Happy Reading.
Sebelumnya.
Arkan bersenandung kecil sambil berjalan ke arah mobilnya di parkiran kantor. Dia akan membelikan bakso beranak untuk Ciara. Hatinya berbunga-bunga ketika menyadari jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.
Namun kebahagiaan Arkan surut seketika dia melihat siapa wanita yang berdiri di samping mobilnya.
"Jihan, kenapa lu ada di sini?"
"Gue mau ketemu lu, kemana aja sih lu Ar, gue butuh lu tapi nggak bisa dihubungi sama sekali!" Jihan mendekat ke arah Arkan.
Membuat pria itu memundurkan langkahnya, "Jihan, gue udah bilang sama elu, gue nggak bisa kalau harus ngurus lu setiap hari, gue udah punya keluarga dan istri gue juga sedang hamil sekarang!"
Wanita berambut sebahu itu nampak terkejut ketika mendapati ucapan Arkan. "Ciara hamil? Lu udah ngelakuin itu sama dia?" tanya Jihan tidak percaya.
"Apa maksud lu ngomong gitu? Astaga Jihan!!" Pria itu menggelengkan kepalanya.
Apakah Jihan berpikir jika dia tidak akan menyentuh Ciara karena tidak mencintainya. Jujur, dulu awal menikah Arkan memang belum mencintai istrinya. Namun, semua itu sudah berubah. Hatinya berubah dalam sekejap saja.
"Arkan, lu udah bikin Ciara hamil anak lu?"
Arkan tidak ingin memperdulikan wanita itu lagi, pria itu melangkah menuju pintu kemudi dan membukakan.
"Arkan!! Gue belum selesai!" Jihan tiba-tiba membuka pintu sebelah kemudi dan masuk ke dalam.
"Please Ji, gue sekarang lagi sibuk, kalau lu mau ngomong cepat ngomong sekarang!"
"Gue nggak nyangka lu mau nyentuh Ciara, lalu cinta yang lu bilang ke gue itu apa? Jadi selama ini lu cuma bohong?" seru Jihan tidak terima jika Arkan memang benar-benar sudah melupakannya.
Arkan menoleh, menatap wajah perempuan yang pernah dicintainya selama bertahun-tahun itu. "Semuanya bisa berubah Ji, hati gue juga bisa berubah, kalau saat itu gue emang cinta sama elu, bahkan gue udah nglamar elu, tapi lu tolak gitu aja, padahal lu tau kalau selama ini gue cinta 'kan?" Arkan sedikit meninggikan suaranya.
Menatap kecewa pada perempuan didepannya ini.
"Oke, gue salah karena udah nolak lu, terus kalau lu nggak mau nikahin gue, setidaknya lu ada buat gue, Ar!! Bukankah lu bilang kalau gue harus pertahankan bayi di dalam perut gue ini?" tanya Jihan kali ini sedikit merendah.
Perempuan itu sudah tidak bisa memaksa Arkan jika pria itu sudah terlihat emosi seperti ini.
"Ada Johan sama Miko, lu bisa minta tolong sama mereka! Jadi nggak ada alasan lagi lu minta gue buat nemenin lu lagi, sekarang lu keluar dari dalam mobil gue," ucap Arkan yang mendapatkan gelengan dari Jihan.
"Antar gue ke apartemen, tadi gue kesini naik taksi!"
Arkan mengusap wajahnya kasar, kenapa perempuan satu ini sekarang sangat menjengkelkan. Arkan baru sadar jika Jihan memang tipe wanita yang keras kepala.
Huh, ingat Ar! lu dulu cinta banget sama dia, tapi untung sekarang udah enggak, Tuhan memang baik dengan memberikan gue jodoh wanita seperti Ciara.
Jihan menatap Arkan yang senyum-senyum sendiri, wanita itu mengira jika Arkan sudah sedikit luluh.
Jihan meletakkan kepalanya di pundak Arkan, "Ar, gue tahu kok sebenarnya lu masih cinta sama gue, buktinya lu senyum-senyum malu gitu sampai merona, pasti lu seneng 'kan ada gue disini?"
"Ck, minggir, gue lagi nyetir, lu mau kalau kita kecelakaannya gara-gara sikap ceroboh lu itu?"
Jihan mendengus kesal, kemudian dia memilih melihat keluar jendela agar tidak melihat wajah Arkan yang menyebalkan.
'Astaga!! Ini sudah tiga puluh menit, pasti Ciara nungguin aku!'
Arkan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai di warung bakso yang tidak jauh dari rumahnya itu.
"Ar, lu gila, kenapa harus ngebut, sih!"
"Gue mau beliin Ciara bakso, tadi dia nitip, gara-gara lu gue jadi kelamaan, Ciara pasti udah nungguin gue!"
'Huh, lagi-lagi Ciara, kenapa sekarang Arkan begitu peduli sama Ciara, gue nggak bisa biarin Ciara rebut Arkan dari gue!' batin Jihan mengepalkan tangannya.
****
Ciara menatap mangkuk didepannya dengan berbinar, keinginannya untuk makan bakso beranak kini kesampaian.
"Ah, kenapa kamu lezat banget sih?" Ciara menyendok kuah bakso itu dan menyeruputnya.
Dia bahkan sudah lupa dengan segala kebohongan Arkan dan perselingkuhannya. Ya, Ciara memang merasa jika Arkan berkhianat. Dia sudah banyak berbohong kepadanya, tetapi Ciara masih merasa harus bertahan karena bayi mereka membutuhkan sosok Arkan.
"Sayang!! Ciara! Aku bawain baksonya nih!" suara Arkan nampak terdengar di depan.
Arkan mencari Ciara dan memanggilnya, tetapi istrinya itu diam saja tanpa menyahut. Lalu dia memutuskan untuk ke dapur mengambil mangkuk dan sendok, pasti Ciara sedang tidur, pikirnya.
Namun, Arkan sedikit terkejut ketika melihat istrinya ada didapur sedang memakan bola bakso beranak.
"Loh, sayang, kok kamu udah makan bakso beranak? Kamu beli dimana?" tanya Arkan.
"Di warung bakso perempatan," jawab Ciara dingin.
Entah kenapa tiba-tiba nafsu makannya hilang setelah melihat suaminya yang baru saja jalan bareng Jihan.
"Tapi tadi kamu 'kan mau nitip ke aku, kok udah beli aja?" Arkan mengambil mangkuk dan meletakkan di atas meja.
Menarik kursi di samping istrinya yang tiba-tiba diam.
"Kamu lama, jadi aku beli sendiri!" Arkan hampir saja menjatuhkan bungkusan plastik itu.
"Maaf sayang, tadi tuh harus nyelesaiin pekerjaan dulu, jadi telat beli baksonya, maaf ya?" Arkan merutuki kebodohannya karena lagi-lagi dia berbohong pada Ciara.
Sungguh dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Semoga Ciara tidak melihat dia dan Jihan ketika membeli bakso beranak tadi.
Lagi-lagi Ciara harus menahan sakit dan sesak di dadanya karena dibohongi lagi oleh Arkan. Lalu apakah dia sanggup jika harus melihat kebohongan Arkan lagi dan lagi.
Untuk kesekian kalinya, Ciara mencoba untuk tidak menangis, tetapi semakin ditahan, dadanya sudah terasa penuh. Bahkan Arkan sama sekali tidak memperlihatkan raut wajah bersalah ketika tadi dia pergi bersama Jihan.
Kenapa Arkan tidak mengatakan yang sebenarnya jika Jihan telah kembali dari Amerika. Apakah karena mereka ingin berhubungan diam-diam dibelakang Ciara.
"Tadi aku liat kamu sama seorang wanita masuk ke dalam warung bakso itu!"
Arkan kali ini benar-benar menjatuhkan sendok yang dia bawa ketika mendengar ucapan Ciara.
"A-apa? Jadi kamu tadi lihat aku dan Jihan?" tanya Arkan.
Ciara hanya mengangguk sekilas, kemudian dia berdiri dari duduknya dan memilih untuk pergi. Bakso yang belum habis itu dia biarkan begitu saja. Ciara sudah muak dengan kebohongan Arkan, sekarang dia ingin tahu apa yang akan dijelaskan suaminya itu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Ita rahmawati
ak juga muak sm kelakuan arkan dn jijik sm si jihan 🤮
2023-07-02
1
Eka Bundanedinar
gmn mas arkan ktahuan bohong
2023-03-12
2
Eka Bundanedinar
eh jihan wajar dong arkan prhatian sama ciara dia istrinya lu siapa ...mantan aja belagu
lagian kamu yg nolak kamu jg yg mrasa trsakiti ampun dah
2023-03-12
1