Happy Reading.
Ciara menatap ponselnya dengan gelisah, dia mengirim pesan pada sang Mama untuk menanyakan keberadaan Arkan, apakah pria itu masih dirumahnya atau sudah pergi.
Ciara sudah menghabiskan segelas kopi hitam dan 4 gorengan tempe mendoan. Dia ingin segera pulang untuk membersihkan diri.
Huh, kenapa juga Arkan pergi mencari sampai ke Bali. Bukannya pria itu sudah ikhlas melepaskan dirinya? Ciara membatin.
Menatap kosong jalanan sampai membuat Firman berdecih dengan wanita yang sudah dikenalnya lama itu.
"Mbak Cia, bengong mulu, entar kesambet loh!" Firman menyenggol lengan Ciara agar wanita itu sadar.
"Eh, siapa yang bengong," Ciara menegakkan tubuh. "Aku tuh lagi mikir mau nyari kerjaan, tapi nggak tau mau kerja apa, dulu aku kuliah di jurusan teknik informatika, tapi karena nikah jadi lupa, udah nggak bisa apa-apa lagi sekarang!" Ciara menopang wajahnya dengan kedua tangan.
"Ngapain juga kerja? Udah ada suami yang nyariin buat kebutuhan kamu, suami kamu kan kaya, kamu juga anak orang kaya, lah mau kerja apa lagi, tinggal menikmati hidup dan jadi ibu rumah tangga yang baik," jawab Firman sambil melayani pembeli.
Ciara menghela nafas, awalnya dia juga berpikir seperti itu, berpikir ketika sudah menikah dia tidak membutuhkan pekerjaan karena hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik. Tetapi ternyata semuanya hanya khayalan dia yang begitu tinggi, tidak ada pernikahan impian yang dia dambaan bersama Arkan.
Pria yang dia cintai sejak dulu, sejak jaman kuliah. Dia mengira jika Arkan memang tidak ingin pacaran karena selama itu dia tidak pernah melihat Arkan dekat dengan wanita manapun.
Arkan hanya berkumpul dengan nya dan juga Jihan. Ciara tidak pernah menyangka jika ternyata Arkan dan Jihan adalah sepasang kekasih?
Dan yang lebih Ciara sesali yaitu kenapa mereka tidak pernah mengatakan berita sebesar itu padanya. Kenapa mereka menyembunyikan kedekatan mereka di belakang Ciara.
Sungguh kalau saja Ciara tahu jika yang dicintai Arkan adalah Jihan, maka Ciara tidak akan pernah menerima lamaran Arkan waktu itu.
Ting!
Satu pesan masuk.
Ciara melihat sang Mama mengirim pesan padanya.
[ Arkan sudah pamitan barusan, dia juga langsung pergi, tadi Mama yakinin dia kalau kamu benar-benar tidak ada disini ]
Ciara tersenyum membaca pasan dari sang Mama, sepertinya setelah ini dia harus pergi dari Bali secepat mungkin agar tidak bisa ditemukan oleh Arkan.
Ciara tidak mau jika hidupnya masih terbayang-bayang mantan suaminya itu.
Sedangkan Arkan kembali ke hotel tempat dia menginap. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, masih setengah tidak percaya jika Mantan istrinya itu tidak ada di Bali.
"Apa kamu sudah tidak ingin bertemu denganku lagi, sayang," gumam Arkan sambil menatap foto Ciara di layar ponsel.
Foto pernikahan mereka, di dalam sana Arkan bisa melihat senyum Ciara yang begitu lebar. Wanita itu memakai kebaya pengantin modern dan terlihat begitu cantik.
Arkan tersenyum menatap foto mantan istrinya itu, kemungkinan dia beralih menatap foto dirinya yang juga tengah tersenyum tetapi tidak lebar.
Arkan saat itu belum tahu perasaan nya untuk Ciara, karena sewaktu menikah, yang Arkan ingat hanyalah ingin membuat Jihan cemburu dan menangis.
"Mungkin karena saat itu niatku menikahimu tidak tulus, sekarang aku sudah mendapatkan karmanya, sayang! Sekarang aku yang tidak bisa hidup tanpa kamu, aku tidak ingin hal lain lagi Ciara, aku ingin hatimu luluh kembali untukku!"
Arkan menyeka air mata disudut matanya yang sebagian sudah menetes. Sungguh Arkan begitu rapuh jika mengingat kembali bagaimana wajah mantan istrinya yang menatapnya dengan tatapan kecewa.
'Maaf karena telah membohonginya mu Ciara!'
***
Jihan berjalan masuk ke ruangan kerja Johan, disana Johan tengah berkutat dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
Jihan mendengus kesal, pria itu sama seperti Miko dan Arkan, mengabaikan nya begitu saja.
Jihan menarik kursi didepan Johan dan langsung duduk di sana. Johan masih belum mau mengangkat wajahnya karena dia tahu siapa yang datang untuk mencarinya tanpa permisi itu.
"Apa ini caranya lu menyambut tamu?" tanya Jihan kesal karena diabaikan oleh Johan.
"Apa ini caranya bertamu sopan, masuk seenaknya tanpa permisi? Gue masih kerja tidak ada waktu untuk ladenin lu!" jawab Johan kali ini mengangkat wajahnya untuk menatap Jihan.
Jihan bersedekap dada dan menatap wajah Johan dengan tatapan tajam. "Gue udah ngabarin kalau gue ingin bertemu, sebenarnya kalian ini kenapa sih? Miko nggak balas pesan gue, lo juga!! Dan Arkan tiba-tiba tidak bisa dihubungi, sepertinya dia pergi dan tidak ada di Jakarta!" Jihan mengelus perutnya yang kini berusia 9 bulan. Hpl nya beberapa hari lagi dan Arkan semakin menghindarinya.
Setelah Ciara minta cerai, Arkan sudah tidak peduli lagi dengannya, tapi tidak masalah selama Jihan masih bisa bertemu dengan Arkan. Tapi sepertinya pria itu sudah tidak ada di apartemennya beberapa hari ini.
"Dari mana lu tau kalau Arkan pergi?" Johan memicingkan matanya menatap wanita cantik dihadapan nya saat ini.
Johan memang mengakui jika Jihan memang cantik, wajahnya berbentuk oval dengan hidup mancung, bibir tipis kecil dan mata yang besar.
Tidak salah jika Arkan dulu sempat tergila-gila pada Jihan. Sebagai laki-laki dia juga merasa jika Jihan memiliki daya tarik tersendiri.
"Gue sekarang tinggal di gedung apartemen yang Arkan tinggali, gue tinggal di atas unitnya!"
Johan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Jihan.
'Dasar wanita tidak tahu malu!'
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
dasar perempuan tidak tahu malu...
2024-03-09
0
asmara wati
mungkin pas mengandung si Jihan, emaknya ngidam makan semen, jadinya muka tembok keknya
2023-10-21
3
Ita rahmawati
wanita gk bener y emg gk tau malulah klo tau malu pasti dia bener aneh si johan in,,🤭
2023-07-02
0