematian karena tiba-tiba mengalami pendarahan dan perutnya yang terasa sangat sakit.

Namun, sayangnya di tempat itu tidak ada orang satupun yang lewat. Koridor unit apartemen Arkan sepi karena bisa dipastikan semua penghuninya sedang tidak ada dirumah dan bekerja.

"Tolong!! tolong!!" seru Jihan.

Menahan rasa yang semakin nyeri seperti tertusuk duri di bagian perut bawah, bahkan cairan berwarna putih bercampur merah juga keluar dari jalan lahirnya.

Jihan berusaha untuk tenang, dia tidak mau kehilangan nyawanya begitu saja hanya karena jatuh. Jihan juga harus bisa menyelamatkan bayinya, dia tidak ingin berakhir dengan kematian seperti yang dialami oleh Ciara.

"huff, huff... !" wanita itu berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya.

Tangannya bergerak perlahan membuka tas kecil yang dia bawa dan mengambil ponselnya di dalam. Sedangkan tangan satunya memegangi perut yang semakin terasa sakit.

"Aaggkk, Arkan!! kamu di mana!!" Jihan merintih sambil mencari nomor kontak seseorang.

Meskipun yang ada di kepalanya hanya Arkan dan Atkan, tetapi pria itu saat ini tidak bisa dihubungi. Dengan tangan yang bergetar, Jihan memencet nama seseorang yang pasti akan bisa menolongnya.

Johan!

Itulah nama yang hanya bisa dia hubungi saat ini, Jihan sudah tidak bisa berkata-kata lagi Suaranya semakin tercekat ketika merasakan sakit yang luar biasa sakitnya dibagian bawah perut.

Bibirnya terus merintih, merasakan kontraksi yang terjadi. Kenapa semuanya harus seperti ini, dia bahkan tidak ada yang menemaninya saat hamil besar seperti ini.

"Halo!! Jihan!!"

Johan terlihat mengangkat telepon dari Jihan meskipun baru didering pertama.

"To-tolong!"

"Halo, Jihan? ada apa?"

Seru pria itu disebelah, tetapi Johan tidak mendengar suara apapun kecuali saat kesadaran Jihan semakin menipis dia berucap minta tolong untuk yang terakhir kali.

*****

Ciara mengemasi beberapa barangnya yang akan dia bawa pergi esok pagi. Ini sudah menjadi keputusan dari Ciara, pergi sejauh mungkin karena sepertinya dia tidak bisa tinggal di Bali lebih lama, karena Arkan masih saja mendatangi rumahnya walaupun selalu di usir oleh Papanya.

"Kamu beneran mau ke Singapore? nggak jadi ke Jogja?" tanya Mama Nada.

Ciara menggeleng, dia harus pergi sejauh mungkin untuk bisa terlepas dari semuanya. Terlepas dari masa lalu yang menyakitkan, mungkin dengan cara pergi ke luar Negeri adalah jalan satu-satunya agar Arkan tidak bisa menemukannya.

"Aku mau ke Singapore aja, kerja di perusahaan Om Ferry, biar pengalaman kuliahku bisa berguna," jawab Ciara.

Mungkin hanya dengan dia mulai bekerja bisa membuatnya sibuk dan berhenti memikirkan kesedihan yang selalu berlarut.

Kemarin malam Arkan bahkan datang kembali ke rumah orang tuanya sambil membawa makanan kesukaannya saat dia masih hamil.

Bakso beranak, Ciara hampir saja luluh hanya karena sikap Arkan yang seperti masih sangat mencintainya itu. Meskipun Ciara tidak bisa melihat Arkan secara langsung, tetapi kerinduannya seakan terobati ketika mendengar suaranya.

Walaupun tetap saja akhirnya Papa Farel dan Mama Nada selalu mengusir Arkan dan mengatakan jika Ciara tidak ada di rumah, dan terkadang berakhir dengan Arkan yang babak belur karena dihajar oleh sang Papa.

"Kalau memang itu kemauanmu, Mama bisa apa lagi, yang jelas kamu tidak boleh merasa sendiri dan terluka terus, hemmm?" Ciara mengangguk dan memeluk Mamanya.

"Cia janji nggak akan terluka lagi, Ma! harus move on seperti Mama dan Papa dulu, kan Cia tahu kisah Mama dan Papa yang awalnya tidak bisa melupakan cintanya, tetapi setelah saling mengenal, akhirnya kalian bisa bahagia sampai sekarang," ujar Ciara tersenyum.

****

Johan menelepon Arkan, pria itu bingung harus bagaimana, dia sudah berada di rumah sakit menunggu Jihan yang sedang dioperasi.

"Halo, Jo! ada apa?"

"Bro, lo bisa kesini nggak, si Jihan lagi dioperasi, dia tadi gue temuin di depan apartemen lo, keknya dia nyariin lo terus jatoh, dia pendarahan!"

Terdengar decakan Arkan diseberang.

"Lo aja yang urus, gue lagi ngurusin diri gue sendiri, sepertinya mantan istri gue mau pergi, tapi gue nggak tau perginya kemana?"

"Astoge, Arkan! lo tuh gila ya, ngapain juga ngejar Ciara lagi, lo mau nyakitin hati dia, kalau lo cuma mau nyakitin Ciara, udah lepasin, buat gue aja! ntar gue bahagiain dia!"

Tuut!!

Tuut!!

"Sialan, dimatiin lagi!"

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

rasakan Johan.... jangan peduli lagi dengan Jihan nanti minta puji..

2024-03-09

1

Ita rahmawati

Ita rahmawati

ngapain juga dih tmen²ny arkan in sllu hub arkn gk miko gk johan ap gk bisa ngurusin 1 wanita aj,yg penting dh ditolongi bw ke RS kn udh gk usah sok sibuk gitu🤦‍♀️🤦‍♀️🙄🙄

2023-07-02

1

Norfadilah

Norfadilah

Cemburuuuu ya Mas Arkan...

2023-06-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!