Happy Reading.
Arkan mengejar istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar. Ternyata dugaannya salah, Ciara mengetahui saat dia dan Jihan masuk ke dalam warung bakso itu.
Entah kenapa Arkan merasa sedang ketahuan selingkuh, padahal dia tidak melakukan itu. Tetap saja membohongi istri sama artinya dengan dia tidak setia, karena kenyataannya memang Arkan bertemu Jihan di belakang Ciara, meskipun niat hatinya untuk membantu wanita itu.
"Cia, sayang, aku bisa jelaskan, Jihan tadi pergi ke kantorku dan dia memaksa ikut masuk ke dalam mobil, padahal aku sudah bilang mau beliin kamu bakso, dia ngotot tetap ikut," Arkan duduk di sisi ranjang di mana Ciara sudah berbaring memunggunginya.
"Kenapa kamu menjelaskan? Memangnya kamu berbuat sesuatu dengan Jihan?" ucapan Ciara benar-benar memukul telak Arkan. "Lagi pula kapan Jihan balik dari Amrik? bukannya dia pergi ke sana setahun yang lalu dan ternyata kamu udah ketemu sama Jihan tanpa sepengetahuanku, sebenarnya kalian berdua itu menganggap aku apa?" lanjut Ciara.
Arkan menaikkan kakinya ke atas ranjang berusaha mendekati sang istri yang sepertinya sedang salah paham. "Sayang, Jihan memang sudah kembali sebulan yang lalu, dia ngomong sendiri sama aku kalau akan menemui kamu, dan dia nyuruh aku diam nggak boleh ngomong, katanya dia mau ngasih kejutan sama kamu," ujar Arkan sepenuhnya benar.
Karena saat itu Jihan sendiri yang mengatakan akan bertemu dengan Ciara dan mengatakan apa yang sedang menimpa.
'Bulshitt!' umpat Ciara dalam hati.
"Oh ya, kenapa dia malah nyuruh kamu tidak mengatakan kedatangannya kepadaku, tetapi kalian justru bertemu di belakang? sebenarnya dia itu udah seperti saudara buat aku, kalau kayak gini Jihan itu nggak nganggep aku siapa-siapanya dan dia cuman nganggap kamu sebagai sahabatnya, Arkan! bukan denganku!" sindir Ciara.
Arkan ingin mengatakan sesuatu tentang kehamilan Jihan, ingin berkata sejujurnya pada sang istri. Arkan sudah membuka mulutnya tetapi dia mengatupkan kembali karena Arkan mengingat bahwa itu adalah privasi Jihan, dan Jihan sendiri mengatakan jika dia pasti akan cerita kepada Ciara tapi di waktu yang tepat.
Arkan jadi pusing, keduanya dulu adalah sahabatnya ketika duduk di bangku kuliah sampai sekarang, di mana Arkan menaruh perasaan terhadap Jihan dan ternyata Ciara juga menaruh perasaan terhadapnya.
"Sayang, aku...!"
"Udah deh Arkan, aku mau tidur, badanku tidak enak! sebaiknya kamu kembali ke kantor!" usir Ciara dengan ketus.
Arkan hanya bisa menghela nafas, dia berniat tidak akan mengganggu istrinya lagi dan memang sebaiknya dia kembali ke kantor karena jam istirahat sudah hampir habis.
Setelah kepergian Arkan, Ciara akhirnya tidak sanggup untuk mengeluarkan air matanya yang sejak tadi dia tahan.
'Sampai kapan kamu akan berbohong!'
*****
Setelah hari itu, Arkan sama sekali tidak menghiraukan Jihan yang sesekali meneleponnya. Dia sudah menyuruh Johan dan Miko untuk mengurus segala keperluan Jihan.
Ciara juga merasa semakin diperhatikan dan disayang oleh Arkan. Pria itu menepati janjinya yang tidak akan ambil lembur ataupun urusan keluar kota.
Arkan akan lebih memperioritas kan Ciara saja, dia ingin bisa melihat perkembangan buah hatinya.
"Sayang, kapan kamu akan periksa kandungan?" tanya Arkan mengelus perut Ciara yang kini sudah nampak membuncit.
Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-4, terkadang Ciara sudah merasakan getaran di perutnya. Memang di usia itu janin biasanya sudah mulai aktif bergerak.
"Besok jadwalnya, kamu bisa menemin aku? Sekalian mau USG," jawab Ciara yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Bahkan Ciara sudah melupakan jika Arkan menikahinya karena disuruh oleh Jihan. Ciara sudah terlanjur merasa bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Memiliki suami perhatian dan juga menyayanginya, meskipun semua itu hanya kebohongan dan kepalsuan, tetapi tidak masalah bagi Ciara, dia hanya bisa menikmatinya dan bersyukur.
Dalam benak wanita itu merasa bahwa sosok akan mungkin menerimanya karena kehadiran calon bayi mereka. Entah bagaimana jika cara belum hamil sampai sekarang, mungkin Arkan belum bisa menyayanginya sepenuh hati seperti ini.
"Siap, besok aku temenin, kita ke rumah sakit aku akan minta izin tidak masuk kantor," jawab Arkan kini mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
Perlahan Arkan mencium bibir manis Ciara dan memagutnya pelan, menyesapi rasa yang membuatnya candu. Ciara hanya bisa membalas dan menerimanya.
Deru nafas keduanya sudah sama-sama saling berkobar, menginginkan hasrat masing-masing yang sudah tidak tertahan.
Akhirnya Arkan yang memulai melucuti satu persatu pakaian sang istri, kemudian diteruskan pakaian dirinya.
Arkan mengagumi setiap jengkal tubuh Ciara, di mana sudah pas pada porsinya masing-masing.
Malam itu, keduanya sama-sama saling berjanji dalam hati akan selalu menjaga dan menyayangi sampai kapanpun.
****
Arkan melirik ponselnya yang sejak tadi berdering, menampilkan nama Jihan di sana. Ciara juga mengetahui hal itu kemudian menatap sang suami.
"Kenapa nggak diangkat? Dari Jihan 'kan?" Arkan menatap Ciara dan menggeleng pelan.
Dia tidak mau lagi berurusan dengan Jihan, apalagi sampai Ciara tahu kisah mereka dulu. Arkan semakin merasa bersalah saat ini jika mengingat hal itu.
Dia yang diam-diam selalu mengajak Jihan makan dan nonton, bahkan sudah menganggap Jihan sebagai kekasihnya walaupun tidak pernah ada ikrar di antara mereka.
Mengetahui jika Ciara juga memiliki perasaan kepadanya di saat masih kuliah, menghadirkan rasa nyeri dan begitu sesak dihatinya. Mungkin saja dia sempat tidak sengaja memperlihatkan perhatiannya terhadap Jihan yang berlebihan.
Sungguh sekarang Arkan menyesal, kenapa tidak dari dulu saja dia membuka hatinya untuk Ciara.
"Nanti saja, bukankah kita harus segera ke rumah sakit untuk periksa kandungan?"
Ciara tersenyum mendengar jawaban dari Arkan. Apakah itu artinya Arkan benar-benar tidak mau bertemu dengan Jihan, ataukah karena Ciara melihat nama Jihan meneleponnya jadi Arkan berpura-pura tidak peduli.
Bukankah Arkan sudah berbohong beberapa waktu yang lalu mengenai Jihan?
Entahlah, Ciara tidak ingin memikirkan hal itu, yang penting sekarang dia ingin memeriksakan kehamilannya dan melihat tumbuh kembang janinnya yang sehat.
Namun, ponsel Arkan tidak berhenti berdering, sekarang bukan nama Jihan lagi yang tampil, tetapi nama Miko disana.
Arkan langsung menjawab panggilan dari sahabat nya itu.
"Halo?? Apa? Oke gue kesana!"
"Arkan ada apa?" tanya Ciara dengan raut wajah yang khawatir.
"Sayang, kamu tunggu aku ya ke rumah sakitnya, aku mau pergi dulu, gak lama, aku janji!" Arkan mencium kening istrinya sebentar kemudian segera mengambil kunci mobil.
"Arkan!" tangan Ciara hanya mengambang di udara. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.
Hatinya bergemuruh kencang, Ciara berusaha meredam perasaan itu.
'Semoga tidak ada apa-apa, ya aku percaya sama Arkan!'
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Suherni 123
jangan jangan Jihan ngaku hamil anaknya Arkan deh ke Ciara
2023-09-03
1
Ita rahmawati
coba ikutin cia tuh suamimu mau kmna 😏
2023-07-02
0
Anik Trisubekti
Arkan yang plinplan katanya sdh gk mau peduli sama Jihan ternyata apa
2023-03-08
3